obat galau


TERNYATA…

Ketika galau, amarah membara, kesedihan meraja, kadang obat mujarab bagiku adalah:
1.    
      Menulis.
      meskipun jari menekan keyboard dengan kekuatan yang bisa membuat huruf-hurufnya lepas, tapi segala kesal, segala amarah, segala kata-kata yang tak mungkin kuucapkan secara lisan  bisa kutumpahkan tanpa rasa malu yang kemudian bisa disesali.
     Setelah rasa ‘nyesek’ lepas, tulisan yang ditulis tadi segera bisa direvisi dengan bahasa yang lebih halus. Bahkan dalam perjalanan bisa direnungi kembali apa yang salah dan apa solusinya.
2.       
     Bersih-bersih
Bisa dengan menata ulang posisi kamar tidur, ruang keluarga atau sekedar bersih-bersih dapur. Meskipun tenaga yang dikeluarkan ketika memindahkan barang atau mengelap bisa membuat cicak, kecoa dan tikus lari terbirit-birit karena jantungan. Untung barang nggak ada yang pecah ketika dipindahkan atau penyok ketika di lap. Kalaupun ada yang pecah atau penyok, masih mending daripada nyekek orang…hihiii…
Setelah setengah jalan, melihat ruangan mulai rapi dengan suasana baru, hatipun mulai adem. Setelah rapi semua, hati sudah tenang. Dan bisa mereview kejadiannya. Biasanya sih….saya yang sering salah. Hehee…


Alhamdulillah…pemakaian kasur dan bantal yang bikin tambah baper dan tambah galau, bisa dikurangi.

Mengapa siswa SMP Sekolah Alam Harus magang?




Sekolah Alam memang menawarkan suatu program pembelajaran yang berbeda dari sekolah pada umumnya. Di saat sekolah umum belajar di kelas dengan duduk rapi dan manis, berpakaian bersih, halaman sekolah bersih karena di beton, anak-anak Sekolah Alam malah bebas berada di luar kelas, kadang berkotor-kotor dan halaman sekolah yang sebagian tertutup rumput dan sebagian besar tanah biasa yang akan becek ketika hujan tiba.

Bagi yang tidak mengenal Sekolah Alam tentu akan heran dengan gaya Sekolah Alam ini. Mereka tidak mengenal gedung masif, yang bertembok rapat dan ber AC, tidak mengenal meja kursi khas anak sekolahan, tidak berseragam merah putih atau biru putih, tidak bersepatu pantofel atau olah raga setiap hari ke sekolah, tidak mengenal PR yang seabrek dan lain-lain.

Kalau dilihat secara sepintas, ini sekolah atau bukan sih? Ada pelajaran gardening dan outbond yang membuat mereka kotor. Mereka belajar di kelas yang berupa ruang terbuka dengan duduk lesehan dan meja kecil atau bahkan menggelosor di lantai. Dan tak jarang mereka belajar di halaman sekolah, di kebon orang, menjelajahi sungai kecil untuk mengeksplor biota di sekelilingnya atau ke pasar dan lain-lain.  Mereka tidak terkungkung oleh aturan ‘mendengar dan mengerjakan tugas’. Lahan pembelajaran mereka luas, seluas alam semesta raya. Mereka belajar lebih banyak dengan metoda ‘melakukan’ dari pada melihat atau mendengar saja. Mereka berpakaian bebas tapi Islami. Warna warni baju mereka setiap hari. Pakaian seragam yang mereka miliki hanya seragam sekolah batik hijau (untuk Sekolah Alam Karawang) dan baju outbond. Sepatu mereka sehari-hari adalah sandal gunung.

Bebas? Iya! Tapi tentu dalam koridor pembelajaran yang sudah menjadi core value sekolah Alam. Alhamdulillah...mereka tumbuh ceria, berani dan kreatif dengan pemikiran-pemikiran yang kadang out of the box dibandingkan dengan anak-anak seusianya.

Kurikulum Sekolah Alam ini, banyak yang ‘nyeleneh’, yang sering sekali tidak dimiliki oleh sekolah manapun di Indonesia. Salah satunya adalah program magang dalam rangka ‘Learn to Maestro’ untuk siswa SMP. Yaa…Belajar tidak selalu harus duduk manis di kelas dan mendengarkan guru serta latihan soal. Ada banyak cara mendapatkan ilmu Allah yg sangat banyak bertebaran di muka bumi ini. Salah satunya adalah belajar kepada ahlinya (learn to maestro) melalui magang ini

Setiap tingkatan memiliki program magang yang berbeda. Untuk kelas 7 mereka akan magang Bio Eco Tech di suatu pertanian terpadu. Di kelas 8 semester 1 ada magang retail di beberapa supermarket. Dan di semester 2 ada magang minat dan bakat yaitu magang di tempat yang sesuai dengan minat dan bakat mereka serta membuat proyek yang sesuai dengan bakat dan minat mereka tersebut.
Kenapa sih, siswa SMP Sekolah Alam harus magang?
Konsep dasarnya adalah meneladani Rasulullah yang telah magang berdagang dengan ahlinya (pamannya) ke negeri Syam (Suriah) ketika berumur 12 tahun. Beliau sudah melakukan setidaknya 80 ekspedisi dagang ke luar negeri dan memiliki Business sendiri sejak usia 15-16 tahun.
Menurut Harry Santosa (praktisi pendidikan, mendidik sesuai fitrah), pemagangan bersama maestro atau ahli adalah model pendidikan terbaik untuk anak anak menjelang AqilBaligh antara usia 10-14 tahun, agar mereka ditempa kemandirian dan kemampuan mengemban kehidupan ketika berusia AqilBaligh yaitu pada usia 15 tahun.
Dalam pemagangan bukan hanya sekedar mendapatkan Skill & Knowledge atau Ilmu semata tetapi juga pendampingan spiritual dan pemberian hikmah serta Adab secara langsung dari para Maestro. Para Maestro ini menjadi Mentor Kehidupan yang memberi banyak hikmah sekaligus menjadi sosok Orangtua yang menyayangi. Inilah yang disebut mendapatkan adab para ulama sebelum ilmunya.
Pemagangan (Apprentice) inilah yang ditradisikan oleh Peradaban Islam selama ratusan tahun. Anak yang berminat atau berbakat pada bidang tertentu langsung Magang kepada Ahlinya. Maka tidak aneh jika peradaban Islam sampai abad ke 19 ditaburi para pemuda yang sudah punya peran peradaban ketika masih berusia belasan tahun.
Misalnya jika berbakat pada Ilmu Tafsir, langsung Magang dengan Ahli Tafsir. Jika berbakat pada Kedokteran atau Sains langsung Magang kepada Pakarnya. Begitu pula bidang perdagangan, bidang Arsitektur dan Teknik dan bidang-bidang lainnya.
Para Ulama Minangkabau ternyata juga mentradisikan Model Pemagangan ini dengan model Merantau. Anak-anak menjelang AqilBaligh, usia 11-15 tahun sudah keluar kampungnya untuk merantau setelah ditempa ilmu dasar agama, silat dan berkebun atau berdagang di Surau sejak usia 7 tahun.
Sisa-sisa tradisi Merantau masih terlihat hari ini dari banyaknya Restoran Padang hampir di seluruh penjuru Nusantara. Lihatlah, tidak pernah ada Sekolah Tinggi Restoran Padang, namun hampir setiap pekan barangkali lahir restoran Padang baru di setiap tempat.
Jarang yang tahu bahwa ada jenjang jenjang Pemagangan di Restoran Padang, sejak jenjang yang terendah yaitu mencuci gelas dan piring, lalu menyajikan minum dan kobokan, menata makanan di etalase, menyajikan makanan dengan piring bertumpuk indah di tangan sampai lengan dan bahu, sampai kepada jenjang Ahli Memasak dan Belanja atau mengatur keuangan.
Model Pemagangan di dunia modern hari ini dianggap sebagai model terbaik yang dijalankan banyak perusahaan perusahaan Konsultan besar seperti McKinsey, AT Kearney dsbnya, termasuk perusahaan IT raksasa seperti Apple, Google, Microsoft dstnya. Kehebatan tidak bisa diajarkan saja tetapi ditularkan.
Bayangkanlah, jika model pemagangan seperti ini dijalankan dengan manajemen yang rapih, melibatkan seluruh pakar di dunia, maka anak anak Muslim usia pre AqilBaligh 10-14 tahun, akan mendapatkan mentor kehidupan terbaik yang mumpuni. Mereka akan mandiri, beradab dan bersinar dengan karya-karyanya menebar rahmat dan manfaat ketika mereka berusia 15-16 tahun.
Luar biasa bukan, manfaat dari magang?
Description: https://www.facebook.com/images/emoji.php/v5/f4c/1/16/1f642.pngDi Sekolah Alam, menurut Pak Gigih Supriyantoro (direktur Sekolah Alam) magang ini juga bertujuan untuk membuka wawasan anak akan dunia profesi, sekaligus untuk menemukan serta memfasilitasi minat dan bakat mereka. Sehingga di tahap selanjutnya mereka akan menapaki minat dan bakatnya dengan belajar bersama maestro dan menjadi ahli di bidangnya.
Berikut ini adalah contoh kegiatan magang anak saya, Sayyid Al Hakim kelas 7 Sekolah Alam Karawang tentang Bio Eco Tech di pertanian Terpadu Wiratani, di Desa Tegal Sawah, Karawang.

Pertanian Terpadu Wiratani didirikan oleh seorang lulusan SD yang bernama Pak Haji Osim, putra asli Karawang. Walaupun hanya lulusan SD tapi ia mampu membangun sebuah pertanian terpadu dg luas hampir 11 hektar yg menjadi rujukan dan pelatihan tentang agrobisnis dan agroeduwisata di Jawa Barat serta mempekerjakan para sarjana. Seorang lulusan SD yg rendah hati, humoris, berwawasan luas dan rajin mengadakan studi banding dalam rangka menambah ilmu.
Di Pertanian terpadu Wiratani ini, selama 2 minggu mereka belajar tentang:
- pertanian organik
- manajemen peternakan umum
- budidaya padi
- budidaya tanaman sayur
- budidaya sapi
- budidaya domba
- budidaya kelinci
- budidaya ayam dan itik
- budidaya ikan
- kesehatan ternak
- pembuatan pupuk organik cair & padat


Juga mendapat ketrampilan:
- membuat pupuk organik padat dan cair
- menanam sayur dan buah
- menyiram sayuran
- menanam padi
- memelihara ternak sapi
- memelihara ternak domba
- memelihara ternak kelinci
- memelihara ternak ayam dan itik
- merangkai mimpi

Serta mendapatkan materi sikap kehidupan yg akan diberikan sekaligus praktek di lapangan berupa leadership, kedisiplinan, kerja sama, dan saling menghargai.
Dan selama dua minggu digojlok di sini, mereka total jadi petani. Mulai dari membersihkan kotoran ternak, memberi makan ternak, membuat pupuk, membuat biogas, menanam bibit, memelihara tanaman, panen, membuat susu kental manis, membuat permen susu dan lain-lain serta ilmu bisnis pertanian dan ternak (sesuai level SMP) sampai materi merajut mimpi masa depan, mereka dapatkan di sini.
Capek tapi makannya pada banyak lho.... Di hari ke 11 ketika dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh dokter, ada yg gembira dan ada yg shock karena berat badannya nambah semua. Hehee... Kalau yg lain nambah berat badan antara 2-8 kg, Sayyid hanya 0.5 kg saja. Alhamdulillaah....itu saja sudah luar biasa untuk si bujangku yang punya kebocoran di jantungnya ini 
Apalagi penanaman pemahaman kepada anak-anak tentang pentingnya pertanian dan makin susutnya lahan pertanian serta betapa susahnya untuk menghadirkan sepiring nasi dan sayur yang terhidang di meja makan, benar-benar membawa perubahan kepada anak-anak. Tiap kali makan, tidak ada nasi atau lauk pauk dan sayuran yg bersisa di piring anak-anak! Dan ini terbawa sampai ke rumah. Padahal dulu kalau di rumah, saya harus mengomel dulu supaya piring makan si nak bujang tandas tak bersisa sebutir nasipun.
Meskipun tak mudah, ada konflik antar teman, capek, rindu orang tua, snack yang sering kurang sehingga perlu supply dari rumah dan lain-lain, tetap, magang memberikan ilmu dan pengalaman yang tidak akan mereka dapatkan kalau hanya membaca buku dan mendengarkan guru di kelas.
Dengan magang, di samping mendapatkan ilmu dan pengalaman, mereka juga mendapatkan motivasi dan teladan dari seorang Haji Osim yang meskipun hanya lulusan SD tapi dengan kerja keras ia berhasil mengembangkan bakat dan minatnya di bidang pertanian hingga sukses, dan bahkan mampu memperkerjakan para sarjana.
Apakah pembelajaran magang selesai ketika mereka pulang ke rumah? Tidak. Setelah magang selesai, mereka harus membuat laporan magang, membuat file presentasi dengan power point dan mempresentasikannya di hadapan orang tua dan guru di suatu hari khusus dengan mengundang semua orang tua siswa.
Presentasi ini untuk melihat, sejauh mana serapan dan penguasaan ilmu yg mereka peroleh selama magang. Sekaligus mereka belajar berani tampil dan berbicara di depan umum. Masya Allah, banyak hal yg mereka pelajari dalam satu pembelajaran.
Lain halnya dengan siswa kelas 9. Setelah melalui beberapa kali magang di tempat yang berbeda dengan ilmu yang berbeda pula, biasanya mereka sudah mengetahui kemana minat dan bakat mereka. Dan di kelas 9 ini mereka dipersilahkan memilih sendiri tempat magang yang sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Dan setelah pulang dari magang, mereka diharuskan membuat sebuah karya sebagai pencapaian dari magang yang mereka lakukan.
Sebagai contoh adalah magang anakku yang tertua, Annisa Muthia. Dia menyukai dunia buku dan tulis menulis. Sehingga dengan mantap dia memilih magang di penerbit Mizan Bandung. Alhamdulillah mereka menerimanya dengan senang hati. Ini adalah pertama kalinya ada anak SMP yang magang di perusahaan mereka. Programpun mereka susun sehingga Muthi mendapatkan ilmu tentang seluk beluk penerbitan, mulai dari penerimaan naskah, seleksi naskah, editing, membuat lay out buku, ilustrasi buku, percetakan, promosi sampai pemasaran. Dan sepulang dari magang, Muthi diharuskan membuat karya. Dan lahirlah 4 cerpen, yang Alhamdulillah, ketika dikirimkan ke Penerbit Mizan Bandung, keempat-empatnya lolos seleksi dan akan diterbitkan Mizan, dalam 4 buah buku komik fantasteen. Dan yang pertama terbit adalah di bulan November ini yang berjudul ‘Horror Writer. Insya Allah
Alhamdulillaah….atas segala pencapaian ini.
Kalau ingat dulu, bagaimana Sekolah Alam Karawang pertama kali merilis program magang ini di Karawang, wuiihh….jangankan perusahaan-perusahaan di Karawang, orang tua pun menolak. "Anak SMP magang? Bukannya mereka seharusnya belajar, bukan bekerja? Wah...melanggar HAM ini."

Akhirnya, saya, sebagai wakil orang tua, ikut mendampingi Kepsek (Bu Tini) dan Guru (Bu Hasri Ainun) Sekolah Alam Karawang, menghadap Komisi Perlindungan Anak di Jakarta untuk menjelaskan manfaat magang bagi siswa SMP serta untuk mendapatkan surat izin magang dari Komisi Perlindungan Anak. Dan dengan adanya surat izin ini, maka berarti kegiatan ini legal dan bermanfaat.
Dan… muluslah jalan siswa-siswa SMP Sekolah Alam Karawang untuk magang ke berbagai perusahaan.

Goresan Cinta Untukmu




Goresan Cinta Untukmu
Putriku terkasih, Annisa Muthia…..
Tanggal ini adalah tanggal yang sama dengan 16 tahun yang lalu
Tanggal yang ditetapkan Allah untuk kedatanganmu ke dunia
Dan bahwa hari ini usiamu di dunia bertambah, itu betul
Dan bahwa hari ini waktumu di dunia semakin berkurang, itu pasti
Putriku, ubek jariah palarai damam….
Engkau semakin besar
Tak lagi dapat engkau kupangku dan kutimang
Engkau akan berlari mengejar cita-cita dan taqdirmu
Setiap manusia memiliki tugas dan peran yang telah Allah tetapkan untuknya
Kejarlah, meskipun engkau akan jatuh bangun karenanya
Kejarlah, meskipun akan ada tawa dan air mata menyertainya
Jika engkau sedih, ingatlah betapa banyak nikmat Allah yang telah tercurah padamu.
Jika engkau lelah, ingatlah setiap perjuanganmu di jalan Allah, pahala ganjarannya.
Jika engkau merasa sepi, ingatlah do’a ayah dan ibu selalu menyertaimu
Malaikat-malaikat penjaga selalu di sisimu.
Allah selalu mengawasi, melindungi dan mengabulkan do’a-doa’mu
Putriku, cahaya mata hatiku…..
Jagalah akhlak dan lisanmu
Jadilah duta agama ini, nak
Jadilah si cerdas seperti Aisyah binti Abu Bakar
Jadilah si bijaksana seperti Khadijah binti Khuwailid
Jadilah si tangguh seperti Asma binti Abu Bakar
Jadilah si pemberani seperti Nasibah binti Ka’ab
Putriku, harapanku…..
Perkokohlah fisikmu dengan selalu makan makanan yang halal dan thayib
Perkokohlah spiritualmu dengan banyak beribadah, berdo’a dan berzikir
Asahlah kemampuanmu dengan ikhlas menimba ilmu
Pertajamlah bakatmu dengan banyak berlatih
Dan, do’akanlah selalu ayah dan ibu serta adik-adikmu
Hanya do’amu kelak yang sangat kami harapkan ketika kami berada di kampung akhirat nanti.
Ya Allah, kutitipkan anakku sibiran tulang, berada dalam penjagaanMu.
Penuhi dadanya dengan Al qur’an dan as sunnah
Genggam hatinya dengan kasih sayang dan kebijaksanaan.
Aamiin ya Rabbal’alamiin….
Peluk cium dari Ibu, Ayah, Sayyid dan Alyssa
Karawang, 16 November 2016

Pelajaran pertama di pesantren


"Muthi kira bahasa Inggris Muthi sdh bagus (sdh pernah ke luar negeri dan nilai UN hampir sempurna), ternyata bertemu anak dari Qatar, pronounce Muthi kalah jauh.
Muthi kira tahsin Muthi sdh bagus (sdh menyelesaikan metoda qiro'ati dan ummi), ternyata ada yg lebih bagus.
Muthi kira matematika Muthi sdh bagus ternyata, ada anak pemenang matematika O2SN Dr Jawa Barat di sini.
Muthi kira Muthi sudah supel ternyata ada yg lebih supel lagi dari Muthi."
Begitulah curhat si gadis ketika td kunjungan pertama ke asramanya.
Ternyata masih ada langit di atas langit. Kalau sebelum ini HANYA mengetahui sekarang benar2 merasakan maknanya. Engkau hanya perlu memperbanyak sabar dan ikhlas serta bersyukur, anakku.
Tapi ada ujian, ada juga kebahagiaan. Selama seminggu mengikuti Funtastic (nama lain MOS), dia terpilih sebagai siswi TERSOPAN. Karena selalu menggunakan kata TERIMA KASIH, TOLONG, MAAF dan PERMISI. Dan sukses membawa kelompoknya menjadi kelompok TERKOMPAK. Double present for her.
Ada kejadian yg membuatnya bersyukur pernah di gembleng survival di Gunung Bundar dan Gunung Gede, Jawa Barat, oleh Sekolah Alam Karawang.
Dua hari terakhir Funtastic adalah kemping di Capolaga, Subang. Ketika mereka diberi tugas mencari 10 tumbuhan yg bisa dimakan di hutan, teman2 sekelompok nya langsung bersorak, "Horee...nggak salah kita mengangkat kamu jadi ketua kelompok, Muthi. Dari Sekolah Alam!".
Dan dengan dipandu Muthi akhirnya kelompok Muthi dan kelompok lainnya berhasil mendapatkannya.
‪‎Dan akan banyak lagi pelajaran yang akan engkau dapatkan, nak. Semoga Allah selalu membantumu, dan memudahkannya untukMU. We all love you dear....

Siapa yang menanam pohon, ia akan menuai buah


(Review kunjungan I ke Assyifa Boarding School,31 Juli 2016)

Ketika pertama kali mengantar masuk asrama Assyifa, Muthia bersemangat. Dari awal dia sudah mempersiapkan semua perlengkapannya sendiri termasuk packing. Saya hanya sebatas menemani membeli keperluannya. Begitupun ketika di kamar asramanya, 10.4, dia menyusun semua barang bawaannya sendiri tanpa campur tangan saya sedikitpun. Dia memang sudah mandiri.

Ketika saya akan pulang, kami masih ketawa-tawa. Saya sibuk menggoda dan bercanda supaya dia tidak sedih. Dan selamatlah hari itu tiada tetesan air mata dari kami berdua. Oh ya, si ayah tidak bisa mengantar karena lagi dinas ke Surabaya.

Seminggu kemudian kami sekeluarga mengunjunginya. Dalam pelukan erat, air mata mengalir di pipinya,
“Muthi merasa Muthi di sini cuma kemping seminggu. Kemudian ibu dan ayah jemput Muthi. Ternyata Muthi di sini lamaaa…” ujarnya sedih. Ooo…si gadis mulai merasa berat berpisah dengan keluarga. Hatikupun ikut merasakan kesedihannya. Air mata rindu dan harupun ikut mengalir di pipiku.

Sejurus setelah melepas rindu denganku, ayah dan adik-adiknya, iapun asyik bercerita tentang keseruan acara fantastik. Dari seminggu kegiatan fantastik yang direduksi menjadi hampir 1 jam cerita tanpa jeda, ada 1 hal yang membuatku terharu dan menahan tangis kuat-kuat, jangan sampai terlihat olehnya, yaitu ketika ia bercerita dengan bahagia bahwa ia terpilih menjadi siswi TERSOPAN, karena ia selalu menggunakan kata terima kasih, maaf, tolong dan permisi.

Mungkin bagi yang lain, itu penghargaan yang biasa saja. Tapi, sungguh, bagi saya itu besar maknanya.

Betapa tidak, saya dulu menerima ejekan ketika menanamkan akhlak itu kepadanya. Memori lama jadi terbuka kembali. Ketika Muthia berumur 4 tahun, tepatnya 3 tahun 9 bulan, ia melewati kerumunan ibu-ibu. Dengan sopan iapun berkata, “permisi…permisi…”. Tapi bukannya berempati dan dipersilahkan malah ada ibu-ibu yang berkata,

“Permisi ama siapa? Ama tembok?” dengan nada yang cukup sinis (…ah mungkin saya lagi sensi ketika itu). Terus ada yang berkomentar, “makanya anak itu diajarin nyebutin panggilan orang. Jangan permisi aja…”

Helloooow….dia masih 4 tahun kurang! Wajar dia belum bisa menyebutkan panggilan orang per orang, tante, Bu De, mba dan lain-lain. Sedangkan betapa banyaknya anak-anak, remaja sampai dewasa yang melenggang di depan orang banyak yang dia kenal, tanpa permisi sedikitpun.

Kemudian kalau salah, Muthia selalu minta maaf. Sama siapapun. Itupun, masih ada yang mensinisi. Masih di tahun yang sama, “Muthi mah minta maaf supaya nggak dimarahi ibunya. Maaf Cuma jadi tameng. Ibunya sih nggak pernah marahin anaknya. Jadi tiap salah, minta maaf, selesai.”

Apakah saya harus tidak menerima permintaan maaf anak usia 4 tahun? Dia bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar serta menyadari kesalahannya dan minta maaf, bagi saya itu sudah luar biasa. Betapa banyaknya anak-anak bahkan orang dewasa yang tak pernah merasa salah dan minta maaf?

Sekarang, 11 tahun kemudian, Assyifa mengapresiasi akhlak itu. Sungguh saya sangat terharu. Sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang itu nggak penting banget, ternyata betapa Assyifa sangat menghargainya. Beberapa kali air mata saya meleleh minggu ini di rumah.


Jazakumullah khairan katsiran. Kepercayaan saya terhadap Assyifa makin besar. Semoga ilmu yang ia dapatkan di sini membawa berkah baginya dan bagi masyarakat kelak. Juga buat ananda-ananda lainnya yang menuntut ilmu di Assyifa. Dan semoga yayasan Assyifa beserta guru-gurunya selalu diberkahi dan diberi kesehatan serta ini menjadi lading amal ang membawa ke JannahNya. Aamiin….

Catatan Perjalanan Haji 2015


PROLOG

Bismillahirrahmanirrahiim....

Haji, adalah impian muslim sejati. Setiap muslim tentu ingin menyempurnakan ibadahnya. Ingin menyempurnakan kelima rukun Islamnya. Tapi karena ibadah yang satu ini memang terkait dengan dana dan fisik, maka Allah Yang Maha Adil tidak membebani semua hambaNya. Hanya yang mampu saja yang dibebankan Allah untuk pergi berhaji. Mampu, dalam benak kita tentu melulu masalah uang. Begitu juga dengan diriku. Tadinyaaa…

Terlahir dari keluarga sederhana, dengan seorang ayah yang mempunyai visi ‘anak harus lebih baik dari orang tua’, membuat orang tuaku benar-benar berusaha sepenuh hati dan sepenuh kemampuan untuk menjadikan kelima anaknya menjadi orang yang berilmu dan berpendidikan. Alhamdulillaah…kami berlima berhasil menyelesaikan studi, 1 orang S2, 2 orang S1 dan 2 orang D3. Tentu tak sedikit uang yang harus dikeluarkan oleh ayah dan ibuku, yang memang tak memiliki banyak uang.

Berhasil menyekolahkan anak sampai tingkat sarjana sudah merupakan kebahagian yang luar biasa bagi orang tuaku. Naik haji, tentu hanya impian yang jauh bagi mereka. Impian yang terus dipendam dan dikalahkan demi menyekolahkan anak-anaknya.

Sampai meninggal, ayahku tidak kesampaian melaksanakan ibadah haji, Rukun Islam yang ke lima. Mudah-mudahan kelak salah satu dari anak-anaknya bisa membadal hajikan beliau. Aamiin.

Kemudian sayapun menikah. Sebagai keluarga baru yang sedang merintis kehidupan dan dengan suami yang mulai merintis karir, keuangan kami ketika itu hanya cukup untuk kebutuhan hidup dan sedikit membantu orang tua. Kadang akhir bulan bersisa, dan  terkadang malah kurang. Ibadah hajipun hanya tergantung di impian ‘Ketika nanti mapan….’

Aku tak berani memasang target karena sadar kemampuan ekonomi ketika itu. Tapi aku lupa bahwa haji itu ternyata tidak hanya melulu soal uang. Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya. Tak sedikit orang yang memiliki harta berlimpah tapi tak kunjung diberi kesempatan untuk berhaji. Tapi tak sedikit pula orang yang tak memiliki uang malah berangkat haji. Semua terjadi adalah karena panggilan Allah. Kalau Allah sudah memanggil, semua akan dicukupkan oleh Allah. Nah, sudah pantaskah kita untuk dipanggil Allah?

Allah Yang Maha Penyayang membuka mata hatiku ketika tahun 2006 suami mendapat hadiah dari perusahaannya untuk berangkat haji. Ketika itu aku baru saja melahirkan anak ke empat secara caesar. Si bayi mengalami sedikit masalah sehingga harus dirawat 9 hari di ruang perinatal dan akupun harus menjalani operasi ulang 2 minggu kemudian karena jahitan di perut sebelah kiri lepas sepanjang 2 cm. Dengan banyaknya cobaan ketika akan berangkat (suami berangkat haji di hari ke 40 setelah aku melahirkan), suami ikhlas berangkat hanya dengan mengandalkan living cost yang akan diberikan pemerintah ketika akan berangkat haji nanti. Tapi, qadarullaah….Allah mencukupkan kebutuhan hambaNya. TIba-tiba salah satu kerabat memberikan sangu sebesar $ 1.000. Alhamdulillaah….

Kemudian kesadaran itu makin tertohok ketika seorang teman bercerita. Ketika ia mengantar pamannya pergi haji, seperti jamaknya orang Indonesia, iapun tak luput minta ‘dipanggil’ di tanah suci agar segera dapat berhaji. Ternyata jawaban dari pamannya sederhana saja. “Sudah buat tabungan haji belum? Niat saja tapi belum ada tindakan nyata, bagaimana Allah yakin untuk memanggilmu? Nabung dulu. Urusan kapan cukupnya itu biar menjadi urusan Allah.”

Jleb! Benar banget. Tunjukkan kesungguhan niat dengan tindakan nyata. Urusan kapan cukupnya biarlah menjadi urusan Allah Ta’ala yang Maha Kaya.

Karena urusan kepindahan domisili dari Bogor ke Karawang yang disebabkan suami pindah tugas, serta merenovasi rumah, akhirnya baru di tahun 2009, kami baru bisa membuat tabungan haji di salah satu bank Syariah. Tak lupa setiap bulan kuisi seberapa mampu. Dan memang Allah Maha Kaya, dalam tempo kurang dari 2 tahun, tak disangka ternyata uangnya cukup untuk mendaftar haji aku dan suami. Padahal kalau menilik penghasilan suami ketika itu, tak mampu kami menabung sebanyak itu dalam tempo kurang dari 2 tahun. Allahu Akbar! Menabunglah. Dan biarkanlah Allah Yang Maha Kaya mencukupkannya dengan jalan yang tak disangka-sangka.

Akhirnya setelah menunggu sekitar 4 tahun, undangan dari Allahpun tiba. Saya ingat, ketika pertama kali melihat daftar nama calon jamaah Haji 2015 yang akan menjalani pemeriksaan kesehatan di puskesmas desa Wadas, Karawang, rasa cemas melanda. Khawatirnya melebihi ketika melihat pengumuman kelulusan sekolah. Kalau sekolah, saya yakin lulus. Tapi haji, saya khawatir tidak jadi ikut karena terkena pemotongan kuota haji. Begitu namaku dan nama suami tertera jelas di lembar pengumuman yang tertempel di puskesmas itu, rasanya badan jadi lemas karena rasa lega dan bahagia. Rasa syukur membumbung. Al-hamdu lillaah wa syukru lillaah. Akhirnya, Engkau panggil kami ya Allah…

Persiapan-persiapanpun mulai dilakukan. Baik itu bimbingan manasik, latihan fisik, persiapan mental, hafalan do’a dan lain-lain. Tapi tetap saja menjelang keberangkatan persiapan rasanya masih saja kurang.

Bagiku ini adalah ibadah Haji yang pertama. Belum pernah jadi belum tau. Jadi banyak hal yang kukhawatirkan. Apakah ibadahku di sana lancar? Apakah ibadah Hajiku akan diterima Allah? Apakah hajiku mabrur? Apakah aku di sana akan mendapat kemudahan atau cobaan? Apakah aku bisa menjaga lisan, hati terutama lidah dari berkomentar yang tidak pantas? Bisakahku menahan diri dari Rafats, Fusuq dan Jidal? Apakah anak-anak di rumah akan baik-baik saja? Apakah mereka tidak akan bertengkar? Menyakiti atau disakiti? 

Owh...semuanya berdesakan masuk ke dalam otakku. Ribuan ‘apakah’ itu seakan-akan menggelayuti setiap pikiranku.

Berbeda dengan suami yang pernah berhaji, walau Haji ABIDIN (Haji Atas BIaya DINas), hehee..... Sehingga ia bisa ‘cool’ menghadapi haji kali ini. Kemudian suami menasehatiku,
Ikhlaskan saja semua kepada Allah. Kalau Allah sudah mengundang kita maka Allah pula yang akan menyelesaikan semua persoalan kita”.
Aamiin Yaa Rabb al- ‘aalamiin.

Teringat kata Pak Ustad Yono, pembimbing hajiku, syarat untuk meraih haji MABRUR itu adalah :
1.      Niat yang IKHLAS
2.      Berbekal TAQWA
3.      Berhaji sesuai SUNNAH RASULULLAH SAW
Ibadah Haji memang bukan ibadah biasa. Sebuah ibadah bagi yang ‘mampu’. Mampu secara fisik (sehat), mampu secara finansial (keuangan) dan keamanan (aman dari gangguan). Dan kalau Allah sudah ‘mengundang’, maka semua hal itu insya Allah, akan dimampukan oleh Allah Ta’ala.

Alhamdulillah, beban pikiran rasanya berkurang. Dukungan dan do’a dari sanak saudara, teman, tetangga bahkan dari guru sekolah anak-anak berdatangan. Ibupun sudah datang dari Padang untuk menjaga anak-anak. Sungguh menguatkan hati.

Dengan membaca Bismillaahhirrahmaanirrahiim, dan memohon pertolongan Allah Yang maha Kuasa, kumulai perjalanan ibadah yang luar biasa ini. Perjalanan  ibadah haji yang memakan waktu 40 hari ini, dengan segala rintangan dan tantangannya, kutuliskan untuk menjadi ibroh, khususnya bagi diriku. 








Bukan tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan


Liburan, selalu menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh semua orang, terutama anak-anak. Karena selama liburan, kita akan terbebas dari rutinitas sehari-hari. Karyawan, akan terbebas dari pekerjaannya. Pedagang akan terbebas dari urusan jual-beli. Anak-anak akan terbebas dari urusan belajar dan tugas-tugas sekolah. Tapi tentu, para emak-emak tidak termasuk ke dalam makna liburan = bebas tugas. 


Selama liburan (sekolah, lebaran, akhir tahun), tugas memandikan anak (bagi yang punya balita), tetaaap.  Tugas menyiapkan makanan dan menyuapi anak, tetaaap. Tugas memasak, mencuci serta tugas domestik lainnya, tetaap…. Hiks. Emak memang superrr.

Begitu juga denganku. Emak sejati sejak 17 tahun yang lalu (Alhamdulillaah). Selama liburan, disamping tugas domestik tetap berlangsung, tugas tambahanpun minta prioritas. Tugas apakah itu? Tugas membawa anak liburan. Mulai dari mempersiapkan peralatan, makanan, dana lebih dan tenaga lebih. Kadang kita bisa berbagi beban dengan suami. Kadang kita harus bersolo beban....hehee. Tapi meskipun capek, para emak tetap bisa kok menikmatinya. 

Seperti hari ini, Rabu 13 Juli 2016. Anak-anak ingin bermain air (Yaa...soalnya lebih banyak main airnya dari pada berenang). Karena hari Rabu, si ayah tentu tidak bisa menemani. Tujuan kami adalah water parknya Grand Taruma. 

Semenjak di rumah anak-anak sudah bersemangat. Mereka membantu menyiapkan peralatan dengan gembira. Di mobilpun tak henti-hentinya berceloteh. Mulai dari wahana apa yang akan dimainkan, mana yang lebih dahulu dilaksanakan dan lain-lain.

Iseng-iseng saya memberikan tantangan,
"Siapa yang bisa mengalahkan ibu berenang, akan ibu belikan pop mie".

Gayungpun bersambut. 
Anak-anak dengan antusias 'mendaftar' untuk perlombaan ini. Memperebutkan hadiah POP MIE. Mantaaap.

Sungguh, waktu saya melemparkan tantangan ini kepada anak-anak, saya masih merasa yang terhebat. Lebih berotot (uhukk...uhukk...), lebih bertenaga, lebih berpengalaman karena pernah juara renang (duluuuu...waktu masih SMP) dan memiliki teknik renang yang bagus. Muthi dan Alyssa, teknik renang belum bagus tapi sudah baik. Kalau sayyid sudah bagus tapi kan badannya keciill...Begitulah, si sombong dalam diri saya muncul ke permukaan hati.

Sesampai di Grand Taruma Water Park, pertandinganpun siap digelar. Tempat yang dipilih adalah kolam santai. Ya...iyalah, masak kolam arus atau kolam ombak. Yang ada, nggak sampai finish entar.

yang mengajukan diri untuk partai pertama adalah Alyssa. Gaya yang dipilihnya adalah gaya bebas. Hasil, Alyssa kalah telak. Diapun ngampek tidak mau lomba renang lagi. Wwkk....wwkk...ibu makin jumawa. Siapa korban berikutnya?

Akhirnya diputuskan Alyssa jadi juri dan yang meneriakkan aba-aba 123. Alyssapun gembira merasa memiliki posisi penting. Dengan bersegera iapun naik ke atas kolam. Sekarang, peserta lomba adalah Ibu, Muthia dan Sayyid. 

Babak pertama adalah lomba gaya bebas. Setelah Alyssa meneriakkan angka 3, peserta perlombaanpun melaju. Sayapun melaju dengan kekuatan penuh. Tapi sekuat apapun tanganku mengayuh, kaki bergerak ternyata tak bisa mengimbangi kedua anakku. Sayyid yang kecil dengan teknik renang yang bagus serta kayuhan yang bertenaga melaju dengan cepat melampauiku. Muthi yang ku anggap remeh karena teknik renangnya belum sebaik diriku ternyata juga melaju cepat melampauiku. Aku tak percaya. Tapi begitulah kenyataannya. 

Merekapun bersorak gembira berhasil mengalahkan supremasi ibunya di bidang renang. terlebih dulu ibu adalah spesialis gara bebas. Dua atau tiga tahun yang lalu, mereka belum bisa mengalahkan ibu.

Kemudian pertandingan dilanjut dengan gaya punggung. lagi-lagi ibu tumbang dengan sukses. Sayyid juara 1, Muthi juara 2 dan ibu juara buncit. Akhirnya pada pertandingan ketiga, gaya dada, alhamdulillah ibu bisa merebut kemenangan untuk menyelamatkan 'harga diri'. Hahahaa...

Begitulah. Ternyata tak ada yang abadi. Tak ada yang tidak berubah. Tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan. Apalagi kita manusia dan kehidupan di dunia ini yang memang bersifat fana (hancur, binasa). Seperti kuncup bunga yang kemudian mekar mewangi. Setelah itu gugur, jatuh dan di sapu angin lalu. Seperti juga embun di pagi hari yang menguap tanpa meninggalkan jejak begitu panas matahari menyinarinya. 

Begitulah hakikat fana. Segala kesenangan, kesuksesan yang kita kecap adalah sementara. Kesusahan yang membelitpun adalah fana.

Seperti firman Allah dalam surat Ar Rahman:

كُـلُّ مَـنْ عَـلَـيْـهَـا فَـانٍوَيَـبْـقَـى وَجْـهُ رَبِّـكَ ذُوالْجَـلاَلِ وَاُلإِكْـرَامِ

Artinya: Segala yang ada di muka bumi akan fana (binasa) dan akan kekallah zat Tuhanmu (Muhammad), yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Apabila kita menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini semuanya fana tentulah jiwa kita tidak akan dipenuhi oleh kesombongan dan over rasa bangga kala meraih kesuksesan dan kesenangan. Hati kita pun tidak merasa sempit apalagi merasa putus asa kala dirundung musibah dan kegagalan. Allah Yang kekal lah tempat kita kembali. 

Terima kasih ya Allah, atas pelajaran hari ini. Terima kasih anak-anakku. Lewat kalian kekhilafan ibu ditegur Allah. Semoga hari-hari berikutnya bisa menjadi lebih baik. Aamiin ya rabbal 'alamiin.
Powered by Blogger.