Persaingan Sedekah



Mendengar cerita anak pesantren memang selalu mengasyikkan. Apakah itu yg menyenangkan, lucu, menyedihkan maupun mengharukan selalu memberikan warna tersendiri bagi saya (apalagi bagi yg mengalami ya?). Ceritanya kali ini tentang sedekah.
Di asramanya, jarang sekali pihak asrama menyediakan sabun cuci piring. Sehingga anak2 harus beli sendiri u/keperluan cuci piring mereka masing2. Kadang kalau sabun cuci piringnya habis, mereka minta punya teman tapi seringkali lupa minta ijin alias main pake aja. Hal ini menjadi perhatian si gadis, dan akhirnya membuat si gadis ingin bersedekah.
Dibelinya sebotol besar sabun cair merk sunlight dan diletakkan di bangsal. Qadarullah, asrama hari itu juga memberikan sabun sunlight cair besar untuk mereka. Dan bersandinglah sabunnya dengan sabun inventaris sekolah. Ternyata yg di pakai teman2 adalah sabun inventaris sekolah. Sdh 2 hari berlalu, sabunnya belum ada yg memakai.
"Muthi sedih. Rasanya pengen Muthi buang aja sabun sekolah itu, biar punya Muthi yg dipake teman2. Tapi itu g mungkin. Pokoknya sabun sunlight Muthi harus bisa bersaing secara sportif dg s*nl*ght sekolah", katanya bersemangat.
Akhirnya dia buat tulisan di sebuah kertas, dan di tempelkan di botol sabun sunlightnya. Bunyinya, "gratis. Silahkan dipakai. Dari pada make yg g berijin nanti dosa, mending pake yg ini aja. 😊 ".
2 hari kemudian, sabun cairnya sdh berkurang 1/3 bagian.
Saya tertawa mendengar ceritanya. Terutama pemilihan kata2nya , "sunlight Muthi harus bisa bersaing secara sportif dg sunlight sekolah". Penuh daya juang di sana. 💪💪
Keep spirit, Sholihah... Semoga Allah selalu menjagamu.
Mandaya, 15 Oktober 2017

INI APA VS TAU TIDAK




"Tau nggak Bu, akselerasi mobil McLaren dari 0-100 km/jam hanya butuh 3 detik, tapi mobil listrik Tesla bisa 2,5 detik. Dan yang paling cepat itu cheetah. Hanya 1 detik."
"Tau nggak Bu, sepatu Adidas terbaru yaitu Adidas Parley harganya 100 juta? Ini limited edition. Hanya diproduksi 50 buah saja di dunia. Bahannya dari jaring nelayan."
Tau nggak Bu, Fitra Eni diundang ke balap F1 di Singapore. Dikasih nonton di kelas VIP yg harga tiketnya 100 juta. Dan dia diijinkan masuk sampai ke pitstop. Di pitstop, dia bisa mendengarkan pembicaraan antara engineering dg pembalap."
"Tau nggak Bu, ternyata untuk mendesain mobil itu butuh perhitungan matematis? Semua dihitung aerodinamisnya. Termasuk lekuk-lekuknya."
Tau nggak bu,.....
Tau nggak Bu...
Tau nggak Bu...

Tetiba saya ingat tulisan 'Yoanita Astrid' yg berjudul 'Hanya Soal Waktu'. Ya...hanya soal waktu. Si mungil dulu yg selalu bertanya "ini apa Bu? Itu apa, Yah?", yang kemana saja emaknya bergerak, ia dengan sigap mengikuti. Apa saja yg ia butuhkan, harus emak yg menyediakan. Pokoknya, emak pusat gravitasinya.
Sekarang, si bujang mulai abege. Yang ketika berbicara dengannya, emak serasa berasal dr negeri antah berantah. 😀😀 
Topik yg dibahasnya sering melampaui wawasan emak. Kalau sudah begini, emak hanya ter 'ohh...ohh'. Antara mengerti dan tidak.

Perlahan tapi pasti, ketergantungannya kepada emak jauh berkurang. Kemandiriannya di satu sisi, membahagiakan. Di sisi lain, membuat emak rindu dengan rengekannya, rindu pertanyaan polosnya karena pertanyaan-pertanyaannya membuat emak merasa paling tahu, paling pintar. Pokoknya yang terhebat di dunia.
Dulu, emak bisa tidur siang 1 jam, adalah kemewahan. Sekarang bisa tidur siang 2-3 jam terasa biasa saja... Dulu, bisa melihat rumah rapi 1 jam, terasa luar biasa. Sekarang rumah rapi bisa bertahan berhari-hari karena ia sibuk dengan kegiatan sekolah, ekstra kurikuler, kemping dan lainnya. Dulu emak selalu mencuri-curi waktu untuk 'me time'. Sekarang selalu mencari kegiatan yang bisa dilakukan bersama.
Waktu memang cepat berlalu. Betapa ruginya waktu yang sebentar itu kalau tak dimanfaatkan sebaik-baiknya bersama buah hati. Alangkah menyesal kalau waktu yang sebentar itu hanya diisi dengan kemarahan-kemarahan karena kerewelannya dan karena keegoisan kita.
Ahh....semoga waktuku yang tersisa tak banyak lagi menjelang ia terbang menggapai mimpinya, menjelang ia membangun 'sarangnya' bersama belahan jiwanya, dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mempererat ikatan kasih sayang, menuntunnya menuju jalan yang Allah ridhoi, mempersiapkannya agar menjadi insan yg mandiri, cerdas, kuat, sabar dan Sholih.
Bantu hamba ya Allah.....
Karawang, 2 November 2017

*******
Tulisan ini saya share di Facebook. Alhamdulillah banyak teman-teman yang mengapresiasi dan komen. beberapa komen temanku adalah:

Noey Joega bu Akhmaneli Irvan...kalo sudah menulis bikin hati nyes... lalu mataku mulai meleleh... 😭🤗

Umi Salghaisya Pokonya sbg emak2 apalg udah kesekian kalinya ikut parenting lebih legowo lebih siap m'jd emak yg sesungguhnya walau mungkin terlambat jd emak yg baik krn ketdk tauan kita , tp bismillah kedpn dgn segenap jiwa berusaha agar anak g kecewa punya emak model kita
Keren tulisannya bu Akhmaneli Irvan, perasaanmu mewakili emak2 seantero negeri 
😎😎

Dyah Ema Susanti Top banget, selalu ada sesuatu setiap baca tulisan bu akhma...

Fenti Listiawati Ibu sayyid Akhmaneli Irvan mmg jagonya kl sdh nulis ... sll berhasil membuat sy mengingat masa2 emas bersama anak2 dan memikirkan masa depan bersama mrk ... barokallah





E-toll mempermudah?


Kemarin, ketika hendak balik ke Karawang dari Cikampek, saya baru sadar saldo e-toll saya tinggal 3500. Dengan terpaksa sayapun harus berhenti di minimarket I untuk isi ulang. Padahal saya harus buru2 pulang krn si kecil sebentar lagi pulang eksklul renang.
Ternyata di minimarket I ada gangguan sinyal, shg e-toll tdk bisa diisi ulang. Kemudian saya jalan lagi. Ketika ketemu minimarket A, saya berhenti dan masuk. Ternyata e-toll sy Mandiri, tidak bisa diisi di sini. Saya mulai geram. Akhirnya jalan lagi. Ketemu lagi dg minimarket A. Alhamdulillah di sini bisa diisi.
Biasanya, untuk kembali ke Karawang dari Cikampek via tol, saya hanya perlu mengeluarkan uang Rp 6.500,-. Nah, untuk mengisi e-toll ini saya harus merogoh kocek 50ribu + 1000 untuk biaya charge. Dan stlh bayar tol, tersisa saldo 47ribu.
Pengisiannya saja sudah repot dan makan waktu. Sekarang, untuk membayar yang 6.500 saya harus mengeluarkan dana 50 ribu lebih. Dan ada 47 ribu rupiah dana saya yang tertahan di kartu e-toll. Itu baru dari saya saja. Bayangkan dari 1 juta menggunakan e-toll, dg minimal saldo yg tersimpan 40ribu. Ada berapa dana yg terhimpun oleh pemerintah tanpa susah payah? 40 milyar!! Itu kalau minimum 40 ribu lho...
Mantap benar kan? Tidak perlu mengeluarkan surat berharga, surat utang, pemerintah dg gampangnya bisa meraup uang rakyat sebanyak itu! Sementara kita, dg uang segitu mungkin banyak keperluan yang bisa di beli tapi tidak jadi terbeli. Angka 40 milyar itu bisa digunakan rakyat menggerakkan sektor ekonomi.
Terus, di Karawang sebelum e-toll diberlakukan, tidak ada antrian panjang untuk masuk tol. Kalau keluar mah...sering.

Biasanya, pengemudi hanya perlu nginjak rem sekitar 2 detik. Injak rem, ambil kartu, palang terbuka dan jalan. Sekarang, injak rem, tap kartu, tunggu konek, palang terbuka, dan jalan. Butuh waktu minimal 6 detik. Kalau proses pembacaan kartu agak lama, bisa 10 detik tertahan di pintu masuk tol. Dan akibatnya sekarang antrian masuk tol di pintu tol Karawang barat, puanjaaaang. Bikin kesal.
Sejatinya, setiap perubahan yang ditetapkan oleh pemerintah ke warganya, harus lebih memudahkan warganya. Tapi pelaksanaan e-toll ini, menyusahkan bagi saya.
Minimal 3 kesusahan yang saya rasakan.
1. Pengisian bikin susah, dan makan waktu serta tenaga.
2. Harus menyimpan dana yg seharusnya bisa kita pakai untuk yang lain.
3. Bikin macet kalau mau masuk tol.
Di negara lain, termasuk Amerika, tidak ada kewajiban e-toll. Semua terpulang kepada pribadi masing-masing.
Bagi saya pemaksaan pemakaian e-toll itu suatu bentuk pendzaliman. Jadi permintaan saya kepada pemerintah, kembalikan kebijakan seperti semula. Tidak perlu diwajibkan. Saya lebih nyaman dg uang tunai. Tidak bikin repot. Kalau pemerintah memerlukan dana dari rakyat, cari dengan cara yg lain dan tolong permudah rakyat dalam beraktivitas.

Belajar Tahsin = Belajar Nyetir Mobil ?




Siapapun tahu belajar tahsin pasti berbeda dengan belajar nyetir. Yang satu belajar membaca Al Qur’an dengan benar sebagaimana bacaan Rasulullah SAW dan para sahabatnya RA dengan cara mempelajari:

1. Mengeluarkan huruf dari makhrajnya (tempat keluarnya) = makhorijul huruf.
2. Memenuhi sifatnya (sifatul huruf).
3. Memperhatikan hukum bacaan

Sedangkan belajar nyetir adalah belajar cara mengendarai mobil. Sebuah moda transportasi  yang jaman sekarang bukan lagi barang mewah. Tapi sudah kebutuhan terutama bagi yang mobilitasnya tinggi.

Entah kenapa, bagiku terasa sama.

Sebenarnya saya bukannya tidak bisa mengaji. Saya cukup lancar dan fasih membaca Al Qur’an. Tapi makhrojul huruf dengan tajwid-tajwidnya juga tanda baca Al qur’an, saya tidak sempurna mengetahuinya. Sehingga diumur yang sudah 45 tahun ini saya tergerak untuk lebih mendalaminya. Maka sayapun ikut kelas tahsin dengan ummu Alma.

Ternyata memang, banyak yang harus saya perbaiki dari pengucapan huruf-hurufnya. Belum lagi tajwid. Ternyata yang saya pelajari ketika TPA dulu masih kurang. Yaa…mungkin yang saya pelajari memang sesuai dengan tingkatan TPA. Harusnya saya melanjutkannya ke DTA. Tapi itu  dulu tak saya lakukan.

Dan sekarang semua dimulai dari awal. Sebenarnya saya excited. Ummu Alma juga mengajarkan dengan sabar dan menyenangkan. Tapi entah kenapa, setiap pergi tahsin, sebagian hati rasanya malas untuk bergerak. Sebagian hati sangat ingin berangkat. Dan yang lebih berat, setiap pelajaran tahsin dimulai, kantuk dengan segera menyerang. Tidak hanya menguap berkali-kali, seringkali saya tertidur. Benar-benar tertidur. Tapi tak lama. Mungkin hanya semenit atau dua menit. Saya tidak tahu, apakah Ummi Alma dan teman-teman lain mengetahuinya tapi diam saja atau benar-benar tidak tahu. Selama proses belajar itu, saya bisa tertidur 2 sampai 3 kali. Saya sungguh kesal kepada diri ini. Padahal kalau di rumah atau sedang melaksanakan kegiatan lainnya, jam-jam segini saya tidak mengantuk. Lagi segar-segarnya malah. Tapi kenapa setiap tahsin selalu mengantuk?

Saya tinjau diri ini, apakah kekurangan motivasi? Rasanya tidak. Saya ingin menamatkan pelajaran tahsin ini sampai tuntas. Sampai syahadah. Sebenarnya saya sudah mulai belajar tahsin dari anakku yang tertua, Muthi, kelas 1 SD. Gurunya berganti-ganti. Ada yang pindah, ada yang dapat beasiswa ke Turki dan lain-lain. Jadi selalu putus di tengah jalan. Dengan guru yang sekarang, saya sangat sreg. Dan ingin sekali menyelesaikannya.

Kadang rasanya ingin merugyah diri ini. Jangan-jangan ada jin di dalamnya yang tidak rela saya memperdalam Al qur’an. Hehee…

Kemudian saya teringat tahun 2006 ketika saya menekadkan diri untuk belajar menyetir mobil. Ketika itu kami tinggal di Bogor sedangkan suami bekerja di Jakarta. Sebelum subuh dia sudah berangkat. Dan kembali ke rumah sekitar jam 10 malam. Dan di jam-jam dia bekerja, benar- benar semua urusan saya yang menangani. Seperti misalnya, ketika anak sakit dan perlu ke dokter dengan segera, saya tidak bisa meminta bantuannya. Saat ini saya telpon memintanya pulang, maka empat jam kemudian dia baru sampai di Bogor. Karena jarak yang jauh, harus menunggu bis, bis ngetem dulu, nunggu angkot, angkot ngetem dulu, belum ditambah macet. Ampuunn….saya sampai kering menunggunya.

Apalagi ketika saya mau melahirkan anak ke 4. Jam 11 siang tanda melahirkan sudah ada. Flek sudah keluar. Kontraksi sudah mulai terasa. Saya segera menelpon suami untuk memintanya  pulang. Karena tidak mungkin menunggu, maka sayapun ke rumah sakit diantar oleh tetangga. Dan taraaa… si Ayahpun sampai di rumah sakit jam 5 sore! Enam jam dari telepon saya kepadanya.

Belajar dari itu, saya bertekad belajar menyetir supaya saya tidak selalu merepotkan tetangga kalau ada kejadian darurat seperti anak sakit atau lainnya.

Belajar menyetir sih…gampang. Seminggu saya sudah lancar. Tapi begitu masa belajar selesai dan saya harus membawa mobil tanpa didampingi coach, di situlah saya selalu keringat dingin ketika akan membawa mobil. Apalagi kalau yang harus saya lewati adalah daerah macet atau rel perlintasan kereta api. Wuidiih…perut langsung melilit. Kalau sudah begitu badan langsung terasa lemas. Rasanya ingin segera meletakkan kunci mobil dan goleran di kasur. Tapi itu tidak saya lakukan. Saya selalu memotivasi diri. ‘Saya harus bisa untuk anak’.

Selama proses melancarkan ini, saya setiap hari menyetir ke jalan raya. Meskipun kadang perut melilit akibat stres tinggi itu, membuat saya benar-benar ke belakang. Yang sekeluarnya dari toilet badan benar-benar lemas dan keringat dingin mengucur deras, sehingga desakan dari dalam diri untuk libur menyetir hari itu semakin kuat. Tapi saya malah semakin bertekad bahwa saya tidak boleh libur. Saya harus bisa untuk anak. Kalau hari ini saya kalah oleh mules dan keringat dingin ini, maka besok-besok saya akan kalah terus. Begitu saya menyemangati diri.

Setelah tepat 2 bulan, saya merasa lelah juga. Dan malamnya saya mengeluh kepada suami, “kenapa ya, mules dan keringat dingin ketika akan bawa mobil itu nggak pernah hilang?”.

Ternyata jawaban suami simpel saja, bahwa itu semua tergantung saya, kapan saya merasa siap untuk membawa mobil itu. Jadi bukan adanya paksaan. Saya termenung. Apa saya selama ini merasa terpaksa? Apa saya memang belum siap membawa mobil?

Keesokan harinya, ketika saya akan membawa mobil kembali, saya tidak lagi memikirkan saya harus bisa untuk anak. Saya ingatkan diri saya bahwa saya membawa mobil ini karena saya ingin dan saya suka. Dan semoga ini menjadi amal bagi saya. Ajaib…. Tiba-tiba perasaan saya menjadi rileks. Dan untuk pertama kalinya si mulas dan si keringat dingin tak menghampiriku. Alhamdulillah... Hari itu saya menikmati membawa mobil keliling kota Bogor dengan hati riang dan perasaan yang santai. Juga hari-hari selanjutnya.

Kembali ke belajar tahsin.

Saya telisik lagi hati saya. Apakah motivasi saya? Dan apa yang membuat saya agak malas belajar tahsin?

Kalau motivasi, rasanya sudah cukup kuat. Saya sangat ingin menamatkan belajar Al Qur’an. Saya ingin bisa. Al Qur’an sesuatu yang indah. Kemudian halangannya saya list. Di antaranya : Saya masuk belakangan, yang lain sudah lebih lama dari saya, saya sepertinya yang tertua di kelas ini bahkan lebih tua dari sang guru, saya sebelumnya tidak kenal atau ada yang kenal tapi tak akrab, dengan anggota kelas tahsin, sehingga kurang nyaman. Hhmmm…apalagi ya? Mungkin saya merasa kehilangan waktu pagi saya yang cerah yang biasanya saya isi dengan kegiatan-kegiatan yang saya sukai.

Ternyata semua halangannya adalah hal-hal yang remeh temeh. Masak hal-hal remeh ini akan menghalangi saya dari syurga? Menghalangi saya dari syafaat Al Qur’an di mana ketika di akhirat nanti saya sangat butuh? Menghalangi saya dari ridho Allah? Di saat nikmat Allah sudah banyak diberikan kepada saya dan saya lebih memperdulikan yang remeh temeh ini dari pada mempelajari kalamNya? Sungguh terlalu….

Berangkat dari kesadaran ini, bahwa selama ini saya berangkat dengan adanya paksaan untuk ‘belajar supaya bisa’, tapi halangannya saya biarkan bercokol di hati dan menimbulkan rasa ogah-ogahan, maka hari ini saya berangkat dengan semangat baru. Saya ingin mencari ridho Allah. Saya ingin mendapatkan syafaat kelak. Dan ajaib…ternyata selama belajar hari ini saya tidak mengantuk. Tidak ada tertidur sama sekali. Saya bersemangat. Allahu Akbar. Luar biasa!

Ternyata, bagi saya, belajar tahsin dan belajar menyetir  memiliki kesamaan. Meskipun motivasi kuat tapi dalam diri ada rasa terpaksa atau halangan yang dibiarkan mempengaruhi perasaan, maka proses belajar menjadi tersendat. Hilangkan halangan itu. Salah satunya mungkin dengan ikhlas menjalani proses belajar dan niatkan semata mencari mencari ridho Allah. Insya Allah….semua menjadi lebih mudah.

Karawang, 9 Oktober 2017

Pengenalan bakat sedari dini, perlukah?


“Waah….Sayyid otak kanan banget”, kata Bu Hasri dan Pak Aziz ketika konsultasi pembacaan hasil ST (Strength Typologi) 30 Sayyid. Seharusnya konsultasi hasil ST-30 ini dengan kepsek SM Pak Sanjaya Koembara. Tapi berhubung beliau lagi honeymoon, baru saja menikah, (barakallahu...pak ) maka konsultasinya digantikan oleh guru senior, Bu Hasri Ainun dan Pak Abdul Aziz Jaelani.
Terlihat dari hasil ST-30 Sayyid, 4 dari 6 item di bagian Generating Idea – Otak Kanan, berwana merah (menandakan potensi kekuatan dominan). Sayyid kuat di bidang Creator, Designer, Marketer dan Visionary. Bagian otak kiri berwarna warna abu-abu (menandakan kelemahan sedang). Kemampuan di bidang E (Elementary) bagian administrasi, semuanya hitam (potensi sangat lemah). Sedangkan kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, berwarna kuning dan putih (menandakan potensi kekuatan sedang). Dan kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain, warna abu-abu dan putih (potensi kelemahan sedang).
Dari hasil ST-30 ini kelihatan potensi Sayyid ada dimana serta apa kekurangannya. Sehingga orang tua dan guru bisa bersama-sama membantu memperkuat apa yang menjadi kekuatannya dan mengatasi atau mensiasati apa yang menjadi kekurangannya.
Kenapa pengenalan bakat ini merupakan sesuatu hal yang penting?
Tahukah kita bahwa 87% mahasiswa Indonesia salah jurusan? Sehingga mereka pun kelak bekerja di bidang yang sebenarnya bukan potensi dirinya yang sesungguhnya. Kebanyakan dari kita memilih jurusan berdasarkan nilai tertinggi. Kalau nilai tertinggi biologi maka cenderung memilih jurusan yang berhubungan dengan biologi. Padahal nilai tinggi kadang bisa disebabkan oleh kecocokan cara gurunya mengajar sehingga mudah dipahami. Maka tak heran kalau bekerja kelak, kita hanya menjadi pribadi yang biasa-biasa saja. Atau malah bekerja di bidang yang bukan disiplin ilmunya.
Manusia diciptakan Allah sangat unik. Masing-masing dari kita membawa bakat dan kemampuan yang telah ditentukan Allah. Tidak pernah sama meskipunpun sudah milyaran manusia diciptakan Allah. Bahkan walau mereka kembar sekalipun. Begitu uniknya sehingga bisa dikatakan bahwa kita adalah Limited Edition.
Tapi tak gampang bagi kita mengetahui bakat dan kemampuan kita yang sesungguhnya. Padahal mengenali potensi diri sedari ini sangat penting.
Mungkin kita sering mendengar ayat ini:
اِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِاَنْفُسِهِمْ (سورة الرعد : الاية 11)
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d, Ayat 11).
Dalam ayat tersebut sangat jelas diterangkan bahwa Allah SWT, tidak akan merubah kehidupan sebuah kaum sehingga mereka mau merubah diri sendiri. Hal ini sangat erat kaitannya dengan menggali potensi diri jika ingin berubah.
Dan saat ini ada beberapa metoda yang cukup gampang dan sangat membantu kita dalam mengenali bakat kita masing-masing. Salah satunya adalah ST-30 dan TM-114. ST-30 (Strength Typologi) adalah metoda yang sederhana dan paling cepat untuk menemukan bakat. Dan metoda yang paling lengkap adalah TM-114 (Talents Maping 114).
Siapakah penemu metoda ST-30 dan TM-114 ? Beliau adalah Rama Royani atau yang lebih dikenal dengan nama abah Rama. Seorang lulusan ITB yang mantan direktur utama dari 5 perusahaan dan sekarang menjadi dosen.
Awalnya Talents Maping (TM) temuan Abah Rama dimasukkan ke dalam program kerja sama pengembangan SDM-BPPT. Seluruh karyawan BPPT mendapatkan tes TM. Selanjutnya TM pun dipakai oleh BUMN-BUMN lain seperti BNI dan banyak perusahaan lain dalam proses rekruitmen karyawan, counseling, penempatan jabatan atau promosi, pembentukan kelompok kerja (team building), pengembangan (development), pelatihan (training), career planning, dan performance management.
Tahun 2007 saat melakukan tes TM di ITB, Abah Rama menemukan hasil TM yang membingungkan. Hampir semuanya merah, kiri kanan, luar dalam.
“Gila”, kata Abah.
Yang dites tak kalah jawab,
“Iya saya memang gila, Pak. Empat orang psikolog melakukan tes ke saya dan semua bilang saya gila”. 
Siapakah si cerdas yang otak kanan dan otak kiri sama optimumnya serta kemampuan lain juga optimum? Dialah LENDO NOVO pendiri Sekolah Alam di Indonesia. Dari hasil tes TM, Abah memberikan saran bidang kerjanya yang optimal ada di Sosiopreneur. Lendo membenarkan dan merasa puas dengan hasil tes TM. Ini pula yang mengawali sejarah TM dipakai di Sekolah Alam, tempat Lendo Novo berkiprah. Dan TMpun masuk ke dunia sosial pendidikan.
Dan kata Abah Rama, “Saya bermimpi, di Indonesia, semua anak lulusan SMP, sudah mengenal dirinya”.
And…here we are.
Untuk mendukung pengembangan minat dan bakat anak di sekolah alam Karawang, maka tes ST-30 di lakukan kepada siswa kelas 8. Sedangkan TM-114 dilakukan kepada siswa kelas 9. Sehingga mereka benar-benar digali kemampuan dan bakatnya secara personal untuk kemudian dikuatkan. Insya Allah, kelak mereka tidak akan tersesat memilih SMA atau jurusan ketika kuliah.
Dan akhirnya saya tahu, kenapa Sayyid selama ini agak susah disuruh melakukan pekerjaan bersih-bersih secara rutin dan memuaskan. Karena ia bukan tipe pekerja. Ia adalah tipe pemikir.
Dan kita sebagai orang tua tak perlu membandingkan anak dengan teman-temannya yang menurut kita hebat di suatu bidang. Karena Allah menganugrahkan setiap anak dengan bakat dan kemampuan yang berbeda. Dan kelak mereka akan saling melengkapi. Apa jadinya dunia ini kalau semua orang menjadi pengusaha dan tak ada yang menjadi petani, dokter, guru dan lainnya?
Kadang kala kita ‘gemes’ melihat anak kita yang selalu mengalah kepada temannya. Punya sepeda, temannya yang memakai. Dan selalu mendahulukan kepentingan temannya dari pada dirinya. Tapi tahukah kita bahwa sebenarnya ia memiliki bakat di bidang server (melayani). Sehingga kelak kalau ia berprofesi sebagai dokter atau guru, maka ia akan menjadi dokter atau guru yang hebat.
Kita hanya perlu menemukan dan mengoptimalkan bakat dan kemampuan yang sudah diberikan Allah kepadanya. Karena mereka memiliki fungsi dan tujuan tertentu di masa depan kelak. Allahlah grand designernya. Maha Benar Allah.

Karawang, 25 September 2017

Ayah, Ibu, bermainlah denganku…. lomba blog #TantanganPengasuhanEraDigital



Siang sepulang dari Try Out Diknas, Sayyid makan siang dengan lahapnya. Saya memperhatikannya dengan bahagia.

Ibu       : Lahap benar makannya anak Ibu. Lapar banget ya?
Sayyid : Enggak. Masakan Ibu enak banget.

Lagi bikin gulai rebung plus daging. Untung GEER tidak dalam mode ON, karena sudah sering dengar beginian…

Ibu       : Masaak?
Sayyid : Iya. Tak tertandingi sedunia.
Ibu       : Kalau gitu boleh dong… ibu bikin rumah makan?
Sayyid : Jangaaan…nanti Ibu sibuk!
Ibu       : Emang kenapa kalau Ibu sibuk?
Sayyid : Nanti Ibu nggak bisa lagi main sama Sayyid.
(kejadian tanggal 11 Februari 2016)

Sederhana tapi ‘dalam’. Hanya bermain bersama yang ia pinta.

Apa sih istimewanya bermain? Kenapa juga harus dengan orang tua? Bukankah cukup dengan teman?
Bermain adalah dunia anak. Kebutuhan dan hak mereka yang paling mendasar. Kekurangan waktu bermain dimasa kecil dapat berdampak serius di kemudian hari.
Pada bulan Agustus 1966 di University of Texas, Austin, seorang pria berusia 25 tahun, mahasiswa teknik dan mantan penembak jitu di Angkatan Laut, melepaskan tembakan dari menara kampus universitas dan menewaskan 14 orang serta melukai 31 orang lain. Sehari sebelumnya, Charles Whitman membunuh ibu dan istrinya.
Yang dilakukan Whitman mengejutkan banyak orang. Dia tampak seperti orang normal lainnya, pernah menjadi putra altar, anggota termuda dalam kegiatan kepanduan Eagle Scout di Amerika, tidak memiliki catatan kriminal, cerdas, seorang suami, dan disukai banyak orang. Tentu saja peristiwa ini menjadi pertanyaan banyak orang, bagaimana mungkin dia melakukan tindakan keji ini?
Pemerintah Texas meminta seorang psikiater, Stuart Brown, untuk menganalisis dan menemukan jawabannya. Para ahli kesehatan jiwa dan psikolog yang tergabung dalam tim dokter Stuart Brown mempelajari kehidupan dan motif Whitman telah mengidentifikasi bahwa kurang bermain pada masa kecillah yang merupakan faktor utama dari tindakan pembunuhan ini.
Dokter Stuart Brown dan timnya menunjukkan fakta bahwa Whitman yang dibesarkan dalam suasana rumah yang penuh kekerasan, memang hampir tidak memiliki waktu bermain. Sejak lahir hingga berusia 18 tahun jiwa bermain bebasnya telah ditekan secara sistematis oleh ayahnya.

Begitu pentingnya kegiatan bermain bagi seorang anak. Karena dengan bermain mereka melatih kepekaan sosial, mengatasi stress dan membangun ketrampilan kognitif, seperti mengatasi masalah, serta melatih kemampuan berinteraksi dengan orang lain, suatu hal yang pasti mereka butuhkan ketika tumbuh dewasa kelak. Disamping itu penggunaan otot-otot tubuh ketika bermain dapat menstimulasi indra-indra mereka.
Dan kenapa bermain dengan orang tua juga penting? Ternyata manfaatnya juga tak kalah penting. Diantaranya mengikat hubungan anak dan orang tua, membuat mereka merasa dihargai dan disayangi, serta menumbuhkan rasa percaya diri. Dan di atas semua itu mereka akan bangga dan percaya kepada orang tua. Sehingga suatu ketika saat mereka menemui masalah, yakinlah, insya Allah… mereka tidak akan ‘lari’ kepada temannya atau orang lain. Orang tuanyalah yang pertama dicari dan menjadi ‘buku hariannya’.
Ketika anak-anak kecil dulu, kami selalu berusaha meluangkan waktu bermain dengan anak-anak. Si ayah tak sungkan bermain boneka dengan anak perempuannya. Dan sayapun tak sungkan bermain kelereng dengan anak laki-laki saya. Sungguh nikmat bisa bermain bersama dan tertawa lepas bersama.
Sekarang mereka sudah mulai beranjak besar. Yang dua orang sudah mulai dewasa (SMA dan SMP) dan yang bungsu masih kelas 5 SD. Alhamdulillah, kelekatan yang terjalin lewat bermain bersama membuat kami sangat dekat. Tak sungkan bercerita apa saja.
Seperti ketika anak kami Sayyid. Ketika kelas 1 SMP, setahun yang lalu, bercerita,

“Bu, sepertinya Sayyid gak lama lagi akan baligh”.
“Kenapa Sayyid berpikiran seperti itu?”
“Karena suara Sayyid sudah mulai berubah”.

Alhamdulillah, suatu kenikmatan ketika si bujang mau bercerita akan moment penting hidupnya yang sebentar lagi akan dia jelang, kepada Ibunya. Sebuah peristiwa yang menandakan masa kanak-kanaknya berakhir. Sebuah peristiwa yang biasanya tabu dibicarakan para anak bujang kepada ibunya. Dengan begini, saya dan ayahnya segera bersiap-siap dan memberikan pengetahuan yang perlu ia ketahui dengan bahasa yang dipilih sedemikian rupa sehingga ia bisa memahaminya dengan mudah, termasuk mengajarkannya tata cara mandi wajib ketika junub.
Bermain bersama memang membentuk ikatan kasih sayang. Mereka menjadi lebih mudah diberi nasehat dan masukan. Ketika anak gadis seusia anak perempuanku yang pertama tidak lepas dari gadget dan selfie, ia kularang berselfie ria. Menurutku tidak pantas seorang muslimah memamer-mamerkan diri di area publik seperti medsos yang akan dilihat segala macam manusia yang kita tidak tahu tabiat dan kelakuannya. Juga kularang untuk menjadikan dirinya seperti diary terbuka dengan sedikit-sedikit update status yang tidak penting, seperti pusing lah, capek lah, kesal dengan oranglah dan lain-lain.
Alhamdulillah dia menurut. Dari SMP sampai kelas 2 SMA sekarang dia sangat jarang update status maupun foto selfie di medsos. Gadget digunakannya sesuai fungsinya yaitu alat komunikasi dan fasilitas internetnya lebih sering digunakannya untuk membaca dan mencari data. Bahkan waktu luang sering digunakan untuk menulis dan membaca.. Sampai saat ini ia sudah menerbitkan 4 buah buku kumpulan cerpen maupun komik. Tanpa aktif di medsos, ia bukanlah orang yang kuper dan kudet. Dia adalah gadis yang supel, ceria, baik hati dan berprestasi.
Pengaruh buruk gadget terhadap remaja saat ini bukan main-main. Kalau dulu, jaman saya remaja, kenalakan remaja hanya sekedar tawuran, merokok dan ngebut-ngebutan dengan sepeda motor di jalan raya. Tapi sekarang benar-benar membuat jantung bisa copot
Mungkin kita sudah pernah mendengar fakta mengerikan yang terjadi di negara kita saat ini.
93 dari 100 anak SD telah mengakses pornografi
21 dari 100 remaja aborsi
135 anak korban kekerasan setiap hari
5 dari 100 remaja tertular penyakit menular seksual
63 dari 100 remaja berhubungan seks di luar nikah
Kekerasan seksual di sekolah terjadi 19 propinsi
Perkosaan terjadi di 34 propinsi
Kasus incest di 23 propinsi. (data dari lembaga Semai2045)
Seram sekali bukan?
Pakar-pakar psikologi telah banyak membahas penyebabnya. Salah satu yang saya tahu adalah di zaman modern sekarang, banyak orang tua yang sibuk mencari nafkah sehingga waktu dengan keluarga sangat kurang. Apalagi kalau ditambah dengan buruknya komunikasi orang tua dan anak. Sehingga pelarian anak adalah gadget. Pemakaian gadget yang tanpa batas dan tanpa filter, membuat mereka dengan mudah terpapar pornografi dan menjadi addict.
Sangatlah penting orang tua meluangkan waktu untuk anak yang telah diamanahkan Allah kepadanya. Dan bermain sangat efektif untuk mencairkan suasana sekaligus menjalin kasih sayang dari pada liburan ke tempat mewah tapi masing-masing tetap dengan gadget masing-masing.
Beberapa kali saya membuktikannya. Ketika kulihat anak pulang sekolah dengan wajah ditekuk, Saya tak langsung bertanya. Biarkan dulu sampai turun emosinya. Setelah makan malam saya ajak bermain. Kadang permainan untuk 2 pemain saja seperti congklak dan catur atau dengan mengajak saudaranya bermain kartu atau scrabble, atau lainnya. Kadang saya hanya membacakan buku cerita saja. Seringkali sambil bermain, meluncur sendiri ceritanya tentang kekesalannya di hari itu. Tapi adakala ceritanya baru mengalir saat menemaninya tidur. Kadang disertai tangisan kalau masalah terasa berat baginya.
Dengan bermain, kedekatan itu akan tercipta. Kasih sayang itu akan terjalin. Sambil bermain, kitapun bisa memberikan nasehat ringan sambil memperkuat nilai-nilai agama dalam upaya membentuk pondasi yang kokoh. Apabila itu rutin kita lakukan, insya  Allah, kitalah idola mereka. Kitalah tempat curhat mereka. Sehingga gempuran dari luar, insya Allah bisa terdeteksi dengan cepat dan bisa dihadapi bersama.

Sooo…. Bermainlah denganku ayah, ibu….
Luangkanlah waktumu untukku.

Menghidupkan Sunnah Rasulullah


Hari Rabu, pekan 1 sekolah, 2017

Sayyid, kelas 8 SM (sekolah menengah - penyebutan SMP di sekolah alam), pulang sekolah sambil ngomel2,
"Bu, Sayyid g mau lagi sekolah di sekolah alam."
"Oh....kenapa?", tanyaku.
"Masak, sekarang ada tidur siang, coba?", jawabnya dg emosi.
"Sayyid kan g suka tidur siang", tambahnya dg raut wajah masam.
Si adiknya yg baru kelas 5, langsung menimpali,
"Alyssa tadi tidur, Bu. Nyenyak", jawabnya.
Jadi ceritanya, di tahun ajaran ini, ada program baru di Sekolah Alam Karawang. Yaitu qoilulah atau tidur siang. Anak2 diberi waktu untuk tidur siang sejenak dari jam 11.15 sampai 11.45. Setelah itu bangun dan siap2 sholat dhuhur. Pada siswa SD, qoilulah lgsg dilaksanakan di pekan 1 sedangkan pada siswa SM pada pekan ke 2.
Tidur siang sejenak menjelang sholat dhuhur, bukan tanpa alasan. Tapi ini adalah melaksanakan Sunnah Rasulullah. Dulu kita, eh... maksudnya saya, mengira tidur siang yg baik itu setelah dhuhur. Dari jam 1 atau jam 2 sampai menjelang asyar. Ternyata, ketika tahun 2015 saat saya berhaji dan berkesempatan mengunjungi museum perjuangan Rasulullah di samping masjid Nabawi, di salah satu dindingnya tertampang tulisan yg besar tentang jadwal kegiatan harian Rasulullah dari bangun tidur sampai tidur kembali. Rasulullah tidur siang sebelum dhuhur dan bangun ketika Bilal mengumandangkan adzan dhuhur. 

Masya Allah, ternyata kita, eh...lagi2 saya maksudnya, salah. Sebagaimana salahnya pemahaman saya tentang buah2an. Mengira waktu terbaik untuk memakan buah2an adalah sesudah makan nasi. Padahal Rasulullah memakannya sebelum makan pati inti (karbohidrat dan protein). Dan beratus tahun kemudian penelitian medis membuktikan, saat terbaik memakan buah2an adalah seperti cara Rasulullah, sebelum makan nasi.
Kemudian kamipun terlibat diskusi singkat nan asyik tentang sunnah Rasulullah. Setiap Sunnah Rasulullah pasti mengandung kebaikan. Semisal Sunnah tentang anjuran berenang, memanah dan berkuda. Padahal kalau dipikir, bagaimana mungkin 1400 tahun yang lalu Rasulullah sudah menganjurkan berenang sementara beliau hidup di daerah yg tandus, minim air. Tapi ternyata, Masya Allah, sejarah membuktikan manfaat dari berenang sangatlah banyak. Saya sdh membuktikannya pada Sayyid dan Alyssa. (Sstt.....lain waktu saya ceritakan ttg hal ini).
Pekan ke 2 sekolah, 2017.
Dan....
Ketika hari pertama pelaksanan tidur siang di SM, saya lgsg bertanya kepada Sayyid ttg pengalaman qoilulahnya, sesaat ia pulang sekolah.
Dengan tersipu dia menjawab,
"Tadi Sayyid capek banget. Pas qoilulah Sayyid ketiduran."
Naaaahhh.....
Makanya jangan protes dulu. Ternyata bisa kan? 😁😁
Kadang, ada kalanya ketika kita menerapkan aturan di rumah, tidak bisa berjalan mulus. Tapi di sekolah, dengan bantuan guru dan suasana lingkungan (terutama teman2) yg kondusif, aturan itu bisa berjalan.
"Bu, katanya orang yg membiasakan tidur siang sejenak itu, cerdas2 ya?", tanyanya.
"Insya Allah", jawabku mantap.
Setiap Sunnah Rasulullah pasti mengandung kebaikan. Sekarang pilihan kita sebagai umat Rasulullah, adalah mengikuti dan menghidupkan sunnahnya atau meninggalkan sunnahnya.
Sungguh, nikmat Allah mana lagi yang kau dustakan?
Powered by Blogger.