Kisah Raja Dan Sahabatnya



Bismillah....

Akhirnya pagi ini si nak bujang berangkat juga ke Bandung. Setelah beberapa hari ini galau tingkat sedang. 😀😀
Sebenarnya dia sangat antusias untuk pergi outing dan berkuda ke Bandung. 'Ribut' ingin berangkat sudah jauh-jauh hari. Merasa tidak sabar hendak berpetualang di sana dengan teman-teman dan guru.
Tapi, belakangan ada sesuatu yg mengganjal bagi dirinya. Mulailah dia resah. Sampai tadi malam masih kesal. Ketika saya bilang,
"Coba Sayyid ikhlas. Kalau Sayyid ikhlas, insya Allah semuanya akan baik".
"Gimana bisa ikhlas Bu.... Sayyid kesal."
Owh....kasian si nak bujang di rundung kesal. Tak bisa menahan perasaannya.
Akhirnya saya bertanya, "Sayyid pernah dengar cerita tentang raja dan sahabatnya?". "Enggak", jawabnya heran. Mungkin dia berpikir, apa hubungannya antara kegalauannya dengan cerita raja dan sahabatnya.
Dan emakpun bercerita.
Ada seorang raja, memiliki seorang sahabat. Mereka sangat suka pergi berburu. Sering mereka pergi berburu ke tempat-tempat yang jauh berdua saja. Tanpa disertai pengawal raja.
Sahabat raja ini adalah seorang yang Sholih dan selalu bersyukur. Tiap mengalami sesuatu dia selalu berkata, "Alhamdulillah, ini yang terbaik".
Suatu hari mereka pergi berburu berdua. Dalam perjalanan, terjadi kecelakaan yg menyebabkan jari kelingking raja putus. Raja sangat kesal dan kesakitan. Sahabat raja berkata, "Alhamdulillah, ini yang terbaik". Dan rajapun murka. Bagaimana mungkin dia kehilangan jari kelingking tapi di sebut ini yang terbaik? Akhirnya sang sahabat pun di penjara.
Setelah di penjara, sang raja menemuinya sahabatnya. "Bagaimana perasaanmu setelah engkau aku penjara?". Sang sahabat menjawab, "Alhamdulillah, ini yg terbaik". Rajapun meninggalkannya dengan kesal. Raja tak habis pikir, masak sudah di penjara masih merasa itu yang terbaik?
Suatu hari raja ingin berburu. Karena sahabatnya dalam penjara, maka ia pergi berburu sendirian. Tanpa disadari, sang raja masuk terlalu jauh ke hutan dan tersesat. Kemudian dia ditangkap oleh sekelompok suku yang tak dikenal. Suku ini tak mengenal tuhan. Mereka memiliki kepercayaan kepada dewa-dewa. Dan sang raja akan dipersembahkan kepada dewa mereka. Raja akan dikorbankan untuk tumbal kepada dewa mereka.
Ketika raja akan dikurbankan, terlihatlah oleh mereka jari kelingking raja yang putus. Akhirnya raja tidak jadi dikurbankan karena dia dianggap tidak sempurna. Dia cacat. Dan sang raja pun dilepaskan.
Raja sangat bersyukur atas kelingkingnya yg putus itu. Kelingking putus itulah yg menyebabkannya selamat dr maut. Dan dia segera teringat ucapan sahabatnya, "Alhamdulillah, ini yg terbaik".
Dan sekembalinya ke kerajaannya, rajapun segera membebaskan sahabatnya itu. Kemudian raja bertanya, "kalau saya bersyukur dengan kelingking saya yang putus, sedangkan kamu, apa yang kamu syukuri dengan berada di dalam penjara?".
Sahabatnya menjawab, "kalau hamba tidak dalam penjara, tentu tuan akan mengajak hamba pergi berburu. Kemudian kita tertangkap bersama. Ketika tuan tidak jadi disembelih karena cacat tentu saya yang akan menggantikan tuan untuk disembelih."
Sayyid mendengarkan dengan khusyuk.
Sayapun bertanya, "Apakah raja tau kalau kelingkingnya yg putus itu akan menyelamatkannya nyawanya di kemudian hari? Apakah sahabat raja tau, kalau dia di penjara akan menyelamatkannya juga dari sembelihan? Tentu tidak. Nah, apa yang terjadi sekarang, insya Allah hikmah kebaikannya ada di kemudian hari. Mungkin sekarang kita tidak tahu karena Allah menyimpannya untuk masa depan. Jadi yang harus kita lakukan, jalani semuanya dengan ikhlas dan bersyukur karena Allah menyimpan kebaikannya di masa depan.
Sayyid pun bertanya, "cerita itu kejadian nyata, Bu?"
"Tentu," jawabku meyakinkan.
Tapi sungguh, saya tidak tahu cerita itu nyata atau tidak karena saya membaca di grup wa ketika ada yg mempostingnya, dulu. Saya bilang tentu, untuk menguatkan hatinya. Tapi nyata atau bukan, hikmahnya luar biasa. Membuat kita selalu mensyukuri apapun yang terjadi meskipun belum terlihat hikmahnya saat ini.
"Besok sebelum melangkah dari rumah, Sayyid sebutkan dalam hati, "Ya Allah, Sayyid ikhlas, Sayyid ridho dengan masalah ini, maafkan Sayyid dan bantu Sayyid. Aamiin. Bismillah". Baru berangkat".
Akhirnya....senyumnya mengembang di bibirnya. Kamipun melakukan tos dengan tangan, tanda semangat. Wajah si nak bujang kembali cerah.
Dan....di sinilah ia. Bergabung dengan teman-teman dan gurunya di depan resto Lebak Sari menunggu bus Primajasa untuk menuju Bandung. Semangat sekali.💪💪💪


Fii amanillah Sayyid....
Fii amanillah teman-teman Sayyid....
Fii amanillah guru-guru Sayyid....
Semoga di perjalanan ini kalian mendapatkan ilmu yang bermanfaat, kegembiraan yang mencerahkan jiwa, pengalaman yang menjadi bekal di kemudian hari. Aamiin....
😘😘😘😘😘

Review Film 'Duka Sedalam Cinta'



Alhamdulillah.... hari ke 3 tayang, saya dan anak-anak berkesempatan menonton sekuel film 'Ketika Mas Gagah Pergi' yaitu 'Duka Sedalam Cinta'. Moment ini cukup langka, mengingat si sulung yang bersekolah di pesantren. Seringkali timingnya tidak pas. Dan Alhamdulilah bisa nobar dengan Masaji dan Aquino Umar.

Sebenarnya saya bukan kritikus film. Tapi pengen komen aja.

Pada dasarnya film Ketika Mas Gagah Pergi, film bagus. Kisah tentang hijrahnya seorang kakak yang kemudian mendapatkan perlawanan dari adik yg disayanginya. Tapi dengan keteladanan akhlaknya mampu membawa keluarganya turut berhijrah. Sebuah cerita yang menggugah dan sanggup membuat air mata bercucuran. Alur ceritanya sederhana dan mudah dimengerti. Ditambah dengan gambar yang indah, pemain yang aktingnya lumayan especially Gita, keren banget, serta lagu dan musik yg indah sehingga mampu membawa kita hanyut dalam cerita.

Tapiii....
Jamaknya film Indonesia, selalu terasa kurang greget. Alur cerita yang sebenarnya bisa singkat padat mantap, malah dipanjang-panjangin. Konflik yg kurang tajam dan kurang diolah sehingga terasa konflik hanya pelengkap penderita atau sekedar ditemplokin dan ending yang biasa saja. 

Harusnya film Ketika Mas Gagah Pergi, bisa selesai dalam 1 film. Sehingga ceritanya bisa padat dengan alur cepat. Banyak adegan yg sebenarnya tidak perlu. Sehingga terkesan cuma untuk memperpanjang durasi cerita. Apalagi setelah mas Gagah pergi, adegan Yudi yg diangkat menjadi pimpinan perusahaan itu rasanya tidak krusial untuk ditampilkan. Juga adegan Asma Nadia di akhir cerita yg mengatakan bahwa 'dia bahagia, bahwa kerudung biru yg diberikan Nadia kepada Gita akhirnya kembali lagi ke Nadia dengan cara Allah', itu enggak banget. Nggak ada esensinya. Seakan-akan sekedar dibuat untuk memenuhi kuota waktu yg masih panjang. 

Alhasil, film duka sedalam cinta, alurnya lamban, durasi film lebih pendek, cerita lebih sedikit, dan banyak pengulangan dari film sekuel pertama 'ketika mas gagah pergi' untuk merefresh ingatan penonton. 

Alangkah elok ceritanya selesai ketika Mas Gagah meninggal, sehingga perasaan haru biru nan greget penonton bertahan sampai mereka pulang. 

Terus, konflik yg diolah benar-benar ala kadarnya. Gesekan antara anggota rumah cinta dg preman kampung sebelah tidak terasa. Penonton tidak merasakan adanya ketegangan yg membuat adrenalin naik. Tiba2 preman kampung sebelah sdh menyerang dg bom molotov. Dan di rumah sakit, salah satu mantan preman rumah cinta itu menjelaskan kenapa preman kampung sebelah menyerang mereka. Enggak banget kan kalau begini? Tipikal Indonesia banget. Semua harus dijelaskan dengan kata2. Kalau film Hollywood sana, mereka tidak menceritakan kronologis lewat mulut pemeran tp membuat kita menyimpulkan sendiri dari adegan-adegan yang berlangsung. 

Kadang saya merasa, para sutradara atau penulis naskah film Indonesia, merasa penonton Indonesia itu 'tulalit' sehingga setiap kejadian harus diceritakan secara verbal. Seperti sinetron Indonesia, yang kata hati sang tokoh sampai harus diperdengarkan. Padahal kita penonton yang cerdas lho... 

Terus kenapa tiba2 Mas Gagah kritis? Kena bom molotov? Kenapa tidak terlihat luka bakar? Kena pukul? Kenapa tidak terlihat bonyok? Hanya kepala yg diperban dan pipi baret sedikit. Dan kenapa hanya Mas Gagah saja yg terluka sedangkan yg lain sehat wal'afiat dan segar bugar? Film ini lemah banget dari sisi konflik. 

Akhirul kata kepada para sineas Indonesia, yuuk... terus berkarya. Bikin film yang lebih greget. Penonton Indonesia itu cerdas-cerdas kok.... Jadi tak perlu semua kronologis apalagi sampai kata hati dijelaskan kepada penonton.

Persaingan Sedekah



Mendengar cerita anak pesantren memang selalu mengasyikkan. Apakah itu yg menyenangkan, lucu, menyedihkan maupun mengharukan selalu memberikan warna tersendiri bagi saya (apalagi bagi yg mengalami ya?). Ceritanya kali ini tentang sedekah.
Di asramanya, jarang sekali pihak asrama menyediakan sabun cuci piring. Sehingga anak2 harus beli sendiri u/keperluan cuci piring mereka masing2. Kadang kalau sabun cuci piringnya habis, mereka minta punya teman tapi seringkali lupa minta ijin alias main pake aja. Hal ini menjadi perhatian si gadis, dan akhirnya membuat si gadis ingin bersedekah.
Dibelinya sebotol besar sabun cair merk sunlight dan diletakkan di bangsal. Qadarullah, asrama hari itu juga memberikan sabun sunlight cair besar untuk mereka. Dan bersandinglah sabunnya dengan sabun inventaris sekolah. Ternyata yg di pakai teman2 adalah sabun inventaris sekolah. Sdh 2 hari berlalu, sabunnya belum ada yg memakai.
"Muthi sedih. Rasanya pengen Muthi buang aja sabun sekolah itu, biar punya Muthi yg dipake teman2. Tapi itu g mungkin. Pokoknya sabun sunlight Muthi harus bisa bersaing secara sportif dg s*nl*ght sekolah", katanya bersemangat.
Akhirnya dia buat tulisan di sebuah kertas, dan di tempelkan di botol sabun sunlightnya. Bunyinya, "gratis. Silahkan dipakai. Dari pada make yg g berijin nanti dosa, mending pake yg ini aja. 😊 ".
2 hari kemudian, sabun cairnya sdh berkurang 1/3 bagian.
Saya tertawa mendengar ceritanya. Terutama pemilihan kata2nya , "sunlight Muthi harus bisa bersaing secara sportif dg sunlight sekolah". Penuh daya juang di sana. 💪💪
Keep spirit, Sholihah... Semoga Allah selalu menjagamu.
Mandaya, 15 Oktober 2017

INI APA VS TAU TIDAK




"Tau nggak Bu, akselerasi mobil McLaren dari 0-100 km/jam hanya butuh 3 detik, tapi mobil listrik Tesla bisa 2,5 detik. Dan yang paling cepat itu cheetah. Hanya 1 detik."
"Tau nggak Bu, sepatu Adidas terbaru yaitu Adidas Parley harganya 100 juta? Ini limited edition. Hanya diproduksi 50 buah saja di dunia. Bahannya dari jaring nelayan."
Tau nggak Bu, Fitra Eni diundang ke balap F1 di Singapore. Dikasih nonton di kelas VIP yg harga tiketnya 100 juta. Dan dia diijinkan masuk sampai ke pitstop. Di pitstop, dia bisa mendengarkan pembicaraan antara engineering dg pembalap."
"Tau nggak Bu, ternyata untuk mendesain mobil itu butuh perhitungan matematis? Semua dihitung aerodinamisnya. Termasuk lekuk-lekuknya."
Tau nggak bu,.....
Tau nggak Bu...
Tau nggak Bu...

Tetiba saya ingat tulisan 'Yoanita Astrid' yg berjudul 'Hanya Soal Waktu'. Ya...hanya soal waktu. Si mungil dulu yg selalu bertanya "ini apa Bu? Itu apa, Yah?", yang kemana saja emaknya bergerak, ia dengan sigap mengikuti. Apa saja yg ia butuhkan, harus emak yg menyediakan. Pokoknya, emak pusat gravitasinya.
Sekarang, si bujang mulai abege. Yang ketika berbicara dengannya, emak serasa berasal dr negeri antah berantah. 😀😀 
Topik yg dibahasnya sering melampaui wawasan emak. Kalau sudah begini, emak hanya ter 'ohh...ohh'. Antara mengerti dan tidak.

Perlahan tapi pasti, ketergantungannya kepada emak jauh berkurang. Kemandiriannya di satu sisi, membahagiakan. Di sisi lain, membuat emak rindu dengan rengekannya, rindu pertanyaan polosnya karena pertanyaan-pertanyaannya membuat emak merasa paling tahu, paling pintar. Pokoknya yang terhebat di dunia.
Dulu, emak bisa tidur siang 1 jam, adalah kemewahan. Sekarang bisa tidur siang 2-3 jam terasa biasa saja... Dulu, bisa melihat rumah rapi 1 jam, terasa luar biasa. Sekarang rumah rapi bisa bertahan berhari-hari karena ia sibuk dengan kegiatan sekolah, ekstra kurikuler, kemping dan lainnya. Dulu emak selalu mencuri-curi waktu untuk 'me time'. Sekarang selalu mencari kegiatan yang bisa dilakukan bersama.
Waktu memang cepat berlalu. Betapa ruginya waktu yang sebentar itu kalau tak dimanfaatkan sebaik-baiknya bersama buah hati. Alangkah menyesal kalau waktu yang sebentar itu hanya diisi dengan kemarahan-kemarahan karena kerewelannya dan karena keegoisan kita.
Ahh....semoga waktuku yang tersisa tak banyak lagi menjelang ia terbang menggapai mimpinya, menjelang ia membangun 'sarangnya' bersama belahan jiwanya, dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mempererat ikatan kasih sayang, menuntunnya menuju jalan yang Allah ridhoi, mempersiapkannya agar menjadi insan yg mandiri, cerdas, kuat, sabar dan Sholih.
Bantu hamba ya Allah.....
Karawang, 2 November 2017

*******
Tulisan ini saya share di Facebook. Alhamdulillah banyak teman-teman yang mengapresiasi dan komen. beberapa komen temanku adalah:

Noey Joega bu Akhmaneli Irvan...kalo sudah menulis bikin hati nyes... lalu mataku mulai meleleh... 😭🤗

Umi Salghaisya Pokonya sbg emak2 apalg udah kesekian kalinya ikut parenting lebih legowo lebih siap m'jd emak yg sesungguhnya walau mungkin terlambat jd emak yg baik krn ketdk tauan kita , tp bismillah kedpn dgn segenap jiwa berusaha agar anak g kecewa punya emak model kita
Keren tulisannya bu Akhmaneli Irvan, perasaanmu mewakili emak2 seantero negeri 
😎😎

Dyah Ema Susanti Top banget, selalu ada sesuatu setiap baca tulisan bu akhma...

Fenti Listiawati Ibu sayyid Akhmaneli Irvan mmg jagonya kl sdh nulis ... sll berhasil membuat sy mengingat masa2 emas bersama anak2 dan memikirkan masa depan bersama mrk ... barokallah





E-toll mempermudah?


Kemarin, ketika hendak balik ke Karawang dari Cikampek, saya baru sadar saldo e-toll saya tinggal 3500. Dengan terpaksa sayapun harus berhenti di minimarket I untuk isi ulang. Padahal saya harus buru2 pulang krn si kecil sebentar lagi pulang eksklul renang.
Ternyata di minimarket I ada gangguan sinyal, shg e-toll tdk bisa diisi ulang. Kemudian saya jalan lagi. Ketika ketemu minimarket A, saya berhenti dan masuk. Ternyata e-toll sy Mandiri, tidak bisa diisi di sini. Saya mulai geram. Akhirnya jalan lagi. Ketemu lagi dg minimarket A. Alhamdulillah di sini bisa diisi.
Biasanya, untuk kembali ke Karawang dari Cikampek via tol, saya hanya perlu mengeluarkan uang Rp 6.500,-. Nah, untuk mengisi e-toll ini saya harus merogoh kocek 50ribu + 1000 untuk biaya charge. Dan stlh bayar tol, tersisa saldo 47ribu.
Pengisiannya saja sudah repot dan makan waktu. Sekarang, untuk membayar yang 6.500 saya harus mengeluarkan dana 50 ribu lebih. Dan ada 47 ribu rupiah dana saya yang tertahan di kartu e-toll. Itu baru dari saya saja. Bayangkan dari 1 juta menggunakan e-toll, dg minimal saldo yg tersimpan 40ribu. Ada berapa dana yg terhimpun oleh pemerintah tanpa susah payah? 40 milyar!! Itu kalau minimum 40 ribu lho...
Mantap benar kan? Tidak perlu mengeluarkan surat berharga, surat utang, pemerintah dg gampangnya bisa meraup uang rakyat sebanyak itu! Sementara kita, dg uang segitu mungkin banyak keperluan yang bisa di beli tapi tidak jadi terbeli. Angka 40 milyar itu bisa digunakan rakyat menggerakkan sektor ekonomi.
Terus, di Karawang sebelum e-toll diberlakukan, tidak ada antrian panjang untuk masuk tol. Kalau keluar mah...sering.

Biasanya, pengemudi hanya perlu nginjak rem sekitar 2 detik. Injak rem, ambil kartu, palang terbuka dan jalan. Sekarang, injak rem, tap kartu, tunggu konek, palang terbuka, dan jalan. Butuh waktu minimal 6 detik. Kalau proses pembacaan kartu agak lama, bisa 10 detik tertahan di pintu masuk tol. Dan akibatnya sekarang antrian masuk tol di pintu tol Karawang barat, puanjaaaang. Bikin kesal.
Sejatinya, setiap perubahan yang ditetapkan oleh pemerintah ke warganya, harus lebih memudahkan warganya. Tapi pelaksanaan e-toll ini, menyusahkan bagi saya.
Minimal 3 kesusahan yang saya rasakan.
1. Pengisian bikin susah, dan makan waktu serta tenaga.
2. Harus menyimpan dana yg seharusnya bisa kita pakai untuk yang lain.
3. Bikin macet kalau mau masuk tol.
Di negara lain, termasuk Amerika, tidak ada kewajiban e-toll. Semua terpulang kepada pribadi masing-masing.
Bagi saya pemaksaan pemakaian e-toll itu suatu bentuk pendzaliman. Jadi permintaan saya kepada pemerintah, kembalikan kebijakan seperti semula. Tidak perlu diwajibkan. Saya lebih nyaman dg uang tunai. Tidak bikin repot. Kalau pemerintah memerlukan dana dari rakyat, cari dengan cara yg lain dan tolong permudah rakyat dalam beraktivitas.

Belajar Tahsin = Belajar Nyetir Mobil ?




Siapapun tahu belajar tahsin pasti berbeda dengan belajar nyetir. Yang satu belajar membaca Al Qur’an dengan benar sebagaimana bacaan Rasulullah SAW dan para sahabatnya RA dengan cara mempelajari:

1. Mengeluarkan huruf dari makhrajnya (tempat keluarnya) = makhorijul huruf.
2. Memenuhi sifatnya (sifatul huruf).
3. Memperhatikan hukum bacaan

Sedangkan belajar nyetir adalah belajar cara mengendarai mobil. Sebuah moda transportasi  yang jaman sekarang bukan lagi barang mewah. Tapi sudah kebutuhan terutama bagi yang mobilitasnya tinggi.

Entah kenapa, bagiku terasa sama.

Sebenarnya saya bukannya tidak bisa mengaji. Saya cukup lancar dan fasih membaca Al Qur’an. Tapi makhrojul huruf dengan tajwid-tajwidnya juga tanda baca Al qur’an, saya tidak sempurna mengetahuinya. Sehingga diumur yang sudah 45 tahun ini saya tergerak untuk lebih mendalaminya. Maka sayapun ikut kelas tahsin dengan ummu Alma.

Ternyata memang, banyak yang harus saya perbaiki dari pengucapan huruf-hurufnya. Belum lagi tajwid. Ternyata yang saya pelajari ketika TPA dulu masih kurang. Yaa…mungkin yang saya pelajari memang sesuai dengan tingkatan TPA. Harusnya saya melanjutkannya ke DTA. Tapi itu  dulu tak saya lakukan.

Dan sekarang semua dimulai dari awal. Sebenarnya saya excited. Ummu Alma juga mengajarkan dengan sabar dan menyenangkan. Tapi entah kenapa, setiap pergi tahsin, sebagian hati rasanya malas untuk bergerak. Sebagian hati sangat ingin berangkat. Dan yang lebih berat, setiap pelajaran tahsin dimulai, kantuk dengan segera menyerang. Tidak hanya menguap berkali-kali, seringkali saya tertidur. Benar-benar tertidur. Tapi tak lama. Mungkin hanya semenit atau dua menit. Saya tidak tahu, apakah Ummi Alma dan teman-teman lain mengetahuinya tapi diam saja atau benar-benar tidak tahu. Selama proses belajar itu, saya bisa tertidur 2 sampai 3 kali. Saya sungguh kesal kepada diri ini. Padahal kalau di rumah atau sedang melaksanakan kegiatan lainnya, jam-jam segini saya tidak mengantuk. Lagi segar-segarnya malah. Tapi kenapa setiap tahsin selalu mengantuk?

Saya tinjau diri ini, apakah kekurangan motivasi? Rasanya tidak. Saya ingin menamatkan pelajaran tahsin ini sampai tuntas. Sampai syahadah. Sebenarnya saya sudah mulai belajar tahsin dari anakku yang tertua, Muthi, kelas 1 SD. Gurunya berganti-ganti. Ada yang pindah, ada yang dapat beasiswa ke Turki dan lain-lain. Jadi selalu putus di tengah jalan. Dengan guru yang sekarang, saya sangat sreg. Dan ingin sekali menyelesaikannya.

Kadang rasanya ingin merugyah diri ini. Jangan-jangan ada jin di dalamnya yang tidak rela saya memperdalam Al qur’an. Hehee…

Kemudian saya teringat tahun 2006 ketika saya menekadkan diri untuk belajar menyetir mobil. Ketika itu kami tinggal di Bogor sedangkan suami bekerja di Jakarta. Sebelum subuh dia sudah berangkat. Dan kembali ke rumah sekitar jam 10 malam. Dan di jam-jam dia bekerja, benar- benar semua urusan saya yang menangani. Seperti misalnya, ketika anak sakit dan perlu ke dokter dengan segera, saya tidak bisa meminta bantuannya. Saat ini saya telpon memintanya pulang, maka empat jam kemudian dia baru sampai di Bogor. Karena jarak yang jauh, harus menunggu bis, bis ngetem dulu, nunggu angkot, angkot ngetem dulu, belum ditambah macet. Ampuunn….saya sampai kering menunggunya.

Apalagi ketika saya mau melahirkan anak ke 4. Jam 11 siang tanda melahirkan sudah ada. Flek sudah keluar. Kontraksi sudah mulai terasa. Saya segera menelpon suami untuk memintanya  pulang. Karena tidak mungkin menunggu, maka sayapun ke rumah sakit diantar oleh tetangga. Dan taraaa… si Ayahpun sampai di rumah sakit jam 5 sore! Enam jam dari telepon saya kepadanya.

Belajar dari itu, saya bertekad belajar menyetir supaya saya tidak selalu merepotkan tetangga kalau ada kejadian darurat seperti anak sakit atau lainnya.

Belajar menyetir sih…gampang. Seminggu saya sudah lancar. Tapi begitu masa belajar selesai dan saya harus membawa mobil tanpa didampingi coach, di situlah saya selalu keringat dingin ketika akan membawa mobil. Apalagi kalau yang harus saya lewati adalah daerah macet atau rel perlintasan kereta api. Wuidiih…perut langsung melilit. Kalau sudah begitu badan langsung terasa lemas. Rasanya ingin segera meletakkan kunci mobil dan goleran di kasur. Tapi itu tidak saya lakukan. Saya selalu memotivasi diri. ‘Saya harus bisa untuk anak’.

Selama proses melancarkan ini, saya setiap hari menyetir ke jalan raya. Meskipun kadang perut melilit akibat stres tinggi itu, membuat saya benar-benar ke belakang. Yang sekeluarnya dari toilet badan benar-benar lemas dan keringat dingin mengucur deras, sehingga desakan dari dalam diri untuk libur menyetir hari itu semakin kuat. Tapi saya malah semakin bertekad bahwa saya tidak boleh libur. Saya harus bisa untuk anak. Kalau hari ini saya kalah oleh mules dan keringat dingin ini, maka besok-besok saya akan kalah terus. Begitu saya menyemangati diri.

Setelah tepat 2 bulan, saya merasa lelah juga. Dan malamnya saya mengeluh kepada suami, “kenapa ya, mules dan keringat dingin ketika akan bawa mobil itu nggak pernah hilang?”.

Ternyata jawaban suami simpel saja, bahwa itu semua tergantung saya, kapan saya merasa siap untuk membawa mobil itu. Jadi bukan adanya paksaan. Saya termenung. Apa saya selama ini merasa terpaksa? Apa saya memang belum siap membawa mobil?

Keesokan harinya, ketika saya akan membawa mobil kembali, saya tidak lagi memikirkan saya harus bisa untuk anak. Saya ingatkan diri saya bahwa saya membawa mobil ini karena saya ingin dan saya suka. Dan semoga ini menjadi amal bagi saya. Ajaib…. Tiba-tiba perasaan saya menjadi rileks. Dan untuk pertama kalinya si mulas dan si keringat dingin tak menghampiriku. Alhamdulillah... Hari itu saya menikmati membawa mobil keliling kota Bogor dengan hati riang dan perasaan yang santai. Juga hari-hari selanjutnya.

Kembali ke belajar tahsin.

Saya telisik lagi hati saya. Apakah motivasi saya? Dan apa yang membuat saya agak malas belajar tahsin?

Kalau motivasi, rasanya sudah cukup kuat. Saya sangat ingin menamatkan belajar Al Qur’an. Saya ingin bisa. Al Qur’an sesuatu yang indah. Kemudian halangannya saya list. Di antaranya : Saya masuk belakangan, yang lain sudah lebih lama dari saya, saya sepertinya yang tertua di kelas ini bahkan lebih tua dari sang guru, saya sebelumnya tidak kenal atau ada yang kenal tapi tak akrab, dengan anggota kelas tahsin, sehingga kurang nyaman. Hhmmm…apalagi ya? Mungkin saya merasa kehilangan waktu pagi saya yang cerah yang biasanya saya isi dengan kegiatan-kegiatan yang saya sukai.

Ternyata semua halangannya adalah hal-hal yang remeh temeh. Masak hal-hal remeh ini akan menghalangi saya dari syurga? Menghalangi saya dari syafaat Al Qur’an di mana ketika di akhirat nanti saya sangat butuh? Menghalangi saya dari ridho Allah? Di saat nikmat Allah sudah banyak diberikan kepada saya dan saya lebih memperdulikan yang remeh temeh ini dari pada mempelajari kalamNya? Sungguh terlalu….

Berangkat dari kesadaran ini, bahwa selama ini saya berangkat dengan adanya paksaan untuk ‘belajar supaya bisa’, tapi halangannya saya biarkan bercokol di hati dan menimbulkan rasa ogah-ogahan, maka hari ini saya berangkat dengan semangat baru. Saya ingin mencari ridho Allah. Saya ingin mendapatkan syafaat kelak. Dan ajaib…ternyata selama belajar hari ini saya tidak mengantuk. Tidak ada tertidur sama sekali. Saya bersemangat. Allahu Akbar. Luar biasa!

Ternyata, bagi saya, belajar tahsin dan belajar menyetir  memiliki kesamaan. Meskipun motivasi kuat tapi dalam diri ada rasa terpaksa atau halangan yang dibiarkan mempengaruhi perasaan, maka proses belajar menjadi tersendat. Hilangkan halangan itu. Salah satunya mungkin dengan ikhlas menjalani proses belajar dan niatkan semata mencari mencari ridho Allah. Insya Allah….semua menjadi lebih mudah.

Karawang, 9 Oktober 2017

Pengenalan bakat sedari dini, perlukah?


“Waah….Sayyid otak kanan banget”, kata Bu Hasri dan Pak Aziz ketika konsultasi pembacaan hasil ST (Strength Typologi) 30 Sayyid. Seharusnya konsultasi hasil ST-30 ini dengan kepsek SM Pak Sanjaya Koembara. Tapi berhubung beliau lagi honeymoon, baru saja menikah, (barakallahu...pak ) maka konsultasinya digantikan oleh guru senior, Bu Hasri Ainun dan Pak Abdul Aziz Jaelani.
Terlihat dari hasil ST-30 Sayyid, 4 dari 6 item di bagian Generating Idea – Otak Kanan, berwana merah (menandakan potensi kekuatan dominan). Sayyid kuat di bidang Creator, Designer, Marketer dan Visionary. Bagian otak kiri berwarna warna abu-abu (menandakan kelemahan sedang). Kemampuan di bidang E (Elementary) bagian administrasi, semuanya hitam (potensi sangat lemah). Sedangkan kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, berwarna kuning dan putih (menandakan potensi kekuatan sedang). Dan kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain, warna abu-abu dan putih (potensi kelemahan sedang).
Dari hasil ST-30 ini kelihatan potensi Sayyid ada dimana serta apa kekurangannya. Sehingga orang tua dan guru bisa bersama-sama membantu memperkuat apa yang menjadi kekuatannya dan mengatasi atau mensiasati apa yang menjadi kekurangannya.
Kenapa pengenalan bakat ini merupakan sesuatu hal yang penting?
Tahukah kita bahwa 87% mahasiswa Indonesia salah jurusan? Sehingga mereka pun kelak bekerja di bidang yang sebenarnya bukan potensi dirinya yang sesungguhnya. Kebanyakan dari kita memilih jurusan berdasarkan nilai tertinggi. Kalau nilai tertinggi biologi maka cenderung memilih jurusan yang berhubungan dengan biologi. Padahal nilai tinggi kadang bisa disebabkan oleh kecocokan cara gurunya mengajar sehingga mudah dipahami. Maka tak heran kalau bekerja kelak, kita hanya menjadi pribadi yang biasa-biasa saja. Atau malah bekerja di bidang yang bukan disiplin ilmunya.
Manusia diciptakan Allah sangat unik. Masing-masing dari kita membawa bakat dan kemampuan yang telah ditentukan Allah. Tidak pernah sama meskipunpun sudah milyaran manusia diciptakan Allah. Bahkan walau mereka kembar sekalipun. Begitu uniknya sehingga bisa dikatakan bahwa kita adalah Limited Edition.
Tapi tak gampang bagi kita mengetahui bakat dan kemampuan kita yang sesungguhnya. Padahal mengenali potensi diri sedari ini sangat penting.
Mungkin kita sering mendengar ayat ini:
اِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِاَنْفُسِهِمْ (سورة الرعد : الاية 11)
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d, Ayat 11).
Dalam ayat tersebut sangat jelas diterangkan bahwa Allah SWT, tidak akan merubah kehidupan sebuah kaum sehingga mereka mau merubah diri sendiri. Hal ini sangat erat kaitannya dengan menggali potensi diri jika ingin berubah.
Dan saat ini ada beberapa metoda yang cukup gampang dan sangat membantu kita dalam mengenali bakat kita masing-masing. Salah satunya adalah ST-30 dan TM-114. ST-30 (Strength Typologi) adalah metoda yang sederhana dan paling cepat untuk menemukan bakat. Dan metoda yang paling lengkap adalah TM-114 (Talents Maping 114).
Siapakah penemu metoda ST-30 dan TM-114 ? Beliau adalah Rama Royani atau yang lebih dikenal dengan nama abah Rama. Seorang lulusan ITB yang mantan direktur utama dari 5 perusahaan dan sekarang menjadi dosen.
Awalnya Talents Maping (TM) temuan Abah Rama dimasukkan ke dalam program kerja sama pengembangan SDM-BPPT. Seluruh karyawan BPPT mendapatkan tes TM. Selanjutnya TM pun dipakai oleh BUMN-BUMN lain seperti BNI dan banyak perusahaan lain dalam proses rekruitmen karyawan, counseling, penempatan jabatan atau promosi, pembentukan kelompok kerja (team building), pengembangan (development), pelatihan (training), career planning, dan performance management.
Tahun 2007 saat melakukan tes TM di ITB, Abah Rama menemukan hasil TM yang membingungkan. Hampir semuanya merah, kiri kanan, luar dalam.
“Gila”, kata Abah.
Yang dites tak kalah jawab,
“Iya saya memang gila, Pak. Empat orang psikolog melakukan tes ke saya dan semua bilang saya gila”. 
Siapakah si cerdas yang otak kanan dan otak kiri sama optimumnya serta kemampuan lain juga optimum? Dialah LENDO NOVO pendiri Sekolah Alam di Indonesia. Dari hasil tes TM, Abah memberikan saran bidang kerjanya yang optimal ada di Sosiopreneur. Lendo membenarkan dan merasa puas dengan hasil tes TM. Ini pula yang mengawali sejarah TM dipakai di Sekolah Alam, tempat Lendo Novo berkiprah. Dan TMpun masuk ke dunia sosial pendidikan.
Dan kata Abah Rama, “Saya bermimpi, di Indonesia, semua anak lulusan SMP, sudah mengenal dirinya”.
And…here we are.
Untuk mendukung pengembangan minat dan bakat anak di sekolah alam Karawang, maka tes ST-30 di lakukan kepada siswa kelas 8. Sedangkan TM-114 dilakukan kepada siswa kelas 9. Sehingga mereka benar-benar digali kemampuan dan bakatnya secara personal untuk kemudian dikuatkan. Insya Allah, kelak mereka tidak akan tersesat memilih SMA atau jurusan ketika kuliah.
Dan akhirnya saya tahu, kenapa Sayyid selama ini agak susah disuruh melakukan pekerjaan bersih-bersih secara rutin dan memuaskan. Karena ia bukan tipe pekerja. Ia adalah tipe pemikir.
Dan kita sebagai orang tua tak perlu membandingkan anak dengan teman-temannya yang menurut kita hebat di suatu bidang. Karena Allah menganugrahkan setiap anak dengan bakat dan kemampuan yang berbeda. Dan kelak mereka akan saling melengkapi. Apa jadinya dunia ini kalau semua orang menjadi pengusaha dan tak ada yang menjadi petani, dokter, guru dan lainnya?
Kadang kala kita ‘gemes’ melihat anak kita yang selalu mengalah kepada temannya. Punya sepeda, temannya yang memakai. Dan selalu mendahulukan kepentingan temannya dari pada dirinya. Tapi tahukah kita bahwa sebenarnya ia memiliki bakat di bidang server (melayani). Sehingga kelak kalau ia berprofesi sebagai dokter atau guru, maka ia akan menjadi dokter atau guru yang hebat.
Kita hanya perlu menemukan dan mengoptimalkan bakat dan kemampuan yang sudah diberikan Allah kepadanya. Karena mereka memiliki fungsi dan tujuan tertentu di masa depan kelak. Allahlah grand designernya. Maha Benar Allah.

Karawang, 25 September 2017
Powered by Blogger.