Suka duka dengan tenaga paramedis


Alyssa menjelang operasi amandel

Saat ini rasanya jarang sekali ada orang yang tak bersentuhan dengan rumah sakit. Entah anaknya yang sakit, saudaranya, tetangganya, orang tuanya, atau mungkin dirinya sendiri. Sakitnya entah karena suatu musabab, atau tanpa sebab. Tiba-tiba sakit aja.
Saya sebenarnya agak jarang sakit. Sekalinya sakit langsung operasi. Operasi amandel, operasi sinus, operasi sectio. Tapi begitu punya anak (empat orang) jadi rajin ke rumah sakit (duluuu…lho😊). Gantian saja yang sakit. Dari yang awalnya tidak mengerti dengan prosedur rumah sakit, sampai hafal nama-nama obat berikut sedikit istilah-istilah kedokteran.
Meskipun sebenarnya tak terlalu menyukai rumah sakit (ya…iyalah, siapa juga yang mau sakit?), tapi mau tak mau kita bergaul juga dengan rumah sakit. Karena rumah sakit salah satu alternatif berobat ketika kita sakit agak berat. Datangnya lemas tak bertenaga, remuk redam rasa badan, setelah perawatan 3-4, insya Allah kita bisa pulang dengan tersenyum. Itu sebelum melihat tagihannya lho…😁
Jadi di sarankan, biar suami saja yang melihat tagihan dan membayarnya. Emak-emak biar melihat tagihan belanja. Makin mahal makin senang. 😜
Berurusan dengan rumah sakit tentu pernah mengalami duka. Wajah-wajah tenaga paramedis di rumah sakit kadang tak bersahabat dan jarang melempar senyum. Mungkin mereka lelah, mungkin juga krn sudah rutinitasnya berhadapan dg penderitaan pasien shg mereka sdh imun dg segala kepedihan sehingga empatinya terhadap pasien sedikit tergerus. Padahal senyum mereka adalah obat yang pertama bagi pasien dan keluarganya.
Dijutekin, berwajah masam, tidak dipercaya, diremehkan, itu adalah bagian yang pernah saya alami. Sedih ya? Kalau teman-teman tidak pernah mengalaminya, selamat! Berarti anda horang kayah. 😁 Selalu mendapat perlakuan premium.  

Sehari sebelum Sayyid operasi pemasangan alat ASO di jantungnya yang bocor

Pernah, ketika Sayyid berumur 3 tahun (11 th yang lalu) tanpa sepengetahuan saya dia memanjat mobil dan naik sampai ke atas atap mobil. Kemudian ia terjatuh dari atap, menggelinding lewat kaca depan, terus ke kap mobil dan jatuh ke lantai. Awalnya dia diam, tangannya kaku (sepertinya menahan sakit yang sangat), setelah saya peluk barulah dia menangis. Dan akhirnya muntah. Takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan, sayapun melarikannya ke UGD rumah sakit terdekat.
Di UGD, setelah di cek oleh dokter jaga dan disarankan untuk observasi, datanglah petugas administrasi. Setelah mengisi form, petugas itu bertanya, di sela-sela tangisan Sayyid. 
“Mau kamar kelas berapa bu?”
“Kelas 1,” jawab saya.
“Maaf bu, biasanya kalau karyawan T***** kelas 2 bu.”
“Saya kelas 1.”
“Baik bu,”

Ia pun berlalu, pergi ke ruang administrasi. Tak lama kemudian ia balik lagi.
“Bu, kalau T***** itu biasanya kelas 2”
“Saya kelas 1.”
“Kalau seandainya ibu kelas 2, berarti segala kelebihan pembayaran ibu yang menanggung ya?”
“Iya,” jawab saya mulai kesal.

Saya repot menggendong dan membujuk Sayyid yang terus menangis, sementara ia repot dengan urusan kelas. Saya pikir setelah kedatangan yang kedua, sudah selesai. Tapi, innalillahi…. tak lama ia pun balik lagi.
“Maaf bu, kalau seandainya jatah ibu kelas 2 dan ibu mengambil kelas 1, segala kelebihan pembayaran ibu harus bayar ya?”
Emosi saya pun naik. 
“Mas, penentuan kelas itu ada aturannya. dan kami di kelas 1,” jawab saya dengan suara meninggi.

Dan ia pun akhirnya pergi tak pernah kembali. Sampai Sayyid pulang keesokan harinya. Sayonara…
Pernah juga saya ke rumah sakit membawa Muthi. Sistem sudah berubah. Kalau dulu cukup dengan tanda tangan, sekarang dengan menggunakan kartu asuransi. Ketika kartu asuransi dari kantor suami saya ajukan, petugasnya bilang,
“Bu, kartu asuransi ini berlaku hanya untuk rawat inap”
“Kalau yang ini bisa buat rawat jalan mba,” jawab saya sambil senyum maniiiiis….sekali. Plus ramah.
“Nggak bu. Kartu ini hanya berlaku buat rawat inap.”
“Silahkan di cek mba, kartu ini juga bisa buat rawat jalan,” jawab saya masih ramah.
Ehh…dia yang jengkel. Nadanya mulai meninggi,”
“Ibu, kartu asuransi yang dari T***** hanya bisa buat rawat inap.”
“Kalau gak percaya, silahkan di cek mba. Yang ini bisa rawat jalan,” jawab saya dengan tensi yang mulai meninggi. Dua kali minta di cek, tak juga ia gubris. Eeh…dia malah tambah ngotot.
“Enggak bu. Kartu ini hanya bisa buat rawat jalan.”
Kesabaran saya pun habis.
“Astaghfirullaah….tolong di cek!” Kalimat bentakan pun keluar dari mulut saya.

Akhirnya dia bertanya kepada rekannya satu ruangan apakah kartu asuransi saya bisa menanggung rawat jalan. Sang rekan menjawab singkat,
“Sebagian ada juga yang rawat jalannya di cover”

Setelah dia cek ternyata memang kartu asuransi yang saya ajukan bisa mengcover rawat jalan. Dan ketika ia melanjutkan proses input data, tak lupa saya skak sedikit,
“Makanya mba, jangan ngotot dulu. Di cek aja. Ternyata bisa kan?”

Wajah polos begini dikira bohong. Hadeuuuh…😅
Itu masalah tak dipercaya. Belum lagi pelecehan berupa meremehkan.

Sayyid di ruang operasi. Sesaat akan menjalani operasi jantung

Dulu ketika Sayyid hendak operasi jantungnya yang bocor, saya harus pergi ke ruangan asisten dokter jantung untuk meminta jadwal operasi. Kantor sang asisten ada di gedung lain dan terletak di lantai 4. Setelah nyasar beberapa kali (waktu itu belum ada google map☺️), akhirnya sampai juga. Begitu pintu saya ketuk, muncullah wajah sang asisten. Pintu hanya di buka sedikit, selebar badannya saja. Sambil berdiri di pintu dengan wajah datar tanpa senyum ia bertanya keperluan saya. Begitu saya serahkan surat pengantar dari dokter jantung, ia pun bertanya dengan “kejam”,
“Pembayarannya pakai apa?”
Duh…Gusti. Tak ada ramah-ramahnya. Tak ada senyum sedikitpun. Seakan-akan saya makhluk kere yang tak akan sanggup membiayai operasi mahal itu (padahal iya😂). Ketika saya jawab asuransi. Alisnya naik. Kemudian buru-buru saya tambahkan “asuransi dari T*****”.
Ajaib. Seketika ada seulas senyum samar di wajahnya. Pintupun dia buka lebar. Dan sayapun dipersilahkan masuk ke ruangannya yang luas tapi agak berantakan itu dengan bahasa yang mulai ramah.
Hati saya perih. Bagaimana kalau yang datang orang-orang susah apalagi dengan menggunakan asuransi pemerintah. Mungkin perlakuan yang mereka terima lebih menyayat hati. Padahal sudah seharusnya ia bersikap sopan, menyilahkan tamu masuk dan baru bertanya apa keperluannya. Ingat, gaji yang ia terima adalah hasil keringat para pasien.
Masih tentang Sayyid. Ketika ia berumur setahun, ia sering sekali BAB. Bisa 3-4 kali dalam sehari. Dan banyak. Badannya yang tadinya montok, perlahan-lahan mulai mengurus. Hati langsung merasa ada yang tak beres. Saya bawa ke dokter pertama. Beliau menganjurkan cek feces. Setelah hasilnya di dapat, beliau meresepkan obat. Sampai obatnya habis, tak ada perubahan. BABnya tetap sering dan banyak. Saya pindah ke dokter kedua, kembali cek feces dan diberi obat. Tak ada jua perubahan. Saya pindah ke dokter ketiga. Sama. Tak ada perubahan. Saya pindah ke dokter ke empat. Masih sama. Total saya sudah melakukan empat kali cek feces ke rumah sakit yang sama dengan petugas laboratorium yang sama.
Kemudian saya pindah ke dokter yang ke 5. Dokter ini meminta pemeriksaan yang lebih mendalam, feces analysis. Ketika saya bawa feces Sayyid ke rumah sakit itu dan lagi-lagi berjumpa dengan petugas yang sama. Ia pun sudah mengenali saya. Ketika ia membaca surat pengantar dari dokter, ia pun berkata dengan wajah yang gimana gitu...,
“Wah bu…kalau feces analysis ini mahal dibandingkan cek feces.”

Pengobatan yang sudah berbulan belum menunjukkan hasil serta mondar-mandir rumah sakit dan tempat praktek dokter, membuat saya lelah raga serta pikiran ini langsung tersulut mendengar perkataan yang menurut saya merendahkan itu. Dengan emosi saya pun berkata,
“Berapa biayanya? Saya TIDAK AKAN menawar !”
Ia pun langsung ngibrit ke dalam setelah menyebut angkanya.
Singkat cerita, lewat rekomendasi dokter ke 5 ini, akhirnya sayyid dirujuk ke RSCM dan bertemu seorang profesor di bidang gastrologi (pencernaan). Ternyata penyakit Sayyid adalah alergi parah terhadap susu sapi dan turunannya (keju, youghurt), kedelai dan turunannya (susu kedelai, tahu, tempe, kecap) serta kuning telur. Setelah menggunakan metoda eliminasi selama 2 tahun, lanjut dengan provokasi-eliminasi selama 6 bulan,akhirnya imun Sayyid terhadap makanan tersebut terbentuk. Alhamdulillah. 

menunggu siuman setelah selesai pemasangan alat ASO di jantung Sayyid

*****
Kembali ke laptop. Walau mendapat beberapa kali ‘penganiayaan bathin’ (😆😆) oleh paramedis, tapi saya tak kapok. Saya maklum. Mereka manusia juga seperti saya. Kadang bisa baik, kadang juga bisa mengeluarkan tanduk amarah. Mari berlapang dada saja. Saling memudahkan. Saling memaafkan.

Saya tak tahu apakah mereka sebelum bekerja mendapat training adab sopan santun entah tidak, tapi saya berharap paramedis di Indonesia lebih baik dan lebih ramah dalam bekerja. Karena tak hanya fisik yang sakit, bathin pasien dan keluarganya justru lebih rentan sakit. Mari memanusiakan manusia tanpa memandang harta dan jabatan. Tapi pandanglah, mereka juga manusia seperti kita.
Pengalaman terbaru minggu lalu, ketika kami membawa Muthi berobat ke sebuah rumah sakit. Ketika ayahnya memberikan kartu asuransi, petugasnya berkata,
“Maaf pak, kartu ini hanya untuk rawat inap.”
“Ini bisa buat rawat jalan. Coba aja dulu,” Kata si ayah.
“Oh…gitu. Eehh…Bapak direktur ya?” jawabnya sambil tersenyum ramah.
“Bukaan…,” kata si ayah.
“Ahh…Bapak pasti direktur,” tanyanya lagi.
“Bukan ahh…saya pegawai biasa,” kata si ayah.

Muthi langsung berbisik, 
“Ibu dulu gak dipercaya sama rumah sakit. Mungkin gaya ibu yang terlalu sederhana. Coba ibu dandan agak menor dikit, pakai gelang berderet sampai ke lengan, pakai kalung yang panjangnya sampai ke pusar, pasti deh mereka percaya.”

Kamipun tertawa. Muthi merasa lucu dengan candaannya, saya merasa ngenes. Nasib…nasib…😎
****
Upss…si gadis mungilku tak tersebut dalam berita. Si ayah suka protes kalau si bungsunya tak disinggung. Hmm…si mungilku ini yang mulai beranjak abg, walau kelahirannya bermasalah tapi alhamdulillah, selama dalam proses menumbuh dan membesar, saya tak pernah bermasalah dengan tenaga paramedis di rumah sakit manapun. Aman tentram terkendali seperti sifatnya yang enjoy.😍😍


Karawang, 3 November 2018

Menulis, Merekam Peristiwa




Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Mungkin kita semua pernah mendengar pribahasa di atas. Makna pribahasa di atas mungkin kita semua juga paham, bahwa setelah mati, seseorang itu akan dikenang budi pekertinya. Baik atau buruk

Sebagai seorang ibu dengan empat orang anak, tentu apa yang saya alami tak akan jauh berbeda dengan ibu-ibu lainnya. Terutama ibu-ibu yang full time. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, rasanya urusan rumah dan anak-anak tidak ada habis-habisnya. Apalagi di saat anak-anak masih kecil, sekedar untuk mandi santai saja, itu sudah sebuah kemewahan. Dan tentu kita sepakat, dari segala kelelahan fisik dan bathin mengurus semuanya, tentu tak sedikit pula kebahagiaan yang kita alami. Ada saja tingkah polah mereka dan celotehan mereka yang membuat kita tersenyum bahkan terpingkal-pingkal atau membuat kita merenung. Betapa ajaibnya makhluk ciptaan Allah ini. Mereka hadir dengan segala keunikannya. Tak pernah sama sekalipun mereka kembar identik. Kehadiran mereka membuat kita belajar, belajar dan belajar lagi tentang semua hal. Tentang ilmu parenting, ilmu kedokteran, ilmu keuangan, ilmu agama dan banyak hal.

Masa-masa dengan anak tanpa kita sadari hanya sebentar saja. Tau-tau mereka sudah besar. Satu persatu mereka akan pergi menempuh pendidikan yang lebih tinggi yang jauh dari rumah. Dan pada akhirnya mereka akan membangun rumah tangganya dengan belahan jiwanya masing-masing. Apakah mereka akan ingat dengan semua kenangan bersama kita, orang tuanya? Apakah mereka akan ingat dengan semua kenangan indah, pahit dan getir ketika dengan kita? Ingatan tak ada yang abadi. Akan tergerus oleh zaman. Tergerus oleh peristiwa demi peristiwa yang menyesaki otak mereka. Selain foto dan mungkin video, apalagi yang menjadi ‘penghubung’ mereka dengan masa lalunya bersama  kita?

Saya memang melankolis. Membayangkan berpisah dengan mereka sudah membuat hati mengharu biru. Tapi masa itu pasti tiba. Atau bisa jadi masa itu tak pernah saya rasakan karena dipanggil Allah lebih cepat. Saya ingin ketika masa itu tiba, mereka memiliki catatan dari peristiwa-peristiwa indah tentang mereka. Sehingga mereka kelak ingat, “oh dulu kita pernah begini.” Bahkan anak-anak mereka pun tahu. “Oh dulu ayah / ibu pernah begini ya?”
Maka, sayapun mulai menulis. Saya ingin meninggalkan jejak kenangan buat mereka. Awalnya saya menulis hanya di facebook. Kemudian seorang teman menyarankan untuk membuat blog, sehingga semua tulisan saya dapat disimpan di sana. Terekam dengan abadi. Serta gampang di cari dan di baca kembali. Sekarang setiap tulisan yang saya buat (sebagian besar tentang mereka) saya simpan di blog dan saya share di facebook.


Jadilah segala rupa saya tulis di blog. Merekam peristiwa, mengeluarkan uneg-uneg, ide, atau menyimpan cerita motivasi. Ternyata ketika teman-teman juga sanak keluarga bercerita, bahwa mereka termotivasi atau tercerahkan oleh tulisanku, alangkah bahagianya hati ini. Ini bonus bagi saya. Saya berharap, semoga semua tulisanku bisa menjadi amal jariyah bagiku kelak. Aamiin.

Pernah anakku yang tertua protes lewat telepon (ia bersekolah di pesantren), kadang ia merasa malu kalau kejadian tentangnya saya sebar ke publik lewat tulisan dan mendapat banyak like dan komen positif dari netizen. Saya jawab sambil bercanda,

“Wah…harusnya Muthi beruntung kalau kisah hebat Muthi ibu tulis. Apalagi kalau kelak tulisan-tulisan ibu di blog ini dibaca anak Muthi, anak Muthi pasti akan tau dan bangga betapa hebatnya ibunya dulu. Dan betapa susahnya neneknya mendidik ibunya dulu.” Saya pun terkekeh sendiri.

Kemudian dengan nada tercekat, dia berkata,

“Bagi Muthi, ibu yang terhebat.”



Saya yakin air matanya mengalir di seberang sana. Sama sepertiku di sini. Air mata meleleh atas ungkapan tulus darinya. Apakah yang membahagiakan hati seorang ibu selain pujian tulus dari buah hati yang dibesarkannya dengan cinta?

Saya akan terus menulis di blog. Merekam peristiwa demi peristiwa tentang mereka, juga peristiwa-peristiwa hebat lainnya di sekitar kita, sebagai warisan dari ibu dan ayahnyanya yang tak bisa meninggalkan harta kepada mereka. Hanya lewat tulisan, rekaman bukti cinta mendidik dan membersamai mereka. Jejak abadi yang akan kami tinggalkan untuk mereka, anak-anak surga dan juga untuk semua teman-teman dan handai tolan lainnya. 

Beratnya Rindu


Hari ini kami sekeluarga mengunjungi si gadis di pesantrennya. Setelah jalan ke sana ke mari, makan dan membeli beberapa keperluannya, kamipun sholat di masjid. Dan bersantai sejenak di sana sambil ngobrol ringan.
Dari sebanyak itu cerita kami, ada satu hal yg membuat hati ini mengharu biru.
Dia memiliki guru bahasa Arab asli dari Madagaskar. Sebuah negara kecil di benua Afrika sana. Beliau sudah puluhan tahun tinggal di Indonesia dan telah menikah dengan seorang perempuan Sunda serta memiliki seorang anak. Sebut namanya pak Ahmad.
Sejak pak Ahmad masuk SMA, kemudian melanjutkan kuliah di Mesir dan akhirnya jadi dosen sebuah universitas swasta di Bandung, tak sekalipun ia pulang ke kampungnya menemui ibu tercinta. Karena ketiadaan dana. Hingga puluhan tahun berlalu.
"Bukankah beliau juga mengajar di sekolah muthi? Jadi double job kan?"
"Di sekolah Muthi, beliau mewakafkan dirinya mengajar bahasa Arab. Tidak dibayar", kata si gadis. Masya Allah....betapa mulianya. Mewakafkan ilmu, tenaga dan waktunya di negeri orang. Sementara ia pasti butuh dana.
Pak Ahmad ini membagi waktunya, 4 hari di Subang dan 3 hari di Bandung.
Hatiku langsung gerimis. Terbayang perihnya rindu yang dirasakan si ibu. Ditinggalkan anak laki-laki yg mencari ilmu ke negri orang, kemudian bekerja, menikah, dan tak bisa pulang hingga berpuluh-puluh tahun lamanya karena terkendala biaya. Penantian yang sangat lama. Belum beratnya membanting tulang sendirian membiayai sekolah si anak dulu karena sang ayah sudah meninggal. Duuh... betapa tegarnya beliau. Semoga Allah merahmatinya
Akhirnya di umur 39 tahun, pak Ahmad bisa berangkat menemui ibunya tercinta di kampung halamannya di Madagaskar. Itupun hanya seorang diri. Belum bisa mengajak serta istri dan anak tercinta.
Ternyata di kampungnya, baru ia seorang yang berhasil menempuh pendidikan tinggi sampai ke universitas. Ketika ia pulang, orang sekampung keluar dari rumahnya untuk menemuinya. Ibunya pun menjadi sangat dihormati di kampungnya.
Meleleh air mata ini mendengarnya. Terbayang bahagianya hati sang ibu bertemu putra tercinta setelah berpisah sekitar 24 tahun. Penantian yang teramat panjang. Dari badan kuat hingga mulai renta. Saya rasanya tak sanggup bertahan selama itu menunggu anak tercinta. Pasti remuk redam rasa di dalam dada. Air mata tentu selalu menggenang di setiap sholat dan di setiap ingat mereka.
Pak Ahmad ini memiliki kepribadian yang tegas dan empati yang tinggi. Pernah suatu ketika, bapak kepala sekolah datang ke ruang guru memberi pengarahan. Guru-guru pada duduk karena memang memiliki meja dan kursi masing-masing. Pak Kepsek berdiri. Tak lama kemudian pak Ahmad keluar ruangan. Begitu balik, beliau membawa sebuah kursi dan mempersilahkan pak Kepsek duduk.
Ketika gempa dahsyat menimpa Lombok baru-baru ini, seorang teman Muthi yang berasal dari Lombok galau. Ia ingin tau keberadaan keluarganya. Begitu pak Ahmad tau ada muridnya yang berasal dari Lombok, langsung ia memberikan telepon genggamnya, "Ini hp bapak. Silahkan habiskan pulsanya. Telpon keluarga kamu".
Sang temanpun langsung menelpon keluarganya. Setelah beberapa saat iapun mengembalikan hp pak Ahmad dg mata sembab habis menangis. Ternyata ibunya sendirian berada di pengungsian. Adiknya sedang sekolah di sebuah pesantren di Jawa Timur. Dan ayahnya sedang berlayar. Beliau memang bekerja di pelayaran. Ibunya sendirian menghadapi cobaan dahsyat ini. 
Pun ketika ibunya yang sedang di pengungsian ini menelpon ke hp pak Ahmad untuk menyampaikan pesan ke anaknya, pak Ahmad yg sedang mengajar di sekolah putra, langsung bergegas naik motor dan menuju ke sekolah putri hanya untuk menyampaikan pesan ke si anak sesegera mungkin. Tak menunda waktu.
Sekarang sudah berlalu 3 tahun dari kunjungan terakhir ke ibunya di Madagaskar. Pak Ahmad masih menyimpan harapan untuk bisa kembali mengunjungi ibu tercinta di kampung halaman.
Ahh... Saya hanya bisa berandai, kalau saya berpunya, ingin rasanya membiayai guru yang baik hati ini berikut keluarga kecilnya pulang kampung halaman menemui ibunya yang mulai sepuh.
Betapa banyaknya Allah memberikan kita pelajaran lewat hikmah-hikmah yang bertebaran di sekeliling kita.
Semoga Allah melapangkan rezekimu, pak. Dan memudahkan segala urusanmu. Aamiin ya rabbal'alamiin.

Karawang, 16 September 2019

Rahasia Sukses



Malam ini dapat telepon dari si gadis. Jadwal meneleponnya memang 1x seminggu di hari Sabtu.. Walau sudah berharap sedari siang, ternyata telepon yang ditunggu baru datang jam 9 malam. Tak apa-apalah. Tunai juga pengharapan. 
Kali ini dia bercerita, bahwa ia diminta gurunya untuk memberi motivasi kepada seluruh anggota asrama putri setelah sholat Maghrib. Diminta pun mendadak menjelang maghrib. Tanpa persiapan. Sebenarnya ini memang program rutin untuk siswi kls 12. Semua mendapat giliran.
"Awalnya muthi agak gemetar, lama-lama lancar dan akhirnya ngalir. Teman-temanpun awalnya biasa aja. Setelah itu hening. Mereka mendengarkan dengan khusyu dan akhirnya mereka semua bertepuk tangan meriah. Mereka bilang muthi good motivator, bu. Sampai besok pagi, mereka masih memperbincangkan cerita motivasi Muthi. Bahkan ada yang bilang, Muth, lu jadi motivator pribadi gua aja ya? Tiap pagi kasih gua kalimat motivasi".
Emakpun penasaran, tentang apa sih?
Si gadispun bercerita,
"kalian mungkin pernah merasa ada orang yang sepertinya sempurna banget. Cantik, pintar, selalu juara kelas, pandai berorganisasi, hafalan Qur'an banyak, sering memenangkan lomba, sementara effort yang diberikannya tidak seberapa. Kita belajar, dia tidur. Kita sibuk ngafalin Qur'an, dia santai-santai.
Sementara kita, semua usaha sudah dikerahkan. Tetap aja, nilai standar, berorganisasi nggak bisa, hafalan Qur'an nggak banyak, boro-boro menang lomba, terpilih ikut lomba aja tidak pernah.
Jangan iri. Kita tidak tahu, seperti apa effort yg sudah dia keluarkan tanpa sepengetahuan kita. Mungkin dia bangun tengah malam, sementara kita tidur. Atau bisa jadi dia punya amal andalan yg membuat Allah memudahkan banyak hal untuk dia.
Ada seorang guru namanya pak Teguh. Waktu beliau kuliah di Sudan, setiap pagi beliau selalu menyiram WC yg masih ada pupnya. Entah siapa yg buang hajat tak pernah menyiram. Pak Teguh menyiramnya setiap pagi dengan niat agar orang yg memakai WC tersebut menjadi nyaman. Itu dilakukannya setiap hari selama kuliah di Sudan.
Suatu hari ketika ujian, ada satu mata pelajaran yang sulit, yang orang jarang lulus. Pak Teguh pun belajarnya tidak sungguh-sungguh karena memang sulit. Ternyata di saat temannya banyak yang tidak lulus, pak Teguh justru lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Sampai banyak temannya yang heran.
Pernah dengar kapasitas gagal tidak? Setiap orang memiliki kapasitas gagal. Semakin banyak kita gagal dan semakin banyak kita belajar, maka kapasitas gagal kita semakin berkurang. Akhirnya suksespun akan datang. Jadi jangan takut gagal. Gagal? Belajar lagi. Gagal lagi, belajar lagi.
Dan setiap orang punya waktu suksesnya sendiri-sendiri. Ada suksesnya di waktu muda. Masih muda sudah sukses dan kaya. Ada orang yang sukses setelah agak berumur. Seperti Jack Ma. Dia memulai karier dari guru. Setelah berusia di atas 30-an baru memulai usaha. Dan sukses di usia 45 tahun. Ada yang sukses di usia tua, yaitu kolonel Sanders pemilik resep ayam Fried Chicken. Beliau sukses di usia 70 tahun setelah punya cucu.
Jadi kalau saat ini belum sukses, belum pernah menang lomba, tetap berusaha. Kita tidak tahu takdir sukses kita itu kapan. Biar Allah yang menentukan
Yang penting barengi usaha dengan satu amalan khusus yg dawam (rutin). Bisa sholat dhuha, atau sholat tahajud. Tapi ada satu amalan yang sangat dicintai Allah yaitu sedekah. Sedekah ini, balasannya langsung diberikan Allah. Lakukan secara rutin. Biar hanya 500 rupiah atau 1000 rupiah tapi dawam setiap hari, itu lebih dicintai Allah, dari pada sedekah 300 rb tapi sekali sebulan. Allah melihat keistiqomahan kita, bukan nominal yang kita keluarkan".
Hmmm... Sepertinya tidak hanya temannya saja yang tercerahkan. Saya pun juga.
Terima kasih nak sayang. Telepon hari ini amat sangat bergizi bagi jiwa ibu. 

Karawang, 8 September 2019.


******

Sebagian tanggapan teman-teman di FB

Linda Gustina Maasyaa Allah... 
Banyak bener isi kepala muthi, sampai bisa ngaliiirr aja, lancar... 

Semoga jadi amalan jariyah, membawa kebaikan utk diri sendiri dan org banyak.. 
Barakallaahufiiha


Dhona Riezkanisa Mendekati ujung cerita pandangan kabur dan ada aliran sungai dimata. #meleleh

Yulia Wijaya Barokallah kak Muthi.. Jdi pengen tau lebih dekat siapa itu kak Muthi..

Annata Syahidah Barakallah kk Muthi....superr sekali. Sampai tharu baca nya, rasa nya pengen ada di tmp ketika kk muthi myampaikan motivasi...ikut duduk di antara barisan pdengar. Myimak lgsg motivasi dr ka muthi







Stop Buang Sampah Sembarangan



Hari ini tanggal 26 Agustus 2018, kami berkesempatan menonton pertandingan cabang olahraga Panahan di Asian Games 2018 di Jakarta. sebuah momen yang langka bagi kami. Karena Asian Games ini mampir ke Indonesia setelah 56 tahun berlalu. Asian Games yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia tahun 1962. Waktu itu, jelas saya belum lahir. Asian Games yang kedua yang di selenggarakan oleh Indonesia adalah tahun ini, di saat saya sudah berumur 46 tahun. Dan Asian Games yang ketiga nanti yang diselenggarakan Indonesia, hampir bisa dipastikan saya sudah meninggal. hehee...
Tidak ada masalah dengan pertandingannya. Acara berlangsung seru. Walaupun  di pertandingan yang saya saksikan, tim beregu putra dan putri Indonesia kalah dari regu India dan Korea.



Tapi yang jadi masalah adalah perilaku sebagian besar masyarakat Indonesia.
Sepulang dari Gelora Bung Karno, kami mampir ke rest area km 39 buat sholat Asyar. Begitu keluar mobil, saya melihat seorang bapak membuka kaca jendela mobil dan tuing...selembar tisupun dia campakkan ke jalan.
Hati ini suka kesal kalau melihat orang buang sampah ke jalan dari jendela mobil. Beli mobil mampu, masak beli tong sampah untuk di mobil tidak mampu?
Akhirnya saya dekati mobil si bapak.
Me : Pak, jangan buang sampah ke jalan dong!
Mr.X : hallaah...cuma tisu.
Me : tetap itu sampah. Dan jalan ini bukan tempat sampah.
Mr.X : terus dibuang dimana bu?
(pertanyaan konyol kan? )

Me: buang di mobil bapak. Nanti sesampai di rumah, buang ke tong sampah di rumah bapak. Atau beli tong sampah untuk di mobil bapak.
Mr.X : iya buk....iya buk..


Tadipun di venue panahan, yang boleh jualan di area ini hanya pihak sponsor. Untuk minuman hanya ada 2 stand. Satu stand air mineral dan satu lagi stand es krim. Di depan stand air mineral, terlihat bersih dan rapi sedangkan stand es krim, subhanallah....alangkah banyaknya sampah bungkus es krim berserakan. Setelah pertandingan dimulai, pembeli mulai sepi, si penjaga stand marah-marah karena perilaku pembeli yang tak mau buang sampah ke tempatnya. Padahal jarak stand es krim dengan tong sampah hanya sekitar 3m. Dan tong sampah itu pasti mereka lewati untuk masuk ke area pertandingan.
Kalau dipikir, emang bikin jengkel prilaku sebagian (besar) masyarakat Indonesia yg masih minim kesadaran akan kebersihan lingkungan.
Mungkin ini terkait dengan pendidikan usia dini di negara ini. Dimana sebagian besar masih mementingkan membaca, menulis dan berhitung. Pembinaan akhlak hanya alakadarnya di sela-sela pelajaran utama itu.
Kebersihan hanya jadi pengetahuan bukan perilaku.
Tadi selama pertandingan, saya menyaksikan bagaimana karyawan Toyota (PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia) Karawang, memperhatikan masalah kebersihan ini. Meskipun di tribun penonton sudah disediakan 2 kantong plastik besar tempat sampah oleh panitia, para karyawan ini masih memasang beberapa tempat sampah plastik besar di beberapa tempat. Dan ketika pulang, mereka melakukan operasi bersih dengan memunguti sampah-sampah yang ditinggalkan para pengunjung (yang bukan dari Toyota). Sehingga tribun penonton saat ditinggalkan, bersih dan kinclong dari sampah. Karakter bersih sdh tertanam di sanubari mereka.
Ups....apa karena mereka perusahaan PMA Jepang ya? 
Tapi kebersihan lingkungan ini memang sangat penting. Saya tau, ada seseorang yang rumahnya sangat rapi dan bersih. Tapi ketika pergi dengan mobil bagusnya, dia masih seenaknya buka jendela dan buang sampah ke jalan. Jadi kebersihan hanya untuk dirinya dan keluarganya. Belum lingkungannya.
Ayolah....kita mulai dari diri dan keluarga kita untuk menjaga kebersihan lingkungan. Ahh...ini sebenarnya nasehat buat diri sendiri. 

Sudahkah Minum Air Nabeez Hari Ini?




Sejak dinyatakan sebagai penderita diabetes dari 2 tahun yang lalu, saya termasuk penderita yang ngeyel tak mau mengkonsumsi obat-0batan untuk pengendalikan gula dalam darah. Olahraga pun malas. Saya hanya mengatur pola makan. Nasi sepertiga dari takaran biasa, perbanyak lauk dan sayur. Serta..... minum air nabeez.
Sebenarnya mengatur pola makan saja, agak kurang efektif dalam mengontrol gula darah. Karena sering sekali tergoda ketika ada suguhan nikmat di depan mata. Apalagi gretong. Dan ketika bablas, kadar gula dalam darah dengan senang hati ikut naik mengikuti apa yang kita makan.
Tapi dari pengamatan saya dalam 6 bulan ini, air nabeez efektif mengontrol gula darah. Beberapa kali saya makannya out of control. Misal, pagi sudah sarapan. Jam 9 pagi liqo. Segelas teh manis dan kue-kue manis serta gurih meloncat mulus ke dalam perut. Siangnya ada arisan. Maksi lengkap dengan jus dan kue-kue pun mendarat cantik di lambung. Sorenya ada pengajian RT. Kue-kue lezat yang manis dan gurihpun, masuk dengan manjaah... ke dalam perut. Dan ditutup dengan makan malam. Ketika malamnya di cek, gula darah hanya naik di sekitaran 180. Gula darah normal, dengan batas atas. Sebelum mengkonsumsi nabeez, dengan memakan makanan seperti itu, maka gula saya akan bersuka cita melonjak sampai 240-280.
Tapi anehnya, kalau saya makan dalam takaran normal, sementara nabeez saya konsumsi terus menerus, gula darah saya tak pernah melorot. Bertahan di kisaran 140-an.
Seakan-akan air nabeez itu mempertahankan kadar gula dalam darah di ambang normal. Bagi saya ini amazing sekali. Mana ada obat buatan manusia seperti itu.
Dan seminggu yang lalu ketika sy cek labor ke sebuah rumah sakit, hasil pengecekan HbA1c (pengukuran rata2 kadar gula dalam darah selama 3 bulan terakhir) saya menunjukkan angka 5,8 (normal). Batas normal 6,3. Dulu, sebelum mengkonsumsi nabeez, angka HbA1c saya selalu di kisaran 8 ke atas. Dan dokterpun menyatakan saya bukan diabetes. Alhamdulillaah... Hurrayy !!!
Karena ikut senang, Sayyid berkata, "wah ibu sudah bisa makan nasi uduk 1 bungkus. Kan nggak diabetes lagi".
Oh tentu tidak, nak. Ibu harus tetap menjaga konsumsi makanan agar kadar gula darah tetap stabil.

Apa sih air nabeez itu?
Air nabeez adalah minuman kesehatan kesukaan Rasulullah. Air Nabeez adalah air rendaman (infused water) kurma / kismis (raisins). Kurma atau kismis di rendam dalam air masak semalaman (dalam wadah yang bertutup) dan diminum keesokan hari. Atau direndam pagi, diminum sore hari. Lama perendaman 10-12 jam.
Seperti yang kita ketahui, dalam kurma sendiri sudah memiliki begitu banyak kandungan gizi bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan mengatasi berbagai penyakit mulai dari yang ringan sampai berat. Dalam buah kurma terdapat nutrisi penting seperti energi, air, protein, serat, karbohidrat, gula, lemak, kolesterol, vitamin B5, vitamin B9, vitamin B6, vitamin C, vitamin E, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin K, zat besi, magnesium, kalium, fosfor, sodium dan juga seng

Khasiat air nabeez
Air nabeez adalah minuman beralkali, yang mampu menolong membuang kelebihan asam pada perut dan memulihkan sistem pencernaan tubuh. Juga membantu badan untuk menyingkirkan toksin yang berbahaya didalam tubuh, dalam kata lain berguna sebagai detox.
Air nabeez tinggi akan kadar fiber, sehingga ia mampu membantu proses pencernaan yang baik & meningkatkan / menajamkan fikiran agar kita tidak mudah lupa. Juga menyehatkan hati, jantung, prostat, Dan lain-lain.
Info lengkap manfaat nabeez, dapat dilihat di sini. 
https://manfaat.co.id/manfaat-rendaman-air-kurma/amp
Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?
Yuuk... Kita konsumsi nabeez. Supaya dapat sehatnya, dapat sunnahnya. 

Ibu Pelit…





Ibu pelit! Rasanya setiap ibu mungkin pernah mendengarnya. Di ucapkan oleh si kecil saat keinginannya tak dituruti. Aku pun tak beda. Seingatku, aku dibilang begitu oleh anak-anak sampai saat ini sudah 4 kali (jangan lagi…). Muthia sekali ketika kelas 5 SD. Sayyid sekali ketika umur 4 tahun dan Alyssa 2 kali ketika kelas 4 SD. Memang, daya pikir kanak-kanak mereka tak paham dengan maksud dan tujuan orang tuanya sehingga kalimat “Ibu pelit” terlontar dari mulut mungil mereka.

Tapi itulah yang harus ditanggung oleh ibu-ibu dalam ikhtiarnya membentuk anak agar mampu mengendalikan dirinya dari keinginan yang berlebihan. Tidak boros, gampang meminta dan tidak bisa menghargai usaha orang tua.

Kalimat ibuku tercinta yang selalu terngiang olehku, “Menjadi orang boros tak perlu belajar tapi menjadi orang hemat perlu belajar dan latihan”. Tentu belajarnya harus sedari kecil dan latihannya terus-menerus sehingga itu menjadi karakter yang tertanam di sanubari mereka.

Ada satu cerita yang sangat membekas di jiwaku. Yang akhirnya cerita itu ikut mewarnai pola asuhku terhadap anak-anak.

Dulu, saat saya mulai bekerja dan belum menikah, lingkup pergaulan menjadi berubah. Bukan lagi dengan teman sebaya seperti ketika masih sekolah atau kuliah. Tapi bergaul dengan para suami, para istri, para bujang dan gadis bahkan juga dengan duda maupun janda. Ada banyak ilmu yang bisa diserap dari mereka.

Suatu kali seorang rekan kerja yang sudah berkeluarga bercerita. Hari Minggu ia mengajak keluarganya ke mall untuk berbelanja bulanan sekalian makan-makan. Ternyata di mall sang anak (5 tahun) tergoda dengan mobil yang bisa dinaiki dengan tenaga gerak battere. Kala itu mobil-mobilan ini mulai booming. Si anak sebegitu ngototnya ingin memiliki mobil tersebut. Sehingga ia pun menangis meraung-raung sambil berguling dan sekali-sekali memaki orang tuanya. Si rekan dengan istrinya sampai kewalahan menghadapi si anak. Akhirnya dari pada malu, mobil idaman seharga hampir 600 ribu rupiah itupun di bawa pulang. Uang yang dibawa hanya 600 ribu rupiah. Setelah mobil itu dibeli, akhirnya merekapun pulang. Belanja gagal, makan-makanpun gagal.

Itu kejadian sekitar tahun 1997. Di mana harga 1 gram emas hanya Rp 20.000,-. Berarti harga mobil 600 ribu rupiah itu setara dengan harga 30 gram emas. Kalau dianalogikan dengan jaman sekarang dimana harga 1 gram emas sekitar Rp 500.000,-, maka harga mobil itu sekitar 1,5 juta rupiah. Woow….anak usia 5 tahun berhasil ‘menekan’ orang tuanya untuk membelikannya mainan seharga 1,5 juta rupiah, hanya dengan senjata tangisan dan berguling di lantai serta sesekali memaki dengan kata-kata kasar.

Dari situ saya mulai mereka-reka pola pendidikan seperti apa yang akan saya terapkan kalau kelak Allah memberikanku amanah anak. Saya tak ingin ‘kalah’ oleh keinginan anak. Tapi saya juga tak ingin memberangus keinginan mereka.

Akhirnya, ketika Muthia berumur 2 tahun (tahun 2002) saya mulai menerapkan 3 tipe berbelanja, supaya ia belajar menahan diri, tidak kalap dan bisa mengerti keadaan orang tua. Meskipun sebenarnya kami mampu memenuhi permintaannya saat itu. 

Tiga tipe itu yaitu:
1. Harganya murah, ayo kita beli.
2. Harganya agak mahal, tunggu ayah gajian ya?
3. Harganya sangat mahal, kita nabung ya?


Dengan kesepakatan, barang di anggap murah kalau Rp 10.000,- ke bawah. Barang dengan range harga Rp 10.000 – Rp 50.000 itu agak mahal. Di atas Rp 50.000 itu mahal. 
Jadi kalau kami jalan-jalan ke mall atau ke mana saja, ketika Muthia meminta sesuatu yang bukan makanan, saya selalu menerapkan 3 hal itu. Dan yang terpenting, jangan berbohong dengan anak. Kalau barang yang ia minta tipe kedua, maka setelah ayahnya gajian segera penuhi, meskipun ia lupa.

“Muthi, ayah sudah gajian. Muthi kan kemarin ingin mainan ‘X’. Ayo kita beli.” Matanya langsung berbinar-binar mengalahkan binar bintang kejora. Semangatnya langsung menggebu-gebu. Walaupun ia belum fasih mengungkapkan isi hatinya, tapi gestur tubuhnya sudah menunjukkan bahwa ia sangat berterima kasih karena kita mengingatnya dan menghargai keinginannya.

Begitu juga kalau mainan yang ia minta mahal. Setelah celengan imutnya penuh dan dibongkar, ia sangat gembira melihat banyaknya uang (receh) yang terkumpul. Meskipun uangnya jauh panggang dari api dari harga mainan tersebut, biasanya saya dan ayahnya akan bersorak, “Wah…uangnya banyak sekali. Ini cukup buat beli mainan itu. Yuuk…besok kita beli.” Dan ia akan sangat puas sekali dengan mainan hasil jerih payahnya menabung.

Tapi pendidikan memang tak pernah selalu mudah. Kalau pada Muthia saya merasa sangat mudah menerapkannya tapi tak begitu dengan Sayyid. Dengan si bujang satu ini ada sedikit riak.

Ketika ia berumur 4 tahun, di kantor ayahnya ada bazar menyambut Idul Fitri. Maka pergilah saya dengan si nak bujang ini ke bazar tersebut. Ternyata yang jual mainan sangat banyak. Di bazar ini diterapkan pola potong gaji dan bisa dicicil selama 10 bulan. Dan tanpa bunga. Sebuah kemudahan yang bisa membuat sebagian karyawan dan keluarganya ‘kalap’ berbelanja.

Kemudian, lewatlah kami di stand mainan. Pedagangnya menawari Sayyid mobil mainan dengan remote control seharga 200.000. Biasanya kalau ia ingin suatu mainan, ia akan bertanya, “Ibu, ini mahal tidak?” Maka saya akan memberitahu harga barang itu dan masuk tipe mana. Dan BIASAnya ia akan bersabar kalau barang itu masuk tipe agak mahal atau sangat mahal.

Tapi kali ini, para pedagang stand bazar itu kompak memberi racun. Mereka saling dukung dan bersahut-sahutan, “Ayo bu, murah bu. Kalau potong gaji bisa 10 kali bayar. Hanya 20.000 se-bulan. Murah bu.”, “Ayo bu, sayang anak, bu”, “Bu, kasian. Anaknya ingin tuh…”, “Jangan pelit bu. Kasian anaknya. Murah bu, bisa potong gaji.”

Merasa mendapat ”angin”, mulailah Sayyid merengek dan menangis. Saya masih berusaha memberi pengertian bahwa itu harganya mahal dan ia harus menabung. Tapi para pedagang itu ramai-ramai mengipasi Sayyid. Akhirnya terjadilah kejadian itu. Sayyidpun pun langsung berguling-guling di lantai meminta mobil tersebut. Keluarlah kalimat “Ibu pelit!”.

Dan para pedagang itu, bukannya merasa bersalah telah menyebabkan seorang anak tantrum, malah makin ribut bersuara, “Jangan pelit bu. Kasian anaknya. Udah nangis tuh… Sayang anak. Bisa di cicil, kok.”

Ingin rasanya membentak para pedagang itu supaya tidak meracuni. Tapi saya sadar kalau mereka juga dalam usaha mencari nafkah. Walau caranya sangat tidak etis karena memanfaatkan emosi anak.
Sebenarnya saya malu dengan aksi nangis sambil berguling-gulingnya. Tapi kalau saat ini saya kalah dengan rasa malu dan tantrum Sayyid, maka untuk selanjutnya saya akan kalah terus. Karena di lain waktu ia tentu akan menaikkan level tantrumnya untuk ‘menguasai’ ibunya agar memenuhi keinginannya. Akhirnya saya tahankan rasa malu ini. Dan juga rasa marah kepada para pedagang itu. Dan berlagak cuek serta “cool”.

Jadi semakin gigih pedagang itu merayu, semakin keras tangis Sayyid, semakin kuat pula saya bertahan. Bagi saya ini masalah pengendalian diri. Bagi saya untuk tak marah (karena Sayyid masih kecil) dan juga agar tak mudah luluh oleh “triknya”. Dan juga bagi Sayyid agar ia bisa menahan diri atas keinginannya dan juga untuk tak memaksakan kehendak. Pendidikan pengendalian diri yang akan berguna di masa yang akan datang. Akhirnya setelah mulai lelah, tapi tak ada tanda-tanda ibu akan luluh, tangisannya pun melemah. Ketika sudah tinggal sesegukan, Sayyid pun saya peluk. “Sayyid haus?” ia mengangguk. “Kita beli es krim yuk?” ia pun mengangguk. Dan, sebuah pelukan serta setangkup es krim lezat mampu mencairkan amarahnya. Dan pasrah digendong ke mobil. Pulang.

Alhamdulillah, hanya sekali itu saya mengalami kejadian anak tantrum dalam usahanya meminta sesuatu. Tapi kalimat pelit masih berlanjut oleh anak yang lain.

Kalimat pelit kedua adalah dari Muthia saat ia kelas 5 SD. Ketika itu ia pulang sambil merajuk. Dia bercerita tentang teman-temannya yang selalu membahas tentang sinetron yang lagi populer di televisi saat istirahat tiba.

“Ibu pelit. Nggak pernah ngijinin Muthi nonton sinetron. Jadi kalau jam istirahat, cuma Muthi doang yang diam karena nggak pernah nonton.”

Tentu itu kalimat hiperbola. Mana mungkin dari sekitar dua puluh limaan anak hanya dia sendiri yang tak menonton tv. Sementara saya tau ada beberapa orangtua yang juga tak menghidupkan tv mereka.

“Hhmmm, coba Muthi ingat, kalau ada film anak-anak yang bagus, bukankah kita bisa ke Jakarta, ke Tangerang, ke Bekasi atau ke Cikarang buat nontonnya, kan?"

Ketika itu di Karawang belum ada bioskop selevel 21 atau XXI. Hanya ada 1 bioskop biasa yang jarang sekali menampilkan film-film bagus buat anak-anak. Jadi kalau ada film anak-anak yang bagus baik film Indonesia maupun film luar, kami selalu berusaha membawa anak-anak untuk menontonnya walau harus ke luar Karawang. Pulang dari menonton, biasanya film itu jadi bahan diskusi kami.

“Menonton film ke bioskop itu ada biayanya lho. Sedangkan nonton sinetron tidak ada biayanya. Sinetron itu kebanyakan bukan untuk usia Muthi. Sedangkan film anak-anak jelas buat usia Muthi. Jadi siapa yang pelit? Dan siapa yang baik?”
Dia diam. Dan perlahan wajah manyunnya hilang berganti dengan wajah yang mengerti.

Mengenai menonton film di bioskop Karawang ini, kami pernah punya pengalaman mengecewakan. Ketika itu, kalau tidak salah Muthi kelas 5 SD. Di layar bioskop terpampang spanduk film anak-anak yang berjudul “Ketika Liburan Tiba”. Sebuah film anak-anak besutan Ari Sihasale dan istrinya, Nia Zulkarnain. Ketika itu bulan Ramadhan.

Di hari Sabtu, dengan niat ingin menyenangkan anak-anak, saya pun mengajak mereka menonton di sore harinya sambil menunggu waktu berbuka. Setelah itu kami akan berbuka di sebuah restoran (rencanaa…). Muthi pun sangat bersemangat. Bahkan ia mengajak satu orang sahabatnya. 

Dari jam 2 siang, kami sudah stand by menunggu di bioskop. Perlahan-lahan bioskop mulai ramai. Banyak anak-anak juga. Kami tambah semangat. Jam 3 lewat 15 menit, loketpun di buka. Ada 2 buah loket yang di buka hari itu. Loket 1 untuk film Ketika Liburan Tiba, loket 2 untuk film Mendadak Jadi Pocong. Ternyata, antrian loket 1 hanya saya dan anak-anak. 5 orang saja! Sedangkan loket 2 antriannya mengular. Saya tak percaya, tapi nyata (aduh…kayak lagu). Tak percaya bahwa anak-anak itu bahkan banyak juga yang usia balita, di bawa orang tuanya untuk menonton film komedi berbalut horor yang jelas-jelas bukan untuk usia mereka.

“Hellooww….Bu, Pak, film untuk anak-anak ada di loket 1”, teriakku dalam hati. Menangis.
Klimaksnya, si petugas loket dengan santainya berkata, “Filmnya gak jadi tayang bu, karena penontonnya cuma ibu dan anak-anak ibu saja.”

Oh….sempurna kecewanya. Terutama anak-anak. Wajah mereka yang ceria sejak dari rumah langsung berselaput duka.

Saya tidak tau, mana yang lebih dalam rasa kecewa saya hari itu. Melihat anak-anak bersedih karena tidak jadi menonton film atau melihat fenomena orang tua yang tidak punya filter sama sekali untuk anaknya.

Yup…kembali ke laptop.
Kata pelit yang ketiga dan ke empat berasal dari si bungsu, Alyssa. Penyebabnya jatah uang jajannya untuk hari itu sudah habis. Tapi ia masih nekad minta lagi. ”Maaf, nak. Tak ada lagi”. Akhirnya iapun ngeloyor pergi main bersama temannya sambil berkata, “Ibu pelit ahh”. 

Semakin besar, mereka semakin paham maksud dan tujuan kami untuk melatihnya menahan diri dari keinginan yang berlebihan. Walaupun sekali-sekali saya lost controlled juga. Tapi alhamdulillah si ayah selalu jadi remnya.

Ketika kelas 6 SD, saya mulai melatih mereka untuk mengatur keuangan sendiri dengan memberi uang jajan mingguan. Uang jajan harus ada sisa. Untuk ditabungin dan disedekahkan walaupun sedikit. Kalau mereka berhasil selama 6 bulan, maka berikutnya akan diberi uang jajan bulanan berikut bonus.

Alhamdulillaah, mereka tak sulit mengaturnya. Selalu ada sisa. Sehingga mereka memiliki rekening sendiri di bank dan memiliki ATM masing-masing. Dan alhamdulillah lagi, mereka memiliki kepedulian yang lumayan bagus.

Pernah suatu ketika saya berkata, “aduuh…ibu lagi nggak punya uang nih”. Serentak mereka menawarkan uangnya masing-masing. Boleh diambil tanpa perlu diganti. Mantap kan?

Pun, ketika diajak berdonasi saat ada musibah, mereka gampang mengeluarkannya.

Begitu juga saat mereka butuh sesuatu seperti tas, sepatu atau lainnya, mereka tak mau memakai uang saya. Mereka lebih senang memakai uangnya masing-masing.

Pernah ketika sepulang lebaran tahun lalu, saya sibuk menuliskan pengalaman perjalanan mudik itu. Tiba-tiba keyboard rusak. Karena lagi malas keluar untuk membeli keyboard baru, maka saya diamkan saja sampai 2 hari. Ternyata, si nak bujang yang saat itu duduk di kelas 8 SMP ini, sangat jeli. Dia memperhatikan saya tidak menulis sudah 2 hari. Dan di hari ke empat, tiba-tiba,”

“Ibuu….ini hadiah spesial untuk ibu”, katanya dengan wajah sumringah memberiku sebuah bingkisan.

Begitu dibuka, ternyata isinya keyboard baru! Dia diam-diam membelinya secara online ke sebuah olshop. Dan diam-diam pula membayarnya ke Indomart terdekat. So sweet...


Alhamdulillaah…inilah hikmah untuk si “Ibu pelit” ini.


Karawang, 14 Agustus 2018

Powered by Blogger.