Kasih sayang penguat jiwa


Mumpung dua orang anak kami lagi di asuh gurunya, uppss....maksudnya lagi bersama gurunya, (si bujang lagi backpacker bersama teman-teman sekelas dan gurunya ke Bangka Belitung selama 7 hari dan Alyssa sedang jalan-jalan penutupan lesnya ke Sasak Panyawangan, Purwakarta) serta si Uni lagi mager nggak mau kemana-mana, maka saya dan si ayah ke Jakarta berdua saja.
Tujuan kami menengok saudara yang lagi sakit.
Yg pertama adalah kakak kandungku yang lagi di rawat di RSCM karena trombositnya turun terus meskipun sudah beberapa kali transfusi darah.
Sekarang dalam penanganan dokter ahli penyakit dalam sub spesialis darah. Semoga segera ketahuan penyebabnya dan penanganannya. Mudahkan ya Allah...
Yang kedua adalah tetanggaku di Jl. Banowati. Kami memanggil beliau neli (nenek lincah) krn beliau memang lincah di usianya yang tidak muda lagi. Selalu ceria dan selalu bersemangat.
Beliau sekarang menderita kanker paru dan tumor di paru. Krn pengobatan penyakitnya beliau sekarang tinggal di Jakarta bersama anak-anaknya.
Beliau sudah menjalani 5x kemoterapi. Tinggal 1x lagi. Tapi setiap hendak di kemo yang terakhir, kesehatannya ambruk. Shg tak memungkinan untuk di kemo. Sdh 2x gagal terus.
Dalam bayangan saya, beliau tentu mengalami kebotakan, kulit menghitam, wajah yang kuyu, letih, menahan sakit, dan lain-lainnya efek kemo.
Tapi masya Allah, yang saya saksikan adalah wajah yang segar, putih bersih, dan selalu tersenyum seperti biasanya, serta rambut seperti biasa. Tak rontok.
Tak ada efek kemo yang membekas di wajah atau tubuhnya. Pun ketika saya tanya, apa yang beliau rasakannya saat ini. Jawabannya hanya sesak nafas kalau tak pakai oksigen. Beliau sekarang selalu memakai oksigen. Sehari menghabiskan 7 tabung oksigen ukuran 1 m³.
Saya mereka-reka kenapa nenek neli seperti org yang bukan 'get a cancer'.
Saya perhatikan....
Ketika saya datang, nenek neli sedang tertawa-tawa dg suaminya di depan tv. Hmm...akrabnya. 😀
Suaminya pun bercerita, karena nenek neli sdh lemah, sekarang pakai kursi roda, ia yang memandikan nenek neli pagi dan sore. Dan mengambilkan kebutuhannya.
"Badannya sudah kurus sekarang", katanya sambil menyentuh lembut sang istri.
Si kakek juga menceritakan perjuangannya bolak balik mengantar si nenek ke rumah sakit, buat kemo atau karena neli drop, mencari darah dan oksigen dan lain-lain.
Tapi Ia menceritakan bukan dengan nada sedih apalagi terpaksa. Tapi dengan wajah penuh kasih sayang dan perhatian.
Hmmm... sepertinya ini rahasia nenek neli kenapa beliau tak terpuruk dengan sakitnya. Ia punya suami yg mencintai dan menjaganya sepenuh hati. Ini sumber kekuatannya.
Barakallahu... 😍
Ya Allah, angkatlah penyakit kakak hamba dan nenek neli, beri mereka kesembuhan yang paripurna dan jadikanlah sakitnya ini penggugur dosanya. Aamiin... 🙏🙏

Jakarta, 23 Juni 2019

Ketika si buah hati berbohong


Kemarin ada pertanyaan menggelitik di wag sekolah anak. "Apa sih solusi menghadapi anak yg suka bohong dan mengarang spontan, ketika ditanya orang tua?"
Setelah berapa jam berlalu, belum ada yg menjawab. Sy tergoda untuk menjawab. Bukan krn sy seorang psikolog, apalagi ahli parenting. Bukan. Saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa dg pengalaman jd ibu PAS 20 th 1 bulan 1 hari, hari ini. (Upss.... Ketahuan deh, tuanya 😂) Masya Allah. Alhamdulillah atas karuniaMu ya Allah.
Sengaja sy share di sini, mungkin ada psikolog atau ahli parenting yg berkenan menambah atau mengurangi jawaban saya ini.
Siapapun orang tua tentu pernah mengalami anak berbohong. Awalnya tentu kaget. Kok bisa2nya mereka berbohong? Siapa yg mengajari? Biasanya, awalnya, kita menanggapi dg emosional. Tak terima mereka berbohong. Tapi lama2 kita bisa mengambil benang merah di kondisi seperti apa mereka berbohong.
Dan berdasarkan pengalaman, saya merasa, bohong itu ada 2 kategori. Dan penanganannya juga berbeda.
1. Bohong untuk melindungi diri. 
Ini bohong spontan. Ketika melakukan kesalahan, karena takut orang tua marah, dan dihukum, mereka berbohong untuk melindungi dirinya.

Penanganan saya, sy introspeksi. Apakah amarah saya yg membuat mereka takut atau hukuman saya yg terlalu berat sehingga mereka cari aman dg berbohong.
Kemudian sy ajak si anak berbicara di lain waktu dlm suasana santai. Bahwa bohong itu tidak baik, dosa. Melakukan kesalahan itu salah ditambah berbohong, salahnya jd 2. 
Jadi lebih baik jujur ketika melakukn kesalahan. Ibu TIDAK AKAN MARAH tp tetap ada konsekuensi.

Konsekuensi ini harus dibicarakan terlebih dahulu dg anak. Bikin kesepakatan. Shg ketika pelangggaran terjadi mereka tidak protes, marah atau ngamuk ketika harus menjalankan konsekuensi. Konsekuensi ini biasanya sy sesuaikan dg kesukaan anak. Apa yg dia suka itu yg sy jadikan konsekuensi.
Misal, si sulung Muthi sangat suka membaca. Jd hukumannya hari itu tidak boleh pegang buku. Si sayyid yg sangat suka jajan, maka hukumannya, uang jajan besok di potong. Si bungsu Alyssa suka nonton film anak2, hari itu tidak boleh nonton. Dll
Jd klu sy melihat sesuatu yg tidak beres, sy tinggal bilang, "ayoo... Siapa yg melakukn? Jujur aja. Ibu g marah". Biasanya mereka dg cepat mengaku. Kemudian konsekuensi diterapkan.
Menerapkan konsekuensi ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Yg sulit itu menahan marah. 😁 Gimana g emosi, misal, foto pernikahan ukuran besar jatuh ke lantai dg pecahan kaca berhamburan ke seluruh ruangan gara2 kena tendang bola si mungil Sayyid yg iseng main bola dlm rumah? Hahaa... Pengen langsung masukin kepala ke dlm kulkas. Biar adem.
Tapi krn janji tidak marah, dia lgsg lari memeluk sy, minta maaf dan mengaku salah, segera dia sy suruh ke kamar dan sy pun membersihkan pecahan kaca yg bikin senewen krn byknya. 😊
2. Bohong krn krisis kepercayaan diri
Nah ini terjadi kepada si bungsu sy, Alyssa. Klu tak salah kejadiannya ketika dia TK

Klu ada temannya yg cerita ttg liburan, dia juga akan bercerita ttg liburan yg dia karang sendiri dg lebih dahsyat. Klu kakaknya cerita ttg mimpi semalam, dia juga cerita mimpinya semalam (yg dikarang) dg kejadian yg lebih hebat dr sang kakak. Pokoknya dia suka nimbrung pembicaraan dg cerita lebih dahsyat dr orang lain.
Mula2 sy diamkan saja. Lama2 kok makin sering. Tp sy lihat dia berbohong bukan untuk menipu atau menyelamatkan diri. Dia berbohong hanya agar terlihat lebih hebat. Sy merasa ini hanyalah masalah kepercayaan diri.
Sindrome anak bungsu klu menurut sy. Yg biasanya selalu kalah hebat dalam pengalaman dr sang kakak atau kalah trampil dlm melakukan sesuatu pekerjaan dr kakak. Makanya dia berusaha mencuri perhatian di setiap ada kesempatan.
Penanganan dr sy adalah memberikan perhatian yg lebih besar kpd si bungsu. Bersungguh2 mendengarkn ceritanya walau sesepele apapun ceritanya. Memberikan semangat bahwa apa yg ia lakukan adalah hebat. Sambil terus membisikkan bahwa ia harus jujur. Tidak boleh berbohong krn bohong itu adalah dosa.
Alhamdulillah kebiasaan itu akhirnya hilang.
Berbohong yg dilalukan oleh seorang anak (kecil) , merupakan tahapan wajar dlm proses tumbuh kembang mereka. Yg penting kita bersabar mengarahkannya. Jgn sampai berbohong itu menjadi karakter.
Karawang, 30 Mei 2019

Janjiku Terpenuhi...



Sekitar 5 tahun yang lalu, saya dan Muthi mengikuti pelatihan menulis non fiksi bersama Asma Nadia di Jakarta. Ingin lebih mengenal dunia tulis menulis bersama penulis terkenal di Indonesia. Di acara itu kita diminta berjanji untuk menerbitkan buku sendiri minimal sekali seumur hidup. Hati terlecut. Bagaimana tidak, anak gadisku yang ketika itu masih kelas 2 SMP sudah menerbitkan 2 buah buku. Umurnya belum 15 tahun. Aku? Sudah lebih 40 tahun. 
Kemudian, Allah yang Maha Penyayang memberangkatkan aku dan Suami ke Baitullah untuk melaksanakan haji dan umroh tahun 2015. Mengingat anak yang masih kecil-kecil, tak mungkin rasanya aku menceritakan perjalan haji ini secara utuh kepada mereka. Sementara kalau disimpan di memori otak, sepanjang mana hal itu akan tersimpan? Umur yang bertambah tua, pelupa merupakan kepastian. Mending kalau lupa, kalau tak ada umur?
Makanya dari sebelum berangkat, saya sudah berniat hendak mencatat perjalanan ibadah yang luar biasa ini secara cermat. Harta berharga yang hendak ku wariskan kepada anak-anak.
Alhamdulillah, Allah memudahkan semuanya buatku, Tulisan yang terangkum dalam 2 buah buku tulis ini, sempat hilang 1 buku di Madinah. Teman-teman seperjalanan juga pembimbing kami pak ustad Yono, ikut mendo'akan agar buku ini ditemukan kembali. Alhamdulillah, tiga hari kemudian setelah berdo'a khusus di Raudhah akhirnya buku bersejarah itupun ditemukan.
Dan... 3 tahun kemudian, setelah disusun ulang serta dilengkapi syariat-syariat dan hukum-hukumnya buku yang di beri judul "Hajiku Hanya UntukMu" inipun terbit.
Alhamdulillaah.... Wa syukurilah.
Launching dan bedah buku "Hajiku Hanya UntukMu" tanggal 28 April 2019 berjalan dengan lancar dan sukses.






Acara ini dibuka dengan berbagai sambutan dan apresiasi dari Pak H. Arwan Kurnia, Pak Dr. H. Puji Isyanto, Ustad Jajat Sudrajat Lc, MA, dan Ust. Drs. Yono Waryono.
Kemudian lanjut dengan bedah buku oleh Ustadzah Umi Nurmuslimat, yang dipandu oleh Bu Hj Ade Uun Khayatun Nufus.

Sungguh suatu peristiwa yang tak pernah terbayangkan olehku sebelum ini. Jangankan membayangkan, terpikirkan pun tidak. Tp inilah kuasa Ilahi. Allah lah yg make it true. Masya Allah.
Tanpa banyak kata, hanya harapan agar buku ini bermanfaat buat yg membaca. Memahami tata cara berhaji, semudah memahami novel. Tak perlu waktu khusus, hanya perlu waktu santai di sela-sela kegiatan untuk membaca buku dengan bahasa yang ringan tapi terstruktur dan berbobot. Tak perlu berkerut kening karena bahasa yang text book, buku ini berbahasa renyah bahkan bisa membuat air mata tumpah.
Bukan promosi. Sueeer....
Hanya beriklan. Hallaah. 😂😂

Banyak pihak yg telah membantu agar buku ini selesai. Untuk itu saya menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat suami tercinta Irvan Amran, Ustad Yono Waryono, ibu Ustadzah Umi Nurmuslimat, yayasan Lampu Iman Karawang, dan teman-teman haji KBIH Lampu Iman. Jazakumullah khairan katsira.



Juga ucapan terima kasih atas penyelenggaraan launching dan bedah buku ini yang sudah di atur dengan sedemikin cermat oleh bu Umi Nurmuslimat, pak Ustad Yono, juga bantuan teman-teman lainnya, bu Hj Yanti Lathifah, bu Mulyana Yana, bu Rika dan Bu Ade.
Semoga Allah membalas budi baik semuanya dengan kebaikan yang tak terhingga. Aamiin ya rabbal'alamiin. Luv you all 😍😍

Temani Aku.....






Tahun ini, ketiga-tiganya anak kami akan menyelesaikan jenjang pendidikannya masing-masing. Si Sulung akan menamatkan SMAnya, Si Bujang akan menamatkan SMPnya dan si Bungsu akan menamatkan SDnya. Emak pusing. Bukannya hanya masalah uang, tapi juga masalah sekolah baru. Kalau si Bungsu Insya Allah akan melanjutkan SMP di yayasan yang sama. Nah, ini bikin emak agak tenang. Si Sulung, masih tanda tanya. Emak sih berharap ia lulus SNMPTN. Tapi lulus SBMPTN pun Alhamdulillah. Atau kalaupun tidak, lulus universitas swasta pun, tak apa-apa. Yang bikin galau tingkat tinggi adalah si Bujang. Ia mau masuk pesantren. Kalau tak lulus, waah...repot. Mau kemana lagi? Wong...pesantren itu swasta.😂😂 

Alhasil, awal tahun ini, keluarga kami jadi sibuk mondar mandir ke luar kota. Si bujang, Sayyid, mengikuti tes masuk pesantren/boarding school di empat lembaga pendidikan yang tersebar di 3 kota. Satu di Bandung, satu di Karawang dan dua di Sukabumi


Melanjutkan SMA di sekolah boarding atau pesantren, memang merupakan pilihan kami bersama. Ada beberapa hal yang hanya bisa dicapai oleh Sayyid dengan bersekolah di sekolah berasrama. Maka Sayyid mencoba peruntungan di empat sekolah sekaligus. Kenapa begitu banyak? Ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Salah satunya adalah masuk sekolah boarding sekarang sulit. Kalau hanya mengandalkan satu sekolah, kami khawatir apabila ia tidak lulus, terus ingin tes di tempat lain, pendaftaran sudah tutup semua. Walau akhirnya ternyata ia LULUS di semua sekolah yang ia ikuti. Alhamdulillah.

Total bolak balik kami dalam 2 bulan adalah 5 kali bolak balik ke luar kota. Empat kali karena tes, 1 kali untuk memastikan sekolah yang akan Sayyid ambil dari 4 pilihan itu. Yaitu SMA Pesantren Unggulan Al Bayan Anyer. Itu belum dihitungkan dengan survey yang dilakukan ke sekolah-sekolah tersebut di akhir tahun kemarin, sebelum mendaftar. 

Melelahkan? Pasti. Bahkan ketika dalam perjalanan menuju SMA PU Al Bayan ke Anyer, si bungsu Alyssa sudah mengeluh capek dan bosan pergi-pergi terus. Kasihan Alyssa. Harus ikut merasakan capeknya mondar mandir mencari sekolah yang bukan untuk dirinya.

Tapi yang menjadi perhatianku bukan itu. Tapi kalimat penyertanya,
“Kalau Alyssa survey pesantren nanti, juga tes masuknya, uni dan uda harus IKUT menemani,” nadanya tegas.

Masya Allah….ternyata ia mengamati dan berpikir cukup jauh. Si cuek ini, yang kadang kami melihatnya sebagai anak yang tak mau repot berpikir, lebih cenderung seperti air mengalir saja, riang dan enjoy, ternyata bisa juga berpikir mendalam.

Ternyata ia mengamati, ketika kakaknya si Uni Muthia mencari sekolah, kami berlima bahondoh pondoh (ramai-ramai ; minang red) pergi sekeluarga. Di sepanjang jalan, heboh. Makan heboh. Suasana riang. Setelah si Uni di pesantren, anggota keluarga tinggal empat orang. Dan saat Sayyid mencari pesantren, hanya kami berempat saja yang wara-wiri ke sana kemari. Kehebohan berkurang. Dan tentu, apabila nanti si Uda Sayyid sudah di pesantren, hanya tinggal kami bertiga.😢

Pasti terbayang olehnya betapa sepi ketika tiba waktunya bagi ia mencari SMA. Tak ada gelak tawa dia dan kakak-kakaknya, keributan-keributan kecil antara mereka sebagai penghangat suasana. 

Entah kenapa, air mata menggenang di pelupuk mataku. Iya, mungkin sangat sepi ketika itu, nak.😭

Ingatanpun melayang puluhan tahun silam.

Saya lima orang bersaudara.
Ketika kakak sulung kami tamat kuliah sebagai Sarjana Ekonomi di Universitas Andalas Padang, lulus dengan nilai terbaik ke 2, serta pernah menjuarai beberapa kali lomba karya tulis ilmiah tingkat propinsi maupun nasional, terasa eforia bahagia yang luar biasa bagi kami sekeluarga. Terutama ayah kami. Dengan mengerahkan kemampuan finansialnya yang sangat terbatas, beliau mencari pinjaman mobil untuk menghadiri prosesi wisuda itu dan mengajak kami semua untuk pertama kalinya makan di restoran terkenal di kota kami, setelah acara wisuda itu.

Kemudian kakak pertama bekerja di Jakarta. Sehingga ketika kakak kedua di wisuda, formasi kami sudah tak komplit. Eforia bahagia sudah tak setinggi dulu lagi. Walau kami semua tetap hadir di acara wisuda dan makan di restoran setelah acara wisuda itu.

Ketika tiba masaku di wisuda, kakak kedua sudah bekerja. Walau masih satu kota dengan kami, dan beliau menyempatkan hadir di acara wisudaku, tetapi tidak bisa hadir di acara makan-makan kami di restoran karena urusan pekerjaannya. Dua orang kakak tak hadir. Eforia kebahagiaan itu semakin menguap. 

Kemudian setelah itu aku menikah dan di boyong suami tercinta ke Jakarta. Saat adikku nomor empat dan lima wisuda, hanya berempat saja yang tersisa di Padang. Mereka dengan kedua orang tuaku. Dan ayahpun jalannya sudah pakai tongkat akibat serangan stroke. Hanya mereka berempat saja yang menghadiri acara wisuda dan tak ada lagi acara makan-makan ke restoran. Adik-adikku tak tertarik lagi makan-makan di restoran karena merasa sepi.

Tiba-tiba rasa penyesalan menyeruak ke dalam dada. Kenapa tak terpikirkan olehku untuk memaksakan diri pulang demi adik-adikku yang kucintai itu? Kalau kakak-kakakku kesulitan pulang karena tuntutan pekerjaannya, bukankah aku bisa menyempatkan diri pulang demi membahagiakan mereka? Ahhh…😭😭

Kini, si bungsu sudah bisa meraba, apa yang akan terjadi ketika ia mensurvey sekolah nanti dan mengikuti tesnya. Maka, jauh-jauh hari ia sudah membuat sebuah permintaan. Kehadiran kakak-kakaknya! 

Ketika hal ini kuutarakan ke Muthia, tiba-tiba ia terdiam dan pelupuk matanya pun langsung basah. Sedangkan Sayyid, seperti biasa, nyengir sambil ketawa kecil. (ahh…kalian memang berbeda). Tapi keduanya berjanji, berusaha untuk hadir ketika waktu itu tiba. Insya Allah. Mudahkan ya Allah.

Tak akan kami biarkan engkau merasa sepi, sayang…..

Kami akan berusaha hadir kapanpun engkau membutuhkan. Insya Allah

#Jangan lupakan si bungsu


Karawang, 27 Maret 2019


********
Catatan.
Alhamdulillah, Si sulung kami Annisa Muthia lulus SNMPTN di Jurusan Psikologi Univ Andalas,Padang

Pengikat Rindu


Sudah dua kali sayyid bercerita, ibu temannya jago bikin ayam goreng tepung. Bahkan jualan ayam goreng tepung. Rasanya enak.
Saya ingat beberapa orang teman saya juga jago bikin ayam goreng tepung ala KFC.
Tapi saya tak bisa. 😢
Terus saya bertanya, "kayaknya ibu harus belajar bikin ayam goreng tepung juga ya, Yid?"
"G usah. Ibu bisa bikin makanan yang lain. Udah banyak. Semuanya enak."
Hohooo.... 
Ternyata bahagia memang sederhana. Dipuji bisa bikin makanan yg enak, itu rasanya 'sesuatu'. Mereka tak menuntut ibunya harus bisa memasak makanan ini dan itu. Cukup memasak makanan yg menjadi keahlian ibunya saja. Cakeeepp.  😀

Saya jadi ingat, pernah membaca tulisan ahli parenting. Tapi sudah cukup lama. Sehingga saya lupa siapa orangnya.
Beliau menulis, menjadi seorang ibu tak perlu menjadi ahli di semua bidang. Tapi ada dua hal yang sebaiknya para ibu kuasai. Yang pertama, memasak. Tak perlu jadi chef. Bisa memasak satu atau dua resep andalan, sudah cukup. Dan yang ke dua adalah memijat. Tak perlu pula selevel tukang pijat beranak (ups...ini komen saya ya, bukan komen ahli parenting itu 😁) Karena dua hal ini paling cepat membangkitkan memori kepada ibunya. Paling cepat membangkitkan rindu si anak.
Ibu mana yang tak ingin dirindui sang anak?
Makanya walaupun saya tak ahli memasak, satu dua (tiga empat lima...) jenis masakan, berusaha saya kuasai dengan baik dan menjadi andalan.
Makanya hati ini berbunga-bunga ketika dapat telepon dari anak gadis di pesantrennya, teman-temannya ribut berteriak, "tante, udang baladonya enak banget, tante nanti bikin ayam kecap lagi ya, tante nanti bikin sphagetti lagi ya?" dan lain-lain...dan lain-lain permintaan mereka.
Hahaa...meski duit cekak, badan capek, dibela-belain deh, membuat masakan tersebut untuk anak tercinta dan fans dadakan, ketika jadwal berkunjung tiba.
Apalagi muthi 'menggosok', menceritakan seorang temannya pernah menelpon ibunya, "Ma, cobalah belajar masak. Teman aku, si Muthi, ibunya jago masak. Apalagi ayam kecapnya. Enak banget. kayak ayam kecap restoran. Mama kalau aku ingin masakan, pasti beli".
Hehee....padahal emak si Muthi ini hanya bisa memasak beberapa jenis makanan. Itupun bisa diitung dengan jari kaleee... . Jadi weeh, Ibunya ini semangat memasak. Padahal aslinya tak hobi memasak.
Kalau memijat, saya lebih tak ahli. Si Ayah kalau saya pijat pundaknya, tambah kram. Anak saya pijat, tambah masuk angin. Belum lagi tangan jadi pegel. Bukannya sukses malah amburadul. 😂😂😂
Tapi untunglah, si ayah jago memijat. Pijat pegal, pijat masuk angin, pijat sakit kepala, lewaaat. Siapapun dari kami yg butuh pijatan, larinya langsung ke ayah. Jadi biarlah memijat kapling si ayah. Kapling saya memasak saja. Mudah-mudahan kelak kami berdua selalu dirindukan mereka. Aamiin.
Yuuk...emak-emak, miliki satu, dua atau lebih resep masakan andalan, untuk "mengikat rindu" anak kita. Kalau mereka jauh, mudah-mudahan mereka sering pulang menengok emak tercintanya ini sembari minta dibikinin masakan kesukaan mereka. Kebayang bahagianya kan, maaak? 
😍😍😍

Yang bisa ngajarin saya bikin ayam KFC boleh colek saya. 😁😁😁
Colek mamanya alif ahh... Imma'Sshu. Ayam gorengnya dipuji Sayyid terus. 😊😊😊


Karawang, 26 Desember 2018

Dinamika Anak Pesantren



Tadinya saya ke Assyifa Boarding School hanya hendak mengantar laptop si gadis yang habis direparasi. Ternyata hari ini adalah pembukaan Assyifa Festival (Syifest) putri. Dengan bintang tamu Annisa mantan personal Cherrybell yang sudah berhijrah. Para gadis muda antusias mengikuti talk shownya.



Ikut larut dan menikmati acara suguhan dr gadis-gadis muda sholihah ini. Syifest Putri yang akan berlangsung selama 4 hari dengan peserta lomba hampir 700 orang dari seluruh pulau Jawa, dikemas apik oleh penyelenggara kls XI putri. Saluut... 
Intip-intip bazar, ternyata dijual majalah akustik, majalah yang dibuat eskul jurnalistik, ekskul si gadis. Dimana dia terlibat sebagai wartawan. Majalah ini memuat artikel yang dibuatnya. Juga ada laporan ketika ia menjadi duta negara di Sunburse Youth Camp di Singapura tahun 2017. Hmm... 😍😍



Ketika akan pulang, ada yg lucu. Kami berpapasan dengan 3 org teman Muthi. Mereka hendak pulang ke Jakarta, (selama Syifest berlangsung, kelas XII boleh pulang) tapi tak dizinkan kalau tak ada orang tua yang memdampingi. Maka saya bersedia mendampingi mereka.
Dengan wajah gembira mereka pun kembali ke asrama untuk mengambil perlengkapan. Ketika balik, Masya Allah... Ternyata yang ikut bukan 3 orang melainkan 9 orang! Antara kaget dan ingin ketawa. 😊


Rupanya, teman-teman mereka yang sekamar, yang orang tuanya tinggal di luar daerah dan luar negeri mereka ajak serta liburan ke rumah mereka.
Kapasitas mobil hanya untuk 7 orang. 2 di depan, 3 di lajur tengah dan 2 di lajur belakang. Sekarang di jejali 11 orang. 2 di depan, 5 di tengah dan 4 di belakang. Berhimpitan seperti mobil sayur. 😂
Satu masalah selesai. Semua bisa masuk. Mereka hendak naik bus ke Jakarta. Jadi saya hanya diminta mengantar sampai ke terminal bus Subang. Masalah berikutnya, ternyata tak ada seorangpun dari kami yang tau dimana terminal bus Subang itu berada. 😂😂
Akhirnya, mereka pun saya bawa ke Karawang. Setiba di Karawang, mereka pun melanjutkan dengan kendaraan umum ke Jakarta.
****
Liburan, adalah suatu hal yang sangat istimewa bagi anak pesantren. Kesempatan untuk lepas sejenak dari suasana asrama dengan segala peraturannya. Kesempatan melihat dunia luar. Merilekskan diri. Juga memperoleh privasi. Sehingga ketika balik ke pesantren, mereka datang dengan semangat baru. Energi baru. Siap menerima guyuran ilmu dari ustad maupun ustadzah.
Liburan juga kesempatan bagi mereka untuk berbagi. Membawa serta beberapa orang teman sekamar atau teman sekelas yang rumahnya jauh. Sehingga tak memungkinkan bagi mereka untuk pulang di waktu liburan singkat (istilah Assyifa, pesiar). Semoga persahabatan mereka terjalin sampai ke syurga.
Love you...anak-anak. Kalau libur lagi, ibu bawa mobil Elf. Biar muat lebih banyak. 😅😅😅

Biarkan mereka mencari solusi




Kemarin si kikoy, kucing kami, lagi-lagi BAB di dalam rumah. Kalau kemarin-kemarin dia BAB di sofa di ruang tamu, kasur Sayyid, dan bale di ruang tengah. Yang membersihkannya, kadang saya dan sayyid, kadang Sayyid dan ayahnya.
Alyssa sama sekali tak mau terlibat. Karena dia sudah nangis duluan. Jijik, katanya.
Kali ini, si kikoy BAB di lantai dekat meja. Membersihkannya lebih mudah di banding di kasur. Tapi Sayyid menolak membersihkannya.
"Sudah 3x Uda ngebersihinnya. Pokoknya sekarang Uda nggak mau. Uda ngak akan ngebersihinnya. Itu tugas Alyssa. Kikoy kan kucing bersama," omelnya kesal.
Walau Alyssa beruraian airmata, tapi si uda kekeuh tak mau membantu. Kali ini saya berpihak kepada si Uda. Drama airmata ini harus disudahi. Dia harus ikut bertanggungjawab atas komitmen bersama.
Setelah menunggu agak lama sampai si airmata itu lenyap, akhirnya dia keluar dari kamarnya.
Begitu melihat tampilannya, asli ngakak. Kostum siap tempur. Mulut dan hidung ditutup masker. Tangan dilapisi sarung tangan bekas panjat tebing kemarin. Tak tanggung-tanggung. Langsung dua lapis. Itupun masih kurang. Masing-masing tangannya ia lapisi lagi dengan kantong kresek. 😂😂
Kemudian iapun beraksi sampai selesai. Tanpa tangisan, walau sedikit misuh-misuh.
Saya apresiasi dengan mengacungkan jempol dan sedikit pujian. Bahwa ia berhasil mencari solusi untuk mengatasi rasa jijiknya (walaupun lebay dan tisu habis banyak).
Melihat Alyssa dengan kostumnya, saya jadi teringat dengan Muthi. Ketika SD, saat saya minta membuat sambal, pasti matanya panas pas sesi menggiling bawangnya. Makanya setelah beberapa kali 'menangis' dalam menyelesaikan tugasnya, akhirnya ia pun punya ide. Ia memakai kaca mata renang selama adegan menggiling berlangsung. Dan terbebaslah ia dari mata panas dan air mata. 😀😀
Ingin saya foto, supaya ketika belasan tahun kemudian, mereka akan tertawa melihat dirinya seperti saya tertawa melihat mereka saat ini. Tapi sayang, tak satupun dari mereka ingin di foto dalam kondisi "terbaik" ini.
Jadi ingat kata psikolog. Bahwa pintar yang sesungguhnya adalah ketika mereka mampu menyelesaikan masalah. Bukan ketika mereka meraih nilai tertinggi dalam suatu pelajaran di sekolah. Keunggulan di bidang kognitif hanyalah SATU dari banyak kecerdasan yang diberikan Allah kepada mereka.
Ketika saya kelas 3 SMA, saya punya guru biologi yg sangat hebat, Namanya bu Nur Netty (semoga Allah merahmati beliau), sudah tua tapi sangat pintar menerangkan. Kata beliau, meskipun anak orang kaya makanannya sangat bergizi tapi kalau tak dilatih otaknya, tidak dilatih jasmaninya, dia tidak akan jadi orang yang cerdas.
Tapi banyak anak orang biasa yang makanannya biasa saja, justru sangat cerdas karena otaknya banyak dilatih, fisiknya banyak dilatih.
Jadi bukan makanan yang bergizi yang membuat mereka cerdas. Tapi karena banyak dilatih".
Belasan tahun kemudian, baru saya paham, itulah yg disebut STIMULUS. Beliau mengajarkan parenting di jaman yang istilahnya saja belum dikenal.
Ketika dilahirkan, otak anak sudah memiliki sel syaraf yang berjumlah milyaran. Namun jumlah itu banyak yang hilang setelah dilahirkan. Ketika otak mendapatkan suatu stimulus yang baru, maka otak akan mempelajari sesuatu yang baru. Stimulus tersebut akan menyebabkan sel syaraf membentuk sebuah koneksi baru untuk menyimpan informasi. Sel-sel yang terpakai untuk menyimpan informasi akan mengembang, sedangkan yang jarang atau tidak terpakai akan musnah.
Di sinilah pentingnya suatu stimulasi yang rutin diberikan. Stimulasi yang terus-menerus diberikan secara rutin akan memperkuat hubungan antar syaraf yang telah terbentuk sehingga secara otomatis fungsi otak akan menjadi semakin baik.
Jadi, anak yg banyak melakukan, banyak mencoba, dibiarkan menghadapi masalah dan menyelesaikan sendiri permasalahannya, otaknya kan berkembang dengan pesat. Karena otaknya selalu mendapat stimulus.
Permasalahannya, banyak orang tua yang mager. (Ups, Saya kaleee...😁) Dari pada ribut dari pada repot, anak diberi tablet/HP. Mereka anteng dan emakpun nyaman facebookan. 😁😁
Kadang, anaknya yang mager. Terbiasa dibantu, terbiasa dimaklumi, terbiasa dikasihani, sehingga mereka tak memiliki daya juang untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Sedikit rengekan, sedikit merajuk, sedikit tangisan menghiba, maka orang tuapun turun tangan membantu. (Upps, ini juga saya kalee 😁)
Buku PR tertinggal, kita langsung tergopoh-gopoh mengantarkan ke sekolah supaya mereka tak di hukum. Tas sekolah berat, kita langsung menggendong tas tersebut sampai ke depan kelas dan sampai ke dalam kamarnya. Piring kotor sehabis makannya, kita juga yang mencuci.
Maaak... Kapan mandirinya mereka, kalau kita (meminjam istilah Ibu Elly Risman) selalu menjadi malaikat penolong?
Tak bisa lain. Mereka harus diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Mereka makhluk yang cerdas. Ketika kita membiarkan mereka dengan permasalahannya, maka mereka pun bisa kreatif memikirkan solusinya sendiri. Membiarkan dia jatuh bangun menyelesaikan persoalannya, tanpa sadar kita sedang membentuk manusia-manusia tangguh.
Tapi jangan dikritik ya maak... Kalau solusi mereka tak secanggih solusi kita. Kalau mereka lamaaa...baru bisa menemukan solusinya. Kalau ada air mata dalam prosesnya.
Berikan semangat, pelukan hangat ditambah segelas susu hangat. Pasti makjleb. 
#tulisan ini sesungguhnya untuk saya. Untuk selalu semangat memberi mereka kesempatan berjuang. Untuk tak luluh dengan 1001 trik mereka 'mengendalikan' emaknya. 😍😍

Karawang, 25 Januari 2019
Powered by Blogger.