Sebelum terlambat...

 


Pagi ini melihat tanaman di suatu sudut rumahku, sungguh menenangkan. Apalagi melihat bunga alocasia (keladi) pemberian mama mertua yang tumbuh subur mengkilap, tegak, sangat menyenangkan hati.
Ketika daunnya masih muda, segala keindahan ia miliki. Tapi begitu umur menua, kilapnya mulai berkurang, dan dahannya pun mulai letoy. Dia butuh penyangga supaya bisa tegak berdiri.
Coba lihat benda apa yg jadi penyangganya. Sebuah Arrow platinum seharga 150 ribu/pc yg dibeli tahun 2017.
Sebuah arrow yang lumayan mahal di jaman itu, yg ketika masa jayanya dia seringkali melesat ke titik bidik 10 atau X 10. Dan menghantarkan si pemilik ke podium juara.
Seiring umur, dia pun mulai bengkok karena sering menghantam bantalan. Atau sesekali melesat menghantam besi penyangga bantalan.
Ketika sudah bengkok dia pun digusur menjadi penyangga tanaman. Sirna sudah masa jayanya.
Ternyata kita tak beda dengan mereka ya?
Ada masa kita muda, kuat, berjaya, cantik dan tampan. Tapi masa ini tak kan lama. Akan tiba masanya kita di fase penghujung. Menua, lemah, pensiun.
Apa yang dulu kita bangga-banggakan, harta, tahta, kecantikan/ketampanan, akan lapuk di makan zaman.
Apabila dulu mungkin kita pernah arogan menyakiti hati orang lain, merasa diri paling pintar, mengucilkan orang yang tak setara, mengambil hak orang lain, memandang rendah yang tak selevel...🥲
Semoga kita masih ada waktu untuk bertaubat dan memperbaiki semuanya.
Reminder for me
Jumat Barakah
Karawang, 29 Oktober 2021

Psikotes

 


Tahun 1989 ketika akan naik ke kelas 2 SMA, sekolahku SMAN 3 Padang mengadakan psikotes untuk membantu kami menentukan jurusan yang akan diambil, apakah jurusan IPA atau IPS.
Sekolah berusaha memastikan agar kami tak salah pilih jurusan. Jurusan yang akan kami ambil benar-benar sesuai dengan minat dan kemampuan kami. Dan psikotes yang diadakan oleh sekolah yang bekerja sama dengan IKIP Padang (sekarang bernama Universitas Negeri Padang) adalah gratis.
Tetapi sekarang, beberapa sekolah terima jadi. Mau jurusan IPA atau IPS adalah pilihan siswa sendiri yang dicantumkan ketika mendaftar.
Kalau sudah yakin, tak masalah. Tapi ada beberapa anak yang bingung menentukannya. Bagi yang masih bingung, bisa dibantu dengan melakukan psikotes mandiri. Bayar sendiri.
Seperti si uncu kami. Tahun depan Insya Allah sudah jadi murid putih abu-abu. Tapi dia masih bingung dengan jurusan idaman hati.
Dia tak suka matematika, tapi suka IPA, membuatnya ingin masuk IPS aja.
Padahal dari beberapa pengamatan, logika berpikirnya cenderung 'teknik'. Seperti kemarin saya uji. Lampu hias di jalur hijau di daerah Dago Bandung, di gantungi pot bunga Kastuba merah. Melihat daunnnya yang berwarna merah dan subur, saya jadi ragu ini bunga asli atau plastik. Ketika saya tanya,
"Coba, Cha, itu bunga asli atau plastik?"
Dia diam sesaat untuk mengamati.
Kemudian menjawab, "Itu asli"
"Dari mana Icha tau?" tanyaku.
"Perhatikan potnya. Ada lumutnya. Berarti sering di siram. Jadi itu bunga asli."
Masuk akal banget alasannya.
Kalau kata pelatih memanahnya, beliau juga seorang dosen, "Alyssa ini bakatnya IPA tapi orientasinya IPS".
Nah, makin bingung kan? 😅😅
Akhirnya hari ini dia ikut psikotes untuk membantu dia memutuskan apakah jurusan IPA atau IPS yg akan dia pilih untuk jurusannya nanti.
Untung... adik kandung si ayah adalah psikolog yg menjalankan sebuah biro psikologi bersama beberapa orang temannya di Bandung. Alhamdulillah gretong 😍😍
Ternyata, jaman dulu dengan sekarang, lebih memudahkan jaman dulu ya? Psikotes gratis diadakan oleh sekolah. Sekarang mandiri dengan bayaran yg lumayan.
Ehh...itu si uni kenapa ikutan juga?
Ohh... dia lagi belajar ilmu psikologi bersama tante dan teman-teman tantenya. Belajar ilmu scoring dan lain-lainnya. Sebagai pengayaan untuk menambah ilmu selain ilmu dari kampusnya.
Semoga dimudahkan buat semuanya...😃👍👍

City Adventure to Bogor

 


"Bagaimana perjalanan city adventure hari ini, Cha? Lancar?" tanyaku setiba ia di rumah.
"Lancar banget. Teman-teman kooperatif semua. Kita bergerak sesuai peta perjalanan."
Dia ingat ketika mini city adventure di Karawang saat kelas 7 dulu, agak kacau dan kehabisan waktu sehingga tidak semua lokasi terkunjungi karena teman-teman sekelompok ada yg tidak kooperatif. Tidak mau bergerak sesuai peta perjalanan yg sudah disepakati. Merasa tau lokasi jadi mendadak merubah rencana.
Ternyata, pengalaman memang menjadi pelajaran.
Hari ini kegiatan City Adventure ke Bogor siswa kelas 9 SmpAlam Karawang berlangsung lancar. Mereka bergerak sesuai agenda yang sudah mereka atur, efisien, dan kompak.
Mereka dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang. Setiap kelompok mendapat tantangan menemukan 9 lokasi di Bogor, dimana destinasi tiap kelompok berbeda kecuali destinasi awal dan akhir yg merupakan titik kumpul kedatangan dan kepulangan. Sehingga masing-masing kelompok bergerak sesuai tujuan masing-masing.
Waktunya dibatasi dari jam 08.00 - 14.00. Sehingga dalam rentang waktu 6 jam tersebut mereka harus menemukan 9 lokasi yang sama sekali belum pernah mereka kunjungi.
Mereka harus naik angkutan publik dengan dispensasi 2x naik kendaraan online.
Sesampai di lokasi mereka harus mewawancarai petugas. Kemudian mendokumentasi lokasi dengan foto bersama.
Kebayang kan... deg-degannya. Memasuki kota orang, mencari 9 lokasi yang tak dikenal dalam waktu 6 jam termasuk ishoma, mewawancarai orang dewasa, masih kelas 9 lagi...
Perlu management waktu, kerjasama tim yg solid dan keberanian, untuk menyelesaikan tantangan ini.
Tapi ternyata mereka MAMPU.
Mereka memang anak-anak yang pemberani.💪💪😍😍
Contoh, kelompok Alyssa, kelompok 8, berhasil menyelesaikan tantangan dan sampai di titik kumpul kepulangan setengah jam sebelum batas waktu berakhir yaitu pukul 13.30. Masya Allah.
Salah satu hasil wawancara menarik mereka dengan petugas Taman Topi adalah,
ternyata taman Topi itu dulu bernama Taman Ade Irma Suryani. Kemudian berganti nama menjadi Taman Topi. Pengelolanya adalah swasta. Sekarang Taman Topi sedang direnovasi dan diubah menjadi Alun-Alun kota Bogor dan akan dikelola oleh pemerintah.
Apakah perjalanan mereka mulus saja? Tentu tidak pemirsa. Alyssa dan kelompoknya nyasar ketika akan ke Taman Topi ini. Sampai berganti angkot 3x. Di sini ilmu berani bertanya harus dipakai 😄😄
Pengalaman yang mengesankan. 👍👍
Belum lagi perjuangan untuk berangkat. Untuk sampai di Bogor, di lokasi titik kumpul kedatangan jam 08.00, mereka harus bangun dini hari. Si uncuku bahkan bangun jam 3 pagi.
"Ngapain pagi amat, Cha?" tanyaku.
"Icha ketua kelompok. G boleh terlambat", katanya.
Padahal bus berangkat jam 5.30 😂😂
Mereka harus berangkat bersama kelompoknya. Apabila ada anggota kelompok yg terlambat, tidak boleh ditinggal. Jadi kalau ada anggota yang terlambat, resikonya sekelompok itu terlambat semua.
Dan satu kelompok hanya boleh membawa 1 HP untuk alat komunikasi yaitu ketua kelompok saja.
Mungkin orang lain melihat, rempong amat sih Sekolah Alam. Belajar aja di kelas, napa?
City Adventure ini adalah bagian dari pelajaran skill life. Bayangkan dari 1 agenda ini feed back yg mereka dapatkan adalah:
1. Belajar memanage waktu.
2. Belajar memanage keuangan
3. Belajar navigasi
4. Belajar kerjasama tim
5. Belajar mandiri dan berani di daerah yg belum dikenal
G mungkin kan, manfaat begini di dapat dg duduk manis di kelas? Belum lagi keseruannya. Tak akan terlupa seumur hidup. 😄👍
Andai jaman saya muda, ada sekolah model beginian, saya mungkin sudah guling2 minta disekolahin ke sini 😅😅
Barakallahu buat semua guru sekolah alam. Yang mau berletih-letih untuk memberi pengajaran dan pengalaman kepada putra-putri kami. Semoga letihnya berganjar pahala yang berlimpah. Pemberat timbangan di Yaumil Akhir. Aamin ya rabbal'alamiin.
😄🙏🙏
Dan tahniah buat Alyssa...
ketika ia sedang City Adventure ke Bogor, keluar pengumuman bahwa ia lulus di SMA Nurul Fikri Boarding School Bogor. Alhamdulillah 😄😄❤️❤️
**********
Contoh agenda perjalanan City Adventure ke Bogor kelompok 8
Destinasi:
1. Taman Topi
2. Terminal Baranangsiang
3. Kampus IPB Jl Padjajaran
4. Taman Corat-Coret
5. Balai Kota Bogor
6. PMI Bogor
7. Pasar Suryakencana
8. Masjid Raya Bogor
9. Rumah Sakit Ismail Marzuki Mahdi
Rute:
1. Masjid Raya Bogor ke RS Ismail Mahdi (naik grap)
2. RS Ismail Mahdi ke Taman Topi (naik angkot)
3. Taman Topi ke Balaikota Bogor (naik angkot)
4. Balaikota Bogor ke Pasar Suryakencana (naik angkot)
5. Pasar Suryakencana ke Taman Corat Coret (naik grap)
6. Taman Corat Coret ke PMI Bogor (naik angkot)
7. PMI Bogor ke IPB Bogor (naik angkot)
8. IPB Bogor ke Terminal Baranangsiang (naik angkot)
Perkiraan biaya :
Biaya angkot 3.000 / perjalanan
Grab dari Masjid Raya Bogor ke RS Ismail Marzuki Mahdi:
Kapasitas 2 org: 25.000
Kapasitas 3 org : 30.000
Grab dari pasar Suryakencana ke Taman Corat-Coret
Kapasitas 2 org : 31.000
Kapasitas 3 org : 36.000
Perkiraan biaya total :
Transportasi (grab+angkot) : 50.000
Bus (pp) : 100.000
Makan+minum :40.000
Dana tak terduga : 30.000
Total: 220.000








Ikhtiar Panjang...

 


Pernah tinggal di sini 5 tahun.
si bungsu lahir di sini.
si bujang sunat di sini.
si sulung TK di sini.
Dan selalu bahagia datang ke kota ini. 😍
Kali ini kami datang ke sini hendak mendaftar ulang ke pesantren dimana si uncu diterima di SMA nya.
Lokasinya berada di kaki gunung Salak dengan pemandangan ke arah barat adalah kota Bogor dan kota Jakarta. Deretan gedung pencakar langit Jakarta terlihat jelas dari sini. Pemandangan ke arah Tenggara adalah Gunung Salak yg sayang sekali setiba kami di sini sedang tertutup awan.
Lokasi NFBS Bogor, berada di ketinggian, jauh dari keramaian, sejuk dan nyaman dengan luas 7 Ha.
Sayang karena masih pandemi kami tak bisa masuk ke area sekolah dan asrama. Hanya bisa di area Nurul Fikri Camp, tempat kantor humas dan vila tempat orang tua menginap ketika berkunjung.
🌹🌹🌹🌹🌹
Masuk pesantren,
adalah suatu rangkaian proses yang cukup panjang. Juga dana. Minimal untuk kami.
Sebelum masuk pesantren, minimal 3 tahun sebelumnya, kami sudah mulai menebar 'racun' bahwa pesantren itu keren. Kegiatannya mengasyikan. Ilmunya banyak. Teman banyak, ada yang dari daerah lain bahkan dari luar negeri. Pokoknya ceritanya yang indah-indah.
Setelah 3 tahun sosialisasi, biasanya hatinya sudah mantap. Maka mulai sedikit demi sedikit fakta dikuak. Di pesantren kegiatannya banyak, nanti bakal capek. G boleh main hp. Nanti ada teman yg begini dan begitu, harus bisa mengurus diri sendiri dan lain-lain.
Tapi biasanya mereka tak goyah lagi. Bahkan mereka jadi penasaran dengan tantangan yang ada di pesantren.
Yang agak berat, biasanya memotivasi anak tertua. Karena si sulung belum tau bagaimana keadaan pesantren sehingga dia masuk dengan perasaan was-was.
Untuk anak kedua, biasanya sudah tidak terlalu sulit. Karena yang dia lihat dari kakaknya yang indah-indah. Senangnya ditengok tiap bulan, dibawain makanan dan oleh-oleh segambreng. Di ajak piknik keluar pesantren serta makan-makan di resto yang diinginkan. Jadi bagi si adik, anak pesantren itu istimewa. Sehingga dia tak sabar ingin masuk pesantren juga.
Apalagi kalau si kakak ikut memotivasi dengan menceritakan keseruan di pesantren dan pencapaian-pencapaian selama di pesantren. Udah deh, si adik akan semakin tergugah.
Dan anak berikutnya insya juga semakin mudah.
Kemudian ketika sudah tiba waktunya masuk pesantren, mulailah kami survey pesantren. Biar dia melihat lingkungannya. Dan merasakan suasananya.
Dan kami pun membawa mereka berkeliling dari satu pesantren ke pesantren lain. Biasanya tidak bisa dalam 1 hari karena lokasi pesantren kadang berbeda propinsi. Jadi mesti disiapkan waktu, tenaga dan dana.
Kalau ada yang cocok, baru mendaftar. Kalau cocok 3 pesantren, ya mendaftar di 3 pesantren. Siapin dana deuii...😁
Kemudian tes. Waktu tes tiap-tiap pesantren selalu berbeda-beda. Jadi ya keliling lagi dari 1 pesantren ke pesantren lain buat tes. Siapin lagi waktu, tenaga dan dana.
Capek? Iya sih... tapi enjoy aja. Anaknya juga enjoy karena tidak dibebani target. Pergi tes serasa piknik. Sekalian tes, sekalian muter-muter kota dan wisata kuliner. Yang tes 1 orang tapi yang ngantar serombongan. Kayak ngantar yang naik haji. 😅
Saya sering lihat yang ngantar anak tes itu, selain keluarga inti juga ada nenek kakek, om tante dan keponakan-keponakan sambil gelar tikar dan rantang. Seru ya? Tentu si anak yang mau tes jadi tambah semangat.
Kalau lulus, baru mengeluarkan dana yang sesungguhnya. Uang masuk dan uang SPP.
Dan setelah mereka masuk pesantren, maka perjuangan yang sesungguhnya di mulai. Perjuangan si anak dalam menimba ilmu yang penuh suka duka dan perjuangan orang tua dengan do'a yg tak pernah putus, menahan rindu dan menyediakan dana.
Si sulung kami, survey ke 3 pesantren (1 Subang, 2 di Serpong). Semua cocok. Jadi mendaftar dan ikut tes di 3 pesantren itu. Dua lulus dan 1 gagal.
Si bujang kami, survey ke 4 pesantren (1 Bandung, 2 Sukabumi, 1 Cikampek). Cocok semua. Dan mendaftar serta tes di keempat pesantren tersebut, dan lulus semua.
Bahkan tes di dua pesantren di Sukabumi, membuat kami harus menginap di hotel 2x, karena tesnya pagi. Sedangkan jarak Karawang Sukabumi butuh waktu 4 jam perjalanan. Kalau dipaksakan berangkat dinihari tentu akan melelahkan si bujang.
Sekarang si bungsu. Dari 4 pesantren yang di survey, Sukabumi, Serang, Bandung dan Bekasi, dia cocok hanya 2 pesantren saja. 2 lagi dia tolak. Dari 2 pesantren yang ia suka, baru 1 yg sdh melakukan tes sedangkan yang 1 lagi tes di bulan Desember nanti.
Semoga ikhtiar panjang ini, diberi keberkahan oleh Allah 'Azza Wa Jalla.
Aamiin ya rabbal'alamiin.
🤲 🤲
********
Sedikit info tentang Nurul Fikri Bording School.
NFBS Serang adalah sekolah boarding NF yang pertama didirikan. Berdiri sejak 22 tahun yang lalu. Kemudian baru didirikan NFBS Lembang. Sekarang sudah berdiri selama 11 tahun. Dan yang bungsu adalah NFBS Bogor, baru berdiri 4 tahun ini.




Jadi NFBS sudah cukup lama malang melintang di dunia pendidikan Indonesia. Mereka mengusung kurikulum agama, nasional dan internasional.
Irwan Prayitno, mantan gubernur Sumbar, 3 orang anaknya lulusan NFBS Serang
Powered by Blogger.