Part #3. Desa Terindah di Dunia


Alam Minangkabau yang tersusun atas gunung, bukit, lembah, danau dan pantai, memang menawarkan pemandangan alam yang indah. Tak bosan menjelajahinya serta ditunjang oleh makanannya yang lezat, yang sudah terkenal seantero dunia.
Tahukah sanak sadonyo, kalau desa terindah di dunia itu ada di Sumatera Barat, tepatnya di Nagari Tuo Pariangan, di Kabupaten Tanah Datar?


Nagari Tuo Pariangan yang terletak di lereng gunung Merapi yang sejuk ini dinobatkan sebagai salah satu dari 5 desa terindah di dunia oleh sebuah majalah pariwasata Amerika Serikat, Travel Budget, tahun 2012, bersanding dengan keindahan Desa Wengen dari Swiss, Desa Eze dari Prancis, Niagara on The Lake di Kanada, serta Desa Cesky Krumlov dari Republik Ceko.
Keindahan alam Nagari Pariangan ini memang mengundang decak kagum. Desa yang terjaga keaslian dan keasriannya, rumah gadang-rumah gadang yang berumur ratusan tahun, sawah yang bertingkat-tingkat, di pagari pegunungan, udara yang sejuk, air yang jernih dan dingin, membuat nyaman dan betah. Di sini juga terdapat masjid, yang konon tertua di Ranah Minang. Karena hujan, kami tak sempat mampir ke masjid yang tetap kokoh berdiri selama ratusan tahun ini.


Nagari Tuo Pariangan dari dahulu sudah sering di kunjungi turis mancanegara. Sedangkan turis lokal baru berkunjung setelah mengetahui nagari Pariangan ini dinobatkan sebagai desa terindah di dunia. Biasaaahh….kita selalu telat.🤣🤣🤣
Tapi sesungguhnya, tak hanya Nagari Pariangan saja yang indah di Ranah Minang ini. Semua tempat memberikan keindahan alami yang memanjakan mata dan menyejukkan hati.
Beberapa spot foto ini saya ambil di Nagari Tuo Pariangan, kecamatan Pariangan, Lawang Bukittinggi, dan Kampung Galapuang, Pariaman.











Part #2. Masjid Modern Nan Megah


Lebaran tahun ini, 2017, tentu tak hanya masjid tua nan bersejarah saja yang kami kunjungi. Masjid modern dengan arsitektur yang megah dan rumit juga kami kunjungi untuk memperkaya khazanah anak-anak. Salah satunya Masjid Raya Sumatera Barat.

Masjid Raya Sumatera Barat merupakan masjid terbesar di Sumatera Barat. Dengan menempati lahan seluas 40.343 meter persegi dan dengan desain yang modern dan megah, membuat masjid ini menjadi ikon baru kota Padang. Setiap pendatang maupun yang baru pulang merantau, berusaha menyempatkan diri untuk mendatangi masjid ini.



Rancangan masjid Raya Sumatera Barat  ini dikerjakan oleh arsitek Rizal Muslimin yang merupakan pemenang sayembara desain masjid Raya Sumatera Barat tahun 2007 yang diikuiti oleh 323 arsitek. Konstruksi bangunan dirancang menyikapi kondisi geografis Sumatera Barat yang beberapa kali diguncang gempa berkekuatan besar. Peletakan batu pertamanya sebagai tanda dimulainya pembangunan dilakukan pada tanggal 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumatera Barat ketika itu, Gamawan Fauzi.


Masjid Raya Sumatera Barat menampilkan arsitektur modern yang tak identik dengan kubah. Atap bangunan menggambarkan bentuk bentangan kain. Yang merujuk kepada histori Rasulullah ketika menyelesaikan perselisihan empat kabilah Bani Quraisy ketika hendak memindahkan batu Hajar Aswat ke tempat semula setelah Ka’bah direnovasi.


Pembangunan masjid ini dikerjakan secara bertahap karena keterbatasana anggaran dari propinsi. Dan sempat terhenti ketika tahun 2013 karena ketiadaan anggaran dari provinsi. Dan ketika terjadi gempa dahsyat tahun 2009, bantuan dari Arab Saudi senilai 90 juta dollar Amerika untuk pembangunan masjid ini,  dialihkan untuk keperluan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa.

Alhamdulillah,  saat ini pembangunan sudah mendekati tahap akhir.




Part #1 Masjid Tua nan Mempesona

Alhamdulillaah….libur hari Raya Idul Fitri 2017 sudah usai. Yang mudik ke kampung halamanpun, sebagian besar sudah kembali ke kota asal tempat mencari nafkah. Begitu pula dengan kami, yang selalu mengagendakan mudik ke Ranah Minang 2 tahun sekali.

Perjalanan panjang yang kami tempuh, 3612 km atau setara dengan 3,5 kali bolak-balik Ayer-Panarukan (ujung ke ujung pulau Jawa), dari Karawang - Sumatera Barat - Karawang selama 15 hari, memang perjalanan yang luar biasa. Kebahagian bertemu dengan orang tua / nenek tercinta, kakak dan adik-adik beserta keluarganya masing-masing, sanak saudara serta sahabat-sahabat tercinta, ditambah perjalanan wisata yang menambah khazanah pengetahuan kami terutama anak-anak, benar-benar memberikan kesan yang mendalam.

Selama 15 hari perjalanan dan hanya 1 hari yang berdiam di rumah, sebenarnya sangat menguras tenaga. Tapi Alhamdulillah wa syukurilah, Allah memberi kami kesehatan dan kekuatan yang luar biasa. Dan anak-anak sama sekali tak pernah mengeluh sepanjang jalan, baik mengeluh capek ataupun bosan. Sehingga perjalanan terasa ringan dan menyenangkan.

Ada banyak tempat yang kami kunjungi. Kali ini saya ingin menceritakan tentang kunjungan kami ke masjid-masjid kuno yang bersejarah yang ada di Sumatera Barat. Tampilannya yang artistik dan sejarah yang dilaluinya membuat kita terpesona. Filosofi ‘adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah’, membuat masyarakat Sumatera Barat sangat lekat dengan masjid dalam kesehariannya.

Ada banyak masjid kuno nan bersejarah yang tersebar di Sumatera Barat. Tapi yang sempat kami kunjungi hanya 4 buah...

1.    Masjid Raya Ampek Lingkuang di Lubuk Alung, Sumatera Barat



Masjid ini hadir mewarnai masa kecil ibuku tercinta. Masjid ini berada persis di sebelah sekolah rakyat tempat ibuku menimba ilmu ketika kecil.

Masjid ini didirikan pertama kalinya tahun 1415. Masjid ini berdiri di lokasi perempatan empat sudut kampung di Lubuk Alung. Dinamakan Ampek Lingkuang, karena berada di empat kampung, masing-masing Koto Buruak, Singguliang, Sungai Abang dan Balah Hilia. Jadi, boleh dikatakan, bahwa Masjid Raya Ampek Lingkuang adalah sejarah berdirinya Lubuk Alung, yang dimulai dari empat kampung tersebut.

Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Lubuk Alung, Suharman Datuak Pado Basa menilai masjid itu belum pernah direnovasi total. Kecuali diperbaiki disana-sininya. Arsitektur bangunannya tetap utuh seperti pada awal dibangun dulunya. Di masjid itulah tempat dipadukannya kekuatan syarak dan adat dalam nagari. Segala keputusan syarak atau agama dan adat oleh basa barampek, pucuak baranam harus melalui sidang dan mufakat di masjid tersebut.

Sekaitan namanya Masjid Ampek Lingkuang, maka labai atau ulama yang memegang kekuasaan dibidang syarak dalam masjid itu juga berempat. Disebut juga 'labai lingkuang yang empat'. Setiap peristiwa penting yang berhubungan dengan persoalan agama ditengah masyarakat Lubuk Alung, seperti memulai dan mengakhiri bulan Ramadhan, seluruh labai yang bertugas di seluruh surau-surau harus tunduk dan patuh, serta berada dibawah kekuasaan labai yang berempat tersebut

Sebagai masjid kepunyaan orang dalam kampung yang empat tersebut, maka semua kampung itu diberikan kedudukan yang sama. Duduak samo randah, tagak samo tinggi. Masing-masing kampung punya peran dan fungsi tersendiri dalam masjid itu. Imam masjid diambilkan dari orang Singguliang, bilal, alias tukang azan berasal dari Sungai Abang. Sedangkan khatib alias tukang baca khutbah Jumat berasal dari Koto Buruak, dan Tuanku Khadi dari Balah Hilia. (sumber: tuankuadamanhuri.blogspot.com)


2.       Surau Nagari Lubuk Bauk, Batipuh Tanah Datar, Sumatera Barat


Surau Lubuk Bauk merupakan bangunan masjid kuno terletak di Jorong Lubuk Bauk, Nagari Batipuh Baruh, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, dan hanya sekitar 6 km dari Kota Padang Panjang. Bangunan surau terletak lebih rendah ± 1 m dari jalan raya.

Surau ini berbatasan dengan jalan raya di bagian utara, kolam dan masjid di bagian timur, kolam dan rumah penduduk di bagian selatan, dan rumah penduduk di bagian barat.

Menurut ceritanya, surau ini dibangun oleh para ninik mamak yang berasal suku Jambak, Jurai Nan Ampek Suku sekitar tahun 1896 dan diperkirakan selesai tahun 1901. Tanah surau ini berasal dari wakaf Datuk Bandaro Panjang.

Surau ini dibangun sepenuhnya dengan bahan utama kayu Surian dengan luas 154 meter persegi dan tinggi bangunan sampai ke puncak kurang lebih 13 m dengan corak bangunan dari Koto Piliang yang dapat dilihat dari susunan atap dan adanya menara.

Kabarnya di surau inilah tempat Buya Hamka belajar mengaji dan bahkan sering tidur di surau ini di masa kecilnya. Dan surau ini juga menjadi tempat lokasi shooting film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, sebuah film yang diangkat dari novel karya Buya Hamka. (Sumber: Bayu Heryanto, setiktravel community)


3.    Masjid Raya Ganting di Padang, Sumatera Barat


Masjid ini terletak di Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Masjid yang dibangun pada tahun 1805 ini, tercatat sebagai masjid tertua di Padang dan salah satu yang tertua di Indonesia serta telah menjadi cagar budaya.
Masjid yang pembangunannya melibatkan beragam bangsa ini menjadi pusat pergerakan reformasi Islam di daerah tersebut pada abad ke-19, dan presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah mengungsi ke masjid ini pada masa perjuangan kemerdekaan. Masjid ini termasuk bangunan yang tetap utuh setelah gelombang tsunami menerjang kota Padang dan sekitarnya akibat gempa bumi tahun 1833 akibat letusan gunung Krakatau. Dan mengalami kerusakan cukup berarti akibat gempa tahun 2005 dan 2009.
Saat ini, selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid satu lantai ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama dan pesantren kilat bagi pelajar serta menjadi salah satu daya tarik wisata di kota Padang. (sumber : Wikipedia)

4.    Masjid Muhammadan


Kalau kita berjalan di daerah pecinannya kota Padang yaitu Pondok, maka kita akan menemukan sebuah masjid tua nan indah. Masjid Muhammadan namanya. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia sekaligus cagar budaya yang terletak tepatnya di Kelurahan Pasa Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat. Masjid ini merupakan masjid peninggalan sejumlah Muslim keturunan India di Padang yang dibangun pada tahun 1843. Masjid dengan arsitektur bercorak India ini berada dalam kawasan Kota Tua Padang di sekitar pelabuhan Muara.

Keberadaan masjid ini turut berperan dalam penyebaran agama Islam dan perjalanan sejarah Kota Padang

Alhamdulillaah.... kunjungan yang sangat bermanfaat. Semoga kelak anak keturunan kita merupakan anak-anak yang tertambat hatinya di masjid. Generasi Rabbani. Aamiin...ya Rabbal'alamiin.

Kebahagian kecil penambah rasa syukur....

Dulu..... saya tak kenal dengan dunia foto-memfoto alias fotografi. Tapi begitu menikah, ternyata suami mahir di dunia ini. Ketika bujangnya, ia bersama teman-temannya suka mencari uang di bidang ini. ketika ada even pernikahan dan wisuda mahasiswa. Jadilah ia menularkan semangat fotografi kepadaku.

Ketika anak pertama lahir, si ayahpun membeli sebuah kamera Nikon D 50 D di Jepang. Saya masih ingat harganya ketika itu 3 juta rupiah. Rasanya woooww.... Pertama kalinya punya kamera, langsung kamera keren. DSLR. Menenteng kamera ini serasa sudah jadi fotografer profesional. Wkk...wkkk...Tapi hobi fotografi di jaman itu masih termasuk mahal. Karena kamera jaman itu masih kamera film. Dalam 1 roll film, belum tentu dapat hasil yang bagus dan sesuai dengan keinginan.

Akhirnya, jadilah anak pertama kami ini, Nabila Fauzia Azzahra, objek belajarku yang pertama. Dia pertama kali tengkurap, pertama kali merangkak, pertama kali berjalan, ulang tahun pertama, semuanya tak luput dari jepretanku.

Alhamdulillah, Nabila adalah anak yang lucu, cantik dan menggemaskan serta fotogenic. Saya semakin semangat mengabadikan kegiatannya dalam foto.





Tapi si cantik yang ramah ini, ternyata lebih dicintai Allah. Ketika ia berumur 2 tahun 8 bulan, tepatnya 5 Januari 2002, ia dipanggil oleh pemiliknya, Allah SWT.

Tak usah kuceritakan bagaimana perasaanku ketika itu. Yang jelas 2 minggu setelah kepergiannya, saya dapat panggilan dari Tabloid Ibu dan Anak, Nakita, bahwa Nabila lulus menjadi model cover majalah tersebut. Dan diminta hadir pada waktu yang telah ditentukan untuk pemotretan ulang. Hati yang hancur karena kepergiannya, bertambah hancur....

Life must go on.....
Selanjutnya, si bidadari surga ini, memiliki adik 3 orang. yang masya Allah....semuanya cantik dan ganteng. Minimal buat emak dan bapaknya...hehee...
Ada Annisa Muthia,

sekarang ia sudah berumur 17 tahun. Alhamdulillah....

Ada Sayyid Al Hakim,
Sekarang sudah berumur 13 tahun
Dan si bungsu Alyssa Zahra
Sekarang sudah berumur 11 tahun

Dan zamanpun semakin maju. Dari kamera analog, orang mulai beralih ke kamera digital. dengan kamera digital ini, memotret semakin mudah dan murah. Tak perlu beli film. Cukup hanya kartu memori saja. Foto tak bagus, langsung delete. Kurang bagus? permak sedikit dengan program Photoshop, sebuah aplikasi untuk memperbaiki foto.

Alhamdulillah, sayapun kemudian dibelikan si ayah kamera digital Nikon D5000. Harganya ketika tahun 2010 sekitar 7 juta rupiah. Dan sayapun semakin bersemangat memotret. Lama-lama mulai banyak yang meminta tolong foto anaknya kepadaku. Terutama teman-teman sekolah anakku. Dan lama-lama akupun mulai menerima pembayaran. Waah...hobi yang menghasilkan. :)

Kemudian berlanjut. Permintaan buat pas foto sekolah, sunatan, pernikahan, wisuda sekolah dan lain-lain. Dan entah kenapa saya berani saja menerimanya. Padahal saya belajart foto hanya dari suami, selebihnya coba-coba. Belajar Photoshop juga hanya dari buku saja. Tapi Alhamdulillah, banyak yang memuji hasilnya. mungkin yang komplain ada juga, tapi tak pernah ada yang sampai kepadaku. hehee...

Akhirnya sayapun memberanikan diri untuk menambah ilmu tentang dunia fotografi. Saya belajar foto tingkat pemula di Nikon School Jakarta. Alhamdulillah banyak ilmu di sana. Dan selepas dari itu sayapun membeli kamera baru, Nikon D7000 yang harganya ketika tahun 2012 11,8 juta rupiah. Sampai sekarang kamera D5000 dan D7000 masih bagus. Sedangkan kamera D70D sudah ku jual.

Kemudian iseng-iseng, sayapun mengikuti beberapa lomba foto. Mulai dari tingkat region sampai nasional. walaupun tingkat nasional, tapi bukanlah tingkat foto profesional. 
Beberapa lomba foto yang saya menangi adalah:
1. Juara 2 Lomba foto yang diadakan oleh PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia dalam rangka Family's Day tahun 2011 Dapat Hadiah baju kaos, dan charger HP seabreg untuk berbagai macam tipe HP. :)
2. Juara 1 lomba foto keluarga yang diadakan oleh PKS dalam rangka MIlad PKS. tahunnya 2013. Hadiahnya badcover :)
3. Juara 3 lomba foto yang diadakan majalah Bobo dengan tema Ekspresi senyum Jordan, yang disponsori oleh sikat gigi Jordan. Hadianya uang sebesar 3 juta rupiah.
4. 20 besar lomba foto booth yang diadakan oleh Mitsubishi Pajero tahun 2014. Hadiahnya souvenir.

Ini fotoku yang menang lomba foto majalah Bobo. Si Alyssa yang imut ketika berumur 4 tahun.

sebegitu saja, saya sudah happy luar biasssaaahhh.....hahaa. Karena sebenarnya mengikuti suatu lomba dan menang, hadiah bukanlah menjadi suatu tujuan. Tapi pengakuan akan sebuah karya, itulah yang penting dan membahagiakan.

Dan baru-baru ini, saya bergabung dengan suatu komunitas foto, yang benar-benar berisi para penyuka fotografi baik profesional foto dan juga pemula alias kurang ilmu seperti sayah. :)

Di acara milad ke 6 komunitas tOekangpoto Indonesia beberapa waktu lalu yang saya ikuti, diadakan lomba foto kategori Streetphotoghraphy dg tema kebersamaan. Spot foto stasiun Manggarai. Tak di sangka fotoku keluar sbg pemenang ke 2. Bukan karena aku hebat, tapi qadarullah, dapat moment bagus.

ini foto yang menang di milad 6 tOekangpoto Indonesia


Alhamdulillah...hadiah uangnya mau dipigura. Upss.....,😂😂😂

Wanna be a President






Dari semalam, Sayyid sudah bilang hari ini tidak mau sekolah karena, "hanya sanlat doang", katanya. Sanlat atau Pesantren Kilat memang agenda rutin tahunan di sekolahnya, Sekolah Alam Karawang, setiap bulan Ramadhan tiba.
Sehabis sahur sampai pagi tadi, tetap ribut tidak mau sekolah. Akhirnya dengan 1 kalimat 'klik' dan acungan 1 jempol, senyum pun terukir di wajahnya dan melangkah dengan gagah ke sekolah.
Kalimat apakah itu?
Meskipun tidak banyak, informasi tentang keadaan negara terutama penegakan hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas, khususnya bagi umat Islam, termasuk kriminalisasi ulama, sampai ke telinga Sayyid.
Suatu hari saat bincang-bicang santai, dengan gregetan dia bilang, "Sayyid nanti nggak jadi pilot, Bu. Mau jadi presiden aja."
"Oh...kenapa? Apa alasan Sayyid mau jadi presiden?", tanya saya.
"Ya...mau merubah keadaan lah", jawabnya yakin.
Wooow.....emejing ðŸ˜ƒ
Alasannya sederhana. Tapi ada visi di sana.
Nah, cita-cita itu yang jadi daya dorong pagi tadi.
"Sayyid mau jadi presiden kan? Presiden harus berilmu terutama ilmu agama". Sambil jempol teracung ke arahnya (Y)
Sungguh, saya tak berharap ia menjadi presiden, mengingat beratnya tugas dan tanggung jawab, terutama di akhirat kelak. Tapi siapa yang tahu dengan takdir? Yang saya harapkan ia menjadi agent of change terhadap lingkungan, bangsa dan negaranya serta menjadi pribadi nan Sholih yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Tapi kalau untuk menjadi agent of change ia harus menjadi presiden, why not?
semoga Allah memberikan yang terbaik untuknya dan selalu melindunginya setiap langkahnya.
Aamiin....ya rabbal'alamiin.

karawang, 7 Juni 2017

Yang pertama….selalu berkesan!


Islamic Book Fair selalu menjadi agenda tahunan kami semenjak Muthi SD sampai sekarang ia sudah kelas 10. Biasanya ke IBF selalu bersama ayah. Tapi pernah juga naik bus yang dikoordinir oleh mahasiswa sebuah universitas negeri di Karawang. Intinya, tinggal duduk manis, bobok cantik, sampai deh….di tujuan.

Tapi kali ini berbeda. Berhubung Muthi SMA di Pesantren dan pesantrennya ke IBF hari Kamis, 4 Mei 2017, maka kamipun menyesuaikan diri. Pergi ke IBF di hari Kamis dengan konsekuensi tanpa disertai ayah. Kebetulan, hari Kamis ini Sayyid libur sekolah karena kakak kelas 9 sedang UN. Sedangkan Alyssa meliburkan diri karena hari itu kegiatan kelasnya adalah cooking days. Jadi Alyssa belajarnya di luar yaitu pengalaman ke IBF.
So, hari ini untuk pertama kalinya kita ngebolang ke IBF.

Jam 6 pagi, kami sudah start dari rumah menuju Stasiun Kereta Api Karawang. Mobil di parkir di stasiun Karawang, supaya nanti pulang ke rumah gampang.


Dari awal, anak-anak sudah gembira karena akan mencoba bermacam-macam moda transportasi. Dari Karawang, kami naik kereta api lokal. Turun di stasiun Senen. Dari Senen kami naik Commuter Line menuju stasiun Cawang. Dan dari stasiun Cawang kami naik busway menuju gedung JCC, Senayan.

Transportasi publik yang disediakan oleh negara ini, benar-benar terjangkau oleh masyarakat umum. Untuk tiket kereta api lokal Karawang – Jakarta hanya Rp 5.000,- saja. Tiket elektronik Commuter Line hanya Rp 3.000 saja. Tapi ada uang jaminan kartu sebesar Rp 10.000,-. Jadi total yang harus dibayarkan adalah Rp 13.000,-. Uang jaminan ini akan dikembalikan ketika kita mengembalikan tiket Commuter Line di tempat tujuan. Uang jaminan ini berguna untuk ‘memaksa’ penumpang mengembalikan tiket elektroniknya. Tanpa uang jaminan ini, penumpang suka membawa pulang tiket elektroniknya sehingga menyebabkan perusahaan kereta api menderita kerugian. Tapi dengan adanya uang jaminan ini, apabila si penumpang tidak mengembalikan tiket elektroniknya, maka dengan uang jaminan inilah tiket elektronik baru dibuat. Tiket busway juga murah. Hanya Rp 3.500 untuk satu kali jalan atau beberapa kali perjalanan selama tidak keluar dari halte busway.

Meskipun sebenarnya naik kendaraan umum dan harus berganti-ganti pula, cukup melelahkan, tapi anak-anakku, Sayyid dan Alyssa, sungguh menikmati. Mereka menikmati tahap demi tahap perjalanan mereka. Apalagi ketika men-tapping tiket elektronik mereka ke gate otomatis di stasiun Commuter Line maupun di halte busway. Menunggu perubahan lampu merah menjadi lampu hijau dan kemudian mendorong palang besi gate otomatis, dengan gembira. Dan lucunya, tak seorangpun dari mereka yang mau mengembalikan tiket elektronik dengan uang jaminan Rp 10.000 itu. “Buat koleksi”, kata mereka. Hahaa…ya….wess lah.


Sesampai di IBF, langsung emosional melihat banyaknya buku-buku yang di jual dengan diskon yang menggiurkan. Serasa ingin dibeli semua. 

Berbeda dengan IBF di tahun-tahun sebelumnya yang selalu diselenggarakan di Istora Senayan, IBF tahun ini diselenggarakan di gedung JCC Senayan. Tempatnya lebih luas dan nyaman. Tapi tentu ada rasa ada harga. Kalau dulu masuk IBF gratis, dan sekarang tiket masuk berbayar Rp 5.000,-. Tidak mahal sih…. Tapi yang didapatkan pengunjung jauh lebih banyak. Misal, kalau dulu tempat sholat baik pria maupun  wanita sangat tidak representatif dan panas. Bagi pria di bawah tenda besar dan panas, sedangkan bagi wanita di mushalla kecil yang padat dan panasnya jangan ditanya. Kamar mandi maupun tempat wudhunya, hmm…. gitu deh. Sekarang ada mesjid besar buat pria dan wanita. Pria di lantai yang sama dengan area pameran, sedangkan wanita di lantai basement. Tempatnya bersih, luas, dingin dan nyaman. AC berdaya besar dipasang untuk kenyamanan jamaah. Kamar mandinya juga bersih dan tempat mengambil wudhunya juga banyak serta bersih. Sholatpun bisa tenang dan khusyu’. Selain itu ada banyak doorprice setiap harinya. Area kidzonenya juga luas, nyaman dan sejuk. Dan banyak kelebihan-kelebihan lainnya.














Jam 12.00, ketika kami hendak ke kamar mandi untuk wudhu, rombongan besar SMAIT Assyifa Boarding School, Subang, datang. Rombongan dengan jumlah 120 orang akhwat dengan baju seragamnya yang menawan, berbaris rapi di pintu masuk area IBF. Saya dan anak-anakpun langsung menyongsong keluar. Dan bertemulah dengan si buah hati dengan senyumnya yang ceria. Seceria mentari pagi. Haah…lebay 

Setelah berpelukan dan mengobrol mesra sebentar, kamipun berpisah. Dia dengan rombongannya masuk ke area IBF sedangkan kami lanjut untuk ishoma, istirahat, sholat, makan. Sebentar tapi cukup untuk melepas rindu.

Selepas ishoma kamipun melanjutkan petualangan. Setelah buku yang dibeli dirasa cukup, cukup menguras dompet maksudnya, kamipun lanjut ke area kidzone. Dan cukup terpana melihat luasnya area kidzone dan banyaknya permainan yang disuguhkan. Anak-anakpun serasa mendapat energi tambahan seperti mainan robot yang baru dicharge, ketika melihat area kidzone.



Begitu masuk ke area kidzone, Alhamdulillah….kami langsung disambut hangat oleh ‘penguasa’ area kidzone, Bli Nyoman Heru. Beliaulah pengelola area kidzone ini. Dan anak-anakpun diberi kesempatan memainkan truk excavator secara gratis. Wuuiih….anak-anak langsung kegirangan. Selesai main truk excavator di lanjutkan dengan permainan lainnya. Berbayar tentunya. Kalau gratis terus, nanti Bli Nyoman melotot. Hehee….piss, Bli.


Akhirnya semua keriangan ini harus diakhiri dan kitapun harus kembali ke rumah. Ternyata hari sudah menunjukkan pukul 4 sore. Daan… sudah tidak keburu mengejar kereta api sore ke Karawang jam 17.30. Akhirnya kami memutuskan kembali dengan menggunakan bus.



Dari area IBF kami kembali menaiki busway ke Cawang. Kemudian dilanjutkan dengan busway tujuan Bekasi dan turun di Jati Bening. Setelah sekian lama menunggu ternyata tidak ada satupun bus maupun mobil tujuan Karawang. Akhirnya kami menaiki bus jurusan Cirebon dan turun di Rest Area km 39 tol Cikampek. Dan si Ayah tercinta menjemput kami ke Rest Area km 39.

Ketika di wajah anak-anak terpetakan rasa lelah, tapi saat ku tanya apakah mereka lelah, dengan tegas mereka bilang tidak. Ya…mungkin sebenarnya badan mereka lelah, tapi perasaan mereka tidak. Inilah pertama kalinya mereka ngebolang ke IBF dengan naik kendaraan umum yang bermacam-macam jenis. Petualangan yang membuat mereka bergairah.

Dan di perjalanan ini juga saya melihat ke-gentleman-an Sayyid. Seorang anak laki-laki kelas 1 SMP yang bertinggi badan 134 cm dan berat badan 30 kg saja, langsung berdiri tanpa di suruh (di commuter line dan di busway menuju IBF) ketika melihat seorang ibu naik dan berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Sementara saya di dalam commuter line sempat menegur seorang pemuda yang duduk di kursi yang dikhususkan untuk wanita dan lansia, saat ia pura-pura tidak tau ketika seorang wanita paruh baya berdiri di sebelahnya. So proud of you, son.

Tapi lucunya, ketika di dalam busway, si ibu yang ditawari duduk oleh Sayyid, menolak duduk ketika melihat yang menawarinya adalah seorang anak laki-laki berbadan mungil. Penumpang bis ikut tertawa. Hehee….

Dan bahagianya, Sayyid dan Alyssa, sangat akur selama perjalanan. Saling peduli, saling bantu dan saling meringankan beban. Meskipun di rumah sering ribut.

Dan leganya, ketika si ayah menjemput kami ke Rest Area km 39. Ketika kami sudah duduk nikmat di mobil, saya merasa petualangan hari ini sudah berakhir. Sampai di rumah bisa langsung bobo cantik. Ternyata, si Ayah tidak berbelok ke gerbang perumahan. Lhooo….mau kemana Ayah? 


Oalaahh…ternyata badan yang pegal dan mata yang mengantuk harus diregang melanjutkan petualangan yang tersisa…. menjemput mobil yang ditinggal di stasiun tadi pagi. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 20.24 WIB.
Powered by Blogger.