Pengenalan bakat sedari dini, perlukah?


“Waah….Sayyid otak kanan banget”, kata Bu Hasri dan Pak Aziz ketika konsultasi pembacaan hasil ST (Strength Typologi) 30 Sayyid. Seharusnya konsultasi hasil ST-30 ini dengan kepsek SM Pak Sanjaya Koembara. Tapi berhubung beliau lagi honeymoon, baru saja menikah, (barakallahu...pak ) maka konsultasinya digantikan oleh guru senior, Bu Hasri Ainun dan Pak Abdul Aziz Jaelani.
Terlihat dari hasil ST-30 Sayyid, 4 dari 6 item di bagian Generating Idea – Otak Kanan, berwana merah (menandakan potensi kekuatan dominan). Sayyid kuat di bidang Creator, Designer, Marketer dan Visionary. Bagian otak kiri berwarna warna abu-abu (menandakan kelemahan sedang). Kemampuan di bidang E (Elementary) bagian administrasi, semuanya hitam (potensi sangat lemah). Sedangkan kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, berwarna kuning dan putih (menandakan potensi kekuatan sedang). Dan kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain, warna abu-abu dan putih (potensi kelemahan sedang).
Dari hasil ST-30 ini kelihatan potensi Sayyid ada dimana serta apa kekurangannya. Sehingga orang tua dan guru bisa bersama-sama membantu memperkuat apa yang menjadi kekuatannya dan mengatasi atau mensiasati apa yang menjadi kekurangannya.
Kenapa pengenalan bakat ini merupakan sesuatu hal yang penting?
Tahukah kita bahwa 87% mahasiswa Indonesia salah jurusan? Sehingga mereka pun kelak bekerja di bidang yang sebenarnya bukan potensi dirinya yang sesungguhnya. Kebanyakan dari kita memilih jurusan berdasarkan nilai tertinggi. Kalau nilai tertinggi biologi maka cenderung memilih jurusan yang berhubungan dengan biologi. Padahal nilai tinggi kadang bisa disebabkan oleh kecocokan cara gurunya mengajar sehingga mudah dipahami. Maka tak heran kalau bekerja kelak, kita hanya menjadi pribadi yang biasa-biasa saja. Atau malah bekerja di bidang yang bukan disiplin ilmunya.
Manusia diciptakan Allah sangat unik. Masing-masing dari kita membawa bakat dan kemampuan yang telah ditentukan Allah. Tidak pernah sama meskipunpun sudah milyaran manusia diciptakan Allah. Bahkan walau mereka kembar sekalipun. Begitu uniknya sehingga bisa dikatakan bahwa kita adalah Limited Edition.
Tapi tak gampang bagi kita mengetahui bakat dan kemampuan kita yang sesungguhnya. Padahal mengenali potensi diri sedari ini sangat penting.
Mungkin kita sering mendengar ayat ini:
اِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِاَنْفُسِهِمْ (سورة الرعد : الاية 11)
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d, Ayat 11).
Dalam ayat tersebut sangat jelas diterangkan bahwa Allah SWT, tidak akan merubah kehidupan sebuah kaum sehingga mereka mau merubah diri sendiri. Hal ini sangat erat kaitannya dengan menggali potensi diri jika ingin berubah.
Dan saat ini ada beberapa metoda yang cukup gampang dan sangat membantu kita dalam mengenali bakat kita masing-masing. Salah satunya adalah ST-30 dan TM-114. ST-30 (Strength Typologi) adalah metoda yang sederhana dan paling cepat untuk menemukan bakat. Dan metoda yang paling lengkap adalah TM-114 (Talents Maping 114).
Siapakah penemu metoda ST-30 dan TM-114 ? Beliau adalah Rama Royani atau yang lebih dikenal dengan nama abah Rama. Seorang lulusan ITB yang mantan direktur utama dari 5 perusahaan dan sekarang menjadi dosen.
Awalnya Talents Maping (TM) temuan Abah Rama dimasukkan ke dalam program kerja sama pengembangan SDM-BPPT. Seluruh karyawan BPPT mendapatkan tes TM. Selanjutnya TM pun dipakai oleh BUMN-BUMN lain seperti BNI dan banyak perusahaan lain dalam proses rekruitmen karyawan, counseling, penempatan jabatan atau promosi, pembentukan kelompok kerja (team building), pengembangan (development), pelatihan (training), career planning, dan performance management.
Tahun 2007 saat melakukan tes TM di ITB, Abah Rama menemukan hasil TM yang membingungkan. Hampir semuanya merah, kiri kanan, luar dalam.
“Gila”, kata Abah.
Yang dites tak kalah jawab,
“Iya saya memang gila, Pak. Empat orang psikolog melakukan tes ke saya dan semua bilang saya gila”. 
Siapakah si cerdas yang otak kanan dan otak kiri sama optimumnya serta kemampuan lain juga optimum? Dialah LENDO NOVO pendiri Sekolah Alam di Indonesia. Dari hasil tes TM, Abah memberikan saran bidang kerjanya yang optimal ada di Sosiopreneur. Lendo membenarkan dan merasa puas dengan hasil tes TM. Ini pula yang mengawali sejarah TM dipakai di Sekolah Alam, tempat Lendo Novo berkiprah. Dan TMpun masuk ke dunia sosial pendidikan.
Dan kata Abah Rama, “Saya bermimpi, di Indonesia, semua anak lulusan SMP, sudah mengenal dirinya”.
And…here we are.
Untuk mendukung pengembangan minat dan bakat anak di sekolah alam Karawang, maka tes ST-30 di lakukan kepada siswa kelas 8. Sedangkan TM-114 dilakukan kepada siswa kelas 9. Sehingga mereka benar-benar digali kemampuan dan bakatnya secara personal untuk kemudian dikuatkan. Insya Allah, kelak mereka tidak akan tersesat memilih SMA atau jurusan ketika kuliah.
Dan akhirnya saya tahu, kenapa Sayyid selama ini agak susah disuruh melakukan pekerjaan bersih-bersih secara rutin dan memuaskan. Karena ia bukan tipe pekerja. Ia adalah tipe pemikir.
Dan kita sebagai orang tua tak perlu membandingkan anak dengan teman-temannya yang menurut kita hebat di suatu bidang. Karena Allah menganugrahkan setiap anak dengan bakat dan kemampuan yang berbeda. Dan kelak mereka akan saling melengkapi. Apa jadinya dunia ini kalau semua orang menjadi pengusaha dan tak ada yang menjadi petani, dokter, guru dan lainnya?
Kadang kala kita ‘gemes’ melihat anak kita yang selalu mengalah kepada temannya. Punya sepeda, temannya yang memakai. Dan selalu mendahulukan kepentingan temannya dari pada dirinya. Tapi tahukah kita bahwa sebenarnya ia memiliki bakat di bidang server (melayani). Sehingga kelak kalau ia berprofesi sebagai dokter atau guru, maka ia akan menjadi dokter atau guru yang hebat.
Kita hanya perlu menemukan dan mengoptimalkan bakat dan kemampuan yang sudah diberikan Allah kepadanya. Karena mereka memiliki fungsi dan tujuan tertentu di masa depan kelak. Allahlah grand designernya. Maha Benar Allah.

Karawang, 25 September 2017

Ayah, Ibu, bermainlah denganku…. lomba blog #TantanganPengasuhanEraDigital



Siang sepulang dari Try Out Diknas, Sayyid makan siang dengan lahapnya. Saya memperhatikannya dengan bahagia.

Ibu       : Lahap benar makannya anak Ibu. Lapar banget ya?
Sayyid : Enggak. Masakan Ibu enak banget.

Lagi bikin gulai rebung plus daging. Untung GEER tidak dalam mode ON, karena sudah sering dengar beginian…

Ibu       : Masaak?
Sayyid : Iya. Tak tertandingi sedunia.
Ibu       : Kalau gitu boleh dong… ibu bikin rumah makan?
Sayyid : Jangaaan…nanti Ibu sibuk!
Ibu       : Emang kenapa kalau Ibu sibuk?
Sayyid : Nanti Ibu nggak bisa lagi main sama Sayyid.
(kejadian tanggal 11 Februari 2016)

Sederhana tapi ‘dalam’. Hanya bermain bersama yang ia pinta.

Apa sih istimewanya bermain? Kenapa juga harus dengan orang tua? Bukankah cukup dengan teman?
Bermain adalah dunia anak. Kebutuhan dan hak mereka yang paling mendasar. Kekurangan waktu bermain dimasa kecil dapat berdampak serius di kemudian hari.
Pada bulan Agustus 1966 di University of Texas, Austin, seorang pria berusia 25 tahun, mahasiswa teknik dan mantan penembak jitu di Angkatan Laut, melepaskan tembakan dari menara kampus universitas dan menewaskan 14 orang serta melukai 31 orang lain. Sehari sebelumnya, Charles Whitman membunuh ibu dan istrinya.
Yang dilakukan Whitman mengejutkan banyak orang. Dia tampak seperti orang normal lainnya, pernah menjadi putra altar, anggota termuda dalam kegiatan kepanduan Eagle Scout di Amerika, tidak memiliki catatan kriminal, cerdas, seorang suami, dan disukai banyak orang. Tentu saja peristiwa ini menjadi pertanyaan banyak orang, bagaimana mungkin dia melakukan tindakan keji ini?
Pemerintah Texas meminta seorang psikiater, Stuart Brown, untuk menganalisis dan menemukan jawabannya. Para ahli kesehatan jiwa dan psikolog yang tergabung dalam tim dokter Stuart Brown mempelajari kehidupan dan motif Whitman telah mengidentifikasi bahwa kurang bermain pada masa kecillah yang merupakan faktor utama dari tindakan pembunuhan ini.
Dokter Stuart Brown dan timnya menunjukkan fakta bahwa Whitman yang dibesarkan dalam suasana rumah yang penuh kekerasan, memang hampir tidak memiliki waktu bermain. Sejak lahir hingga berusia 18 tahun jiwa bermain bebasnya telah ditekan secara sistematis oleh ayahnya.

Begitu pentingnya kegiatan bermain bagi seorang anak. Karena dengan bermain mereka melatih kepekaan sosial, mengatasi stress dan membangun ketrampilan kognitif, seperti mengatasi masalah, serta melatih kemampuan berinteraksi dengan orang lain, suatu hal yang pasti mereka butuhkan ketika tumbuh dewasa kelak. Disamping itu penggunaan otot-otot tubuh ketika bermain dapat menstimulasi indra-indra mereka.
Dan kenapa bermain dengan orang tua juga penting? Ternyata manfaatnya juga tak kalah penting. Diantaranya mengikat hubungan anak dan orang tua, membuat mereka merasa dihargai dan disayangi, serta menumbuhkan rasa percaya diri. Dan di atas semua itu mereka akan bangga dan percaya kepada orang tua. Sehingga suatu ketika saat mereka menemui masalah, yakinlah, insya Allah… mereka tidak akan ‘lari’ kepada temannya atau orang lain. Orang tuanyalah yang pertama dicari dan menjadi ‘buku hariannya’.
Ketika anak-anak kecil dulu, kami selalu berusaha meluangkan waktu bermain dengan anak-anak. Si ayah tak sungkan bermain boneka dengan anak perempuannya. Dan sayapun tak sungkan bermain kelereng dengan anak laki-laki saya. Sungguh nikmat bisa bermain bersama dan tertawa lepas bersama.
Sekarang mereka sudah mulai beranjak besar. Yang dua orang sudah mulai dewasa (SMA dan SMP) dan yang bungsu masih kelas 5 SD. Alhamdulillah, kelekatan yang terjalin lewat bermain bersama membuat kami sangat dekat. Tak sungkan bercerita apa saja.
Seperti ketika anak kami Sayyid. Ketika kelas 1 SMP, setahun yang lalu, bercerita,

“Bu, sepertinya Sayyid gak lama lagi akan baligh”.
“Kenapa Sayyid berpikiran seperti itu?”
“Karena suara Sayyid sudah mulai berubah”.

Alhamdulillah, suatu kenikmatan ketika si bujang mau bercerita akan moment penting hidupnya yang sebentar lagi akan dia jelang, kepada Ibunya. Sebuah peristiwa yang menandakan masa kanak-kanaknya berakhir. Sebuah peristiwa yang biasanya tabu dibicarakan para anak bujang kepada ibunya. Dengan begini, saya dan ayahnya segera bersiap-siap dan memberikan pengetahuan yang perlu ia ketahui dengan bahasa yang dipilih sedemikian rupa sehingga ia bisa memahaminya dengan mudah, termasuk mengajarkannya tata cara mandi wajib ketika junub.
Bermain bersama memang membentuk ikatan kasih sayang. Mereka menjadi lebih mudah diberi nasehat dan masukan. Ketika anak gadis seusia anak perempuanku yang pertama tidak lepas dari gadget dan selfie, ia kularang berselfie ria. Menurutku tidak pantas seorang muslimah memamer-mamerkan diri di area publik seperti medsos yang akan dilihat segala macam manusia yang kita tidak tahu tabiat dan kelakuannya. Juga kularang untuk menjadikan dirinya seperti diary terbuka dengan sedikit-sedikit update status yang tidak penting, seperti pusing lah, capek lah, kesal dengan oranglah dan lain-lain.
Alhamdulillah dia menurut. Dari SMP sampai kelas 2 SMA sekarang dia sangat jarang update status maupun foto selfie di medsos. Gadget digunakannya sesuai fungsinya yaitu alat komunikasi dan fasilitas internetnya lebih sering digunakannya untuk membaca dan mencari data. Bahkan waktu luang sering digunakan untuk menulis dan membaca.. Sampai saat ini ia sudah menerbitkan 4 buah buku kumpulan cerpen maupun komik. Tanpa aktif di medsos, ia bukanlah orang yang kuper dan kudet. Dia adalah gadis yang supel, ceria, baik hati dan berprestasi.
Pengaruh buruk gadget terhadap remaja saat ini bukan main-main. Kalau dulu, jaman saya remaja, kenalakan remaja hanya sekedar tawuran, merokok dan ngebut-ngebutan dengan sepeda motor di jalan raya. Tapi sekarang benar-benar membuat jantung bisa copot
Mungkin kita sudah pernah mendengar fakta mengerikan yang terjadi di negara kita saat ini.
93 dari 100 anak SD telah mengakses pornografi
21 dari 100 remaja aborsi
135 anak korban kekerasan setiap hari
5 dari 100 remaja tertular penyakit menular seksual
63 dari 100 remaja berhubungan seks di luar nikah
Kekerasan seksual di sekolah terjadi 19 propinsi
Perkosaan terjadi di 34 propinsi
Kasus incest di 23 propinsi. (data dari lembaga Semai2045)
Seram sekali bukan?
Pakar-pakar psikologi telah banyak membahas penyebabnya. Salah satu yang saya tahu adalah di zaman modern sekarang, banyak orang tua yang sibuk mencari nafkah sehingga waktu dengan keluarga sangat kurang. Apalagi kalau ditambah dengan buruknya komunikasi orang tua dan anak. Sehingga pelarian anak adalah gadget. Pemakaian gadget yang tanpa batas dan tanpa filter, membuat mereka dengan mudah terpapar pornografi dan menjadi addict.
Sangatlah penting orang tua meluangkan waktu untuk anak yang telah diamanahkan Allah kepadanya. Dan bermain sangat efektif untuk mencairkan suasana sekaligus menjalin kasih sayang dari pada liburan ke tempat mewah tapi masing-masing tetap dengan gadget masing-masing.
Beberapa kali saya membuktikannya. Ketika kulihat anak pulang sekolah dengan wajah ditekuk, Saya tak langsung bertanya. Biarkan dulu sampai turun emosinya. Setelah makan malam saya ajak bermain. Kadang permainan untuk 2 pemain saja seperti congklak dan catur atau dengan mengajak saudaranya bermain kartu atau scrabble, atau lainnya. Kadang saya hanya membacakan buku cerita saja. Seringkali sambil bermain, meluncur sendiri ceritanya tentang kekesalannya di hari itu. Tapi adakala ceritanya baru mengalir saat menemaninya tidur. Kadang disertai tangisan kalau masalah terasa berat baginya.
Dengan bermain, kedekatan itu akan tercipta. Kasih sayang itu akan terjalin. Sambil bermain, kitapun bisa memberikan nasehat ringan sambil memperkuat nilai-nilai agama dalam upaya membentuk pondasi yang kokoh. Apabila itu rutin kita lakukan, insya  Allah, kitalah idola mereka. Kitalah tempat curhat mereka. Sehingga gempuran dari luar, insya Allah bisa terdeteksi dengan cepat dan bisa dihadapi bersama.

Sooo…. Bermainlah denganku ayah, ibu….
Luangkanlah waktumu untukku.

Menghidupkan Sunnah Rasulullah


Hari Rabu, pekan 1 sekolah, 2017

Sayyid, kelas 8 SM (sekolah menengah - penyebutan SMP di sekolah alam), pulang sekolah sambil ngomel2,
"Bu, Sayyid g mau lagi sekolah di sekolah alam."
"Oh....kenapa?", tanyaku.
"Masak, sekarang ada tidur siang, coba?", jawabnya dg emosi.
"Sayyid kan g suka tidur siang", tambahnya dg raut wajah masam.
Si adiknya yg baru kelas 5, langsung menimpali,
"Alyssa tadi tidur, Bu. Nyenyak", jawabnya.
Jadi ceritanya, di tahun ajaran ini, ada program baru di Sekolah Alam Karawang. Yaitu qoilulah atau tidur siang. Anak2 diberi waktu untuk tidur siang sejenak dari jam 11.15 sampai 11.45. Setelah itu bangun dan siap2 sholat dhuhur. Pada siswa SD, qoilulah lgsg dilaksanakan di pekan 1 sedangkan pada siswa SM pada pekan ke 2.
Tidur siang sejenak menjelang sholat dhuhur, bukan tanpa alasan. Tapi ini adalah melaksanakan Sunnah Rasulullah. Dulu kita, eh... maksudnya saya, mengira tidur siang yg baik itu setelah dhuhur. Dari jam 1 atau jam 2 sampai menjelang asyar. Ternyata, ketika tahun 2015 saat saya berhaji dan berkesempatan mengunjungi museum perjuangan Rasulullah di samping masjid Nabawi, di salah satu dindingnya tertampang tulisan yg besar tentang jadwal kegiatan harian Rasulullah dari bangun tidur sampai tidur kembali. Rasulullah tidur siang sebelum dhuhur dan bangun ketika Bilal mengumandangkan adzan dhuhur. 

Masya Allah, ternyata kita, eh...lagi2 saya maksudnya, salah. Sebagaimana salahnya pemahaman saya tentang buah2an. Mengira waktu terbaik untuk memakan buah2an adalah sesudah makan nasi. Padahal Rasulullah memakannya sebelum makan pati inti (karbohidrat dan protein). Dan beratus tahun kemudian penelitian medis membuktikan, saat terbaik memakan buah2an adalah seperti cara Rasulullah, sebelum makan nasi.
Kemudian kamipun terlibat diskusi singkat nan asyik tentang sunnah Rasulullah. Setiap Sunnah Rasulullah pasti mengandung kebaikan. Semisal Sunnah tentang anjuran berenang, memanah dan berkuda. Padahal kalau dipikir, bagaimana mungkin 1400 tahun yang lalu Rasulullah sudah menganjurkan berenang sementara beliau hidup di daerah yg tandus, minim air. Tapi ternyata, Masya Allah, sejarah membuktikan manfaat dari berenang sangatlah banyak. Saya sdh membuktikannya pada Sayyid dan Alyssa. (Sstt.....lain waktu saya ceritakan ttg hal ini).
Pekan ke 2 sekolah, 2017.
Dan....
Ketika hari pertama pelaksanan tidur siang di SM, saya lgsg bertanya kepada Sayyid ttg pengalaman qoilulahnya, sesaat ia pulang sekolah.
Dengan tersipu dia menjawab,
"Tadi Sayyid capek banget. Pas qoilulah Sayyid ketiduran."
Naaaahhh.....
Makanya jangan protes dulu. Ternyata bisa kan? 😁😁
Kadang, ada kalanya ketika kita menerapkan aturan di rumah, tidak bisa berjalan mulus. Tapi di sekolah, dengan bantuan guru dan suasana lingkungan (terutama teman2) yg kondusif, aturan itu bisa berjalan.
"Bu, katanya orang yg membiasakan tidur siang sejenak itu, cerdas2 ya?", tanyanya.
"Insya Allah", jawabku mantap.
Setiap Sunnah Rasulullah pasti mengandung kebaikan. Sekarang pilihan kita sebagai umat Rasulullah, adalah mengikuti dan menghidupkan sunnahnya atau meninggalkan sunnahnya.
Sungguh, nikmat Allah mana lagi yang kau dustakan?

Part #5. Puncak Lawang Nan Terkenal


Jalan-Jalan ke Ranah Minang tentu tak lengkap kalau tak mampir ke salah satu danaunya yang indah. Ada 5 buah danau indah di Sumatera Barat yaitu danau Singkarak, danau Maninjau, danau kembar (danau Di Atas dan danau Di Bawah), dan danau Talang.
Danau Singkarak dan danau kembar sudah kami kunjungi 2 tahun yang lalu. Yang sangat berkesan bagi anak-anak adalah memakan kerang danau Singkarak, yang merupakan kerang air tawar yang berukuran kecil dan gurih. Di sini disebut pensi. Dulu 1 bungkus ukuran sedang seharga Rp 5.000,-. Membuat anak-anak bolak-balik membeli kerang lezat ini. 😅😅😅
Kali ini kami bermaksud melihat danau Maninjau, danau terluas kedua di Sumatera Barat. Tapi hanya melihat saja. Tidak akan bermain air. Karena dulu sudah pernah bermain air danau ketika ke danau Singkarak dan danau Di Bawah. Kami akan melihat danau Maninjau dari suatu ketinggian, dari tempat yang sangat terkenal bahkan sampai ke mancanegara, yaitu Puncak Lawang.

Jalan menuju Puncak Lawang dengan latar belakang Gunung Singgalang

Puncak Lawang merupakan nama suatu puncak nan asri, sejuk, rimbun dan deretan pohon pinus yang berjajar rapi, yang terletak di dataran tinggi di Kecamatan matur, Kabupaten Agam Sumatera Barat, tepatnya di ketinggian 1.210 mdpl. Di zaman penjajahan, Puncak Lawang merupakan tempat peristirahatan bangsawan Belanda.

Perjalanan kami di mulai dari Padang Panjang. Kemudian kami memasuki daerah Sungai Tanang, Koto Tuo, Balingka, terus ke Matur dan Puncak Lawang. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang memanjakan mata karena keindahannya. Kiri kanan jalan terhampar perkebunan atau persawahan dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Perumahan penduduk yang tersusun rapi dan unik karena didirikan di tanah dengan kontur naik turun, udara yang sejuk, serta perkebunan tebu Lawang, sungguh membentuk harmoni yang menenangkan jiwa. 


Perjalanan menuju puncak Lawang dengan latar belakang Gunung Merapi



 Hamparan tebu Lawang di kiri kanan jalan



Di samping pemandangan yang indah, perjalanan itu sendiripun sangat menantang. Jalan yang naik turun, kadang landai kadang terjal, serta ditingkahi tikungan tajam dan dibatasi jurang yang dalam, benar-benar membuat kita berada dalam eforia, kagum dan syukur kepada sang Pencipta.

Dan di tengah perjalanan, ada spot pemberhentian untuk melepaskan ketegangan sambil melihat pemandangan ke bawah yang sangat indah, yaitu di panorama Sungai Landia.

                                    
 Pemandangan ke bawah dari Panorama Sungai Landia

Oh ya, daerah Lawang ini merupakan sentra pembuatan gula merah dari tebu. Gula merah ini oleh penduduk setempat dikenal dengan nama saka Lawang. Pembuatan gula merah dari tebu ini, hingga kini masih mempertahankan cara traditional yaitu menggunakan tenaga kerbau. Kerbau memutar alat pemeras tebu untuk mendapatkan air tebu, yang kemudian diolah menjadi gula merah. Pengolahan tradisional ini, sangat menarik minat wisatawan asing untuk menyaksikannya.

Jalan masuk menuju objek wisata Puncak Lawang

Akhirnya sampailah kami di puncak Lawang. Dari tempat ini, kita bisa melihat Danau Maninjau seutuhnya. Kalau cuaca cerah, akan terlihat danau yang biru tenang bagaikan kaca raksasa. Bahkan laut Pariamanpun akan terlihat dari celah bukit yang mengelilingi danau Maninjau. So beuatiful. Tapi kalau lagi berkabut, pemandangan lebih spektakuler lagi. Kita seakan-akan berada di negeri di atas awan. Danau yang seluas 99,5 km2 menjadi tidak terlihat dari atas sini. Pemandangan full putih. Tapi kabut di sini, secepat dia datang, secepat itu pula dia pergi. Benar-benar luar biasa.

Danau Maninjau

Ketika kami sampai di sini, kabut datang dan pergi. Udara juga sangat sejuk. Sehingga benar-benar membuat betah.


Di puncak Lawang ini ada tiga spot wisata. Yaitu Puncak Lawang, Lawang Park dan Ambun Tanai. Ketiganya berada di lokasi yang berdekatan. Ketiganya menawarkan pemandangan ke danau Maninjau yang Indah. Kecuali Ambun Tanai, Pundak Lawang dan Lawang Park memiliki resort buat yang ingin menginap dan bersantai di sini. Kalau akhir pekan apalagi liburan, tempat ini akan penuh oleh wisatawan yang berlibur.


Di samping sebagai destinasi wisata, Puncak Lawang juga menjadi tempat favorit untuk olah raga paralayang. Puncak Lawang terkenal sampai ke manca negara karena merupakan spot terbaik paralayang di Asia Tenggara. Sehingga Puncak Lawang sering digunakan untuk kejuaraan olahraga paralayang kelas internasional.

Sebuah resort di Lawang Park dengan latar belakang kabut

Karena kedatangan kami 2 hari menjelang Hari Raya Idul Fitri, kegiatan paralayang ditiadakan. Padahal anak-anak sangat ingin mencoba. Saya hanya bisa bersyukur. Sebagai seseorang yang cukup penakut terhadap olahraga ketinggian, saya jadi tidak perlu repot-repot melarang anak-anak yang sangat bersemangat terutama Muthi yang ketagihan setelah pernah mencoba olah raga parasailing di pantai Ayer. Lagi pula, biaya paralayang cukup mahal. Untuk pemula diharuskan tandem dengan instruktur paralayang dengan biaya 700 ribu rupiah. Bayangkan kalau Muthi dan Sayyid ikut paralayang, woow…banget kan budgetnya 😀😀😀


Ambun Tanai

Di sini juga ada area outbond buat anak-anak. Ada flying fox, two line bridge dan lain-lain. Untuk flying fox saja hanya dikenakan biaya 25 ribu rupiah. Tapi kalau ambil paket outbond lengkap cukup 65 ribu saja. Cukup murah.
Setelah puas di puncak Lawang ini, anak2 pun sudah menjajal outbondnya, kamipun turun melewati kelok 44 yang terkenal itu. Sebuah penurunan dengan 44 belokan tajam dengan pemandangan danau Maninjau yang indah. Terus turun sampai ke danau Maninjau. Di danau Maninjau kami melihat keramba apung tempat memelihara ikan Mas dan ikan Nila. Kemudian kami lanjut ke Lubuk Basung, Tiku Pariaman dan Padang. Akhirnya…sampailah kami di rumah nenek tercinta. 
😍😍



Keramba apung di danau Maninjau




Ekspresi Diri

Lihatlah....


Bagaimana anak Sekolah Alam Karawang mengekspresikan dirinya dalam berpakaian.
Tak peduli pakem fashion. Tak peduli matching atau tidak. Semua sesuka hati saya. Senyaman saya. Lihatlah Alyssa hari ini. Berjilbab pink, baju oranye, rok merah tua dan tas biru.

Mungkin bagi kita orang tua, pilihan warna atau selera berpakaiannya 'payah'. Karena pikiran kita seringkali dikotomi oleh 'apa kata orang'. Takut sekali menjadi bahan ejekan kalau selera kita 'payah', norak dan kampungan.

Padahal selera berpakaian, matching atau tidaknya, bukanlah tujuan kita dalam berpakaian. Tujuan kita berpakaian adalah untuk menutup aurat dengan busana yang rapi dan bersih.
Itulah perintah Allah dan rasulNya.

Di Sekolah Alam Karawang, ada tiga hari dalam seminggu, mereka bebas mengeksperikan diri dalam berpakaian. Tiada seragam hari itu. Sehingga mereka bebas memakai apa saja yang mereka inginkan. Tentu saja harus sesuai dengan syariah Islam, yaitu menutup aurat.
Dan memang, kebebasan dalam mengekspresikan diri, itu adalah bagian dari pembelajaran. Tak semua hal harus diseragamkan. Tak semua hal harus dipaksakan untuk serupa. Kelak itu akan melatih mereka untuk berfikir kreatif. Out of the box. Tapi yg terpenting, kebebasan itu ada pakemnya yaitu tidak keluar dari perintah Allah dan RasulNya.


Mudah-mudahan engkau Istiqomah sampai ajal menjemput ya, nak. Dan tentu saja, pakem fashion sedikit-sedikti mulai diikuti supaya tak silau mata orang.😀😀😀😀😀

#4. Rumah Gadang Nan Memikat


Setelah beberapa kali pulang ketika lebaran, baru tahun ini kami bisa membawa anak-anak berkunjung ke istana kerajaan Minangkabau yang terletak di Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Wilayah kerajaan Minangkabau ini cukup luas, konon meliputi wilayah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Jambi dan sampai ke Negeri Sembilan Malaysia.

Istana Si Linduang Bulan

Di kota Batusangkar ini ada dua buah istana yaitu Istana Si Linduang Bulan dan Istana Baso Pagaruyuang. Istana Si Linduang Bulan ini pertama kali didirikan tahun 1550 oleh Daulat Yang Dipertuan Raja Gamuyang Sultan Bakilap Alam (Sultan Alif Kalifatullah Johan Berdaulat Fil’Alam I), Raja Alam sekaligus pemegang jabatan Raja Adat dan Raja Ibadat Pagaruyung. Tahun ini sebagai penanda awal diberlakukannya secara resmi hukum syariat Islam di seluruh kerajaan Pagaruyung menggantikan hukum-hukum yang bersumber dari agama Buddha Tantrayana.
Istana ini pernah terbakar ketika berkecamuknya perang Paderi tahun 1821 dan kemudian dibangun kembali tepat di tapak istana yang lama pada tahun 1869 oleh Yang Dipertuan Gadih Puti Reno Sumpu, kemenakan dari Sultan Tangkal Syariful Alam Bagagar Syah Yang Dipertuan Hitam.
Saat ini Istana Si Linduang Bulan sering digunakan untuk acara pemerintahan termasuk menerima tamu-tamu negara.

Berjarak 1 kilometer dari Istana Si Linduang Bulan, terdapat Istana Baso Pagaruyung.

Istana Baso Pagaruyung

Istana Baso Pagaruyung merupakan kediaman dari Raja Alam, sekaligus pusat pemerintahan dari sistem konfederasi yang dipimpin oleh triumvirat (tiga pemimpin) berjuluk 'Rajo Tigo Selo'. Sistem kepemimpinan ini menempatkan Raja Alam sebagai pemimpin kerajaan dengan dibantu dua wakilnya, yaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo serta Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus. Kedua wakil ini memutuskan berbagai perkara yang berkaitan dengan permasalahan adat serta agama. Tetapi, jika suatu permasalahan tidak terselesaikan maka barulah Raja Pagaruyung (Raja Alam) turun tangan menyelesaikannya.
Istana ini mengalami beberapa kali kebakaran. Istana asli dibakar oleh Belanda tahun 1804. Kemudian terbakar kembali tahun 1966. Oleh Gubernur saat itu, Harun Zain, Istana Baso ini didirikan kembali tahun 1976 sesuai bentuk aslinya, tapi tidak di tapak istana yang lama, melainkan di lokasi baru di sebelah selatannya. Terakhir tahun 2007, istana ini kembali terbakar. Kali ini disebabkan oleh sambaran petir di atap istana.
Sesuai namanya Baso (besar), istana ini sangat besar dan megah. Terdiri dari 3 lantai dengan peruntukan yang berbeda.
Lantai pertama berupa ruangan luas yang memajang berbagai benda dalam etalase, kamar-kamar untuk anak perempuan yang sudah menikah, dan sebuah singgasana di bagian tengah. Jika istana dilihat dari luar maka akan tampak bangunan yang memanjang dengan bagian yang lebih tinggi diujung kanan dan kirinya. Bagian ini disebut sebagai anjuang.

Lantai 2 disebut sebagai anjuang Paranginan yaitu kamar anak perempuan raja yang belum menikah. Sedangkan lantai ke-3 adalah ruang penyimpanan harta pusaka raja sekaligus tempat rapat khusus Raja 3 selo.
Rumah Gadang ini didirikan dengan memperhitungkan gejala alam yang sering terjadi di Minangkabau. Karena berada di jalur patahan memanjang dari Aceh sampai Lampung, maka di Minangkau sering terjadi gempa. Sesuai dengan filosofi Minangkabau ‘Alam Takambang Jadi Guru’, yang kira-kira bermakna alam yang terhampar merupakan guru atau media pembelajaran, maka masyarakat Minangkabau membuat rumah adat yang tahan terhadap gempa. Seluruh tiang Rumah Gadang tidak ditanamkan ke dalam tanah, tetapi bertumpu ke atas batu datar yang kuat dan lebar. Seluruh sambungan setiap pertemuan tiang dan kasau (kaso) besar tidak memakai paku, tetapi memakai pasak yang juga terbuat dari kayu. Sehingga ketika terjadi gempa, Rumah Gadang ini akan bergerak secara fleksibel meski diguncang oleh gempa yang dahsyat.
Saat ini Istana Baso Pagaruyung menjadi objek wisata dan dibuka untuk umum.
Meskipun Rumah Gadang ini merupakan rumah adat Minangkabau, tetapi kita tidak bisa menemukannya di seluruh Sumatera Barat. Karena yang boleh mendirikan rumah adat ini, hanya pada kawasan yang sudah memiliki status sebagai nagari di daerah ‘darek’. Daerah darek adalah daerah asli kerajaan Minangkabau yaitu Luhak Tanah Datar, Agam, dan 50 kota. Sedangkan di luar daerah yang tiga itu di sebut daerah rantau. Para perantau Mingkabau dari dahulu tidak mendirikan Rumah Gadang.
Berikut ini foto-foto dari rumah adat Minangkabau, yang berfungsi sebagai rumah penduduk. Semuanya merupakan hasil seni yang indah. Baik dengan ukiran maupun tanpa ukiran.

Note
Tulisan ini selesai berkat sponsor dari anakku Sayyid Al Hakim 😍😍😍
Ceritanya, keyboard komputerku rusak. Dan kudiamkan saja tanpa dibawa ke tukang service maupun beli yang baru. Ternyata ini menjadi perhatian si bujang. Diam-diam dia melakukan pembelian keyboard secara online ke website Tokopedia dan melakukan pembayaran diam-diam ke Alfamart dekat rumah dengan uangnya sendiri. Dan ketika paketnya datang, dengan ceria dia berkata, “Ini surprise untuk ibu. Spesial Sayyid belikan untuk ibu”.
So sweeeet....❤️❤️❤️ 
Ibu tiba-tiba speachless.
Pelukan dan belaian di kepalanya kuberikan sambil berkata, “terima kasih Sayyid. Barakallahu ya, nak sayang”.😘😘😘
Dan tulisan yang tertunda seminggu inipun selesai.😁









Powered by Blogger.