Tergantung Niat



Siang tadi, disela-sela memasak, Muthi bertanya kepadaku, "Ibu itu sebenarnya suka memasak atau enggak bu?"
"Enggak. Ibu memasak karena kewajiban buat keluarga. Kalau ibu g masak, nanti kalian g makan. Kalau beli terus, jadi boros, kasian ayah," kata saya.
Dia tertawa.
"Ibu yg memasak karena kewajiban saja, (menurut dia dan adiknya) selalu enak. Apalagi kalau hobi".
"Kalau hobi, ibu sudah buka restoran, kaliii.." kataku.
Saya, meskipun sebenarnya tak hobi memasak, tapi apabila memasak untuk keluarga, tentu saya lakukan sepenuh hati dan sepenuh cinta. Tak pernah asal jadi. Dan kalau malas menyerang, pilihannya adalah ganti dapur. Alias beli.
Tapi entah kenapa, jika ada acara keluarga besar, arisan, atau lain-lain yang menuntut saya memasak dalam porsi besar, selalu terasa kurang pas. Kurang mantap.
Padahal, apabila masaknya 2 porsi maka takaran bumbu pun sy buat 2x lebih banyak. Masak 3 porsi, bumbu pun saya kalikan 3. Tapi hasilnya tetap tak memuaskan menurut saya.
Pembicaraan dengan si gadis tadi membuat saya berpikir. Apa karena niat awal saya memasak hanya buat keluarga sendiri, sehingga ketika memasak bukan buat keluarga inti, rasanya kurang pas. Apa saya harus revisi niat? Memasak buat semua?
Say jadi ingat, dulu si ayah pernah bercerita. Dia punya teman. Ketika si teman ini pergi haji, di depan Ka'bah dia berdo'a, "Ya Allah izinkan hamba kembali ke rumahMu".
Sepulang dari haji, ia menabung keras. Kali ini ia ingin pergi haji bersama istri tercinta. Ketika uangnya cukup buat ongkos haji berdua, ia bermaksud mendaftar haji. Tapi belum sempat mendaftar, qadarullah, tiba-tiba ada kebutuhan mendadak. Dan besarnya persis sebesar biaya naik haji 1 orang.
Berarti uangnya tinggal untuk naik haji 1 orang. Ia pun batal mendaftar karena ingin pergi haji berdua dengan istrinya. Maka ia kembali menabung. Ketika uangnya cukup untuk mendaftar haji 2 orang, lagi2 ada kebutuhan mendadak sebesar ongkos naik haji 1 orang. Dan iapun batal lagi mendaftar.
Kemudian dia bermuhasabah diri. Kenapa sepertinya dia tidak diridhoi pergi haji dengan istrinya. Tiba-tiba ia ingat bahwa do'anya saat di depan Ka'bah dulu. Ia hanya berniat PERGI SENDIRI ke Mekah
Dia pun beristighfar. Akhirnya dia merevisi do'anya dengan pergi umroh. Dan di depan Ka'bah ia khusus meminta kepada Allah agar diizinkan pergi haji dengan istrinya
Alhamdulillah... akhirnya happy ending. Tak lama sepulang umroh, ia pun bisa pergi haji dengan istri tercinta.
Kejadian ini terjadi di bawah th 2008, dimana mendaftar haji sangat gampang. Belum ada waiting list. Tahun ini mendaftar, maka tahun ini juga bisa berangkat.
Maka baiknya, kita perhatikan niat kita. Tapi kalau sudah berniat, sebaiknya jangan diingkari.
Ada kejadian th 1997, namanya sy samarkan. Sebutlah namanya bapak X, berniat pergi haji bersama istrinya. Setelah menabung beberapa lama, uang pun terkumpul. Ketika akan mendaftar haji, tiba-tiba anak semata wayangnya yg masih SD, meminta rumah mereka direnovasi supaya lebih bagus dan minta dibelikan antena parabola.
Ketika itu, antena parabola lagi booming di kotaku, Padang. Stasiun RCTI yg lagi ngetop2nya hanya bisa ditonton lewat antena Parabola. Karena sayang dg anak semata wayang, dia batalkan niat naik haji tahun itu. Dia turuti keinginan anak kesayangannya.
Kemudian seorang teman bapak X memberikan wejangan kepadaku. Jangan ditiru yg seperti itu. Niat untuk Allah (ibadah haji) jangan sampai digagalkan oleh urusan dunia. "Nanti setiap mau haji, akan gagal terus." kata beliau.
Dan Qadarullah, sdh 33 tahun berlalu dr kejadian itu, si bapak X pun sdh lama pensiun, tapi sampai sekarang beliau belum berkesempatan berangkat haji.
Satu lagi, seseorang bercerita kepada temannya, bahwa ia tak akan mengganti mobilnya yg ada saat ini dengan mobil baru sampai ia pergi haji. "G penting mobil baru. Yang penting itu naik haji," ucapnya sungguh-sungguh.
Sekarang sudah lebih 10 tahun berlalu. Mobilnya sudah berganti dengan model baru. Dan ia belum berhaji.
Tulisan ini bukan bermaksud membicarakan keburukan. Tetapi agar kita bisa mengambil ibrohnya dari kejadian-kejadian yang dibentangkan Allah kepada kita. Terutama bagi saya, agar selalu memperbaiki diri.
Karawang, 14 April 2020
#curhatmakASA

Tulisan ini diunggah di grup Komunitas Menulis pada tanggal 15 April 2020.
Direspon oleh 139 orang, dikomentari oleh 34 orang dan dibagikan oleh 13 orang

1 comments:

Blog Archive

Powered by Blogger.