Apa Salahku?

Namaku, Marni. Umurku saat ini 57 tahun. Aku Janda dengan tiga anak yang semuanya sudah menikah. Suamiku meninggal 4 tahun yang lalu.
Dulu, ketika suamiku sudah pensiun dari sebuah perusahaan swasta, dengan berbekal uang pensiunnya, kami memulai usaha rumah makan. Chefnya adalah aku, karena kata keluarga dan teman-temanku, aku jago memasak. Dan sering juga aku menerima pesanan. Maka untuk mengisi waktu, kami membuka rumah makan. Masakan andalan rumah makan kami adalah ayam bakar.
Pagi-pagi, kami ke pasar berdua. Kemudian kami memasak berdua. Aku yang membumbui, suamiku yang membakar. Dan sekitar jam 9 kami sudah mulai sibuk meladeni pembeli. Indah sekali ketika itu.
Rukonya kami sewa. Jarak antara ruko dengan rumah lumayan jauh.
Jarak yang lumayan jauh, ternyata melelahkan bagi kami yang sudah paruh baya ini untuk bolak balik. Ditambah rumah makan kami yang mulai ramai, akhirnya kami berniat membeli ruko sebagai tempat usaha dan tempat tinggal kami.
Harga ruko sangat mahal. Akhirnya kami sepakat menjual rumah kami sebagai DP ruko tersebut. Cicilannya nanti akan kami bayar dari hasil usaha rumah makan kami.
Alangkah bahagianya kami setelah menempati ruko ini. Sisa penjualan rumah, kami pakai buat merenovasi halaman belakang ruko sebagai tempat tinggal kami.
Tahun berikutnya, kami berangkat haji setelah 3 tahun masa tunggu. Lengkap sudah rasa bahagia ini.
Tapi setelah pulang haji, suamiku meninggal dunia karena serangan jantung. Langit serasa gelap bagiku. Aku tak sanggup menjalankan usaha rumah makan ini tanpa bantuannya. Anak-anakku tak ada yg mau membantu usaha kami. Mereka punya pekerjaan sendiri-sendiri.
Kucoba hidup sendiri di ruko kami. Terasa sangat sepi. Aku sangat kehilangan suamiku. Belahan jiwaku. Aku sering menangis.
Karena tak jualan, aku tak mampu membayar cicilan rukoku.
Akhirnya, hasil diskusi dengan anak-anakku, ruko dikontrakan saja. Cicilan ruko kami diteruskan oleh menantu anak pertama kami, Husna.
Anak-anakku, memintaku bergantian tinggal dengan mereka. Kemana saja aku suka. Tapi keindahan itu tak lama.
Anak-anakku, yang tadinya hormat kepadaku, sangat menjaga kata-kata mereka terhadapku, lama-lama mulai hilang hormatnya. Mereka banyak melarang, bahkan mulai membentakku.
Kalau aku tinggal dengan anak tertuaku, Husna, ia tak mengizinkan aku kemana-mana. Kecuali pengajian saja. Tapi tak boleh lama-lama. Aku merasa sangat terkekang. Aku punya teman, aku punya komunitas, aku ingin bertemu sekedar mengobrol pelepas rindu dengan teman-temanku, tidak bisa. Hp ku selalu di cek. Kadang ia memberiku uang, kadang tidak. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pribadiku sendiri, aku kesulitan.
Aku pindah ke tempat anak keduaku, Haris. Haris baik, tak pernah berkata kasar. Aku mau pergi kemanapun, silahkan. Bahkan boleh memakai motornya. Hanya saja ia pelit. Tak pernah memberiku uang kalau tak kuminta. Kalau aku mau pergi pengajian, ia memberiku uang bensin 20.000. Sekali-sekali 50.000. Aku merasa seperti anak sekolah yang minta uang jajan ke bapaknya. Padahal ia dan keluarganya sering makan malam di restoran. Bisa 2-3 kali dalam seminggu.
Belum lagi istri Haris seorang perempuan yang cukup judes. Kalau aku pergi pengajian, dan setelah pengajian aku main ke rumah temanku, maka pulangnya dia sering mengomeliku.
"Mama kemana aja sih? Di rumah banyak yang harus dikerjakan."
Nelangsa hatiku dibentak menantu. Tapi tak pernah kuadukan kelakuannya kepada Haris. Semua kutanggung sendiri. Supaya mereka tak ribut gara-gara aku.
Kalau ku tinggal dengan anak bungsuku, Hana, dia selalu mengomel. Dia adalah single parent dengan dua orang anak yang masih SD.
Ketika dia bekerja, aku membersihkan rumahnya, mencuci baju, menyetrika. Kalau dia pulang, aku was was. Khawatir kalau rumah kurang rapi, dia akan mengomeliku. Aku ibarat anak yang ketakutan dimarahi ibunya kalau rumah tak bersih ketika ibunya pulang dari kantor.
Pernah ketika aku baru sampai di rumahnya, tas ku letakkan di lantai dekat lemari. Aku duduk selonjoran melepas penat. Belum lagi penatku hilang, dia sudah teriak,
"Mama, itu tas tarok dimana? Berantakan ma. Mama kalau datang, rumah selalu jadi berantakan. Kalau mama nggak ada, rumah ini selalu rapi".
Dan omelannya berlanjut mengungkit yang lain sampai satu jam.
Dengan menahan air mata, ku bawa tas ku ke kamar.
Karena aku tak punya uang, tak ada anak-anakku yang memberiku uang secara rutin tiap bulan, akhirnya aku berjualan black garlic. Aku ambil dari orang. Daganganku lumayan laris. Aku bisa membeli beberapa keperluan pribadiku dan bisa menyimpan sedikit uang.
Tapi Husna curiga aku jatuh cinta dengan penjual black garlic. Dia marah. Dan dia berkata,
"Kalau mama tidak ada apa-apa dengan dia, berarti mama harus ikhlas HP mama aku reset"
Dan HP ku pun di resetnya. Hilang semua kontak teman-temanku, hilang foto-foto kenanganku dengan bapaknya juga teman-teman dan keluarga.
Perih sangat hatiku. Hanya air mata yang bisa mengalir. Aku sabarkan hatiku sambil memohon kekuatan kepada Allah.
Seminggu yang lalu, aku ribut dengan Hana. Entah darimana dia dapat informasi, bahwa aku punya hutang dua juta ke orang. Padahal aku tak punya hutang kepada siapapun. Kalau setoran black garlicku tidak ada masalah. Dan diapun marah-marah kepadaku tanpa mengkonfirmasi berita itu kepadaku.
"Mama ternyata pembohong ya? Mama nggak bisa dipercaya. Seumur hidupku aku tak percaya lagi sama mama."
"Mama juga egois. Mama nggak pernah bantu perekonomian aku. Aku tu capek ma." lanjutnya dengan penuh emosi".
"Sebentar-sebentar, mama nggak pernah bantu perekonomian kamu? Kamu sudah mama besarkan, sudah mama sekolahkan. Apa kamu pernah bantu perekonomian mama? Mama di sini, di rumah kamu, selalu membiayai diri mama sendiri. Mama makan pakai uang mama sendiri. Mama beli sabun sendiri. Mama beli kasur sendiri, sampai kulkas juga mama bawa sendiri." jawabku sambil berlinang air mata.
"Oh jadi mama nggak senang di sini? Silahkan mama keluar dari rumah saya. Pergi saja ke rumah abang Haris".
Ya Allah.... Aku diusir anakku sendiri. Yang sedari kecil aku sayangi, aku timang-timang. Semua kebutuhannya kucukupi. Keperluannya selalu aku dahulukan dibandingkan keperluanku. Sekarang ia tega menuduh dan mengusirku.
Apa salahku, nak? Sehingga engkau berlaku seperti ini ke ibumu?
Ku ingin suamiku ada di sisiku. Ingin kurebahkan kepalaku ke bahunya. Inginku bagi sesaknya hati ini. Inginku dibelai lembut untuk menghilangkan nestapaku.
Duhai belahan jiwaku. Kalau engkau masih ada, tak akan berani anak-anak memperlakukanku dengan buruk.
Aku sangat terluka. Harga diriku rasanya sudah hilang karena statusku yang menumpang. Walau yang kutumpangi adalah anak-anakku sendiri.
Aku hanya ingin dihargai dan disayangi sebagaimana aku menyayangi kalian ketika kalian dalam pengasuhanku. Ku tak meminta harta dari kalian, nak.
Karawang, 24 September 2019
#based on true

Dunia Baru



Setiap orang tua yang terpisah jarak dengan anaknya tentu bertelepon adalah pelipur lara.
Seperti hari ini, dapat telpon dari si bujang sholih. Mendengar suaranya saja sudah senang. Apalagi mendengar tawanya. Mendengar ceritanya, bertambah-tambah bahagia.
(Apalagi kalau dapat kiriman foto, emak meleleh. 😂)
Dia cerita tentang kegiatannya yang seabreg. Di luar jam pelajaran sekolah dan kegiatan keagamaan, dia mengikuti banyak ekskul. Mulai takhosus tahfidz, panahan, basket, voli, pramuka, renang, robotic, e-sport dan bimbingan olympiade biologi.
Masya Allah...
Kebayang aja itu badan g ada istirahatnya selain tidur. Kebayang aja itu asupan makanan habis jadi energi. Kebayang aja itu badan langsing (g tega bilang kuyuss 😁😁) beredar kemana-mana.
Saya hanya berucap syukur.
Bahwa ia sedang menikmati proses. Ia sedang menikmati dunia baru. Dunia dengan teman sebaya. Dunia dimana ia dipersilahkan mencoba banyak hal. Dunia yang membebaskannya mengeksplorasi bakat dan minat dalam rel keimanan dan syariah.
Semoga ia semakin sholih. Semoga ia semakin cerdas. Dan kelak bermanfaat buat agama, bangsa dan negara ini. Aamiin.
***********
SMA Pesantren Unggul Al Bayan, Anyer.
Di sini, ada lebih dari 40 ekskul. Anak bebas memilih ekskul, sebanyak yg ia mau dan sanggup jalani. Dan semua free. Sdh include dg SPP.




Cukup satu kalimat


Siapapun tau, ketika anak-anak masih kecil, rasanya dari bangun tidur sampai tidur lagi, kehebohan demi kehebohan berlangsung simultan. Kadang paralalel kadang seri. (kita lagi belajar rangkaian listrik ya pren 😁).
Mereka dengan segala tingkahnya, entah itu berantam, atau bermain, berikut segala printilan urusan rumah tangga, kalau tak memiliki khadimat, maka energi badan cepat menguap, sekaligus bisa menyedot rasa sabar.
Pekerjaan yg itu-itu melulu, yang dilakukan terus menerus, di tempat yang sama, memang rentan memicu rasa stres. Ketika si ibu stres, tak mengherankan, anak yang jadi pelampiasan. Karena si anak berada dalam posisi terlemah.
Makanya, bantuan dari suami itu penting, wahai bapak-bapak. Sedikit tawaran bantuan, itu seperti ketemu oase di padang pasir nan maha luas. Apalagi tawaran itu ngajak keluar, makan, belanja apa yg dia mau. Atau piknik. Sedaap...😍
Tapi pastikan stresnya tidak berpindah kepada anda, karena melihat besarnya tagihan yang harus di bayar.
Ada satu hal tawaran yang murah meriah tapi sangat efektif. Sering dilakukan suamiku dulu ketika anak-anak masih kecil sampai menjelang abege. Murah meriah. Dijamin g keluar duit.
Ajak bicara dan sediakan telinga yang lapang.
Dulu, sepulang dari kantor, setelah menyapa anak-anak, hal yang pertama dia tanya ke saya adalah,
"Bagaimana hari ini, bu?"
Atau
"Hari ini masih waras, bu?", dengan nada jenaka.
Cukup satu kalimat saja...
Maka balasannya bisa ratusan kalimat. Bahkan mungkin ribuan kalimat. Mulai dari cerita keluh kesah mengurus anak-anak, yang ributlah, yg mecahin gelas lah, yg butuh ini itulah, sampai urusan mengurus rumah, urusan belanja ke pasar, urusan sekolah, tetangga, tukang sampah dan lain-lain....dan lain-lain...
Setelah keluar semua uneg-uneg, legalah hati ini.
Cukup satu kalimat pembuka dan telinga yang selalu siap mendengar dengan penuh empati, tak pernah dikomen apalagi dikritik, hanya kata-kata "oh...hmm...ya" sudah cukup membuat beban hati sehari ini jadi lebih ringan, hilang sesak, dan sumpek.
Ketika semua sesaknya sudah keluar, semua rasa senangnya sudah tercurahkan, yakinlaah... Rumah tangga akan jauh lebih berseri. Karena istri adalah jantung rumah tangga.
Ketika ada telinga yang mendengar di rumah, maka takkan dia mencari telinga di luar sana. Tak kan dia berbagi keluh kesah di luar sana.
Jadi intinya, para emak-emak ini butuh PERHATIAN dan DIDENGAR. Bahwa dia capek, dia lelah, dia sakit, dia bahagia, dia gembira. Perhatian, dengar dan jangan dikritik. Itu solusi yg murah meriah.
Maka, cukup satu kalimat empati dan telinga yang terbuka, akan membuat hatinya lapang dan full power kembali menghadapi hari esok.
Sekarang, kalimat sapaan itu masih sering menyapaku. Hanya tak seintens dulu. Karena anak-anak sudah besar. Bahkan 2 orang anak kami sudah berada di kota yang berbeda karena menuntut ilmu. Tinggal si bungsu saja yang di rumah. Jadi tingkat kewarasan sudah lebih baik. #ehh.... 😂😂

#catatanhatimakASA
Karawang, 22 September 2019

Liburan



Tak terasa sudah 3 bulan saja si bujang sholih (aamiin...) di pesantren. Ujian mid semester sudah selesai. Dan saatnya libur seminggu. Horee..... 😁🎉🎉🎊
Maka hari ini acara penjemputan dibarengi dengan acara "Nengok Bareng".
Di Al Bayan ada tradisi "Nengok Bareng" satu kali dalam 1 semester. Sebuah acara silaturahim antar orang tua, juga dengan guru dan staff dan diakhiri dengan makan bareng.
Dalam sambutannya, pak Kepsek bercerita bahwa "pulang" adalah sesuatu yang istimewa bagi anak-anak. Anak-anak yang sholatnya sering terlambat, atau punya catatan perilaku minus lainnya, ada iqob (hukuman) berupa terlambat pulang untuk mengikuti kelas motivasi. Terlambat pulang bisa 14 jam sampai 20 jam, tergantung kesalahannya.
Seminggu sebelum pulang, Pak Kepsek mengumumkan bahwa bagi yang sering masbuq (terlambat sholat) ada kesempatan memperbaiki catatannya dengan melaksanakan kebaikan berupa sholat di shaf pertama.
Besoknya selama seminggu, shaf pertama langsung penuh oleh anak-anak dengan catatan masbuq. Mereka langsung menjaga waktu sholat.
"Pak, sholat di teras ini masih terhitung shaf pertama g?" tanya seorang santri yang tidak kebagian shaf pertama di dalam masjid.
"iya," jawab pak Kepsek.
Dan, seketika teras samping kiri dan kanan, penuuuuh...
"Pak, apalagi kebaikan yang bisa mengurangi catatan masbuq?" tanya seorang siswa yang sering masbuq.
"mabit di masjid", jawab pak kepsek.
Dan malamnya pak Kepsek menyaksikan ada beberapa anak yang zikir dan mengaji di masjid.
Masya Allah....
Demi "pulang", agar bisa berkumpul dengan keluarga yang dirindukannya, menikmati masakan bundanya yang lezat, tidur di kamarnya yang nyaman, mereka berusaha memperbaiki catatan buruk mereka.
Saya jadi terbayang kejadian kemarin. Karena Alyssa masih di rawat di rumah sakit, tadinya kami berencana tak menjemput Sayyid. Sayyid rencananya dititipkan saja ke salah satu orang tua murid yang menjemput.
Namanya emak, timbang sana timbang sini, kok rasanya g tega. Membayangkan hati si bujang yang masgul karena temannya dijemput orang tuanya, dia tidak. Orang bercanda ria, dia diam dalam kesendirian.
Saya jadi ingat tulisan ibu dari anak pesantren Husnul Khotimah yang meninggal karena ulah preman. Bahwa surganya anak adalah orang tuanya.
Betapa bahagianya mereka ketika dikunjungi orang tuanya ke pesatrennya. Betapa bahagianya mereka ketika bertemu orang tuanya. Betapa bahagianya mereka dijemput dan pulang bersama orang tua.
Ooh...emak langsung meleleh.
Langsung minta ijin ke ayahnya untuk besok menjemput si bujang. Alyssa dijaga ayah aja. Ayahpun mengijinkan.
Setelah dua kali menelpon di perjalanan, "Ibu sudah sampai mana?", akhirnya wajah sumringahnya pun menyambut saya di masjid sekolah.
Dengan wajah bahagia dia memberikan rapornya. Minta saya segera melihat. Tapi karena acara mau mulai, saya tunda melihat rapornya. Dan sepanjang acara, lanjut dengan konsultasi dengan wali kelas dan mentor, dua kali dia bertanya, "ibu sudah liat rapor Sayyid?"
Akhirnya saya baru bisa lihat rapornya dalam perjalanan pulang. Pantas saja dia sangat ingin saya melihat rapornya. Ada dua angka 100 tertera di sana. Dan catatan masbuqnya 0. 😄
Alhamdulillah, oase kenikmatan setelah ujian hati selama 3 hari ini.
Dan yg bikin hati sumringah adalah catatan dari wali kelas.
"Sayyid ini anaknya sangat unik, bunda. Dapat nilai jelek dia senyum, dapat nilai bagus dia senyum, saat susah dia senyum. Bahkan ketika mau ditegur, dia datang ke saya pun dengan senyum. Jadi g tega...."
Hahaa....orang tua kelas X-1 jadi tertawa semua. Bahkan mama Shiddiq di sebelah saya langsung berbisik, "saya paling senang liat foto sayyid. Selalu tersenyum."
Duuh.... Kebahagian kecil yg membuat hati emak jadi lapang.
Mari kita pulang, nak. Kita rehat dulu untuk kemudian berjuang kembali.😀😀💪💪

Karawang, 28 September 2019
#CurahanhatimakASA

Transisi Hidup



Tak terasa....
Sudah 2 bulan si gadis di tanah rantau. Ehh...terbalik ya? Saya yang di rantau, ia yang di kampung halaman. 😂😂
Si gadis sepertinya mengalami "geger akademis". Loncatan perpindahan anak sekolah dangan anak kuliah, terlalu jauh. Ketika SMA di pesantren, di mana jarak asrama dengan gedung sekolah hanya sepelemparan batu. Sekarang jauuuh..... Kurang lebih 18 km. Kalau nebeng sama om, bisa ngirit ongkos. Kalau jadwal kuliah siang, alamat naik angkutan umum sampai 3 kali. Naik ojek online? 31 rabu sekali jalan. Lumayan banget. 😅😅
Belum lagi pelajaran dan segala kegiatannya. Jauh sekali antara SMA dan kuliah. Sekarang, Quis dan tugas setiap hari. Masa ospek yang masih berlangsung hingga desember. Ekskul, mempersiapkan kegiatan tingkat di bulan November nanti dan lain-lain...dan lain-lain.
Tenaga terkuras, pikiran terkuras. Tapi yang paling ngenes, isi dompet terkuras. 😁😁
Sampai-sampai bendera putih berkibar.. Minta tambahan dana.
Kalau dulu, ketika bertelepon, rutinitas pertanyaan kami adalah bagaimana keadaannya. Sekarang rutinitas kami jadi bertambah nanyain uang, "masih cukup?" 😀

****
Seminggu yang lalu ia baru saja mengikuti bakti sosial mahasiswa baru Fakultas Kedokteran. Ada 3 jurusan yang tergabung, Kedokteran, Kebidanan dan Psikologi.
Baksos di adakan di desa Sumanik, Batusangkar, Sumbar. Penduduk desa sudah menyiapkan rumah-rumah buat mereka tinggal. Kegiatan baksos meliputi, pemeriksaan kesehatan, penyuluhan kesehatan, sunatan masal, mengajar di sekolah-sekolah dan melakukan tes IQ, tes minat bakat serta memberikan training motivasi.
Meskipun ini judulnya bakti sosial mahasiswa baru, tapi yang turun untuk pemeriksaan kesehatan, sunatan, tes IQ dan tes minat bakat adalah para ahlinya. Yaitu dokter umum, dokter spesialis, bidan dan psikolog. Mahasiswa baru hanya bertindak sebagai asisten.
Ketika pemeriksaan kesehatan, datanglah seorang kakek yang mengeluh nafasnya agak sesak,
Dokter : bapak merokok?
Kakek : tidak pak dokter.
Kemudian dilakukan pengetesan pernafasan si kakek. Ternyata indikator alat menunjukkan warna kuning. Berarti si kakek fix perokok.
Dokter : jadi kapan bapak terakhir merokok?
Kakek : tadi malam

😂😂😂😂😂😂😂
Terjadi perbedaan sudut pandang rupanya. 😁

Dan malamnya mereka dihibur oleh penduduk kampung Sumanik dengan kesenian randai. Randai ini merupakan sebuah kesenian tradisional Minang yang menggabungkan seni lagu, musik, tari, drama dan silat menjadi satu. Dan drama yang mereka mainkan adalah drama komedi yang sukses membuat civitas akademika Universitas Andalas Fakultas Kedokteran terpingkal-pingkal.

*****
Nikmatilah, nak.
Nikmati dunia perkuliahanmu. Susah dan senang, nikmati dengan hati lapang. Susah dan senang adalah kawan hidup. Silih berganti mereka menempamu.
Dan jangan lupa berteman dengan siapa saja, tapi PILIH sahabatmu. Karena mereka bisa mewarnaimu. Pilihlah sahabat yang sholeh/sholihah yang mau mengingatkanmu kepada kebaikan.
Dan yg utama, dekatkan dirimu dengan Sang Pencipta.

Karawang, 4 September 2019
#curhatmakASA


******
tulisan ini saya unggah ke FB.
dan salah satu komen yang membuat saya terharu adalah

Sukmawati Pipin Bu, setiap ibu menuliskan tentang Anak2 Sy kok jd auto nangis (terharu) ya bu. Seperti nya Anak2 bangga sekali punya ibu.

Cermat Memang Hebat


Dulu....
Setiap makan di resto, saya jarang menghitung ulang tagihan makan.
Gengsi doong.... Keliatan g bisa ngitung cepet. 😁😁😁 
Gengsi doong.... mampu makan di resto, tapi giliran bayar diitungin ampe detil. Kayak orang pelit. 😂😂
Padahal.... padahal itu mungkin hanya pikiran saya saja.

Sampai suatu hari...
Saya makan di resto Minang terkenal di Bogor. Ketika saya hendak membayar di kasir, sudah ada seorang ibu chiness di sana hendak membayar juga. Rupanya dia tidak percaya dengan hitungan juru hitung resto. Dia keluarkan sendiri kalkulator tukang berasnya (saking besarnya😁). Ternyata selisih angka, klu tak salah sebesar 134.000. Lumayan kan?
Saya terpana. Si ibu chiness itu yang notabene tentu lebih kaya dari saya, tak gengsi menghitung ulang tagihan makannya. Tak takut disebut pelit. Dia cermat. Dia teliti.
Dari situ, saya coba belajar. Tak salah bila kita teliti dan cermat. Kadang, kalau saya malu menghitung ulang di depan kasir, saya bayar dulu, kemudian saya hitung ulang di luar resto.

Ternyata...
Banyak hikmah dari cermat menghitung ulang tagihan makan di resto ini. Bukan... Bukan selisih hitungan seperti ibu itu. Kasirnya teliti kok.
Tetapi saya justru menemukan beberapa kali, apa yang kami makan tidak terbayar karena sang juru hitung lupa memasukkan makanan tersebut. Sehingga tak terhitung dan tak terbayar.
Pertama kali, ketika kami makan di RM Padang di Subang. Karena sudah malam dan buru-buru mau mengantar si gadis ke asrama, saya bayar saja. Setelah di rumah saya cek. Ternyata satu porsi cincang yang kami makan seharga 35 ribu tak terhitung. Bulan depan ketika menengok si gadis, saya terpaksa balik lagi ke RM itu untuk membayar kekurangannya.
Berikutnya, habis pergi jalan-jalan dengan teman, kami makan di sebuah resto di rest area km 39. Karena sudah malam juga, saya lupa mencek dan langsung bayar saja. Ternyata setelah di cek di rumah, dua potong ayam bakar tak terhitung. Alhasil, seminggu kemudian, kami sekeluarga makan lagi di resto itu sekalian membayar kekurangan yang dulu.

Terakhir kemaren.
Setelah seminggu si bujang di pesantren, kami menengok dia. Melihat langsung kondisinya setelah seminggu mondok, sekalian mengajaknya keluar asrama dan makan-makan di resto.
Karena masih siang, dan tidak terburu-buru, saya cek langsung tagihan makan. Ternyata kejadian lagi. 1 kelapa murni tak terhitung. Sehingga langsung bisa dibayar. Alhamdulillah....
Pepatah Minang berkata, "Alam takambang jadi guru". Alam terkembang menjadi guru. Semua yang terjadi di alam ini bisa menjadi guru. Secara tak langsung saya belajar cermat dan tak gengsian dari ibu-ibu chiness itu. Kecermatan ini menghindarkan saya dari memakan makanan yang tak halal karena tak dibayar.
Memang, klu kita tak tau, bukan salah kita. Tapi kecermatan kita bisa menghindarkan orang lain dari kerugian dan menghindarkan kita dari memakan sesuatu yang bukan hak kita. Bukankah cermat itu lebih baik? 😍😍
Anyer, 14 Juli 2019

Bukan karena usaha sendiri


Hari ini pembagian nilai UN kelas 9 SmpAlam Karawang.
Sebenarnya sudah lama saya tak terlalu mementingkan nilai akademis. Karena ada banyak potensi anak yang harus kita kembangkan sesuai dengan bakat dan kemampuan yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya. Ada banyak jalan sukses selain nilai akademik yang bagus.
Tapi ketika mendapati kenyataan bahwa nilai UN si bujang tertinggi dari seluruh temannya, tak urung, hati berbunga juga. Apalagi ingat ketika lulus SD ia juga peraih nilai UN tertinggi. 😊
Alhamdulillah wa syukurilah atas karuniaNya.
Ada satu hal yang selalu saya camkan kepada anak-anak, bahwa ketika ia sukses itu bukan berarti bahwa ia yang terhebat, ia yang terpintar.
Tapi ada banyak faktor yang membuat ia berhasil. Selain usahanya, ada do'a orang tua, ada do'a saudara-saufaranya, ada do'a nenek kakeknya, ada do'a guru-gurunya. Intinya ada do'a dari orang-orang yang mencintainya. Juga mungkin itu balasan dari kebaikan yang ia sebar kepada orang lain, atau balasan atas kesabaran ketika mengalami peristiwa-peristiwa yang kurang menyenangkan. Ada banyak faktor sehingga Allah ridho kepadanya.
Sehingga ketika berhasil, tak perlu jumawa. Dan ketika belum berhasil, mari bersama-sama berjuang kembali.
Ada satu hal yang lucu, ketika ia kukabari tentang nilai UNnya. ia langsung bilang alhamdulillah sembari berkata, 
"Berarti bener nih, apa yang Sayyid lihat di you tube"

"Apaan tuh?"
"Cukup mengeluarkan effort 20%, 80% nya pasrah kepada Allah"
Owh... Ternyata dia selama ini memang merasa hanya mengeluarkan effort buat belajar hanya 20%.
Tidaaaak....... 😂😂
Emakpun langsung merepetkan nasihatnya.
"Besok klu sdh SMA, harus 80% effort, 20% pasrah pada Allah". 😬😬😬

Jalan masih panjang, nak. 
Yuk, singsingkan lengan, berjuang lebih gigih dan bersemangat. Reguk nikmatnya ilmu. Demi menggapai ridhoNya.

Btw, si uni Annisa Muthia, yang juga lulusan sini 3 tahun yang lalu, qadarullah, juga peraih nilai UN tertinggi. Selisih nilai rata-rata mereka hanya 2.5 point. Lebih tinggi si uni. Dan sampai Sayyid yang merupakan angkatan ke 9, nilai UN si Uni belum terpecahkan. Kayaknya si uni kelak mau ngasih hadiah buat yang berhasil mengalahkan nilai UNnya 😁
Special thanks: buat seluruh guru Sekolah Alam Karawang yg sdh membimbing Sayyid dg sabar. Sabar menghadapi si cerewet ini. 😁😁
Powered by Blogger.