Liburan tipis-tipis...



Satu hal yang menyenangkan jalan-jalan di Sumbar ini selain pemandangannya yang indah dan makanannya yang lezat adalah jalannya yang lebar dan mulus. Kemana pun saya pergi di Sumbar ini, ke area pegunungan maupun menurun ke lembah, ke pantai, rata-rata jalannya sangat mulus dan lebar. Sehingga sangat nyaman untuk jalan-jalan.
Liburan lebaran kali ini, kami memang berniat tidak akan melakukan petualangan ke tempat wisata yang agak memacu adrenalin seperti biasanya. Mengingat waktu libur yang pendek, hanya 8 hari, juga si gadis yang akan berkuliah di sini, maka kami akan memperbanyak silaturahim dengan keluarga besar untuk menitipkannya kepada mereka. Tolong lihat dan bantu jaga anak gadis kami.🙏🙏
Sedangkan liburannya ya..yang tipis-tipis saja. Alias yg dekat-dekat atau sambil lewat saja.
Seperti kali ini, setelah bersilaturahim ke rumah sanak saudara di Lubuk Alung dan sekitarnya, kami lanjut ke Bukittinggi untuk bersilaturahim dengan keluarga Tante Fitrina Eka Rahmi di Koto Tuo yg indah. Karena jalan raya Padang Bukittinggi macet parah, kami mengambil jalan alternatif ke Malalak, Koto Agam. Di sini jalurnya lumayan sepi dan lancar.
Dari Sicincin, kami belok ke arah Koto Mampang. Dari sini kami akan melakukan pendakian panjang berkelok2 sampai ke Koto Tuo. Jalan sangat mulus. Udara sejuk serta pemandangan yang memanjakan mata. Dijamin tidak akan bosan
Di sini ada satu spot yang sangat cantik untuk berfoto. Di area ini kita bisa melihat pemandangan ke sebuah desa di bawah lembah. Desa yg dikelilingi perbukitan dan kadang digelayuti awan tebal. Benar-benar eksotis. Tapi kami berencana tak akan mampir di sana, karena dulu sudah pernah.
Yang kami lakukan sekarang adalah mencicipi kuliner di sepanjang jalan Malalak sampai Padang Lua.
Yang pertama, kami mampir berhenti makan durian di Malalak Selatan. Yeeayy... Durian kampung yg sangat legit. Berdaging kuning dan berbiji kecil. Dengan uang 100 ribu kami mendapat 5 buah durian. Durian kami makan di tempat. Dan tandas dalam sekejap. 😋😋😋

Perhentian berikutnya adalah kedai nasi 'Putuih Sambuang'. Tempatnya di pinggir jalan di tepi tebing. Pemandangan ke bawah sangat menggoda. Hamparan sawah berjenjang memanjakan mata. Ditingkahi udara dingin membelai, benar-benar membuat mata ini jadi berat. Untunglah yang akan kami nikmati di sini adalah segelas kopi fenomenal. Kopi 'tungkuik'.
Kopi ini disajikan dalam gelas yang tertelungkup di atas piring. Bagaimana caranya agar air kopi itu keluar dan bisa dinikmati? Ternyata caranya amat mudah. Letakkan sedotan di bibir gelas kemudian tiup. Tak perlu meniup sekuat tenaga sampai gelasnya terpelanting, Cukup dengan tiupan ringan saja. Seketika air kopi keluar dr gelas menggenangi piring kecil. Baru diminum pake sedotan. Anak-anak sangat excited dengan cara minum kopi seperti ini. Mereka berhasil menghabiskan kopi susu mereka masing-masing. Woow...

Kopi yang disajikan adalah kopi Aceh. Dan cara penyajian dengan gelas ditelungkupkan ini, juga asli cara Aceh. Disajikan di udara dingin dengan pemandangan yang indah, terasa nikmat yang berlipat-lipat.
Bagi yang berkesempatan lewat di Malalak ini, hidangan kopi tungkuik ini sebaiknya jangan dilewatkan. Kedai in juga menjual nasi dengan aneka rupa lauk pauknya. Kedai putuih basambuang ini tak pernah sepi dari pelanggan.
Setelah melewati daerah Malalak, kami sampai di Koto Balingka. Di sini ada satu kuliner yang sangat terkenal yaitu gulai pensi. Pensi ini sejenis kerang kecil, hewan endemik Danau Singkarak.

Masya Allah, masakannya sangat enak. Bumbunya pas mantap. Harganya pun murah. Hanya 5.000/porsi. Pensi yang di jual di sini selalu laris manis. Kami hanya kebagian 2 porsi saja.
Perjalanan kami lanjutkan sampai ke Padang Lua. Di sini ada kuliner yang sangat terkenal dan beberapa kali pernah diliput tv nasional serta menjadi langganan presiden SBY. Setiap beliau ke Bukittinggi, tak lupa beliau mampir ke sini. Namanya Nasi Kapau Ni Cah.
Nasi Kapau Ni Cah ini memang terkenal lezat. Harganya? Lumayan. 1 nasi bungkus berharga 40.000. Satu potong lauk saja seharga 30.000. Ada rasa ada harga.
Tp 1 nasi bungkusnya cukup untuk di makan 2-3 org krn porsinya yg besar. Oh ya, ciri khas lauknya adalah gulai tanbungsu. Alias gulai usus yg sdh diisi telur.

Di sini, makanan kami bungkus saja. Karena sdh kesorean, gulai sayur kapaunya yang terkenal itu sudah habis.
Dari Padang Lua, kami terus ke Ngarai Sianok. Ngarai Sianok ini merupakan salah satu destinasi indah di Bukittinggi. Ngarai Sianok ini sesungguhnya adalah jurang dengan kedalaman 100 m, lebar 200 m dan panjang 15 km. Yang membentang dari selatan nagari koto Gadang sampai ke utara nagari Sianok Anam Suku.
Biasanya kami menikmati pemandangn jurang yang indah ini dari atas. Tapi kali ini kami akan turun ke dasar jurang. Sampai ke sungai kecil yang terdapat di dasarnya.

Pemda setempat sudah menyediakan area duduk-duduk dengan lahan parkir yang cukup luas. Berwisata di sini gratis. Hanya perlu membayar uang parkir 3000 saja.
Amboii... Asyik nian makan di dasar jurang Ngarai Sianok dengan pemandangn tebing-tebing indah, udara sejuk sambil melihat anak-anak main di sungainya.
Ternyata pemandngn yang indah, udara yang sejuk, sanggup membuat Sayyid menghabiskn sendiri nasi bungkus porsi besar Nasi Kapau Ni Cah. Rekor. Agiah taruiiih...😂😂
Dari sini kami lanjut ke Jam Gadang. Menikmati suasana Jam Gadang di Malam hari. Dan perjalanan pun berakhir di rumah tante Pit di Koto Tuo. Liburan tipis-tipis yang menyenangkan. 


Padang, 13 Juni 2019

Ibuku




Ibuku bukanlah orang yang berpendidikan tinggi. Pendidikannya hanya tamat SD. Terhenti karena perang juga karena ketiadaan biaya. Tapi ibuku memiliki semangat belajar yang tinggi.
Selama masa menanti momongan sampai 8 tahun selepas menikah, ibuku tak membiarkan waktunya kosong. Beliau kursus menjahit. Juga belajar aneka masakan.
Dalam keterbatasan ekonomi, beliau dan ayah kami selalu menomorsatukan pendidikan buat anak-anaknya. Apapun biaya yang dibutuhkan untuk pendidikan kami, mereka usahakan dengan jari yang sepuluh alias titik keringat mereka sendiri.
Sekarang semua anaknya sudah selesai sekolah dan sudah mandiri dengan keluarga masing-masing. Waktu yang seharusnya ia pakai buat bersantai menikmati masa tua yang nyaman.
Tapi di siang hari yangg panas ini, saya melirik ke teras. Saya pikir ibu bersantai di teras sambil menikmati tiupan semilir angin dr pohon-pohon rindang di halaman.
Ternyata, masya Allah... 
Ibu sedang mengerjakan PR bahasa Arab dari guru bahasa Arabnya.

Ya, ibu yang sekarang sudah berumur 78 tahun tetap bersemangat mencari ilmu. Sudah 2 tahun ini ibu giat belajar bahasa Arab. Tiga kali seminggu. Beliau belajar bahasa Arab di dua tempat yg berbeda. 2x di Majid Ukhuwwah Padang dan 1x di masjid Muhsinin Padang.
Dulu sempat terpikir, ini mungkin ghirah sesaat. Tapi setelah 2 tahun, ibu malah semakin semangat. Tak jarang, kalau menelpon saya di Karawang, beliau menceritakan kemajuan pelajaran bahasa Arabnya.
Sementara pengajiannya 4x seminggu. 2x sehabis Isya di masjid Ukhuwah. 1x di pagi hari di masjid di daerah Purus Padang, yang diadakan oleh yayasan pensiunan BNI. Dan 1x sehabis subuh di masjid Muhsinin.
Hari-harinya banyak dipakai untuk menuntut ilmu. Bagaimana mungkin saya akan mencerabut beliau dari aktifitasnya dan komunitasnya di padang serta membawanya ke Karawang? Walau hati sangat ingin membawanya ke sini dan menemani hari-hari tuanya. 😢
Dan... melihat ghirah ibu menuntut ilmu, timbul rasa haru dan iri. Saya yg masih muda, insya Allah daya ingat yang lebih bagus, ghirah tak setinggi ini. Apa yang salah dengan saya?? Saya perlu berbenah lebih banyak lagi. 😊 💪
Semoga semangat ibu dalam mencari ilmu, menjadi pemberat timbangan pahala beliau di yaumul akhir. Aamiin. Sehat terus ya bu... 😍😍
Pict. 
Foto diambil secara candid dr balik jendela kaca.


Padang, 14 Juni 2019

Turnament Panahan Piala Panglima, Jakarta 2019


Selasa kemarin 18 juni 2019, Alyssa mengikuti turnamen memanah Piala Panglima yang diadakan oleh TNI di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta.
Ini adalah lomba pertamanya dalam kategori standar nasional SMP 20 m. Waktu SD kemarin hanya 10m.
Pelatih tak mengharapkan ia juara di lomba jarak 20 m yang pertama kali ia ikuti ini, secara latihan hanya sekali, itupun hanya selama 1,5 jam. Karena kelamaan libur lebaran. Pertandingn ini hanya ekshibisi bagi Alyssa. Untuk menambah jam terbang. Melihat kekuatan lawan juga untuk melatih keberanian dan rasa percaya diri.  
Awal datang, Alyssa sudah mengeluh. 
"Mereka hebat-hebat bu. Icha deg-degan".

Bertanding di Jakarta, melawan anak-anak Jakarta, memang ada rasa terintimidasi tersendiri bagi anak-anak. Imagenya anak-anak Jakarta tangguh-tangguh. Padahal belum tentu. 😁
"ini pertandingan pertama Alyssa di 20m. Alyssa bikin skor untuk Alyssa sendiri. Nggak usah lihat lawan di kanan dan kiri. Mau mereka menembak tepat sasaran kuning atau arrownya terbang ke sana kemari, nggak usah dipikirin. Bikin skor alyssa sendiri, dan skor itu patokan alyssa untuk ditingkatkan nanti."
Alhamdulillah dia paham. Dia fokus dg skornya sendiri. Hasilnya alhamdulillah. Ia memperoleh skor 267. Padahal sewaktu latihan tak lebih dr 220.
Turnamen memanah Piala Panglima ini, sy pikir akan berlangsung biasa saja seperti turnamen lainnya. Tenyata TNI melaksanakannya dengan serius. Terbukti dengan kehadiran Panglima TNI Hadi Tjahjanto untuk membuka acara. Upacara bendera lengkap dengan marching bandnya, juga pelepasan balon serta tembakan pertama oleh pak Panglima.


Semoga makin banyak instansi atau lembaga pemerintah yg makin peduli dg pengembangan panahan di Indonesia.
Dan kalau bisa pajak alat panahan dimurahkan atau di nol kan. Sehingga alat-alat panahan menjadi lebih terjangkau oleh masyarakat umum. Please....😁🙏🙏🙏
Clue... Panahan sayyid lebih mahal dr harga motor matic. 😊😊

Kasih sayang penguat jiwa


Mumpung dua orang anak kami lagi di asuh gurunya, uppss....maksudnya lagi bersama gurunya, (si bujang lagi backpacker bersama teman-teman sekelas dan gurunya ke Bangka Belitung selama 7 hari dan Alyssa sedang jalan-jalan penutupan lesnya ke Sasak Panyawangan, Purwakarta) serta si Uni lagi mager nggak mau kemana-mana, maka saya dan si ayah ke Jakarta berdua saja.
Tujuan kami menengok saudara yang lagi sakit.
Yg pertama adalah kakak kandungku yang lagi di rawat di RSCM karena trombositnya turun terus meskipun sudah beberapa kali transfusi darah.
Sekarang dalam penanganan dokter ahli penyakit dalam sub spesialis darah. Semoga segera ketahuan penyebabnya dan penanganannya. Mudahkan ya Allah...
Yang kedua adalah tetanggaku di Jl. Banowati. Kami memanggil beliau neli (nenek lincah) krn beliau memang lincah di usianya yang tidak muda lagi. Selalu ceria dan selalu bersemangat.
Beliau sekarang menderita kanker paru dan tumor di paru. Krn pengobatan penyakitnya beliau sekarang tinggal di Jakarta bersama anak-anaknya.
Beliau sudah menjalani 5x kemoterapi. Tinggal 1x lagi. Tapi setiap hendak di kemo yang terakhir, kesehatannya ambruk. Shg tak memungkinan untuk di kemo. Sdh 2x gagal terus.
Dalam bayangan saya, beliau tentu mengalami kebotakan, kulit menghitam, wajah yang kuyu, letih, menahan sakit, dan lain-lainnya efek kemo.
Tapi masya Allah, yang saya saksikan adalah wajah yang segar, putih bersih, dan selalu tersenyum seperti biasanya, serta rambut seperti biasa. Tak rontok.
Tak ada efek kemo yang membekas di wajah atau tubuhnya. Pun ketika saya tanya, apa yang beliau rasakannya saat ini. Jawabannya hanya sesak nafas kalau tak pakai oksigen. Beliau sekarang selalu memakai oksigen. Sehari menghabiskan 7 tabung oksigen ukuran 1 m³.
Saya mereka-reka kenapa nenek neli seperti org yang bukan 'get a cancer'.
Saya perhatikan....
Ketika saya datang, nenek neli sedang tertawa-tawa dg suaminya di depan tv. Hmm...akrabnya. 😀
Suaminya pun bercerita, karena nenek neli sdh lemah, sekarang pakai kursi roda, ia yang memandikan nenek neli pagi dan sore. Dan mengambilkan kebutuhannya.
"Badannya sudah kurus sekarang", katanya sambil menyentuh lembut sang istri.
Si kakek juga menceritakan perjuangannya bolak balik mengantar si nenek ke rumah sakit, buat kemo atau karena neli drop, mencari darah dan oksigen dan lain-lain.
Tapi Ia menceritakan bukan dengan nada sedih apalagi terpaksa. Tapi dengan wajah penuh kasih sayang dan perhatian.
Hmmm... sepertinya ini rahasia nenek neli kenapa beliau tak terpuruk dengan sakitnya. Ia punya suami yg mencintai dan menjaganya sepenuh hati. Ini sumber kekuatannya.
Barakallahu... 😍
Ya Allah, angkatlah penyakit kakak hamba dan nenek neli, beri mereka kesembuhan yang paripurna dan jadikanlah sakitnya ini penggugur dosanya. Aamiin... 🙏🙏

Jakarta, 23 Juni 2019

Ketika si buah hati berbohong


Kemarin ada pertanyaan menggelitik di wag sekolah anak. "Apa sih solusi menghadapi anak yg suka bohong dan mengarang spontan, ketika ditanya orang tua?"
Setelah berapa jam berlalu, belum ada yg menjawab. Sy tergoda untuk menjawab. Bukan krn sy seorang psikolog, apalagi ahli parenting. Bukan. Saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa dg pengalaman jd ibu PAS 20 th 1 bulan 1 hari, hari ini. (Upss.... Ketahuan deh, tuanya 😂) Masya Allah. Alhamdulillah atas karuniaMu ya Allah.
Sengaja sy share di sini, mungkin ada psikolog atau ahli parenting yg berkenan menambah atau mengurangi jawaban saya ini.
Siapapun orang tua tentu pernah mengalami anak berbohong. Awalnya tentu kaget. Kok bisa2nya mereka berbohong? Siapa yg mengajari? Biasanya, awalnya, kita menanggapi dg emosional. Tak terima mereka berbohong. Tapi lama2 kita bisa mengambil benang merah di kondisi seperti apa mereka berbohong.
Dan berdasarkan pengalaman, saya merasa, bohong itu ada 2 kategori. Dan penanganannya juga berbeda.
1. Bohong untuk melindungi diri. 
Ini bohong spontan. Ketika melakukan kesalahan, karena takut orang tua marah, dan dihukum, mereka berbohong untuk melindungi dirinya.

Penanganan saya, sy introspeksi. Apakah amarah saya yg membuat mereka takut atau hukuman saya yg terlalu berat sehingga mereka cari aman dg berbohong.
Kemudian sy ajak si anak berbicara di lain waktu dlm suasana santai. Bahwa bohong itu tidak baik, dosa. Melakukan kesalahan itu salah ditambah berbohong, salahnya jd 2. 
Jadi lebih baik jujur ketika melakukn kesalahan. Ibu TIDAK AKAN MARAH tp tetap ada konsekuensi.

Konsekuensi ini harus dibicarakan terlebih dahulu dg anak. Bikin kesepakatan. Shg ketika pelangggaran terjadi mereka tidak protes, marah atau ngamuk ketika harus menjalankan konsekuensi. Konsekuensi ini biasanya sy sesuaikan dg kesukaan anak. Apa yg dia suka itu yg sy jadikan konsekuensi.
Misal, si sulung Muthi sangat suka membaca. Jd hukumannya hari itu tidak boleh pegang buku. Si sayyid yg sangat suka jajan, maka hukumannya, uang jajan besok di potong. Si bungsu Alyssa suka nonton film anak2, hari itu tidak boleh nonton. Dll
Jd klu sy melihat sesuatu yg tidak beres, sy tinggal bilang, "ayoo... Siapa yg melakukn? Jujur aja. Ibu g marah". Biasanya mereka dg cepat mengaku. Kemudian konsekuensi diterapkan.
Menerapkan konsekuensi ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Yg sulit itu menahan marah. 😁 Gimana g emosi, misal, foto pernikahan ukuran besar jatuh ke lantai dg pecahan kaca berhamburan ke seluruh ruangan gara2 kena tendang bola si mungil Sayyid yg iseng main bola dlm rumah? Hahaa... Pengen langsung masukin kepala ke dlm kulkas. Biar adem.
Tapi krn janji tidak marah, dia lgsg lari memeluk sy, minta maaf dan mengaku salah, segera dia sy suruh ke kamar dan sy pun membersihkan pecahan kaca yg bikin senewen krn byknya. 😊
2. Bohong krn krisis kepercayaan diri
Nah ini terjadi kepada si bungsu sy, Alyssa. Klu tak salah kejadiannya ketika dia TK

Klu ada temannya yg cerita ttg liburan, dia juga akan bercerita ttg liburan yg dia karang sendiri dg lebih dahsyat. Klu kakaknya cerita ttg mimpi semalam, dia juga cerita mimpinya semalam (yg dikarang) dg kejadian yg lebih hebat dr sang kakak. Pokoknya dia suka nimbrung pembicaraan dg cerita lebih dahsyat dr orang lain.
Mula2 sy diamkan saja. Lama2 kok makin sering. Tp sy lihat dia berbohong bukan untuk menipu atau menyelamatkan diri. Dia berbohong hanya agar terlihat lebih hebat. Sy merasa ini hanyalah masalah kepercayaan diri.
Sindrome anak bungsu klu menurut sy. Yg biasanya selalu kalah hebat dalam pengalaman dr sang kakak atau kalah trampil dlm melakukan sesuatu pekerjaan dr kakak. Makanya dia berusaha mencuri perhatian di setiap ada kesempatan.
Penanganan dr sy adalah memberikan perhatian yg lebih besar kpd si bungsu. Bersungguh2 mendengarkn ceritanya walau sesepele apapun ceritanya. Memberikan semangat bahwa apa yg ia lakukan adalah hebat. Sambil terus membisikkan bahwa ia harus jujur. Tidak boleh berbohong krn bohong itu adalah dosa.
Alhamdulillah kebiasaan itu akhirnya hilang.
Berbohong yg dilalukan oleh seorang anak (kecil) , merupakan tahapan wajar dlm proses tumbuh kembang mereka. Yg penting kita bersabar mengarahkannya. Jgn sampai berbohong itu menjadi karakter.
Karawang, 30 Mei 2019

Janjiku Terpenuhi...



Sekitar 5 tahun yang lalu, saya dan Muthi mengikuti pelatihan menulis non fiksi bersama Asma Nadia di Jakarta. Ingin lebih mengenal dunia tulis menulis bersama penulis terkenal di Indonesia. Di acara itu kita diminta berjanji untuk menerbitkan buku sendiri minimal sekali seumur hidup. Hati terlecut. Bagaimana tidak, anak gadisku yang ketika itu masih kelas 2 SMP sudah menerbitkan 2 buah buku. Umurnya belum 15 tahun. Aku? Sudah lebih 40 tahun. 
Kemudian, Allah yang Maha Penyayang memberangkatkan aku dan Suami ke Baitullah untuk melaksanakan haji dan umroh tahun 2015. Mengingat anak yang masih kecil-kecil, tak mungkin rasanya aku menceritakan perjalan haji ini secara utuh kepada mereka. Sementara kalau disimpan di memori otak, sepanjang mana hal itu akan tersimpan? Umur yang bertambah tua, pelupa merupakan kepastian. Mending kalau lupa, kalau tak ada umur?
Makanya dari sebelum berangkat, saya sudah berniat hendak mencatat perjalanan ibadah yang luar biasa ini secara cermat. Harta berharga yang hendak ku wariskan kepada anak-anak.
Alhamdulillah, Allah memudahkan semuanya buatku, Tulisan yang terangkum dalam 2 buah buku tulis ini, sempat hilang 1 buku di Madinah. Teman-teman seperjalanan juga pembimbing kami pak ustad Yono, ikut mendo'akan agar buku ini ditemukan kembali. Alhamdulillah, tiga hari kemudian setelah berdo'a khusus di Raudhah akhirnya buku bersejarah itupun ditemukan.
Dan... 3 tahun kemudian, setelah disusun ulang serta dilengkapi syariat-syariat dan hukum-hukumnya buku yang di beri judul "Hajiku Hanya UntukMu" inipun terbit.
Alhamdulillaah.... Wa syukurilah.
Launching dan bedah buku "Hajiku Hanya UntukMu" tanggal 28 April 2019 berjalan dengan lancar dan sukses.






Acara ini dibuka dengan berbagai sambutan dan apresiasi dari Pak H. Arwan Kurnia, Pak Dr. H. Puji Isyanto, Ustad Jajat Sudrajat Lc, MA, dan Ust. Drs. Yono Waryono.
Kemudian lanjut dengan bedah buku oleh Ustadzah Umi Nurmuslimat, yang dipandu oleh Bu Hj Ade Uun Khayatun Nufus.

Sungguh suatu peristiwa yang tak pernah terbayangkan olehku sebelum ini. Jangankan membayangkan, terpikirkan pun tidak. Tp inilah kuasa Ilahi. Allah lah yg make it true. Masya Allah.
Tanpa banyak kata, hanya harapan agar buku ini bermanfaat buat yg membaca. Memahami tata cara berhaji, semudah memahami novel. Tak perlu waktu khusus, hanya perlu waktu santai di sela-sela kegiatan untuk membaca buku dengan bahasa yang ringan tapi terstruktur dan berbobot. Tak perlu berkerut kening karena bahasa yang text book, buku ini berbahasa renyah bahkan bisa membuat air mata tumpah.
Bukan promosi. Sueeer....
Hanya beriklan. Hallaah. 😂😂

Banyak pihak yg telah membantu agar buku ini selesai. Untuk itu saya menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat suami tercinta Irvan Amran, Ustad Yono Waryono, ibu Ustadzah Umi Nurmuslimat, yayasan Lampu Iman Karawang, dan teman-teman haji KBIH Lampu Iman. Jazakumullah khairan katsira.



Juga ucapan terima kasih atas penyelenggaraan launching dan bedah buku ini yang sudah di atur dengan sedemikin cermat oleh bu Umi Nurmuslimat, pak Ustad Yono, juga bantuan teman-teman lainnya, bu Hj Yanti Lathifah, bu Mulyana Yana, bu Rika dan Bu Ade.
Semoga Allah membalas budi baik semuanya dengan kebaikan yang tak terhingga. Aamiin ya rabbal'alamiin. Luv you all 😍😍

Temani Aku.....






Tahun ini, ketiga-tiganya anak kami akan menyelesaikan jenjang pendidikannya masing-masing. Si Sulung akan menamatkan SMAnya, Si Bujang akan menamatkan SMPnya dan si Bungsu akan menamatkan SDnya. Emak pusing. Bukannya hanya masalah uang, tapi juga masalah sekolah baru. Kalau si Bungsu Insya Allah akan melanjutkan SMP di yayasan yang sama. Nah, ini bikin emak agak tenang. Si Sulung, masih tanda tanya. Emak sih berharap ia lulus SNMPTN. Tapi lulus SBMPTN pun Alhamdulillah. Atau kalaupun tidak, lulus universitas swasta pun, tak apa-apa. Yang bikin galau tingkat tinggi adalah si Bujang. Ia mau masuk pesantren. Kalau tak lulus, waah...repot. Mau kemana lagi? Wong...pesantren itu swasta.😂😂 

Alhasil, awal tahun ini, keluarga kami jadi sibuk mondar mandir ke luar kota. Si bujang, Sayyid, mengikuti tes masuk pesantren/boarding school di empat lembaga pendidikan yang tersebar di 3 kota. Satu di Bandung, satu di Karawang dan dua di Sukabumi


Melanjutkan SMA di sekolah boarding atau pesantren, memang merupakan pilihan kami bersama. Ada beberapa hal yang hanya bisa dicapai oleh Sayyid dengan bersekolah di sekolah berasrama. Maka Sayyid mencoba peruntungan di empat sekolah sekaligus. Kenapa begitu banyak? Ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Salah satunya adalah masuk sekolah boarding sekarang sulit. Kalau hanya mengandalkan satu sekolah, kami khawatir apabila ia tidak lulus, terus ingin tes di tempat lain, pendaftaran sudah tutup semua. Walau akhirnya ternyata ia LULUS di semua sekolah yang ia ikuti. Alhamdulillah.

Total bolak balik kami dalam 2 bulan adalah 5 kali bolak balik ke luar kota. Empat kali karena tes, 1 kali untuk memastikan sekolah yang akan Sayyid ambil dari 4 pilihan itu. Yaitu SMA Pesantren Unggulan Al Bayan Anyer. Itu belum dihitungkan dengan survey yang dilakukan ke sekolah-sekolah tersebut di akhir tahun kemarin, sebelum mendaftar. 

Melelahkan? Pasti. Bahkan ketika dalam perjalanan menuju SMA PU Al Bayan ke Anyer, si bungsu Alyssa sudah mengeluh capek dan bosan pergi-pergi terus. Kasihan Alyssa. Harus ikut merasakan capeknya mondar mandir mencari sekolah yang bukan untuk dirinya.

Tapi yang menjadi perhatianku bukan itu. Tapi kalimat penyertanya,
“Kalau Alyssa survey pesantren nanti, juga tes masuknya, uni dan uda harus IKUT menemani,” nadanya tegas.

Masya Allah….ternyata ia mengamati dan berpikir cukup jauh. Si cuek ini, yang kadang kami melihatnya sebagai anak yang tak mau repot berpikir, lebih cenderung seperti air mengalir saja, riang dan enjoy, ternyata bisa juga berpikir mendalam.

Ternyata ia mengamati, ketika kakaknya si Uni Muthia mencari sekolah, kami berlima bahondoh pondoh (ramai-ramai ; minang red) pergi sekeluarga. Di sepanjang jalan, heboh. Makan heboh. Suasana riang. Setelah si Uni di pesantren, anggota keluarga tinggal empat orang. Dan saat Sayyid mencari pesantren, hanya kami berempat saja yang wara-wiri ke sana kemari. Kehebohan berkurang. Dan tentu, apabila nanti si Uda Sayyid sudah di pesantren, hanya tinggal kami bertiga.😢

Pasti terbayang olehnya betapa sepi ketika tiba waktunya bagi ia mencari SMA. Tak ada gelak tawa dia dan kakak-kakaknya, keributan-keributan kecil antara mereka sebagai penghangat suasana. 

Entah kenapa, air mata menggenang di pelupuk mataku. Iya, mungkin sangat sepi ketika itu, nak.😭

Ingatanpun melayang puluhan tahun silam.

Saya lima orang bersaudara.
Ketika kakak sulung kami tamat kuliah sebagai Sarjana Ekonomi di Universitas Andalas Padang, lulus dengan nilai terbaik ke 2, serta pernah menjuarai beberapa kali lomba karya tulis ilmiah tingkat propinsi maupun nasional, terasa eforia bahagia yang luar biasa bagi kami sekeluarga. Terutama ayah kami. Dengan mengerahkan kemampuan finansialnya yang sangat terbatas, beliau mencari pinjaman mobil untuk menghadiri prosesi wisuda itu dan mengajak kami semua untuk pertama kalinya makan di restoran terkenal di kota kami, setelah acara wisuda itu.

Kemudian kakak pertama bekerja di Jakarta. Sehingga ketika kakak kedua di wisuda, formasi kami sudah tak komplit. Eforia bahagia sudah tak setinggi dulu lagi. Walau kami semua tetap hadir di acara wisuda dan makan di restoran setelah acara wisuda itu.

Ketika tiba masaku di wisuda, kakak kedua sudah bekerja. Walau masih satu kota dengan kami, dan beliau menyempatkan hadir di acara wisudaku, tetapi tidak bisa hadir di acara makan-makan kami di restoran karena urusan pekerjaannya. Dua orang kakak tak hadir. Eforia kebahagiaan itu semakin menguap. 

Kemudian setelah itu aku menikah dan di boyong suami tercinta ke Jakarta. Saat adikku nomor empat dan lima wisuda, hanya berempat saja yang tersisa di Padang. Mereka dengan kedua orang tuaku. Dan ayahpun jalannya sudah pakai tongkat akibat serangan stroke. Hanya mereka berempat saja yang menghadiri acara wisuda dan tak ada lagi acara makan-makan ke restoran. Adik-adikku tak tertarik lagi makan-makan di restoran karena merasa sepi.

Tiba-tiba rasa penyesalan menyeruak ke dalam dada. Kenapa tak terpikirkan olehku untuk memaksakan diri pulang demi adik-adikku yang kucintai itu? Kalau kakak-kakakku kesulitan pulang karena tuntutan pekerjaannya, bukankah aku bisa menyempatkan diri pulang demi membahagiakan mereka? Ahhh…😭😭

Kini, si bungsu sudah bisa meraba, apa yang akan terjadi ketika ia mensurvey sekolah nanti dan mengikuti tesnya. Maka, jauh-jauh hari ia sudah membuat sebuah permintaan. Kehadiran kakak-kakaknya! 

Ketika hal ini kuutarakan ke Muthia, tiba-tiba ia terdiam dan pelupuk matanya pun langsung basah. Sedangkan Sayyid, seperti biasa, nyengir sambil ketawa kecil. (ahh…kalian memang berbeda). Tapi keduanya berjanji, berusaha untuk hadir ketika waktu itu tiba. Insya Allah. Mudahkan ya Allah.

Tak akan kami biarkan engkau merasa sepi, sayang…..

Kami akan berusaha hadir kapanpun engkau membutuhkan. Insya Allah

#Jangan lupakan si bungsu


Karawang, 27 Maret 2019


********
Catatan.
Alhamdulillah, Si sulung kami Annisa Muthia lulus SNMPTN di Jurusan Psikologi Univ Andalas,Padang
Powered by Blogger.