Sehari Bersama Suku Baduy Yang Unik




Bermula dari cerita Muthi tentang temannya yang berlibur ke kampung Baduy. Menurut temannya, berlibur ke kampung Baduy itu mengasyikkan karena di sana indah dan sangat alami. Oh…kenapa tidak? Sangat layak juga kita berkunjung ke sana. Melihat suatu suku terisolasi yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Mudah-mudahan banyak ilmu dan pengalaman di sana.

Singkat cerita, akhirnya kami bersepakat dengan pihak ANT Tour Indonesia untuk memandu perjalanan kami. Dan perjalanan kami hanya sampai ke Baduy Luar. Tidak sampai ke Baduy Dalam. Soalnya kami khawatir, kalau Alyssa tidak sanggup melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki. Mengingat medannya yang harus dilalui adalah gunung dengan perjalanan yang pasti mendaki dan menurun. Untuk sampai ke perkampungan Baduy Luar kami harus melintasi pegunungan kira-kira 1 jam perjalanan. Dan untuk sampai ke Baduy Dalam menempuh perjalanan yang juga naik turun sejauh kira-kira 4 jam. Jadi buat perdana, cukup Baduy Luar dulu.

Perjalanan kami dimulai dari Desa Ciboleger, kabupaten Lebak Banten. Desa Ciboleger ini merupakan pintu masuk ke Kampung Baduy. Untuk sampai ke desa Ciboleger ini kami menempuh perjalanan lebih kurang 5 jam dari Karawang dengan menggunakan mobil pribadi. Dan petualangan kami ini akan di pandu oleh Crew ANT Tour Indonesia yaitu Mas Sigid dan Mas Jundi. Serta seorang pemandu warga asli Kampung Baduy Dalam yaitu Pak Idong. Setiap tamu yang ingin berkunjung ke kampung Baduy harus didampingi oleh warga asli Kampung Baduy. Begitu peraturannya.


Lokasi
Perjalanan pertama kami adalah menaiki tangga semen sepanjang sekitar 100m. Setelah itu kamipun menjumpai Gerbang ucapan selamat datang di kampung Kanekes. Ya, tempat tinggal orang Baduy ini terletak di desa Kanekes. Sehingga mereka sebenarnya lebih suka disebut “urang Kanekes”.

Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Orang Baduy bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten, dan berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung.
Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). Suhu rata-rata 20 °C.
Setelah memasuki gerbang desa Kanekes kami segera berkunjung ke rumah Jaro untuk minta izin secara adat dan membayar administrasi sebesar Rp 5.000,- per orang. Jaro ini adalah wakil ketua adat atau yang disebut Pu’un. Sayang sang Jaro sedang tak di tempat sehingga kami diterima oleh wakilnya.

Setelah itu, kami berjalan memasuki area pegunungan dengan tanaman hijau di kiri kanan kami. Hutan yang basah karena baru saja di guyur hujan memberikan suasana yang sejuk, segar, dan damai. Jalur pendakiannya sangat rapi. Di susun oleh batu-batu alam. Sehingga kita mudah menapaki setiap tangganya. Jalur yang mendaki dan menurun serta berkelok-kelok memberikan sensasi tersendiri. Kami semua merasakan keriangan, di antara nafas yang memburu. Kebetulan beban kami pun tidak terlalu berat. Tas carrier 42 liter kami dibawakan oleh Pak Idong. Dua ransel kecil dibawa si ayah dan Muthi. Sedangkan  Sayyid dan Alyssa bebas tak membawa apa-apa. Sedangkan saya, biasaaa…selalu menyandang si Nikon D7000 dengan setia.


Pak Idong berperawakan sedang, tapi sangat kuat. Dengan beban berat di punggung dan bahunya, serta tanpa alas kaki, dia lincah dan gesit menapaki setiap tangganya. Maklum, sebagai penduduk Baduyi Dalam, perjalanan dari rumahnya di Baduy Dalam ke Desa Coboleger bisa ia lakukan sampai 4x dalam sehari. Sementara dari Desa Ciboleger ke kampung Baduy Dalam menempuh waktu (bagi kita) sekitar 4 jam. Kebayangkan bagaimana tangguh dan kuatnya kaki Pak Idong?

Pak Idong


Orang Kanekes memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda. Penampilan fisik dan bahasa mereka mirip dengan orang-orang Sunda pada umumnya. Satu-satunya perbedaan adalah kepercayaan dan cara hidup mereka. Orang Kanekes menutup diri dari pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka yang tradisional, sedangkan orang Sunda lebih terbuka kepada pengaruh asing dan mayoritas memeluk Islam.
Secara umum, orang Baduy terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtupanamping dan dangka. Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam), yang paling ketat menjalankan adat. Pakaian mereka berwarna hitam dan putih dengan ikat kepala berwarna putih.
Kelompok masyarakat kedua yang disebut panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar). Pakaian mereka adalah hitam dan biru dengan ikat kepala berwarna biru.
Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka "Kanekes Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes. (Permana, 2001).
Ikat kepala putih, suku Baduy Dalam. Ikat kepala biru, suku Baduy Luar

Selama perjalanan kami sudah melihat keunikan masyarakat Baduy ini. Mereka tidak ingin menguasai alam. Tapi mereka hidup berdampingan dengan alam. Hal ini terlihat jelas dari sawah yang mereka kelola. Mereka sama sekali tidak mengubah kondisi alam dengan membuat sawah atau membuat terasering. Tanaman padi ditanam di antara pohon-pohon. Sesuatu yang unik melihat tanaman padi berada di antara pohon-pohon besar. Dan cara menanam padinya pun sederhana. Tidak dibajak. Cukup membuat lubang dengan bambu yang diruncingkan. Sederhana bukan? Dan tentu saja alami tanpa pupuk maupun pestisida.

Tanaman Padi di sela pohon kelapa dan pisang

Setelah pendakian yang agak curam, maka selanjutnya adalah turunan panjang. Di ujung turunan, terlihatlah kampung Baduy Luar. Perjalanan kami tempuh selama 1,5 jam. Meskipun mendaki dan menurun selama 1,5 jam dan lumayan capek, tapi tak seorangpun dari kami yang menggerutu. Semua menjalaninya dengan riang gembira. Karena pemandangan alam sekitarnya yang indah, serta setiap tikungan perjalanan mendaki atau menurun ini, memberikan rasa penasaran. Ada apa di baliknya? Karena di setiap tikungan memberikan pemandangan yang berbeda. Benar-benar luar biasa.

Kampung Baduy Luar

Memasuki perkampungan Badui Luar seakan-akan kita baru saja melewati lorong waktu dan terdampar sekian ratus tahun sebelum masehi. Uppsss…lebay! Pemandangannya benar-benar eksotis. Rumah-rumah yang terbuat dari bambu, berjejer rapi dengan halaman dan jalan setapak dari batu yang disusun rapi. Bersih tak bersampah. Di setiap rumah terdapat tempat sampah yang terbuat dari bambu yang dianyam seperti bubu penangkap ikan. Di pasang di atas bambu. Sehingga kucing atau ayam tidak bisa mengacak-acaknya. Dan hampir di setiap rumah terdapat pondok kecil untuk menyimpan kayu bakar. Kayu bakarnya pun dipotong rapi dan disusun dengan rapi pula. Rumah merekapun, meski berpenampilan sederhana dan seragam, juga bersih dan rapi. Dan penduduknya juga berpenampilan bersih. Sebagian wanitanya, dewasa maupun anak-anak, memakai lipstik merah. Kampung ini terletak di pinggir sungai. Mata benar-benar terpesona melihat keadaan ini. Sampai di sini kita benar-benar merasa at home.



Karena kampungnya sering dikunjungi wisatawan, mereka sedikit memberi fasilitas untuk tamu. Yaitu kamar mandi yang disediakan untuk tamu perempuan yang disebut bilik. Ukurannya kecil. Terbuat dari bambu seperti rumah mereka. Di dalamnya sudah disediakan bak mandi yang terbuat dari pohon besar yang di lubangi sehingga membentuk bak panjang. Airnya langsung di alirkan dari sungai. Tapi mereka sendiri tak menggunakan bilik itu. Mereka, baik laki-laki dan perempuan, melakukan semua urusan belakang di sungai yang terletak di bekang rumah mereka.

Kebudayaan
Suku Baduy atau Urang Kanekes ini, dengan sengaja mengisolasi diri mereka dari dunia luar. Mereka tak tersentuh kemajuan zaman. Tak ada listrik di sini, tak ada lembaga pendidikan, juga tak ada peralatan elektronik. Mereka bersikukuh dengan adat istiadat mereka. Menjaga warisan nenek moyangnya turun temurun.

Pimpinan tertinggi mereka atau pimpinan adat dikenal dengan sebutan Pu’un. Pu’un memiliki wakil yang sebut Jaro. Jaro ini ada dua orang, Jaro Adat dan Jaro Pamarentah. Jaro pamarentah bertugas untuk menjalankan semua tugas yang berhubungan dengan pemerintah. Jaro pamarentah ini secara struktur pemerintah, berada di bawah Camat.

Mereka menganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Keberadaan kepercayaan mereka sudah diakui oleh pemerintah. Untuk itu kolom agama di KTP mereka tertulis agama Kepercayaan.
Pekerjaan utama mereka adalah berladang (huma), berdagang, juga menenun. Rata-rata perempuan suku Baduy terampil menenun. Selama di sana saya menyaksikan ketrampilan mereka dalam menenun selendang, sarung, ikat kepala, kain dan lain-lain. Salah satunya gadis berusia 12 tahun, Sane’ah. Dengan alat tenun kecil ia menenun selendang. Hasil tenunan selendangnya rapi dan halus. Sebuah selendang dapat ia selesaikan dalam waktu seminggu, dan ia jual dengan harga 50 ribu rupiah. Sayapun membeli salah satu karyanya. Dan senyumanpun tersungging di wajah cantiknya.

Sane'ah sedang menenun

memintal benang

Banyak hal unik yang dapat kita pelajari dari mereka. Betapa gotong royong merupakan nadi mereka dalam kehidupan. Membangun rumah misalnya. Mereka tak pernah dipusingkan dengan biaya seperti biaya material maupun upah tukang. Bahan-bahan tinggal mereka ambil di alam. Sedangkan pekerjanya mereka lakukan bersama-sama. Begitu juga dengan lahan pertanian. Tak perlu mereka membeli tanah seperti kita. Mereka semua diberikan tanah dengan sistem hak guna pakai oleh ketua adatnya. Setiap warga yang sudah menikah, akan mendapatkan ladang untuk berkebun. Dan dalam pernikahan, mereka tak mengenal pacaran seperti pemuda jaman sekarang. Pernikahan mereka diatur oleh orang tua mereka. Tingkat kepatuhan mereka kepada orang tua dan ketua adat sangat tinggi. Karena sanksi yang diterapkan juga tinggi. Yaitu bisa dibuang secara adat.

Rumah-rumah mereka seragam bentuknya yaitu rumah panggung dan pintunya juga menghadap ke arah yang sama, utara atau selatan kecuali rumah Pu’un. Baju mereka modelnya sama semua. Tak boleh ada perabotan di rumah mereka. Perabotan yang diizinkan hanya perabotan makan dan memasak. Itupun seadanya.

Untuk warga Baduy Dalam, peraturan lebih ketat seperti, tak boleh mengenakan alas kaki dan tak boleh menggunakan kendaraan kemanapun pergi. Pak Idong, pemandu kami yang merupakan Suku Baduy Dalam, daerah terjauh yang pernah ia tuju adalah Bekasi. Untuk sampai ke Bekasi, ia berjalan kaki selama 4 hari. Allahu Akbar!

Tapi untuk warga Baduy Luar, mereka agak sedikit longgar. Mereka boleh menggunakan alas kaki dan boleh menggunakaan kendaraan seperti mobil.

Sebenarnya pemerintahan di jaman Soeharto sudah menawarkan listrik, pembangunan sekolah dan kesehatan kepada masyarakat Baduy. Tapi semua itu mereka tolak. Sehingga kebanyakan dari mereka memang buta huruf.

Tapi mereka bahagia dalam kesederhanaan mereka.
Tak ada iri dalam urusan duniawi bagi mereka. Tak dipusingkan dengan baju model terbaru, gadget keluaran terbaru, Sekolah favorit, mencari pekerjaan dan lain-lain. Semuanya damai dan tentram tanpa nafsu duniawi.  

Berlibur di sini
Selama berada di sini, kami benar-benar bersantai menikmati suasana seraya berusaha memahami pilihan hidup mereka.

Kami sampai di kampung baduy Luar ini, tepatnya di desa Gajebo, jam empat sore hari Sabtu. Setelah meletakkan barang-barang kami di salah satu rumah penduduk yang menjadi home stay kami, kami pun segera pergi ke jembatan gantung yang terbuat dari bambu dan mengunjungi lumbung padi (leuit) mereka. Jembatan gantungnya perlu acungi jempol. Dengan teknologi sederhananya, tanpa menggunakan sling baja, jembatan mereka amat kokoh. Untuk leuitnya tersusun dengan artistik, rapi dan bersih. Sepertinya bersih memang menjadi karakter mereka. Setelah itu kami kembali ke home stay dan disuguhi durian Badui nan legit dan berdaging tebal oleh Pak Idong. Masya Allah…enaknya. Durian matang pohon. Saking enaknya, sayapun lupa dengan penyakit. 

Leuit (lumbung padi) suku Baduy Luar 


Jembatan Gantung Kampung Baduy Luar

Malamnya setelah menjamak sholat Maghrib dan Isya, kamipun segera makan makanan suguhan dari tuan rumah dengan diterangi lampu emergency lamp kepunyaan mas Wandi. Menu sederhana, nasi, telur dadar, ikan asin, ikan sarden dan indomie rebus, tapi sanggup membuat anak-anak makan dengan lahap dan nambah. Tambuah ciek da ! Hahahaaa…

Paginya diisi dengan main ke sungai dan berbaur dengan penduduk. Melihat mereka menenun, membeli jualan mereka dan mencoba berinteraksi dan bercakap-cakap dengan mereka. Meskipun mereka berbahasa Sunda, tapi logatnya sangat jauh dari logat bahasa Sunda umumnya. Tak ada irama khas naik turun seperti bahasa Sunda, malah cenderung tegas dan agak keras seperti logat Batak. Dan bahasa Indonesiapun tidak semuanya mereka paham. Seperti ketika saya lewat di depan mereka, saya berkata “permisi”. Tak seorangpun yang menjawab. Kemudian Alyssa berkata, “Bilang punten, bu”. Hohoo…setelah saya bilang punten, merekapun menjawab ramah.

meniup seruling pengisi waktu

Wanita Baduy Luar


Jam 10 pagi kamipun kembali pulang. Menempuh perjalanan mendaki dan menurun selama 2 jam. Alhamdulillah, selama di sana kami lepas dari dunia modern. No tv, no gadget, no electricity, no spring bed dan lain-lain. Benar-benar damai. Dan Alhamdulillah lagi, anak-anak tak seorangpun yang mengeluh, baik ketika melewati perjalanan yang cukup berat, pun ketika ketiadaan fasilitas modern. Tidur hanya di lantai bambu, beralaskan tikar. Bahkan ketika waktu Subuh dibangunkan, dalam kondisi dingin menggigit, mata masih seperti di lem, harus berjalan sekitar 100 m menuju bilik untuk berwudhu, tidak mengeluh sama sekali. Juga Sayyid yang harus ke sungai untuk berwudhu, enjoy saja. Semuanya menikmati apa yang ada. Bahkan Alyssa yang saya khawatirkan tidak kuat jalan jauh, justru ketika jalan pulang, atas kemauannya sendiri membawa ransel yang tadinya di bawa Muthi. Dan jalannya selalu yang terdepan dengan riang gembira.

Sekali lagi Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Anak-anak bisa menikmati semua keadaan. Di bawa liburan mewah tidak norak, dibawa petualangan dengan minim fasilitas tidak canggung. Semoga Allah memberi kami kesempatan untuk berkunjung ke belahan bumiNya yang lain. Aamiin….

Terima kasih buat pemandu kami yang baik, ramah dan menguasai bahasan, Mas Sigid dan Mas Jundi. Dan Juga pak Idong yang luar biasa. Serta anaknya Pulung yang mau jadi model. Dan si bungsu pak Idong, Sanan (4 tahun) yang lucu dan memiliki kekuatannya yang dahsyat. Batu yang tertanam di tanah, dia tendang. Bukan kakinya yang sakit dan berdarah tapi batunya yang pecah. Anaknya aja begitu. Apalagi bapaknya. Jadi jangan coba-coba cari masalah dengan orang Baduy. Heheee…

Akhirul kalam, teman-teman harus mencoba hasil alam masyarakat Baduy ini seperti durian dan madu hutannya. Masya Allah….enak, asli dan murah bingits.

Pak Idong dengan durian hasil kebunnya

Anak Suku Baduy Luar membawa durian hasil kebunnya ke Desa Ciboleger untuk di jual






Kerennya Assyifa Festival Putri di SMAIT Assyifa Boarding School





Assyifa Festival atau lebih dikenal dengan nama Syifest, merupakan kegiatan eksternal tahunan yang rutin diselenggarakan oleh SMAIT Assyifa Boarding School, Subang Jawa Barat, sejak tahun 2012. Syifest berisi kompetisi olahraga, seni dan ketrampilan antar pelajar tingkat SMP dan SMA sederajat. Di SMAIT Assyifa Boarding School ini, keberadaan siswa putra dan putri terpisah, baik sekolah maupun asrama. Sehingga dalam penyelenggaraan Syifest pun, mereka menyelenggarakannya secara terpisah. Putra menyelenggarakan Syifest khusus buat putra dengan tema “Pewaris Kejayaan Perintis Masa Depan”, sedangkan Putri menyelenggarakan Syifest khusus buat putri dengan tema “Penoreh Tinta Emas Peradaban”. Kali ini saya hanya membahas tentang Syifest Putri.

Menghadiri acara Assyifa Festival Putri 2018, benar-benar dibuat terpesona. Dengan tema “Penoreh Tinta Emas Peradaban”, mereka memperlihatkan kemampuan luar biasa dalam menyelenggarakan sebuah event besar se-pulau Jawa selama 3 hari (2-4 Februari 2019). Total peserta adalah 665 orang yang berasal dari 60 SMP dan SMA se-pulau Jawa. Mulai dari Jakarta sampai ke Jawa Timur, bahkan dari Bengkulu. Total hadiah adalah sebesar 120 juta rupiah. Dan hebatnya, kegiatan Syifest Putri ini tidak memungut biaya pendaftaran sama sekali, alias free. Bahkan free penginapan dan free sarapan pagi untuk seluruh peserta. Luar biasa….




Pemangku hajat acara ini adalah seluruh siswi kelas XI. Sebanyak 130 orang siswi kelas XI, dan dibantu 10 orang siswi kelas X serta 6 orang siswi SMP Assyifa Boarding School, semua bergerak di bawah komando Dahniar, siswi kelas XI IPS. Dalam kepanitiaan, semua ditempatkan sesuai keahlian masing-masing. Misal, untuk menjadi panitia dekorasi harus lolos seleksi. 



Keseriusan kerja mereka dari awal, sudah dapat dilihat dari cara mereka mempublikasikan acara ini. Mereka membuat web khusus https://www.syifest-putri.com/ dan akun instagram https://www.instagram.com/officialsyifest/ . Di akun ini kita dapat menyaksikan buah karya mereka berupa sebuah film teaser dan enam buah film trailer serta jingle Syifest. Semuanya mereka bikin sendiri. Mulai dari cerita, shooting sampai editing. Lokasi shooting tidak hanya terbatas di Subang tapi sampai ke Qatar. Bahkan sampai menyewa drone. Khusus untuk jingle, lagunya diciptakan oleh Bunda Eneng Yulia, guru SMP Assyifa. Hasilnya? Tidak ada yang menyangka kalau film-film itu besutan siswi pesantren kelas XI di sebuah kota kecil, Subang. Bagi yang melihat, tentu akan mengira itu adalah karya sutradara profesional.


Dan di hari H, dapat kita saksikan kerja keras tim dekorasi dalam menghias area acara. Tiang-tiang kayu yang artistik serta puluhan payung warna warni di udara menyambut para tamu yang hadir. Mural indah yang terpasang sepanjang pagar halaman, membuat banyak orang menyangka kalau itu adalah buatan vendor. Padahal itu adalah karya hand made tim dekorasi. Sebuah papan kesan yang panjang "what do you think about Syifest?" hadir menyapa setiap yang berkunjung untuk memberikan komentarnya atas acara yang penuh rasa persahabatan ini. Dan banyak petunjuk arah berupa lukisan Sang Putri Aurum, maskot acara ini, tertata dengan rapi dan indah.




Dan selama hari H, mereka menunjukkan “kelasnya”. Meskipun mereka masih kelas XI, mereka bukan EO kelas ecek-ecek. Semua panitia bekerja dengan cekatan, efektif dan terkoordinir. Tidak ada yang crowded. Panitia acara mampu mengatur “lalu lintas” lomba dan acara hiburan dengan baik. Sementara para LO (Liaison Officer) mampu mengatur sekolah yang menjadi tanggung jawabnya. Satu orang LO bertanggung jawab mengurus satu sekolah. LO ini akan membimbing sekolah yang menjadi tanggung jawabnya, mulai dari menyediakan fasilitas, menjembatani antara peserta dengan panitia, mengurus penginapan dan lain sebagainya yang dibutuhkan oleh sekolah itu selama kegiatan Syifest berlangsung.  



Acara hiburan pun mereka kemas dengan menarik. Dengan menggunakan panggung super panjang, para guest star bisa tampil maksimal. Guest star ini ada yang lokal dan ada yang tingkat nasional seperti penampilan siswi SMAIT Assyifa Boarding School, Ust. Farhan Muhammad, Wirda Masyur, Bilqis Khairunnisa (hafidzhah pemegang 6 sanad), stand up comedi Arafah Rianti, bunda Maimon Herawati, dan grup Nasyid Shoutul Harokah. Bahkan di hari terakhir, mereka sukses melakukan penggalangan dana untuk Palestina. Total sumbangan yang terkumpul lebih dari 300 juta rupiah. Wwooww….




Benar-benar angkat topi dengan kerja keras mereka, pemudi harapan bangsa. Persiapan Syifest yang mereka lakukan, berkejar-kejaran dengan kesibukan sekolah, tugas sekolah, tugas hafalan dan lainnya. Tapi tekad untuk memberikan yang terbaik bahwa Syifest ini bukan hanya sekedar lomba, tapi juga tempat menimba ilmu, dan ajang silaturahim pemudi muslimah penerus bangsa, membuat mereka memberikan effort lebih dan menahan segala letih dan lelah. Serta selalu memohon pertolongan Allah. Mendekati hari H, mereka selalu sholat hajat dan membaca surat Al Fath. Dan tak lupa adalah bimbingan guru-guru mereka. Yang juga membantu sekuat tenaga agar acara ini sukses dan berkah.

Dan dengan hasil karya ini, mereka telah menorehkan tinta emas peradaban. Inilah Syifest terkeren dan terbesar dalam 5 tahun terakhir penyelenggaraan Syifest di SMAIT Assyifa Boarding School, Jawa Barat. Barakallahu buat semuanya



Dan akhirul kalam, anakku Annisa Muthi kelas XI IPA 3 turut mengambil sedikit peran. Yaitu sebagai tim publikasi, MC lomba LKTI dan panitia lomba Quick and Smart. Barakallahu juga untukmu nak sayang....







Tak ada hari Ibu untukku




Walau telah telat jauh, saya ingin menulis tentang hari ibu. Di indonesia  hari ibu memang termasuk hari yang istimewa. Diperingati dimana-mana. Di sekolah-sekolah, di kantor-kantor atau lembaga lainnya. Bahkan di medsos juga. Ketika tiba hari Ibu, di medsos bertebaran ucapan selamat hari ibu, foto ibunya masing-masing dan berbagai macam puisi tentang ibu atau tulisan tentang ibu dengan segala jasa dan perannya.

Tentu, ibu adalah sosok yang tak boleh kita lupakan. Agama kita secara khusus memberikan penghargaan kepada seorang ibu, di mana kedudukannya 3 kali lebih tinggi dari seorang ayah. Agama kita yang lurus ini mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada ayah dan ibu, dengan sebutan birrul walidain. Bahkan saking tingginya kedudukan orang tua, mereka merupakan pintu tengah surga.  Apabila mereka telah tiada, maka hilanglah kesempatan kita memasuki surga dari pintu tengah. Sebagaimana hadist Rasulullah:

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (HR. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Tapi di keluargaku, kami tak pernah merayakan hari ibu. Tak pernah sekalipun. Di hari ibu, rutinitas berlalu seperti biasa. Tak ada yang istimewa. Tak ada ucapan untukku, kue, apa lagi kado dari anak-anak maupun suami. Atau seperti yang pernah kubaca di sebuah majalah, di hari ibu, para ibu mendapatkan ‘cuti’ alias mendapatkan jatah ‘me time’ sehari penuh. Benar-benar hari Ibu tanggal 22 Desember itu bagiku, tak berbeda dengan 364 hari lainnya dalam setahun. Kalaupun saya mendapatkan ucapan khusus selamat hari ibu dari anak-anak, itu biasanya adalah tugas sekolah anak dalam rangka menyambut hari ibu.

Apakah anak-anak tak menghargaiku? Tentu tidak! Mereka menyayangiku dan menghargaiku sebagaimana anak-anak lainnya. Kalau hari ‘baik’ mereka sangat manis dan sopan. Tapi ketika cuaca ‘mendung’ suara merekapun kadang  tinggi kepadaku. Kadang mereka ikhlas membantuku, kadang mereka juga cemberut ketika disuruh. Itulah dinamika hidup dengan mereka yang masih belajar hidup.

Apakah aku sedih ketika banyak teman mendapat ucapan atau kado dari anaknya di hari ibu yang di share di medsos. Alhamdulillah tidak. Malah saya ikut salut, anak-anaknya begitu perhatian kepada ibunya di hari itu. Sampai membelikan kado dari uang mereka sendiri. Semoga makin banyak anak-anak yang sayang ibunya sampai ibunya tua nanti. Tak hanya di hari Ibu saja. Sebagaimana mereka tahu bahwa kasih sayang ibunya kepadanya bukan hanya 1 hari saja. Tapi adalah 365 hari dalam setahun. Tentu tak layak jika sayang ibu dibalas hanya 1 hari saja di tanggal 22 Desember.

Kami memang tak pernah mengistimewakan hari Ibu. Tak pernah membicarakannya apalagi membuat seremoni tentang itu. Setiap hari adalah hari kasih sayang. Apakah anak-anak tak pernah memberiku sesuatu? Tentu pernah. Di hari ulang tahunku, misalnya. Sebagai tanda syukur, bahwa saya masih di samping mereka.

Tapi yang berkesan adalah, seringkali mereka memberiku 'kado' di saat saya butuh. Mereka tauuu… aja. Contoh:

Suatu ketika keyboard komputerku rusak. Padahal saya lagi menyelesaikan suatu tulisan. Lagi apes, saya sedang  tidak ada uang lebih. Nanggung mau gajian (Suami, maksudnya :) ). Ya sudah, saya diam saja. Bahkan kepada suami pun saya tak cerita. Ternyata si bujang mengamati. Tiga hari pasca kejadian, tiba-tiba ia dengan wajah sumringah berkata,

“Kejutan untuk Ibu.”  Senyumnya bangga sambil memberikan bingkisan untukku.

Begitu saya buka ternyata keyboard baru. Kok bisa, padahal ia tidak kemana-mana? Ternyata diam-diam ia memesan sebuah keyboard lewat online shop khusus untukku via netbooknya. Ia bayar menggunakan uang saku bulanannya. Pembayaranpun dia lakukan via Alfamart dekat rumah. Perjalanan barangnya pun dia pantau lewat internet. Dan ketika kurir datang, dia pun segera menyambutnya. Masya Allah…

Begitu juga dengan Muthi. Ketika pulang dari Singapura setelah mengikuti acara Sunburst Youth Camp, dia melihat saya tak punya HP karena HP saya rusak 2 hari sebelumnya. HP itu sebenarnya sudah di bawa ke pusat servicenya di Jakarta. Tapi karena spare part nya tidak ada di Indonesia, jadi harus menunggu kiriman dari Korea, maka butuh waktu untuk selesai. Dan Muthi pun segera memberikan dollar Singapuranya untuk membelikanku HP.

Bukan karena harganya yang jutaan yang membuat saya takjub tapi karena keikhlasannya memberikan uang yang cukup besar jumlahnya untuk saya. Karena ia sadar, saya sangat butuh HP sebagai sarana informasi, secara HP saya terdaftar di semua sekolah anak. Sehingga semua informasi yang berhubungan dengan sekolah mereka, termasuk les adik-adiknya dan urusan lainnya masuk ke HP saya. Padahal betapa gampangnya ia ‘menutup mata’, toh….tak lama lagi HP ibu selesai diperbaiki. Atau, ayah mampu kok membelikan Ibu HP baru. Tapi tidak, ia bersikeras membelikan dengan sebahagian uangnya. Uang saku selaku duta negara. Padahal dengan uang itu ia bisa membeli banyak barang yang diingankan para ABG umumnya. Tapi ternyata ibu adalah prioritas baginya. Masya Allah…

Atau Alyssa si kecil, ketika saya pulang dari suatu perjalanan, kalau ia melihat saya lelah, tanpa diminta ia membuatkanku segelas teh hangat. Kadang kaos kakiku pun dibukakannya. So sweet sekali.

Begitulah, mereka  sering memberi ketika dibutuhkan. Itulah kado cinta yang indah untukku. Hampir setiap hari bagiku adalah hari Ibu. Sehingga tanggal 22 Desember tak bermakna istimewa bagiku Dan juga kesholihan serta akhlak yang makin hari makin bagus itu adalah cinta sejati untuk ibu dan ayah.

Tapi ahh…ini mungkin sekedar alasan saja bagi saya karena nggak dapat ucapan dan kado dari anak-anak di hari Ibu.... :} Tapi sueerr… kami mungkin keluarga yang tidak terlalu romantis. Wedding anniversary saja kami jarang ingat. Selalu berlalu begitu saja. Kadang ingatnya setelah 2 atau 3 bulan kemudian. Begitu ingat, ucapan yang terlontar hanya, “Oh iya ya…” sambil kami tertawa bersama. Tak ada bunga, coklat atau canddle light dinner yang menyusul.

Tapi pernah sekali saya ingat wedding anniversary yang ke 15. Karena ingatnya agak jauh sebelum hari H, suami menghadiahi saya honeymoon ke Singapura. Sepertinya tahun ini saya harus mengingat keras wedding anniversary supaya dapat kado jalan-jalan lagi. Heheee…. :)


Ahh…Luv you my sweetheart.

Karawang, 9 januari 2018

Ayah Yang Durhaka



Salah satu moment terbaikku untuk bertukar pikiran dengan anak adalah ketika menyetir mobil ditemani si buah hati. Apalagi kalau jarak tempuh cukup panjang. Akan banyak cerita, keinginan, impian, kekesalan dan lain-lain yang tumpah di saat itu. Karena di dalam kendaraan yang sedang melaju, si anak tidak memiliki kegiatan yang menjadi sekat antara aku dan dia. Sehingga fokus dengan pembicaraan kami.

Seperti hari Selasa kemarin, kami mengantar si uni Muthia, kembali ke pesantrennya. Sepanjang perjalanan pergi, Sayyid tidur di kursi belakang. Saya dan Muthipun terlibat pembicaraan yang mengasyikkan. Muthi memang pandai bercerita. Intonasi serta gesturnya membuat saya kadang terpingkal-pingkal dengan ceritanya. Kadang juga marah, kesal atau bahkan ikut sedih karena ceritanya. Bisa berbincang dengannya dalam waktu lama merupakan suatu kemewahan. Mengingat ia bersekolah di suatu boarding school. 

Nah, sepanjang perjalanan pulang, giliran si nak bujang yang menjadi temanku. Oh ya, si ayah kurang enak badan sehingga istirahat di rumah ditemani si bungsu Alyssa.

Terjadi perbincangan menarik antara saya dan Sayyid. Begini:
“Sebenarnya cita-cita Sayyid jadi apa sih?”
“Jadi Pilot. Atau kalau enggak jadi astronot. Kalau Sayyid jadi astronot, pas waktu libur, Sayyid akan main ke NASA. Sayyid mau main internet. Di sana kecepatannya super cepat. 91 Gbyte per second!”
“Kalau di rumah kita berapa kecepatannya?”
“Cuma 10 mbps. Kalau di NASA, ibu mau mendowload file sebesar 1 Terrabyte hanya butuh waktu 10 detik. Canggih kan?”
Emaknya langsung mumet. Nggak kebayang. 
“Kalau Sayyid jadi astronot, Sayyid kan tinggal di Amerika. Nanti Sayyid kirimi Ibu tiket buat nengok Sayyid.”
“Tapi nanti ibu di sana nggak punya teman. Mau bicara bingung nggak jago bahasa Inggris.”
“Ya dengan Sayyid lah.”
“Kalau Sayyid kerja?”
“Yaaa…dengan istri Sayyid.”

Tiba-tiba gong berbunyi di kepala saya. Sebuah kesempatan terbuka untuk memasukkan nilai-nilai positif. Nilai-nilai Islam yang merupakan panduan hidup.

Ya, insya Allah kelak ia akan menikah. Seperti apakah perempuan yang kelak akan mencuri hatinya dan akan menggenapkan separuh agamanya?

“Seorang ayah itu, tanggung jawabnya kan sangat besar terhadap anaknya yang sudah lahir. Memberikan makanan, pakaian, menyekolahkan, menjaga dan lain-lain. Tapi ada satu tanggung jawab ayah terhadap anaknya, jauh sebelum anaknya lahir. Sayyid tau nggak?”

“Enggak. Emang ada? Kan anaknya belum lahir?” tanyanya heran.

“Ada. Dan ini tugas yang penting. Yaitu mencarikan ibu yang sholihah. Karena ibu yang sholihah akan mendidik anaknya menjadi anak yg sholih-sholihah juga.”

“Coba, kalau si ibu bukan orang yang sholihah, akhlaknya buruk, suka berdandan terus jalan-jalan dengan siapa saja, tentu anak-anaknya jadi nggak benar?”

Ada kejadian di jaman Khalifah Umar Bin Khatab
Seorang bapak melaporkan kekerasan yang dilakukan oleh anaknya. Ayah tersebut sedih memiliki anak yang durhaka.
Umar : Seperti apa kelakuan anakmu?
Bapak : Anakku berbicara kasar dan membentak. Dia pernah menendangku. Dia juga tak segan-segan memukul. Dan masih banyak perbuatan durhaka yang lain.
Umar : Baiklah, kami akan bawa anakmu ke sini.
Selang beberapa waktu, sang anak hadir dalam ‘persidangan’ tersebut.
Umar : Anak muda! Kenapa kamu berani bertindak kasar kepada Ayahmu. Apakah kamu     tidak tahu kalau Allah memerintahkan anak berbakti kepada orang tuanya.
Anak : Wahai Amirul Mukminin, jangan buru-buru menilaiku buruk. Aku akan jelaskan  kepada Anda apa yang terjadi sebenarnya.
Umar : Katakan sekarang!
Anak : Wahai Amirul Mukminin, saya tahu bahwa seorang ayah memiki hak yang haru ditunaikan anaknya. Tapi, bukankah seorang anak juga memiliki hak yang harus dipenuhi ayahnya?
Umar : Benar.
Bapak : Lalu apa hak anak yang wajib ditunaikan ayahnya?
Umar : Ada tiga kewajiban. Pertama, memilihkan calon ibu yang baik, jangan sampai memilih wanita yang sifatnya tercela dan suka berbuat maksiat. Kedua, memberi nama yang indah dan baik. Ketiga, mengajarinya menghafalkan Al-Quran.
Anak : Amirul Mukminin! Demi Allah! Ayahku tidak menunaikan kewajiban tersebut satu pun!
Umar : Kenapa?
Anak : Ibu saya adalah budak hitam yang ayahku beli dengan harga hanya 2 dirham.Ketika  saya lahir, ayah menamaiku Ju’al (si hitam). Selain itu, ayahku tidak pernah mengajarkan Al-Quran kepadaku. Di sini saya ingin menjelaskan bahwa saya terlahir dari seorang budak wanita dan ayahku tidak menghendaki aku terlahir ke dunia ini. Dia tidak mau memberiku nama yang baik seperti Abdullah atau Ahmad. Juga tidak pernah mengajarkan Al- Quran.
Perkataan itu membuat Umar menyimpulkan bahwa yang durhaka sebenarnya bukan sang anak, melainkan sang ayah.
Umar : Masalah kalian ini terjadi bukan karena ulah sang anak. Yang sebenarnya salah adalah engkau, sang Ayah. Engkau tidak menunaikan hak anakmu dan mendidiknya dengan benar sejak ia lahir. Kamu juga tidak memikirkan akibatnya nanti. Inilah akibat yang harus kamu tanggung.

“Nah, itulah pentingnya mencari istri yang sholihah”.
Sayyidpun manggut-manggut. Sebagai lelaki yang baru saja baligh di kelas 2 SMP ini mungkin dia belum terlalu paham. Tapi penting untuk ia ketahui bahwa ada rule dalam Islam untuk mencari pendamping hidup. Pendamping hidup atau Istri bukanlah persoalan sesuka hati. Karena dari merekalah kelak akan terbentuk generasi Islam. Generasi berkualitas dengan keimanan yang kokoh. Dengan mencarikan ibu yang sholihah minimal ia sudah selangkah dalam menjaga keluarganya dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (surah At-Tahrim (66) ayat 6).
Semoga ceritaku ini akan tertanam di alam pikiran dan hatinya dan bersama imannya kelak ia akan memilih wanita sholihah sebagai pendamping hidupnya. Aamiin…ya Rabbal’alamiin.
Kalau kelak kau sudah menemukannya, anakku, bacalah tulisan ibumu ini sebagai pengingat, betapa sayangnya ibu padamu…..

Karawang, 4 Januari 2018
Powered by Blogger.