Part #5. Puncak Lawang Nan Terkenal


Jalan-Jalan ke Ranah Minang tentu tak lengkap kalau tak mampir ke salah satu danaunya yang indah. Ada 5 buah danau indah di Sumatera Barat yaitu danau Singkarak, danau Maninjau, danau kembar (danau Di Atas dan danau Di Bawah), dan danau Talang.
Danau Singkarak dan danau kembar sudah kami kunjungi 2 tahun yang lalu. Yang sangat berkesan bagi anak-anak adalah memakan kerang danau Singkarak, yang merupakan kerang air tawar yang berukuran kecil dan gurih. Di sini disebut pensi. Dulu 1 bungkus ukuran sedang seharga Rp 5.000,-. Membuat anak-anak bolak-balik membeli kerang lezat ini. 😅😅😅
Kali ini kami bermaksud melihat danau Maninjau, danau terluas kedua di Sumatera Barat. Tapi hanya melihat saja. Tidak akan bermain air. Karena dulu sudah pernah bermain air danau ketika ke danau Singkarak dan danau Di Bawah. Kami akan melihat danau Maninjau dari suatu ketinggian, dari tempat yang sangat terkenal bahkan sampai ke mancanegara, yaitu Puncak Lawang.

Jalan menuju Puncak Lawang dengan latar belakang Gunung Singgalang

Puncak Lawang merupakan nama suatu puncak nan asri, sejuk, rimbun dan deretan pohon pinus yang berjajar rapi, yang terletak di dataran tinggi di Kecamatan matur, Kabupaten Agam Sumatera Barat, tepatnya di ketinggian 1.210 mdpl. Di zaman penjajahan, Puncak Lawang merupakan tempat peristirahatan bangsawan Belanda.

Perjalanan kami di mulai dari Padang Panjang. Kemudian kami memasuki daerah Sungai Tanang, Koto Tuo, Balingka, terus ke Matur dan Puncak Lawang. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang memanjakan mata karena keindahannya. Kiri kanan jalan terhampar perkebunan atau persawahan dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Perumahan penduduk yang tersusun rapi dan unik karena didirikan di tanah dengan kontur naik turun, udara yang sejuk, serta perkebunan tebu Lawang, sungguh membentuk harmoni yang menenangkan jiwa. 


Perjalanan menuju puncak Lawang dengan latar belakang Gunung Merapi



 Hamparan tebu Lawang di kiri kanan jalan



Di samping pemandangan yang indah, perjalanan itu sendiripun sangat menantang. Jalan yang naik turun, kadang landai kadang terjal, serta ditingkahi tikungan tajam dan dibatasi jurang yang dalam, benar-benar membuat kita berada dalam eforia, kagum dan syukur kepada sang Pencipta.

Dan di tengah perjalanan, ada spot pemberhentian untuk melepaskan ketegangan sambil melihat pemandangan ke bawah yang sangat indah, yaitu di panorama Sungai Landia.

                                    
 Pemandangan ke bawah dari Panorama Sungai Landia

Oh ya, daerah Lawang ini merupakan sentra pembuatan gula merah dari tebu. Gula merah ini oleh penduduk setempat dikenal dengan nama saka Lawang. Pembuatan gula merah dari tebu ini, hingga kini masih mempertahankan cara traditional yaitu menggunakan tenaga kerbau. Kerbau memutar alat pemeras tebu untuk mendapatkan air tebu, yang kemudian diolah menjadi gula merah. Pengolahan tradisional ini, sangat menarik minat wisatawan asing untuk menyaksikannya.

Jalan masuk menuju objek wisata Puncak Lawang

Akhirnya sampailah kami di puncak Lawang. Dari tempat ini, kita bisa melihat Danau Maninjau seutuhnya. Kalau cuaca cerah, akan terlihat danau yang biru tenang bagaikan kaca raksasa. Bahkan laut Pariamanpun akan terlihat dari celah bukit yang mengelilingi danau Maninjau. So beuatiful. Tapi kalau lagi berkabut, pemandangan lebih spektakuler lagi. Kita seakan-akan berada di negeri di atas awan. Danau yang seluas 99,5 km2 menjadi tidak terlihat dari atas sini. Pemandangan full putih. Tapi kabut di sini, secepat dia datang, secepat itu pula dia pergi. Benar-benar luar biasa.

Danau Maninjau

Ketika kami sampai di sini, kabut datang dan pergi. Udara juga sangat sejuk. Sehingga benar-benar membuat betah.


Di puncak Lawang ini ada tiga spot wisata. Yaitu Puncak Lawang, Lawang Park dan Ambun Tanai. Ketiganya berada di lokasi yang berdekatan. Ketiganya menawarkan pemandangan ke danau Maninjau yang Indah. Kecuali Ambun Tanai, Pundak Lawang dan Lawang Park memiliki resort buat yang ingin menginap dan bersantai di sini. Kalau akhir pekan apalagi liburan, tempat ini akan penuh oleh wisatawan yang berlibur.


Di samping sebagai destinasi wisata, Puncak Lawang juga menjadi tempat favorit untuk olah raga paralayang. Puncak Lawang terkenal sampai ke manca negara karena merupakan spot terbaik paralayang di Asia Tenggara. Sehingga Puncak Lawang sering digunakan untuk kejuaraan olahraga paralayang kelas internasional.

Sebuah resort di Lawang Park dengan latar belakang kabut

Karena kedatangan kami 2 hari menjelang Hari Raya Idul Fitri, kegiatan paralayang ditiadakan. Padahal anak-anak sangat ingin mencoba. Saya hanya bisa bersyukur. Sebagai seseorang yang cukup penakut terhadap olahraga ketinggian, saya jadi tidak perlu repot-repot melarang anak-anak yang sangat bersemangat terutama Muthi yang ketagihan setelah pernah mencoba olah raga parasailing di pantai Ayer. Lagi pula, biaya paralayang cukup mahal. Untuk pemula diharuskan tandem dengan instruktur paralayang dengan biaya 700 ribu rupiah. Bayangkan kalau Muthi dan Sayyid ikut paralayang, woow…banget kan budgetnya 😀😀😀


Ambun Tanai

Di sini juga ada area outbond buat anak-anak. Ada flying fox, two line bridge dan lain-lain. Untuk flying fox saja hanya dikenakan biaya 25 ribu rupiah. Tapi kalau ambil paket outbond lengkap cukup 65 ribu saja. Cukup murah.
Setelah puas di puncak Lawang ini, anak2 pun sudah menjajal outbondnya, kamipun turun melewati kelok 44 yang terkenal itu. Sebuah penurunan dengan 44 belokan tajam dengan pemandangan danau Maninjau yang indah. Terus turun sampai ke danau Maninjau. Di danau Maninjau kami melihat keramba apung tempat memelihara ikan Mas dan ikan Nila. Kemudian kami lanjut ke Lubuk Basung, Tiku Pariaman dan Padang. Akhirnya…sampailah kami di rumah nenek tercinta. 
😍😍



Keramba apung di danau Maninjau




Ekspresi Diri

Lihatlah....


Bagaimana anak Sekolah Alam Karawang mengekspresikan dirinya dalam berpakaian.
Tak peduli pakem fashion. Tak peduli matching atau tidak. Semua sesuka hati saya. Senyaman saya. Lihatlah Alyssa hari ini. Berjilbab pink, baju oranye, rok merah tua dan tas biru.

Mungkin bagi kita orang tua, pilihan warna atau selera berpakaiannya 'payah'. Karena pikiran kita seringkali dikotomi oleh 'apa kata orang'. Takut sekali menjadi bahan ejekan kalau selera kita 'payah', norak dan kampungan.

Padahal selera berpakaian, matching atau tidaknya, bukanlah tujuan kita dalam berpakaian. Tujuan kita berpakaian adalah untuk menutup aurat dengan busana yang rapi dan bersih.
Itulah perintah Allah dan rasulNya.

Di Sekolah Alam Karawang, ada tiga hari dalam seminggu, mereka bebas mengeksperikan diri dalam berpakaian. Tiada seragam hari itu. Sehingga mereka bebas memakai apa saja yang mereka inginkan. Tentu saja harus sesuai dengan syariah Islam, yaitu menutup aurat.
Dan memang, kebebasan dalam mengekspresikan diri, itu adalah bagian dari pembelajaran. Tak semua hal harus diseragamkan. Tak semua hal harus dipaksakan untuk serupa. Kelak itu akan melatih mereka untuk berfikir kreatif. Out of the box. Tapi yg terpenting, kebebasan itu ada pakemnya yaitu tidak keluar dari perintah Allah dan RasulNya.


Mudah-mudahan engkau Istiqomah sampai ajal menjemput ya, nak. Dan tentu saja, pakem fashion sedikit-sedikti mulai diikuti supaya tak silau mata orang.😀😀😀😀😀

#4. Rumah Gadang Nan Memikat


Setelah beberapa kali pulang ketika lebaran, baru tahun ini kami bisa membawa anak-anak berkunjung ke istana kerajaan Minangkabau yang terletak di Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Wilayah kerajaan Minangkabau ini cukup luas, konon meliputi wilayah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Jambi dan sampai ke Negeri Sembilan Malaysia.

Istana Si Linduang Bulan

Di kota Batusangkar ini ada dua buah istana yaitu Istana Si Linduang Bulan dan Istana Baso Pagaruyuang. Istana Si Linduang Bulan ini pertama kali didirikan tahun 1550 oleh Daulat Yang Dipertuan Raja Gamuyang Sultan Bakilap Alam (Sultan Alif Kalifatullah Johan Berdaulat Fil’Alam I), Raja Alam sekaligus pemegang jabatan Raja Adat dan Raja Ibadat Pagaruyung. Tahun ini sebagai penanda awal diberlakukannya secara resmi hukum syariat Islam di seluruh kerajaan Pagaruyung menggantikan hukum-hukum yang bersumber dari agama Buddha Tantrayana.
Istana ini pernah terbakar ketika berkecamuknya perang Paderi tahun 1821 dan kemudian dibangun kembali tepat di tapak istana yang lama pada tahun 1869 oleh Yang Dipertuan Gadih Puti Reno Sumpu, kemenakan dari Sultan Tangkal Syariful Alam Bagagar Syah Yang Dipertuan Hitam.
Saat ini Istana Si Linduang Bulan sering digunakan untuk acara pemerintahan termasuk menerima tamu-tamu negara.

Berjarak 1 kilometer dari Istana Si Linduang Bulan, terdapat Istana Baso Pagaruyung.

Istana Baso Pagaruyung

Istana Baso Pagaruyung merupakan kediaman dari Raja Alam, sekaligus pusat pemerintahan dari sistem konfederasi yang dipimpin oleh triumvirat (tiga pemimpin) berjuluk 'Rajo Tigo Selo'. Sistem kepemimpinan ini menempatkan Raja Alam sebagai pemimpin kerajaan dengan dibantu dua wakilnya, yaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo serta Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus. Kedua wakil ini memutuskan berbagai perkara yang berkaitan dengan permasalahan adat serta agama. Tetapi, jika suatu permasalahan tidak terselesaikan maka barulah Raja Pagaruyung (Raja Alam) turun tangan menyelesaikannya.
Istana ini mengalami beberapa kali kebakaran. Istana asli dibakar oleh Belanda tahun 1804. Kemudian terbakar kembali tahun 1966. Oleh Gubernur saat itu, Harun Zain, Istana Baso ini didirikan kembali tahun 1976 sesuai bentuk aslinya, tapi tidak di tapak istana yang lama, melainkan di lokasi baru di sebelah selatannya. Terakhir tahun 2007, istana ini kembali terbakar. Kali ini disebabkan oleh sambaran petir di atap istana.
Sesuai namanya Baso (besar), istana ini sangat besar dan megah. Terdiri dari 3 lantai dengan peruntukan yang berbeda.
Lantai pertama berupa ruangan luas yang memajang berbagai benda dalam etalase, kamar-kamar untuk anak perempuan yang sudah menikah, dan sebuah singgasana di bagian tengah. Jika istana dilihat dari luar maka akan tampak bangunan yang memanjang dengan bagian yang lebih tinggi diujung kanan dan kirinya. Bagian ini disebut sebagai anjuang.

Lantai 2 disebut sebagai anjuang Paranginan yaitu kamar anak perempuan raja yang belum menikah. Sedangkan lantai ke-3 adalah ruang penyimpanan harta pusaka raja sekaligus tempat rapat khusus Raja 3 selo.
Rumah Gadang ini didirikan dengan memperhitungkan gejala alam yang sering terjadi di Minangkabau. Karena berada di jalur patahan memanjang dari Aceh sampai Lampung, maka di Minangkau sering terjadi gempa. Sesuai dengan filosofi Minangkabau ‘Alam Takambang Jadi Guru’, yang kira-kira bermakna alam yang terhampar merupakan guru atau media pembelajaran, maka masyarakat Minangkabau membuat rumah adat yang tahan terhadap gempa. Seluruh tiang Rumah Gadang tidak ditanamkan ke dalam tanah, tetapi bertumpu ke atas batu datar yang kuat dan lebar. Seluruh sambungan setiap pertemuan tiang dan kasau (kaso) besar tidak memakai paku, tetapi memakai pasak yang juga terbuat dari kayu. Sehingga ketika terjadi gempa, Rumah Gadang ini akan bergerak secara fleksibel meski diguncang oleh gempa yang dahsyat.
Saat ini Istana Baso Pagaruyung menjadi objek wisata dan dibuka untuk umum.
Meskipun Rumah Gadang ini merupakan rumah adat Minangkabau, tetapi kita tidak bisa menemukannya di seluruh Sumatera Barat. Karena yang boleh mendirikan rumah adat ini, hanya pada kawasan yang sudah memiliki status sebagai nagari di daerah ‘darek’. Daerah darek adalah daerah asli kerajaan Minangkabau yaitu Luhak Tanah Datar, Agam, dan 50 kota. Sedangkan di luar daerah yang tiga itu di sebut daerah rantau. Para perantau Mingkabau dari dahulu tidak mendirikan Rumah Gadang.
Berikut ini foto-foto dari rumah adat Minangkabau, yang berfungsi sebagai rumah penduduk. Semuanya merupakan hasil seni yang indah. Baik dengan ukiran maupun tanpa ukiran.

Note
Tulisan ini selesai berkat sponsor dari anakku Sayyid Al Hakim 😍😍😍
Ceritanya, keyboard komputerku rusak. Dan kudiamkan saja tanpa dibawa ke tukang service maupun beli yang baru. Ternyata ini menjadi perhatian si bujang. Diam-diam dia melakukan pembelian keyboard secara online ke website Tokopedia dan melakukan pembayaran diam-diam ke Alfamart dekat rumah dengan uangnya sendiri. Dan ketika paketnya datang, dengan ceria dia berkata, “Ini surprise untuk ibu. Spesial Sayyid belikan untuk ibu”.
So sweeeet....❤️❤️❤️ 
Ibu tiba-tiba speachless.
Pelukan dan belaian di kepalanya kuberikan sambil berkata, “terima kasih Sayyid. Barakallahu ya, nak sayang”.😘😘😘
Dan tulisan yang tertunda seminggu inipun selesai.😁









Part #3. Desa Terindah di Dunia


Alam Minangkabau yang tersusun atas gunung, bukit, lembah, danau dan pantai, memang menawarkan pemandangan alam yang indah. Tak bosan menjelajahinya serta ditunjang oleh makanannya yang lezat, yang sudah terkenal seantero dunia.
Tahukah sanak sadonyo, kalau desa terindah di dunia itu ada di Sumatera Barat, tepatnya di Nagari Tuo Pariangan, di Kabupaten Tanah Datar?


Nagari Tuo Pariangan yang terletak di lereng gunung Merapi yang sejuk ini dinobatkan sebagai salah satu dari 5 desa terindah di dunia oleh sebuah majalah pariwasata Amerika Serikat, Travel Budget, tahun 2012, bersanding dengan keindahan Desa Wengen dari Swiss, Desa Eze dari Prancis, Niagara on The Lake di Kanada, serta Desa Cesky Krumlov dari Republik Ceko.
Keindahan alam Nagari Pariangan ini memang mengundang decak kagum. Desa yang terjaga keaslian dan keasriannya, rumah gadang-rumah gadang yang berumur ratusan tahun, sawah yang bertingkat-tingkat, di pagari pegunungan, udara yang sejuk, air yang jernih dan dingin, membuat nyaman dan betah. Di sini juga terdapat masjid, yang konon tertua di Ranah Minang. Karena hujan, kami tak sempat mampir ke masjid yang tetap kokoh berdiri selama ratusan tahun ini.


Nagari Tuo Pariangan dari dahulu sudah sering di kunjungi turis mancanegara. Sedangkan turis lokal baru berkunjung setelah mengetahui nagari Pariangan ini dinobatkan sebagai desa terindah di dunia. Biasaaahh….kita selalu telat.🤣🤣🤣
Tapi sesungguhnya, tak hanya Nagari Pariangan saja yang indah di Ranah Minang ini. Semua tempat memberikan keindahan alami yang memanjakan mata dan menyejukkan hati.
Beberapa spot foto ini saya ambil di Nagari Tuo Pariangan, kecamatan Pariangan, Lawang Bukittinggi, dan Kampung Galapuang, Pariaman.











Part #2. Masjid Modern Nan Megah


Lebaran tahun ini, 2017, tentu tak hanya masjid tua nan bersejarah saja yang kami kunjungi. Masjid modern dengan arsitektur yang megah dan rumit juga kami kunjungi untuk memperkaya khazanah anak-anak. Salah satunya Masjid Raya Sumatera Barat.

Masjid Raya Sumatera Barat merupakan masjid terbesar di Sumatera Barat. Dengan menempati lahan seluas 40.343 meter persegi dan dengan desain yang modern dan megah, membuat masjid ini menjadi ikon baru kota Padang. Setiap pendatang maupun yang baru pulang merantau, berusaha menyempatkan diri untuk mendatangi masjid ini.



Rancangan masjid Raya Sumatera Barat  ini dikerjakan oleh arsitek Rizal Muslimin yang merupakan pemenang sayembara desain masjid Raya Sumatera Barat tahun 2007 yang diikuiti oleh 323 arsitek. Konstruksi bangunan dirancang menyikapi kondisi geografis Sumatera Barat yang beberapa kali diguncang gempa berkekuatan besar. Peletakan batu pertamanya sebagai tanda dimulainya pembangunan dilakukan pada tanggal 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumatera Barat ketika itu, Gamawan Fauzi.


Masjid Raya Sumatera Barat menampilkan arsitektur modern yang tak identik dengan kubah. Atap bangunan menggambarkan bentuk bentangan kain. Yang merujuk kepada histori Rasulullah ketika menyelesaikan perselisihan empat kabilah Bani Quraisy ketika hendak memindahkan batu Hajar Aswat ke tempat semula setelah Ka’bah direnovasi.


Pembangunan masjid ini dikerjakan secara bertahap karena keterbatasana anggaran dari propinsi. Dan sempat terhenti ketika tahun 2013 karena ketiadaan anggaran dari provinsi. Dan ketika terjadi gempa dahsyat tahun 2009, bantuan dari Arab Saudi senilai 90 juta dollar Amerika untuk pembangunan masjid ini,  dialihkan untuk keperluan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa.

Alhamdulillah,  saat ini pembangunan sudah mendekati tahap akhir.




Part #1 Masjid Tua nan Mempesona

Alhamdulillaah….libur hari Raya Idul Fitri 2017 sudah usai. Yang mudik ke kampung halamanpun, sebagian besar sudah kembali ke kota asal tempat mencari nafkah. Begitu pula dengan kami, yang selalu mengagendakan mudik ke Ranah Minang 2 tahun sekali.

Perjalanan panjang yang kami tempuh, 3612 km atau setara dengan 3,5 kali bolak-balik Ayer-Panarukan (ujung ke ujung pulau Jawa), dari Karawang - Sumatera Barat - Karawang selama 15 hari, memang perjalanan yang luar biasa. Kebahagian bertemu dengan orang tua / nenek tercinta, kakak dan adik-adik beserta keluarganya masing-masing, sanak saudara serta sahabat-sahabat tercinta, ditambah perjalanan wisata yang menambah khazanah pengetahuan kami terutama anak-anak, benar-benar memberikan kesan yang mendalam.

Selama 15 hari perjalanan dan hanya 1 hari yang berdiam di rumah, sebenarnya sangat menguras tenaga. Tapi Alhamdulillah wa syukurilah, Allah memberi kami kesehatan dan kekuatan yang luar biasa. Dan anak-anak sama sekali tak pernah mengeluh sepanjang jalan, baik mengeluh capek ataupun bosan. Sehingga perjalanan terasa ringan dan menyenangkan.

Ada banyak tempat yang kami kunjungi. Kali ini saya ingin menceritakan tentang kunjungan kami ke masjid-masjid kuno yang bersejarah yang ada di Sumatera Barat. Tampilannya yang artistik dan sejarah yang dilaluinya membuat kita terpesona. Filosofi ‘adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah’, membuat masyarakat Sumatera Barat sangat lekat dengan masjid dalam kesehariannya.

Ada banyak masjid kuno nan bersejarah yang tersebar di Sumatera Barat. Tapi yang sempat kami kunjungi hanya 4 buah...

1.    Masjid Raya Ampek Lingkuang di Lubuk Alung, Sumatera Barat



Masjid ini hadir mewarnai masa kecil ibuku tercinta. Masjid ini berada persis di sebelah sekolah rakyat tempat ibuku menimba ilmu ketika kecil.

Masjid ini didirikan pertama kalinya tahun 1415. Masjid ini berdiri di lokasi perempatan empat sudut kampung di Lubuk Alung. Dinamakan Ampek Lingkuang, karena berada di empat kampung, masing-masing Koto Buruak, Singguliang, Sungai Abang dan Balah Hilia. Jadi, boleh dikatakan, bahwa Masjid Raya Ampek Lingkuang adalah sejarah berdirinya Lubuk Alung, yang dimulai dari empat kampung tersebut.

Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Lubuk Alung, Suharman Datuak Pado Basa menilai masjid itu belum pernah direnovasi total. Kecuali diperbaiki disana-sininya. Arsitektur bangunannya tetap utuh seperti pada awal dibangun dulunya. Di masjid itulah tempat dipadukannya kekuatan syarak dan adat dalam nagari. Segala keputusan syarak atau agama dan adat oleh basa barampek, pucuak baranam harus melalui sidang dan mufakat di masjid tersebut.

Sekaitan namanya Masjid Ampek Lingkuang, maka labai atau ulama yang memegang kekuasaan dibidang syarak dalam masjid itu juga berempat. Disebut juga 'labai lingkuang yang empat'. Setiap peristiwa penting yang berhubungan dengan persoalan agama ditengah masyarakat Lubuk Alung, seperti memulai dan mengakhiri bulan Ramadhan, seluruh labai yang bertugas di seluruh surau-surau harus tunduk dan patuh, serta berada dibawah kekuasaan labai yang berempat tersebut

Sebagai masjid kepunyaan orang dalam kampung yang empat tersebut, maka semua kampung itu diberikan kedudukan yang sama. Duduak samo randah, tagak samo tinggi. Masing-masing kampung punya peran dan fungsi tersendiri dalam masjid itu. Imam masjid diambilkan dari orang Singguliang, bilal, alias tukang azan berasal dari Sungai Abang. Sedangkan khatib alias tukang baca khutbah Jumat berasal dari Koto Buruak, dan Tuanku Khadi dari Balah Hilia. (sumber: tuankuadamanhuri.blogspot.com)


2.       Surau Nagari Lubuk Bauk, Batipuh Tanah Datar, Sumatera Barat


Surau Lubuk Bauk merupakan bangunan masjid kuno terletak di Jorong Lubuk Bauk, Nagari Batipuh Baruh, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, dan hanya sekitar 6 km dari Kota Padang Panjang. Bangunan surau terletak lebih rendah ± 1 m dari jalan raya.

Surau ini berbatasan dengan jalan raya di bagian utara, kolam dan masjid di bagian timur, kolam dan rumah penduduk di bagian selatan, dan rumah penduduk di bagian barat.

Menurut ceritanya, surau ini dibangun oleh para ninik mamak yang berasal suku Jambak, Jurai Nan Ampek Suku sekitar tahun 1896 dan diperkirakan selesai tahun 1901. Tanah surau ini berasal dari wakaf Datuk Bandaro Panjang.

Surau ini dibangun sepenuhnya dengan bahan utama kayu Surian dengan luas 154 meter persegi dan tinggi bangunan sampai ke puncak kurang lebih 13 m dengan corak bangunan dari Koto Piliang yang dapat dilihat dari susunan atap dan adanya menara.

Kabarnya di surau inilah tempat Buya Hamka belajar mengaji dan bahkan sering tidur di surau ini di masa kecilnya. Dan surau ini juga menjadi tempat lokasi shooting film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, sebuah film yang diangkat dari novel karya Buya Hamka. (Sumber: Bayu Heryanto, setiktravel community)


3.    Masjid Raya Ganting di Padang, Sumatera Barat


Masjid ini terletak di Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Masjid yang dibangun pada tahun 1805 ini, tercatat sebagai masjid tertua di Padang dan salah satu yang tertua di Indonesia serta telah menjadi cagar budaya.
Masjid yang pembangunannya melibatkan beragam bangsa ini menjadi pusat pergerakan reformasi Islam di daerah tersebut pada abad ke-19, dan presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah mengungsi ke masjid ini pada masa perjuangan kemerdekaan. Masjid ini termasuk bangunan yang tetap utuh setelah gelombang tsunami menerjang kota Padang dan sekitarnya akibat gempa bumi tahun 1833 akibat letusan gunung Krakatau. Dan mengalami kerusakan cukup berarti akibat gempa tahun 2005 dan 2009.
Saat ini, selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid satu lantai ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama dan pesantren kilat bagi pelajar serta menjadi salah satu daya tarik wisata di kota Padang. (sumber : Wikipedia)

4.    Masjid Muhammadan


Kalau kita berjalan di daerah pecinannya kota Padang yaitu Pondok, maka kita akan menemukan sebuah masjid tua nan indah. Masjid Muhammadan namanya. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia sekaligus cagar budaya yang terletak tepatnya di Kelurahan Pasa Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat. Masjid ini merupakan masjid peninggalan sejumlah Muslim keturunan India di Padang yang dibangun pada tahun 1843. Masjid dengan arsitektur bercorak India ini berada dalam kawasan Kota Tua Padang di sekitar pelabuhan Muara.

Keberadaan masjid ini turut berperan dalam penyebaran agama Islam dan perjalanan sejarah Kota Padang

Alhamdulillaah.... kunjungan yang sangat bermanfaat. Semoga kelak anak keturunan kita merupakan anak-anak yang tertambat hatinya di masjid. Generasi Rabbani. Aamiin...ya Rabbal'alamiin.
Powered by Blogger.