Ternyata berenang solusinya... (part 2)


Putri bungsu kami lahir secara sectio. Dan dalam pertumbuhannya, semua tahapan perkembangan bayi ia lewati tanpa terlewat satupun. Beda dengan kakaknya yang melewatkan fase merangkak. Ia bisa berjalan di usia 12 bulan. Dan lancar bicara di usia 18 bulan.
Semuanya normal dan bagus. Ia pun tumbuh menjadi anak yang cantik dan menggemaskan.
Ketika di TK, dia mengikuti assessment. Hasilnya IQ masuk kategori superior. Pun ketika akan masuk SD, kembali dia mengikuti assessment sebagai syarat masuk SD. Hasil IQ nya lagi-lagi superior.
Senang dong...berarti anaknya tergolong cerdas.
Tapi tunggu...
Kenapa sampai kelas 1 SD ia masih kesulitan membaca? Mengaji belum bisa?
Padahal, kakak-kakaknya dari usia 5 tahun sudah lancar membaca latin dan mengeja huruh hijaiyah.
Metoda yang saya ajarkan sama. Kenapa di kakak-kakaknya berhasil tapi tidak dengannya? Kan kemampuan tiap anak beda. Betul. Mari kita lihat kasusnya.
Ketika saya ajarkan membaca, saya ajarkan kata ba, kata bi dia lupa. Saya ajarkan kata bi, kata ba dia lupa. Begitupun mengaji. Saja ajarkan ba, ta lupa. Saya ajarkan ta, ba lupa.
Ketika mengajarkan warna dalam bahasa Inggris, saya gunakan metoda lain. Pakai alat peraga. Mudah-mudahan dengan melihat objek dia lebih mudah paham dan hafal.
Saya ambil semua benda yang berwarna merah seperti tas, mangkok, gelas dan lain-lain. Serta benda-benda yang berwarna putih seperti mug, baju, vas bunga dan lain-lain.
Saya tunjuk mangkok warna merah sambil berkata, "ini red".
"Apa warna ini?"
"Red", jawabnya.
Saya tunjuk beberapa benda warna merah lainnya. Dengan fasih dia sebut, "Red"...."red".
Kemudian saya ambil benda warna putih. Saya berkata, "ini warnanya white".
"Apa warna ini?"
"White" jawabnya.
Saya ambil satu benda putih lagi.
"Ini warnanya apa?"
"White", jawabnya pasti.
Oke. Sepertinya dia paham. Saya coba kembali ke warna merah.
"Kalau ini warnanya apa tadi?"
"Duuh... Tadi apa ya? Kok icha lupa?"
Yaa....salam. Secepat itu dia lupa. Tak sampai 3 menit. Gregetan? Banget.
Seperti apapun metode yang saya ajarkan tetap dia kesulitan mengeja huruf latin dan hijaiyah. Boro-boro lancar. Akhirnya saya menyerah mengajarkannya. Saya biarkan keadaan seperti itu dulu. Dari pada nanti saya emosi dan dia stres. Lebih baik saya dan suami diamkan dulu sambil berpikir mencari solusi.
Sementara itu, setiap dapat buku laporan mingguan dari gurunya selalu berisi "Alyssa kurang bertanggung jawab terhadap barang-barangnya." Setiap hari selalu ada yang ketinggalan".
Ya, setiap hari selalu aja ada barangnya yang ketinggalan di kelas. Entah pensil, kotak pensil, buku, tempat minum, kotak bekal dan lain-lain.
Tibalah saat ujian semester 1. Dia berkata, "Bu, ujian PAI tentang rukun Iman dan rukun Islam."
Ya Allah.... Untuk mengingat ba, bi aja dia kesusahan. Apalagi menghafal rukun iman dan rukun Islam.
Akhirnya, tetap saya bacakan berulang-ulang sambil bilang, "besok Alyssa kerjakan semampu Alyssa ya?"
Untung saja dia bersekolah di SD swasta yang tak mensyaratkan murid kelas 1 harus lancar membaca. Di mana sekelas hanya berisi 24 orang dengan guru kelas 2 orang. Ketika ada anak yang belum lancar membaca, gurunya akan membacakan soal ujian dan jawaban pilihan gandanya dengan sabar.
Pernah suatu pagi ia memainkan kunci mobil. Ketika siang ayahnya hendak pergi, kunci mobil tak ketemu. Ketika ditanya dimana dia meletakkan kunci mobil, jawabnya, "Icha lupa." Dan kamipun mencari kunci sesorean.
Kadang sempat berpikir, apakah anak superior sepelupa ini?
Tapi kakak perempuannya juga superior. Dan dia memang unggul di akademis. Tak pernah sekalipun keluar dari 3 besar di kelasnya.
Apa ini jenis superior yang lain? Saya jadi ingat komik donal bebek, profesor Lang Ling Lung yang cerdas tapi sangat pelupa.
Benar-benar bingung saya menghadapinya.
Akhirnya ketika liburan semester, kami kembali ke Bandung dan menemui psikolog yang pernah menangani kakak laki-lakinya itu.
Setelah serangkaian tes tertulis dan tanya jawab, sang psikolog meminta anakku berdiri lurus kemudian tangannya meraba tulang punggungnya dari atas sampai ke bawah dengan teliti.
Hasilnya, dia superior tapi dia tak bisa fokus. Ada ruas tulang punggungnya yang geser. Kalau tak salah urutan nomor 3 dan 4.
Kata psikolognya,
"Dia bukan pelupa. Hanya dia tak bisa fokus. Sehingga kesulitan untuk mengingat. Ada 2 ruas tulang punggungnya yang geser. Dan itu harus dibenarkan. Karena banyak syaraf penting di sana. Ada 2 cara untuk membenarkannya. Dengan diurut oleh tukang urut, tapi dia sakit. Atau dengan berenang."
Owh...pastilah kami memilih terapi berenang.
Akhirnya sepulang dari Bandung, segera saya daftarkan di klub berenang tempat kakaknya les.
Dan hasilnya memang luar biasa. Di akhir semester 2 kelas 1, dia sudah lancar membaca. Tahsin yang tadinya jilid 1 hanya bolak balik halaman 2 dan 3, sekarang tamat. Lanjut ke jilid 2.
Barang-barangnya, walau masih ada yang ketinggalan, tapi sudah menurun dengan drastis.
Semua itu terjadi hanya dengan terapi berenang selama 6 bulan. Kemudian berenang ini saya lanjutkan sampai hampir 2 tahun.
Dan di awal kelas 3, komite sekolah mengadakan acara peringatan hari guru, dia terpilih untuk membaca puisi.
Saya tadinya ketar ketir, khawatir dia kesulitan menghafal puisi yang cukup panjang sehingga penampilannya kurang maksimal. Tapi ternyata, hanya dengan 4 kali membaca puisi tersebut, dia sudah hafal.
Sekarang, ia sudah kelas 1 SMP. Dan sama seperti kakaknya, ia pun atlet memanah, olahraga yang menuntut fokus tinggi. Kalau kakaknya atlet memanah pelajar Kabupaten Serang, karena ia bersekolah di sebuah pesantren di Anyer, Kabupaten Serang, daj juga atlet daerah kabupaten Karawang, maka ia adalah atlet memanah pelajar Kabupaten Karawang. Karena ia bersekolah di Karawang, yang merupakan domisili kami saat ini.



Kalau seandainya tak ada wabah covid-19, bulan Juli tahun ini mereka akan ikut POPDA (Pekan Olahraga Pelajar Daerah) membela kabupatennya masing-masing. Tapi qadarullah, semua agenda dibatalkan karena wabah ini.
Berenang, adalah olahraga yang sangat baik. Bahkan olahraga terbaik buat ibu hamil karena minim benturan. Dan merupakan salah satu dari tiga olahraga yang diwasiatkan oleh Nabi Muhammad SAW 14 abad yang lalu. Manfaatnya sangat nyata.
Saya jadi ingat ketika masih aktif berenang waktu SMP dulu. Ada tiga orang teman klub saya yang penderita asma akut. Yang apabila kena udara dingin atau kelelahan, asmanya langsung kambuh. Setelah 1 tahun berenang rutin, asmanya tak pernah kambuh, malah bisa dibilang sembuh. Itu karena selama berenang, pernafasannya teratur, paru-parunya kuat dan badannya menjadi bugar.
Begitu juga dengan satu orang teman klub Alyssa yang juga penderita asma. Dua tahun berenang rutin, asmanya sembuh. Tak pernah kambuh walau pemicunya sering datang.
Masya Allah...
Makanya, jangan ragu untuk melaksanakan sunnah Rasulullah ini, "Ajarkan anakmu berenang, memanah dan berkuda".
***********

Catatan.
Tulisan ini diunggah di Grup Komunitas Bisa Menulis pada tanggal 22 Juni 2020.
Di repon oleh lebih 7.700 orang, dikomentari oleh 961 orang dan dibagikan lebih 2.200 kali

0 comments:

Post a Comment

Blog Archive

Powered by Blogger.