Pulau Pamutusan, Pulau Sirandah, Pulau Pasumpahan, Pesona wisata bahari di Sumatera Barat




Kalau kita pernah mendengar istilah “Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum”, maka mungkin untuk Ranah Minangkabau dapat diistilahkan “Tuhan menciptakan alam Minangkabau saat tertawa bahagia”.

Betapa tidak, setiap sudut dari alam Minangkabau ini sangatlah elok. Alam pegunungannya, lembahnya, datarannya, sungainya maupun lautnya yang dipagari oleh pulau-pulau kecil nan indah, semuanya memanjakan mata. Adat istiadatnya sangatlah kental dan terjaga walaupun pengaruh modernisasi tak dapat dielakkan. Makanannya lezat dan sudah diakui dunia serta tersebar ke seluruh penjuru dunia. Kalau nanti di bulan atau di Mars bisa dihuni manusia, yakin…restoran Padang pun akan berdiri dengan gagah di sana. Hehee…

Nah, lebaran tahun ini, Alhamdulillaah, kami diizinkan Allah untuk kembali ke sini. Desaku yang kucinta, pujaan hatiku, tempat ayah dan bunda dan handai tolanku….(ups..jadi nyanyi deh…). Dan seperti biasa, kami selalu menyelipkan waktu berwisata sekalian mengenalkan sudut-sudut negeri kepada buah hati tercinta. Supaya mereka juga mencintai dan merasa terikat dengan kampung halaman ayah dan ibunya.

Kali ini kami memilih wisata dengan tema yang berbeda dengan lebaran tahun kemarin. Kalau tahun kemarin temanya adalah “alam dan kebudayaan”, tahun ini tema kami adalah “Air”. 

Tempat yang kami tuju untuk berwisata adalah pulau-pulau kecil yang saat ini mulai hit yaitu pulau Pamutusan, Pulau Sirandah, dan Pulau Pasumpahan. Sebenarnya masih banyak pulau-pulau nan cantik yang tersebar di sepanjang garis laut Sumatera barat. Tapi tentu tak semua bisa kami jalani dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dan tiga pulau itulah prioritas kami saat ini.

Dari mana berangkatnya ?

Kami berangkat tanggal 27 Juni 2018, sesaat setelah adik-adik menggunakan hak pilihnya di Pilkada pemilihan Walikota Padang. Ada banyak jalan menuju pulau-pulau ini. Bisa dari pantai Muara Padang, bisa dari pantai Bungus dan bisa dari Pantai Sungai Pisang.


Kalau dari pelabuhan Muara Padang dan Bungus, lama perjalanan ke pulau Pamutusan sekitar 1 jam dengan perahu. Kadang lebih. Tapi kalau dari pantai Sungai Pisang, HANYA 14 menit perjalanan dengan perahu. Dan dengan pertimbangan supaya tidak terlalu lama di laut, kami memilih berangkat dari pantai Sungai Pisang. Keuntungan lainnya kalau berangkat dari sini adalah sewa perahu tidak terlalu mahal. Hanya saja ada kelebihan tentu ada kekurangan (kelebihan dan kekurangan memang pasangan abadi). Perjalanan dari kota Padang menuju Pantai Sungai Pisang cukup lama. Sekitar 1,5 jam perjalanan dengan jarak kurang lebih 30 km. Kok lama untuk jarak tempuh yang hanya 30 km? Eitss… jangan bayangkan jalannya selurus jalan tol yang bisa ditempuh sekitar 20 menit dengan kecepatan 120 km/jam ya? Jalan menuju Sungai Pisang ini juga mulus semulus jalan tol hanya saja jalannya berkelok-kelok, mendaki dan menurun, layaknya kontur Sumatera Barat yang berlembah dan berbukit. Jadi kalau anda nekad ngebut apalagi pake nge-drive segala, di jamin sampainya bukan di pantai Sungai Pisang tapi di alam barzah. Dan meskipun agak lama, dijamin tak akan bosan. Karena Allah sudah menyiapkan pemandangan yang sangat indah! Dan udaranya juga sueeejuk…

Dengan apa ke sana ? Dan berapa biayanya?

Sebenarnya ada banyak cara untuk sampai ke sana. Bisa dengan perahu, bisa berenang, dan bisa berjalan tapi langsung kelelep. Dua pilihan terakhir adalah untuk manusia-manusia nekad. Jadi sangat tidak disarankan. 




Kami menyewa perahu motor dari nelayan di pantai Sungai Pisang langsung untuk 3 tujuan, pulau Pamutusan, pulau Sirandah, pulau Pasumpahan. Jadi kalau hendak berwisata ke pulau-pulau kecil ini, sebaiknya jangan hanya satu tujuan. Karena lokasi pulau-pulau ini berdekatan. Kalau kita hanya menyewa untuk satu tujuan kemudian di tengah perjalanan ingin lanjut ke pulau-pulau lainnya, maka dijamin harga menjadi mahal. Karena biaya dari 1 pulau ke pulau lain bisa ditarik sekitar 75 ribu/orang. Tapi kalau langsung 3 pulau, hanya sekitar 80 ribu sampai 100 ribu/orang (tergantung nego). Murah bukan?

Pulau Pamutusan

Pulau Pamutusan adalah pulau pertama dan terjauh dalam trip kami hari ini. Pulau Pamutusan termasuk ke dalam wilayah administrasi kecamatan Bungus Teluk Kabung kotamadya Padang. Dengan lama perjalanan hanya 14 menit dari pantai Sungai Pisang, kami sudah mendarat di pulau ini. Tiket masuk ke Pulau Pamutusan ini amat sangat terjangkau. Hanya Rp 15.000,-/orang.



Pulau Pamutusan ini sebenarnya merupakan semenanjung (daratan yang menjorok ke lautan) yang apabila laut surut terlihat seperti satu pulau dengan penghubung pasir putih. Tapi apabila laut pasang mereka seperti putus dan menjadi 2 pulau yang berdekatan.

Pulau Pamutusan ini pantainya berpasir putih dan lembut. Lautnya berkarang sehingga banyak sekali ikan-ikan kecil di sana. Kami menemukan hampir semua ikan di film finding nemo, kecuali si nemo. Kami juga melihat semacam belut laut yg kepalanya keluar-masuk karang. Kalau melihat karangnya seakan-akan melihat artefak di situs purbakala. Cantik sekali. Sayang kami tidak memiliki kamera underwater untuk mengabadikan keindahannya.
Dan untuk melihat keindahan ikan-ikan dan karang itu, kita harus memakai kaca mata snorkling. Tidak cukup dengan kaca mata renang saja. Kalau memakai kaca mata sorkling, pemandangan bawah air terlihat bening. Kalau pakai kaca mata renang, pemandangannya agak buram. Apalagi tak memakai apa-apa, wuiiihh ikan-ikan akan lari. Horroor…kata mereka.

Sebenarnya selain menikmati lautnya, kita bisa hiking ke bukitnya. Dari atas bukit pemandangan ke pantai dan lautnya sangat indah. Tapi sayang karena anggota kami lebih banyak anak-anak dan emang niat mau menyenangkan mereka, tak ada yang ingin menjelajah sampai ke atas. Ya…sudahlah kita nikmati saja pantainya dan ikan-ikannya.

Pulau Sirandah

Pulau Sirandah juga merupakan salah satu pulau yang termasuk dalam administrasi Kecamatan Bungus Teluk Kabung, kotamadya Padang. Sirandah itu berarti rendah. Pulau Sirandah merupakan pulau yang tidak berbukit dengan pantai berpasir putih yang ditumbuhi beberapa jenis pohon seperti kelapa, semak, dan bakau. Bila dibandingkan dengan pulau lain disekitarnya, lanskap pulau ini lebih rendah. Harga tiket masuk ke Pulau Sirandah ini lebih mahal sedikit dari Pulau Pamutusan. Tapi masih tetap murah Rp 25.000,-/orang.

Di pulau ini sarana dan prasarana lebih bagus dari pulau Pamutusan. Ada beberapa permainan yang disiapkan untuk mengunjung terutama anak-anak. Ada ayunan, ada perosotan dengan ujungnya langsung ke laut, ada banana boat, donuts boat, dan lain-lain. Juga banyak yang menjual souvenir. Oh ya, di sini kami melihat ikan-ikan kecil bermigrasi. Mereka bergerak bergerombol dalam jumlah yang sangat banyak. Kadang mereka tak bergerak. Dan anak-anak menjadi iseng. Mereka mengagetkan ikan-ikan tersebut. Dan ikan-ikan itupun berlarian ke arah yang berbeda. Kemudian bersatu kembali.

Oh ya, ketika dalam perjalanan dari pulau Sirandah menuju pulau Pasumpahan kami dapat bonus dari Allah. Melihat ikan-ikan kecil berloncatan keluar air. Mungkin ada ribuan jumlahnya. Mereka melompat dan masuk air kembali secara bersama-sama. Pemandangan yang sangat menakjubkan. Sehingga kami pun berteriak-teriak gembira setiap mereka meloncat ke udara. Masya Allah.
warna putih perak yang melayang di atas air itu adalah ikan-ikan kecil yang meloncat ke udara secara serentak

Pulau Pasumpahan
Pulau Pasumpahan adalah pulau terakhir dari trip kami hari ini. Pulau ini juga termasuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kotamadya Padang. Pulau Pasumpahan merupakan pulau yang terdekat dari pantai Sungai Pisang. Hanya berjarak 10 menit perjalanan dengan perahu bermotor. Sengaja kami memilih pulau Pasumpahan ini sebagai perjalanan terakhir, karena kalau cuaca berubah mendadak seperti akan hujan hujan atau badai, kami bisa segera pulang. Harga tiket masuk pulau ini hanya Rp 20.000,-/orang.

Dari ketiga pulau yang kami kunjungi menurutku inilah pulau tercantik. Garis pantai dangkalnya lebih panjang dari dua pulau sebelumnya. Dan pulau ini seakan-akan terkurung oleh pegunungan Teluk Kabung. Dan karena di kelilingi gunung di sekitarnya membuat air laut di sini sangat tenang dengan riak-riak kecil. Sehingga kita merasa cukup aman melihat anak-anak bermain di pantai. Dan sebagai peringatan, di sini di pasang bola-bola pelampung sebagai batas antara laut dangkal dan laut dalam. Dan kita tidak boleh berenang melewati batas bola-bola itu. Kami berenang dan berfoto dengan latar belakang laut yang dipagari gunung-gunung. Sangat mempesona.

Di sini juga ada ayunan yang diletakkan di bibir pantai. Kalau air surut, ayunan berada di pantai. Tapi begitu air pasang, kita serasa bermain ayunan di tengah laut.

Setelah puas bermain air kamipun bebersih diri di pulau ini. Di sini banyak tersedia kamar mandi-kamar mandi yang bersih dengan air tawar untuk bebersih diri. Dan gratis. Juga mushalla yang bersih. Dan seperti di dua pulau sebelumnya di sini juga tersedia cottage-cottage buat di sewa.





Alhamdulillaah, sungguh perjalanan wisata yang sangat menyenangkan bersama keluarga. Sepanjang perjalanan pergi dan pulang, nakhoda kapal membawa kami melewati jalan yang berbeda. Baik perjalanan pergi dan pulang, sama-sama indah. Kami disuguhi pemandangan pulau-pulau kecil nan indah yang tersebar di sepanjang  batas laut Sumatera Barat. Dan kalau anda beruntung seperti kami, akan bisa menyaksikan ikan-ikan kecil berloncatan ke udara serentak dalam jumlah besar. Benar-benar amazing trip. Alhamadulillah wa syukurilah.




Kapal Ferry Selalu di Hati




Sebagai orang perantauan, pulang kampung adalah sesuatu yang sangat dirindukan. Bekerja keras, menabung dan pulang kampung adalah segitiga bermuda eh….segitiga perjuangan seorang perantau. 😊😊

Begitu juga denganku. Semenjak menikah, aku terpisah 1612 km dari kampung halamanku. Aku berada di Karawang mengikuti suami yang dipindahtugaskan ke sini. Sementara orang tua tercinta tinggal di Padang, Sumatera Barat. Kebetulan suamikupun orang Minang yang berasal dari Padang Ganting, Batusangkar, Sumatera Barat. Sehingga tujuan pulang kampung kamipun sama.

Seperti perantauan lainnya, jadwal rutin kami pulang kampung adalah ketika lebaran tiba. Moda transportasi yang kami gunakan untuk pulang kampung, kadang dengan pesawat kadang dengan mobil dan kapal Ferry. Mobil dan kapal Ferry memang selalu bersanding. Karena tak mungkin bagi kami membawa mobil melintasi laut antara dua pulau, Sumatera dan Jawa, tanpa bantuan kapal Ferry. Kecuali kalau kami berkawan baik dengan Superman. 😂😂😂.

Untuk melintasi laut sempit di antara dua pulau Sumatera dan Jawa atau si Selat Sunda ini dengan kapal Ferry, maka kita harus memasukinya melalui salah satu dari dua pelabuhan besar yaitu Merak di Banten atau Bakauheni di Lampung. Dua pelabuhan ini termasuk pelabuhan tersibuk di Asia Tenggara karena beroperasi selama 24 jam non stop. Setiap harinya, ratusan perjalanan kapal Ferry melayani penumpang dan kendaraan dari Merak, Banten ke Bakauheni, Lampung. Atau sebaliknya. Penyelenggara transportasi penyeberangan dan fasillitas pelabuhan serta pendukung lainnya dilakukan oleh  ‘ASDP Indonesia Ferry’.

Saya sudah mulai naik ‘Kapal Ferry’ dari anak saya yang tertua berumur 7 tahun hingga sekarang ia sudah berumur 18 tahun. Dari tahun ke tahun banyak perbaikan yang dilakukan oleh  PT.ASDP Indonesia Ferry. Baik dari fisik kapal, fisik pelabuhan sampai pelayanan pembelian tiket. Dulu kapal dan pelabuhannya terkesan kumuh sekarang terlihat bersih, mewah dan nyaman.

Dengan harga tiket yang cukup murah, hanya Rp 13.000,- untuk dewasa dan Rp 7.000,- untuk anak-anak, seakan-akan kita sudah mendapatkan pelayanan first class. Ruang tungggu yang nyaman dan ber-AC di pelabuhan, bahkan ada play ground buat anak. Sedangkan di atas kapal, ruang duduk yang nyaman dan ber-AC, mushalla yang bersih serta kafetaria yang bagus. Bahkan kalau ingin istirahat tidur, cukup membayar Rp 10.000,- per orang, kita bisa rebahan di ruangan ber-AC berlantaikan parket yang bersih dan nyaman. Dan kalau dulu pembelian tiket dilakukan secara manual sekarang sudah bisa dipesan secara online melalui website http://www.indonesiaferry.co.id. Luar biasa bukan?

#AsyiknyaNaikFerry tidak akan terlupakan. Kami selalu gembira setiap kali menaiki kapal Ferry. Terutama anak-anak. Mereka sangat antusias menyaksikan mobil yang berbaris memasuki perut kapal, naik satu persatu, sampai mobil-mobil tersusun rapi di lambung kapal. Setelah itu biasanya mereka langsung ke dek atas atau langsung ke anjungan kapal. Dan mereka akan berteriak gembira ketika merasakan sensasi di tiup angin kencang. Atau melambai-lambai ketika ada kapal lain yang lewat. Terasa norak. Tapi itulah anak-anak. Kenorakan mereka akan terasa manis kita kenang saat mereka telah beranjak dewasa kelak.


menikmati sensasi tiupan angin

Memandang laut luas yang tenang, berwarna biru, membuat hatipun terasa adem.  Di tengah dinginnya tubuh karena tiupan angin yang kencang, satu cup mie instant yang hangat dari kafetaria, memang adalah moment yang tak pernah kami lewatkan ketika berada di kapal Ferry. Murah meriah tapi kami sangat menikmatinya.

Kami pernah naik kapal Ferry di malam hari, pernah naik ketika dini hari menjelang Subuh, juga pernah di siang hari. Fenomena alam yang paling menarik adalah ketika Subuh. Setelah sholat Subuh kami biasanya tidak tidur. Menunggu matahari terbit. Menyaksikan perubahan langit dari gelap gulita kemudian perlahan-lahan langit mulai terang dengan semburat jingga yang sangat menawan, adalah pemandangan yang sangat eksotis. 


sunrise di tengah laut

Momen seru lainnya adalah ketika melaksanakan sholat. Seringkali ketika kami sholat kapal terayun mengikuti ombak akibat angin kencang. Kadang ketika sholat, tubuh kami jadi miring ke kanan dan ke kiri. Atau ke depan dan ke belakang. Setelah sholat, anak-anak akan tertawa mengulang gerakan sholat yang miring-miring itu. Itu salah satu sensasi yang selalu mereka tunggu.


Pemandangan di sekitar pelabuhan Merak, Jakarta

Dan satu lagi momen yang paling mereka tunggu adalah proses bersandarnya kapal ke dermaga. Sambil melihat aktifitas kapal-kapal lain di sekitar dermaga, mereka antusias sekali menyaksikan detik-detik kapal merapat ke dermaga. Sampai tangga dermaga terhubung ke kapal secara otomatis, mereka tidak akan beranjak untuk naik ke mobil.







Meskipun kapal selalu penuh baik ketika mudik menjelang lebaran maupun ketika balik setelah lebaran usai, tak mengurangi niat anak-anak untuk menjelajah setiap ruangan dari ujung ke ujung kapal. Hanya sayangnya, mereka tak pernah boleh masuk ke ruangan kemudi tempat nakhoda bertugas. Padahal kalau di pesawat, mereka selalu diijinkan pilot untuk masuk ke ruang kokpit dan berfoto dengan kapten pilot. Kadang mereka diijinkan masuk ke ruang kokpit ketika pesawat masih di udara. Kadang kala diijinkan ketika pesawat sudah landing dan penumpang sudah turun semua. Sehingga anak lelakiku bercita-cita menjadi pilot. Karena ia terpesona dengan segala tombol yang ada di ruang kokpit dan juga karena  gagahnya pakaian sang pilot. Padahal pakaian nakhoda kapal juga tak kalah gagahnya dan ruang kemudi juga tak kalah hebatnya. Sayang ia belum tahu.

Dan untuk sekedar menghilangkan rasa penasarannya tentang ruang kemudi kapal, bulan April kemarin, saya membawanya berkunjung ke kapal kecil Greenpeace Rainbow Warrior yang sedang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta. Dia sangat terpesona melihat segala peralatan yang ada di ruang kemudi kapal tersebut dan sangat antusias mendapat penjelasan tentang cara kerja kapal Rainbow Warrior yang sebagian besar digerakkan oleh tenaga angin.


Si bocah yang suka menjelajah

Mudah-mudahan suatu saat nanti, anakku diijinkan memasuki ruang kemudi kapal Ferry  untuk melihat ruang kerja sang nakhoda dan berfoto dengannya. serta mendapat penjelasan tentang cara kerja kapal yang besar ini. Karena dari seluruh ruangan kapal, hanya tempat ini yang selalu membuatnya penasaran. Kalau diijinkan masuk, tentu ini akan menjadi edukasi baginya. Dan tentu saja menjadi kebanggaan bisa berfoto di ruangan kemudi dengan sang nakhoda kapal. Semoga ke depannya management kapal Ferry memberi izin kepada anak-anak Indonesia yang memiliki keingintahuan lebih, untuk berkunjung ke ruang kemudi. Bukankah banyak melihat, banyak merasakan dan banyak melakukan akan menyebabkan neutron-neutron di otak anak-anak akan saling menyambung sehingga membuat mereka menjadi lebih cerdas?

Dan yang belum pernah merasakan naik kapal Ferry, yuuk….dicoba. Perjalanan yang hanya memakan waktu 2 jam dari Merak ke Bakauheni atau sebaliknya, terasa sangat singkat dengan kapal Ferry dari PT. ASDP Indonesia Ferry. Tapi keseruan akan moment bersamanya akan terasa manis panjang seumur hidup. Dan jangan ragu membawa serta anak-anak. Pelayaran yang tenang dan nyaman bersama kapal Ferry tidak akan membuat mereka mabuk. Bahkan mereka akan full excited. Suueeeerrr….. 😍😍😍

*****
semua foto di tulisan ini adalah dokumen pribadi.

Keahlian Mendasar


Ini adalah cerita sebulan yang lalu ketika si gadis pulang ke rumah. Setiap bulan ia memang boleh pulang ke rumah dan menginap selama 1 malam saja. Nama programnya adalah pesiar. Setiap pulang, selalu saja ada cerita baru oleh-oleh si gadis. Kali ini tentang pengamatan dia terhadap teman-temannya selama satu setengah tahun di asrama.
Memang, sekamar dengan 11 orang teman lainnya, ada banyak hal yg bisa ia amati dan ia pelajari. Dengan berbagai macam latar belakang keluarga tentu menghasilkan karakter yg berbeda-beda. Juga kemampuan yg berbeda pula.
Yang menjadi bahan analisa baginya adalah masalah keperempuanan. Ada teman yang sangat sigap dalam segala hal tapi ada pula yg kurang sigap bahkan tidak bisa sama sekali dalam urusan keperempuanan. Ini menjadi keprihatinannya.
Dan dari pengamatannya maka ia susunlah keahlian dasar yang harus di miliki oleh seorang perempuan.
Ada 4 keahlian dasar yang wajib dimiliki:

1. Harus bisa masak nasi dan telur.
Sang ayah langsung mengernyitkan keningnya. "Kok cuma telur?". Namanya juga keahlian mendasar. Minimal bisa makan. Kalau bisa masak rendang itu mah sudah expert. 
Hihiii....benar juga. 😁


2. Harus bisa beli pulsa.
Beli pulsa? Kami langsung ngakak mendengarnya. Tapi dia punya argumen. Selama pulsa ada, bisa mengatasi kesepian, bisa minta pertolongan, bisa googling resep masakan dan lain-lain.
Ada seorang temannya yang tidak pernah beli pulsa sama sekali karena selalu ditransfer sang ibu. Qadarullah, sang ibu meninggal. Sehinnga ia kelimpungan karena tak tahu cara beli pulsa.


3. Harus bisa naik angkot atau bawa kendaraan.
Banyak teman-temannya yang belum pernah naik angkot sama sekali, sehingga tak tau cara naik angkot dan takut naik angkot. Sementara bawa kendaraan sendiri juga tidak bisa. Sehingga ketika ada keperluan mendadak, mati gaya. Dan akhirnya cenderung menyusahkan. Dia pun cerita kenangan 'dipaksa' naik angkot oleh saya ketika kelas 2 SMP. Jadi masalah "perangkotan" dan "perkendaraan" ini wajib hukumnya.


4. Harus bisa membersihkan rumah dan cuci piring.
Nah, ini sangat penting. Naik angkot buat beli bahan makanan bisa, masak bisa, beli pulsa buat googling resep bisa, tapi rumah awut-awutan dan bak cuci piring berantakan, tentu ini enggak banget. 
Dan di pesantren keahlian ini sangat penting ketika dapat giliran piket. Akan banyak mata yang melotot ketika kita tidak rapi menyapu dan membersihkan kamar.


Ketika sang ayah bertanya bagaimana dengan keahlian menjahit? Ternyata itu tidak termasuk keahlian mendasar baginya. Kita masih bisa hidup ketika baju atau celana robek sedikit. Atau bisa beli yang baru. Kan sudah bisa naik angkot 😅
Mengenai keahlian menjahit khususnya pakaian robek, ternyata ia sering dimintai tolong temannya untuk menjahitkan baju robek, celana robek, jilbab robek bahkan tas robek. Dan temannya akan membelikannya cilok seharga 2000 perak sebagai ucapan terima kasih. 😂😂
Ya...keahlian mendasar hasil pengamatannya boleh juga. Minimal buat saya, bisa jadi pertimbangan untuk membekali adik perempuannya. Terutama, masalah perangkotan. 
Makasih sayang....😍😍


*****
Sedikit tambahan ketika saya pertama kali 'memaksa'nya belajar naik angkot. Dengan wajah memelas, dia berkata, "ibu ngg khawatir kalau Muthi nanti diculik di angkot?" 
Hehee....pilihan kata-katanya benar-benar melorotkan semangat emaknya. 😁😁

Tapi tugas kita adalah mempersiapkan mereka untuk berpisah dengan kita. Bukan menyelesaikan semua persoalan mereka.
Kita tidak tau, sampai kapan kita akan selalu sehat dan kuat untuk mereka? Sampai kapan kita akan selalu siap antar jaga buat mereka?


Pasti tak akan lama. Mau tak mau, masa perpisahan pasti akan datang. Mari kita persiapkan masa itu. (nasehat buat diri sendiri)

💪💪

Karawang, 26 Mei 2019
hf💪


Pajak Progresif untuk Jawa Barat



Sedikit sharing kejadian pagi ini.
Pagi ini sy pergi ke Subang hendak menjemput si gadis yg baru pulang dari Malang setelah 10 hari pemantapan bahasa Inggris di kampung Inggris Malang, bersama teman-teman  angkatannya, kelas XI, Assyifa Boarding School, Subang.
Begitu keluar pintu tol Subang, ternyata ada operasi Zebra. Saya pede abis. Pakai seat belt, surat-surat lengkap, dan mobil dalam kondisi fit.
Ehh...taunya saya kena semprit juga. Disuruh minggir sama pakpol. Hati dag dig dug. Apa lagi yg salah?
Ketika pakpol memeriksa surat-surat, ternyata pajak mobil tahun ini belum saya bayar. Jatuh tempo 28 Maret. Sekarang sdh 19 April. Alamaak....saya dan suami kok bisa lupa? 
Tapi kemudian saya protes. "pajak mobil bukan urusan polisi, kan pak?"
Si pakpol, mungkin karena ego, bilang begini. "Kita kerjasama dg pemda bu. Bisa saja nanti ibu kami tilang, karena terlambat bayar pajak."

Halaaah...mana mungkin. Tidak ada tilang lalu lintas atas keterlambatan bayar pajak.
Akhirnya, saya diminta ke tenda tempat orang-orang pemda berada.
Di situ saya protes, bahwa urusan pajak, bukan urusan polisi. Dan saya tidak bisa ditilang. Ngomongnya agak keras lagi...

Pegawai pemda kemudian bilang, bahwa saya tidak di tilang hanya diminta bayar pajak. Lha....mana mungkin saya bayar pajak saat itu. Saya ke Subang niat jemput anak bukan buat bayar pajak. Mustahil saya bawa uang jutaan.
Akhirnya mereka mempersilahkan saya bayar pajak di Karawang. Ketika mereka mengecek berapa pajak mobil saya, mereka terkejut karena pajaknya terlalu tinggi untuk kategori mobil saya.
Waktu saya bilang ini mobil kedua, serentak mereka bilang, 
"Oo...kena pajak progresif." 
"Kenapa tidak atas nama ibu mobil yang satunya?"
"Bukannya percuma, pak? Meskipun nama pemiliknya berbeda tapi satu alamat, tetap kena pajak progresif?" tanya saya.
"Itu Jakarta bu. Meskipun namanya berbeda tapi alamat sama, maka akan dihitung sebagai yg kedua dan seterusnya. Sehingga kena pajak progresif. Tapi kalau Jawa Barat berbeda. Meskipun alamatnya sama tapi nama pemiliknya berbeda (atas nama suami, atas nama istri, atas nama anak), maka mobilnya tetap dianggap mobil pertama. Jadi tidak kena pajak progresif."

Ohhh...saya melongo. Berbeda toh??
"Lumayan lho bu...selisihnya. Mobil ibu ini kalau kena pajak progresif, pajaknya 5,4 juta. Tapi kalau dibaliknamakan ke ibu, sehingga jadi mobil pertama, pajaknya hanya 3,6 jt."
Itu mah bukan lumayan lagi. Uang segitu bisa buat beli bensin + tiket feri buat satu kali perjalanan mudik lebaran ke Padang.
Aduuh...saya jadi malu karena awalnya berkata agak keras kepada mereka, akibat illfeel sama si pakpol. Ternyata saya malah dapat pengetahuan yang bisa menghemat pengeluaran.
Moral of story. Jangan langsung emosi nanti jadi malu. 😂😂
Mudah-mudahan bagi teman-teman yg belum tahu tentang pajak progresif kendaraan di Jawa Barat, jadi tau.

****
Tulisan ini saya unggah di Facebook. Dan beberapa tanggapan dari teman, ternyata peraturan pajak progresif untuk daerah Jawa Barat, Jogjakarta dan Jawa Timur sama.

*****
Menulis untuk mengingat peristiwa.
Subang, 19 April 2018
Powered by Blogger.