Temani Aku.....






Tahun ini, ketiga-tiganya anak kami akan menyelesaikan jenjang pendidikannya masing-masing. Si Sulung akan menamatkan SMAnya, Si Bujang akan menamatkan SMPnya dan si Bungsu akan menamatkan SDnya. Emak pusing. Bukannya hanya masalah uang, tapi juga masalah sekolah baru. Kalau si Bungsu Insya Allah akan melanjutkan SMP di yayasan yang sama. Nah, ini bikin emak agak tenang. Si Sulung, masih tanda tanya. Emak sih berharap ia lulus SNMPTN. Tapi lulus SBMPTN pun Alhamdulillah. Atau kalaupun tidak, lulus universitas swasta pun, tak apa-apa. Yang bikin galau tingkat tinggi adalah si Bujang. Ia mau masuk pesantren. Kalau tak lulus, waah...repot. Mau kemana lagi? Wong...pesantren itu swasta.😂😂 

Alhasil, awal tahun ini, keluarga kami jadi sibuk mondar mandir ke luar kota. Si bujang, Sayyid, mengikuti tes masuk pesantren/boarding school di empat lembaga pendidikan yang tersebar di 3 kota. Satu di Bandung, satu di Karawang dan dua di Sukabumi


Melanjutkan SMA di sekolah boarding atau pesantren, memang merupakan pilihan kami bersama. Ada beberapa hal yang hanya bisa dicapai oleh Sayyid dengan bersekolah di sekolah berasrama. Maka Sayyid mencoba peruntungan di empat sekolah sekaligus. Kenapa begitu banyak? Ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Salah satunya adalah masuk sekolah boarding sekarang sulit. Kalau hanya mengandalkan satu sekolah, kami khawatir apabila ia tidak lulus, terus ingin tes di tempat lain, pendaftaran sudah tutup semua. Walau akhirnya ternyata ia LULUS di semua sekolah yang ia ikuti. Alhamdulillah.

Total bolak balik kami dalam 2 bulan adalah 5 kali bolak balik ke luar kota. Empat kali karena tes, 1 kali untuk memastikan sekolah yang akan Sayyid ambil dari 4 pilihan itu. Yaitu SMA Pesantren Unggulan Al Bayan Anyer. Itu belum dihitungkan dengan survey yang dilakukan ke sekolah-sekolah tersebut di akhir tahun kemarin, sebelum mendaftar. 

Melelahkan? Pasti. Bahkan ketika dalam perjalanan menuju SMA PU Al Bayan ke Anyer, si bungsu Alyssa sudah mengeluh capek dan bosan pergi-pergi terus. Kasihan Alyssa. Harus ikut merasakan capeknya mondar mandir mencari sekolah yang bukan untuk dirinya.

Tapi yang menjadi perhatianku bukan itu. Tapi kalimat penyertanya,
“Kalau Alyssa survey pesantren nanti, juga tes masuknya, uni dan uda harus IKUT menemani,” nadanya tegas.

Masya Allah….ternyata ia mengamati dan berpikir cukup jauh. Si cuek ini, yang kadang kami melihatnya sebagai anak yang tak mau repot berpikir, lebih cenderung seperti air mengalir saja, riang dan enjoy, ternyata bisa juga berpikir mendalam.

Ternyata ia mengamati, ketika kakaknya si Uni Muthia mencari sekolah, kami berlima bahondoh pondoh (ramai-ramai ; minang red) pergi sekeluarga. Di sepanjang jalan, heboh. Makan heboh. Suasana riang. Setelah si Uni di pesantren, anggota keluarga tinggal empat orang. Dan saat Sayyid mencari pesantren, hanya kami berempat saja yang wara-wiri ke sana kemari. Kehebohan berkurang. Dan tentu, apabila nanti si Uda Sayyid sudah di pesantren, hanya tinggal kami bertiga.😢

Pasti terbayang olehnya betapa sepi ketika tiba waktunya bagi ia mencari SMA. Tak ada gelak tawa dia dan kakak-kakaknya, keributan-keributan kecil antara mereka sebagai penghangat suasana. 

Entah kenapa, air mata menggenang di pelupuk mataku. Iya, mungkin sangat sepi ketika itu, nak.😭

Ingatanpun melayang puluhan tahun silam.

Saya lima orang bersaudara.
Ketika kakak sulung kami tamat kuliah sebagai Sarjana Ekonomi di Universitas Andalas Padang, lulus dengan nilai terbaik ke 2, serta pernah menjuarai beberapa kali lomba karya tulis ilmiah tingkat propinsi maupun nasional, terasa eforia bahagia yang luar biasa bagi kami sekeluarga. Terutama ayah kami. Dengan mengerahkan kemampuan finansialnya yang sangat terbatas, beliau mencari pinjaman mobil untuk menghadiri prosesi wisuda itu dan mengajak kami semua untuk pertama kalinya makan di restoran terkenal di kota kami, setelah acara wisuda itu.

Kemudian kakak pertama bekerja di Jakarta. Sehingga ketika kakak kedua di wisuda, formasi kami sudah tak komplit. Eforia bahagia sudah tak setinggi dulu lagi. Walau kami semua tetap hadir di acara wisuda dan makan di restoran setelah acara wisuda itu.

Ketika tiba masaku di wisuda, kakak kedua sudah bekerja. Walau masih satu kota dengan kami, dan beliau menyempatkan hadir di acara wisudaku, tetapi tidak bisa hadir di acara makan-makan kami di restoran karena urusan pekerjaannya. Dua orang kakak tak hadir. Eforia kebahagiaan itu semakin menguap. 

Kemudian setelah itu aku menikah dan di boyong suami tercinta ke Jakarta. Saat adikku nomor empat dan lima wisuda, hanya berempat saja yang tersisa di Padang. Mereka dengan kedua orang tuaku. Dan ayahpun jalannya sudah pakai tongkat akibat serangan stroke. Hanya mereka berempat saja yang menghadiri acara wisuda dan tak ada lagi acara makan-makan ke restoran. Adik-adikku tak tertarik lagi makan-makan di restoran karena merasa sepi.

Tiba-tiba rasa penyesalan menyeruak ke dalam dada. Kenapa tak terpikirkan olehku untuk memaksakan diri pulang demi adik-adikku yang kucintai itu? Kalau kakak-kakakku kesulitan pulang karena tuntutan pekerjaannya, bukankah aku bisa menyempatkan diri pulang demi membahagiakan mereka? Ahhh…😭😭

Kini, si bungsu sudah bisa meraba, apa yang akan terjadi ketika ia mensurvey sekolah nanti dan mengikuti tesnya. Maka, jauh-jauh hari ia sudah membuat sebuah permintaan. Kehadiran kakak-kakaknya! 

Ketika hal ini kuutarakan ke Muthia, tiba-tiba ia terdiam dan pelupuk matanya pun langsung basah. Sedangkan Sayyid, seperti biasa, nyengir sambil ketawa kecil. (ahh…kalian memang berbeda). Tapi keduanya berjanji, berusaha untuk hadir ketika waktu itu tiba. Insya Allah. Mudahkan ya Allah.

Tak akan kami biarkan engkau merasa sepi, sayang…..

Kami akan berusaha hadir kapanpun engkau membutuhkan. Insya Allah

#Jangan lupakan si bungsu


Karawang, 27 Maret 2019


********
Catatan.
Alhamdulillah, Si sulung kami Annisa Muthia lulus SNMPTN di Jurusan Psikologi Univ Andalas,Padang

Pengikat Rindu


Sudah dua kali sayyid bercerita, ibu temannya jago bikin ayam goreng tepung. Bahkan jualan ayam goreng tepung. Rasanya enak.
Saya ingat beberapa orang teman saya juga jago bikin ayam goreng tepung ala KFC.
Tapi saya tak bisa. 😢
Terus saya bertanya, "kayaknya ibu harus belajar bikin ayam goreng tepung juga ya, Yid?"
"G usah. Ibu bisa bikin makanan yang lain. Udah banyak. Semuanya enak."
Hohooo.... 
Ternyata bahagia memang sederhana. Dipuji bisa bikin makanan yg enak, itu rasanya 'sesuatu'. Mereka tak menuntut ibunya harus bisa memasak makanan ini dan itu. Cukup memasak makanan yg menjadi keahlian ibunya saja. Cakeeepp.  😀

Saya jadi ingat, pernah membaca tulisan ahli parenting. Tapi sudah cukup lama. Sehingga saya lupa siapa orangnya.
Beliau menulis, menjadi seorang ibu tak perlu menjadi ahli di semua bidang. Tapi ada dua hal yang sebaiknya para ibu kuasai. Yang pertama, memasak. Tak perlu jadi chef. Bisa memasak satu atau dua resep andalan, sudah cukup. Dan yang ke dua adalah memijat. Tak perlu pula selevel tukang pijat beranak (ups...ini komen saya ya, bukan komen ahli parenting itu 😁) Karena dua hal ini paling cepat membangkitkan memori kepada ibunya. Paling cepat membangkitkan rindu si anak.
Ibu mana yang tak ingin dirindui sang anak?
Makanya walaupun saya tak ahli memasak, satu dua (tiga empat lima...) jenis masakan, berusaha saya kuasai dengan baik dan menjadi andalan.
Makanya hati ini berbunga-bunga ketika dapat telepon dari anak gadis di pesantrennya, teman-temannya ribut berteriak, "tante, udang baladonya enak banget, tante nanti bikin ayam kecap lagi ya, tante nanti bikin sphagetti lagi ya?" dan lain-lain...dan lain-lain permintaan mereka.
Hahaa...meski duit cekak, badan capek, dibela-belain deh, membuat masakan tersebut untuk anak tercinta dan fans dadakan, ketika jadwal berkunjung tiba.
Apalagi muthi 'menggosok', menceritakan seorang temannya pernah menelpon ibunya, "Ma, cobalah belajar masak. Teman aku, si Muthi, ibunya jago masak. Apalagi ayam kecapnya. Enak banget. kayak ayam kecap restoran. Mama kalau aku ingin masakan, pasti beli".
Hehee....padahal emak si Muthi ini hanya bisa memasak beberapa jenis makanan. Itupun bisa diitung dengan jari kaleee... . Jadi weeh, Ibunya ini semangat memasak. Padahal aslinya tak hobi memasak.
Kalau memijat, saya lebih tak ahli. Si Ayah kalau saya pijat pundaknya, tambah kram. Anak saya pijat, tambah masuk angin. Belum lagi tangan jadi pegel. Bukannya sukses malah amburadul. 😂😂😂
Tapi untunglah, si ayah jago memijat. Pijat pegal, pijat masuk angin, pijat sakit kepala, lewaaat. Siapapun dari kami yg butuh pijatan, larinya langsung ke ayah. Jadi biarlah memijat kapling si ayah. Kapling saya memasak saja. Mudah-mudahan kelak kami berdua selalu dirindukan mereka. Aamiin.
Yuuk...emak-emak, miliki satu, dua atau lebih resep masakan andalan, untuk "mengikat rindu" anak kita. Kalau mereka jauh, mudah-mudahan mereka sering pulang menengok emak tercintanya ini sembari minta dibikinin masakan kesukaan mereka. Kebayang bahagianya kan, maaak? 
😍😍😍

Yang bisa ngajarin saya bikin ayam KFC boleh colek saya. 😁😁😁
Colek mamanya alif ahh... Imma'Sshu. Ayam gorengnya dipuji Sayyid terus. 😊😊😊


Karawang, 26 Desember 2018

Dinamika Anak Pesantren



Tadinya saya ke Assyifa Boarding School hanya hendak mengantar laptop si gadis yang habis direparasi. Ternyata hari ini adalah pembukaan Assyifa Festival (Syifest) putri. Dengan bintang tamu Annisa mantan personal Cherrybell yang sudah berhijrah. Para gadis muda antusias mengikuti talk shownya.



Ikut larut dan menikmati acara suguhan dr gadis-gadis muda sholihah ini. Syifest Putri yang akan berlangsung selama 4 hari dengan peserta lomba hampir 700 orang dari seluruh pulau Jawa, dikemas apik oleh penyelenggara kls XI putri. Saluut... 
Intip-intip bazar, ternyata dijual majalah akustik, majalah yang dibuat eskul jurnalistik, ekskul si gadis. Dimana dia terlibat sebagai wartawan. Majalah ini memuat artikel yang dibuatnya. Juga ada laporan ketika ia menjadi duta negara di Sunburse Youth Camp di Singapura tahun 2017. Hmm... 😍😍



Ketika akan pulang, ada yg lucu. Kami berpapasan dengan 3 org teman Muthi. Mereka hendak pulang ke Jakarta, (selama Syifest berlangsung, kelas XII boleh pulang) tapi tak dizinkan kalau tak ada orang tua yang memdampingi. Maka saya bersedia mendampingi mereka.
Dengan wajah gembira mereka pun kembali ke asrama untuk mengambil perlengkapan. Ketika balik, Masya Allah... Ternyata yang ikut bukan 3 orang melainkan 9 orang! Antara kaget dan ingin ketawa. 😊


Rupanya, teman-teman mereka yang sekamar, yang orang tuanya tinggal di luar daerah dan luar negeri mereka ajak serta liburan ke rumah mereka.
Kapasitas mobil hanya untuk 7 orang. 2 di depan, 3 di lajur tengah dan 2 di lajur belakang. Sekarang di jejali 11 orang. 2 di depan, 5 di tengah dan 4 di belakang. Berhimpitan seperti mobil sayur. 😂
Satu masalah selesai. Semua bisa masuk. Mereka hendak naik bus ke Jakarta. Jadi saya hanya diminta mengantar sampai ke terminal bus Subang. Masalah berikutnya, ternyata tak ada seorangpun dari kami yang tau dimana terminal bus Subang itu berada. 😂😂
Akhirnya, mereka pun saya bawa ke Karawang. Setiba di Karawang, mereka pun melanjutkan dengan kendaraan umum ke Jakarta.
****
Liburan, adalah suatu hal yang sangat istimewa bagi anak pesantren. Kesempatan untuk lepas sejenak dari suasana asrama dengan segala peraturannya. Kesempatan melihat dunia luar. Merilekskan diri. Juga memperoleh privasi. Sehingga ketika balik ke pesantren, mereka datang dengan semangat baru. Energi baru. Siap menerima guyuran ilmu dari ustad maupun ustadzah.
Liburan juga kesempatan bagi mereka untuk berbagi. Membawa serta beberapa orang teman sekamar atau teman sekelas yang rumahnya jauh. Sehingga tak memungkinkan bagi mereka untuk pulang di waktu liburan singkat (istilah Assyifa, pesiar). Semoga persahabatan mereka terjalin sampai ke syurga.
Love you...anak-anak. Kalau libur lagi, ibu bawa mobil Elf. Biar muat lebih banyak. 😅😅😅

Biarkan mereka mencari solusi




Kemarin si kikoy, kucing kami, lagi-lagi BAB di dalam rumah. Kalau kemarin-kemarin dia BAB di sofa di ruang tamu, kasur Sayyid, dan bale di ruang tengah. Yang membersihkannya, kadang saya dan sayyid, kadang Sayyid dan ayahnya.
Alyssa sama sekali tak mau terlibat. Karena dia sudah nangis duluan. Jijik, katanya.
Kali ini, si kikoy BAB di lantai dekat meja. Membersihkannya lebih mudah di banding di kasur. Tapi Sayyid menolak membersihkannya.
"Sudah 3x Uda ngebersihinnya. Pokoknya sekarang Uda nggak mau. Uda ngak akan ngebersihinnya. Itu tugas Alyssa. Kikoy kan kucing bersama," omelnya kesal.
Walau Alyssa beruraian airmata, tapi si uda kekeuh tak mau membantu. Kali ini saya berpihak kepada si Uda. Drama airmata ini harus disudahi. Dia harus ikut bertanggungjawab atas komitmen bersama.
Setelah menunggu agak lama sampai si airmata itu lenyap, akhirnya dia keluar dari kamarnya.
Begitu melihat tampilannya, asli ngakak. Kostum siap tempur. Mulut dan hidung ditutup masker. Tangan dilapisi sarung tangan bekas panjat tebing kemarin. Tak tanggung-tanggung. Langsung dua lapis. Itupun masih kurang. Masing-masing tangannya ia lapisi lagi dengan kantong kresek. 😂😂
Kemudian iapun beraksi sampai selesai. Tanpa tangisan, walau sedikit misuh-misuh.
Saya apresiasi dengan mengacungkan jempol dan sedikit pujian. Bahwa ia berhasil mencari solusi untuk mengatasi rasa jijiknya (walaupun lebay dan tisu habis banyak).
Melihat Alyssa dengan kostumnya, saya jadi teringat dengan Muthi. Ketika SD, saat saya minta membuat sambal, pasti matanya panas pas sesi menggiling bawangnya. Makanya setelah beberapa kali 'menangis' dalam menyelesaikan tugasnya, akhirnya ia pun punya ide. Ia memakai kaca mata renang selama adegan menggiling berlangsung. Dan terbebaslah ia dari mata panas dan air mata. 😀😀
Ingin saya foto, supaya ketika belasan tahun kemudian, mereka akan tertawa melihat dirinya seperti saya tertawa melihat mereka saat ini. Tapi sayang, tak satupun dari mereka ingin di foto dalam kondisi "terbaik" ini.
Jadi ingat kata psikolog. Bahwa pintar yang sesungguhnya adalah ketika mereka mampu menyelesaikan masalah. Bukan ketika mereka meraih nilai tertinggi dalam suatu pelajaran di sekolah. Keunggulan di bidang kognitif hanyalah SATU dari banyak kecerdasan yang diberikan Allah kepada mereka.
Ketika saya kelas 3 SMA, saya punya guru biologi yg sangat hebat, Namanya bu Nur Netty (semoga Allah merahmati beliau), sudah tua tapi sangat pintar menerangkan. Kata beliau, meskipun anak orang kaya makanannya sangat bergizi tapi kalau tak dilatih otaknya, tidak dilatih jasmaninya, dia tidak akan jadi orang yang cerdas.
Tapi banyak anak orang biasa yang makanannya biasa saja, justru sangat cerdas karena otaknya banyak dilatih, fisiknya banyak dilatih.
Jadi bukan makanan yang bergizi yang membuat mereka cerdas. Tapi karena banyak dilatih".
Belasan tahun kemudian, baru saya paham, itulah yg disebut STIMULUS. Beliau mengajarkan parenting di jaman yang istilahnya saja belum dikenal.
Ketika dilahirkan, otak anak sudah memiliki sel syaraf yang berjumlah milyaran. Namun jumlah itu banyak yang hilang setelah dilahirkan. Ketika otak mendapatkan suatu stimulus yang baru, maka otak akan mempelajari sesuatu yang baru. Stimulus tersebut akan menyebabkan sel syaraf membentuk sebuah koneksi baru untuk menyimpan informasi. Sel-sel yang terpakai untuk menyimpan informasi akan mengembang, sedangkan yang jarang atau tidak terpakai akan musnah.
Di sinilah pentingnya suatu stimulasi yang rutin diberikan. Stimulasi yang terus-menerus diberikan secara rutin akan memperkuat hubungan antar syaraf yang telah terbentuk sehingga secara otomatis fungsi otak akan menjadi semakin baik.
Jadi, anak yg banyak melakukan, banyak mencoba, dibiarkan menghadapi masalah dan menyelesaikan sendiri permasalahannya, otaknya kan berkembang dengan pesat. Karena otaknya selalu mendapat stimulus.
Permasalahannya, banyak orang tua yang mager. (Ups, Saya kaleee...😁) Dari pada ribut dari pada repot, anak diberi tablet/HP. Mereka anteng dan emakpun nyaman facebookan. 😁😁
Kadang, anaknya yang mager. Terbiasa dibantu, terbiasa dimaklumi, terbiasa dikasihani, sehingga mereka tak memiliki daya juang untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Sedikit rengekan, sedikit merajuk, sedikit tangisan menghiba, maka orang tuapun turun tangan membantu. (Upps, ini juga saya kalee 😁)
Buku PR tertinggal, kita langsung tergopoh-gopoh mengantarkan ke sekolah supaya mereka tak di hukum. Tas sekolah berat, kita langsung menggendong tas tersebut sampai ke depan kelas dan sampai ke dalam kamarnya. Piring kotor sehabis makannya, kita juga yang mencuci.
Maaak... Kapan mandirinya mereka, kalau kita (meminjam istilah Ibu Elly Risman) selalu menjadi malaikat penolong?
Tak bisa lain. Mereka harus diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Mereka makhluk yang cerdas. Ketika kita membiarkan mereka dengan permasalahannya, maka mereka pun bisa kreatif memikirkan solusinya sendiri. Membiarkan dia jatuh bangun menyelesaikan persoalannya, tanpa sadar kita sedang membentuk manusia-manusia tangguh.
Tapi jangan dikritik ya maak... Kalau solusi mereka tak secanggih solusi kita. Kalau mereka lamaaa...baru bisa menemukan solusinya. Kalau ada air mata dalam prosesnya.
Berikan semangat, pelukan hangat ditambah segelas susu hangat. Pasti makjleb. 
#tulisan ini sesungguhnya untuk saya. Untuk selalu semangat memberi mereka kesempatan berjuang. Untuk tak luluh dengan 1001 trik mereka 'mengendalikan' emaknya. 😍😍

Karawang, 25 Januari 2019

SEWANGI ASLINYA



#catatan Reuni 212 #2

Aksi Bela Islam 212 2016, pasti menimbulkan kesan yang mendalam di hati umat Islam Indonesia. Baik bagi yang hadir maupun yang hanya mendengar cerita atau membaca ceritanya lewat media sosial. Sebuah demo damai yang terpuji sampai ke dunia Internasional. Demo santun dan tertib yang dihadiri oleh jutaan umat Islam dari seluruh wilayah Indonesia.
ABI 212 dan Reuni 1 ABI 212 tak bisa saya hadiri karena suatu alasan. Sehingga ketika ditakdirkan Allah untuk hadir di Reuni 2 ABI 212, rasanya sesuatu banget. Hanya keindahan demi keindahan yg saya rasakan dari awal hingga akhir acara.

Saya dan teman-teman berangkat dari Karawang jam 1 malam dengan menggunakan bus kualitas standar dan AC yg soak. Karena menurut berita bus kualitas premium tak diperkenankan membawa peserta Reuni. Alhamdulillah... Kami tetap bersyukur. Masih ada bus yang mau membawa kami ke Monas.
Kami sampai di depan hotel Capital di daerah Kwitang jam 3.30 WIB. Bus tidak bisa lebih maju lagi karena sudah banyak umat yang berjalan kaki menuju Monas. Kamipun turun dan bergabung dengan mereka. Rombongan dari Solo yang baru turun di stasiun Gambir dengan membawa bendera Tauhid berbagai ukuran selalu meneriakkan takbir sepanjang jalan. Sehingga kami semua terbawa semangat.
Awalnya saya mengira kami sudah tidak bisa masuk ke Monas mengingat massa yang sudah banyak. Ternyata kami masih bisa masuk bahkan dapat tempat di depan Monas. Dan merasakan sholat Subuh bersama jutaan saudara muslim se-Indonesia dengan beratapkan langit, bermandikan cahaya, udara yang sejuk, sungguh sangat menggetarkan. Apalagi Sang Imam melaksanakan sholat subuh ini dg do'a qunut yg super duper panjang sekali dan disertai beberapa kali terisak. Membuat mata kita turut tergenang air mata. Apalagi mengingat kondisi umat Islam saat ini, khususnya di Indonesia.

Di sini, terlihat sekali indahnya ukhuwah islamiyah dari para peserta yang hadir. Juga adab dan kesantunan yang patut diacungkan jempol. Yang berkemampuan, berusaha memberi apa saja buat saudara-saudaranya yang hadir. Ada yg memberikan makanan aneka rupa. Mulai dari makanan berat, nasi ayam bakar, nasi ayam fried chicken, nasi kebuli, rendang dan segala rupa nasi sampai berbagai aneka snack dan aneka minuman. Ada juga yang memberikan sandal, sajadah, jas hujan, bahkan juga hansaplast, jamu masuk angin, koyo dan lain-lain.
Dan peserta reunipun sangat santun. Tak ada yang kalap mengambil dalam jumlah banyak, untuk dibawa pulang, misalnya (seperti emak-emak arisan 😁😁). Mereka mengambil dalam jumlah secukupnya untuk dirinya atau sekalian temannya.
Tak ada yang rebutan makanan atau nasi kotak. Oh...NO. Di sini makanan banyak dan minuman melimpah. 😀
Yang agak menarik perhatian saya ada satu tenda posko relawan yg isinya dua orang laki-laki. Mereka sibuk merebus. Makanan yang pertama kali mereka sajikan adalah rebusan jagung manis dan pisang. Setelah makanan ini habis, dari panci rebus mereka telah matang pula kacang tanah. Dan tersajilah kacang tanah rebus yang mengebulkan asap. Sangat menggoda di pagi hari yang sejuk ini. Masya Allah, bapak-bapak gitu lho... Mau berlelah-lelah merebus penganan kecil untuk para mujahid-mujahidah reuni 212. Saluuutt 

Ketika antrian ke toilet panjang mengular membuat mereka tak bisa bergerak ke sana ke mari mengambil makanan, para relawan ini ada yang ikhlas hati bolak-balik mengantarkan dan menawarkan makanan dan minuman kepada para antrian ini. Sungguuuuh.... Indah. 😍
Kemudian saya melihat beberapa orang membagikan majalah Moeslim Choice. Ingin hati memiliki. Tapi relawan tak mendekat kepada saya. Untung saya nggak kalap berlari ke sana. 😬
Ketika suatu saat saya lewat di dekat sebuah posko makanan, mereka menawarkan makanan. Saya menolak dengan halus karena memang sudah kenyang. Di sebelah mereka, saya melihat seorang pemuda memegang majalah yang saya inginkan itu. Dan sayapun bertanya, "Saya pengen majalah ini. Dimana poskonya ya mas? "

Sang pemuda langsung mengulurkan majalah di tangannya yang cuma satu-satunya itu. 
"Ini, bu. Ini buat ibu saja. Tapi tolong do'akan saya segera dapat jodoh ya, bu? " jawabnya sambil tersenyum manis.

Semua yang mendengar langsung tertawa. 
Akhirnya saya do'akan ia agar segera bertemu dengan jodohnya seorang wanita sholihah nan pemurah seperti dirinya. Semua yg mendengar ikut mengaminkan. 
Oh... Indaaah sekali. 🌹


Rejeki memang tak kemana. Majalah ini memang ada takdirnya untuk saya miliki. Dengan jalan yang tak terduga.
Ketika di dekat saya duduk, berdiri beberapa pemuda yg memegang bendera tauhid dan bendera komunitasnya dengan posisi yang eye cathing untuk difoto, saya pun menjepret mereka. Ketika saya tunjukkan hasilnya, mereka senang. Kemudian mereka bercerita singkat, 
"Kami dari Komunitas Pemuda Hijrah Cianjur, bu. Kami dulu anak-anak nakal. Do'akan kami agar tetap istiqomah ya, bu?"



Oh... Meleleh hati ini. Walaupun sebagian mereka masih terlihat bertato, tetapi aura wajahnya cukup teduh. Semoga Allah meneguhkan iman mereka agar tetap istiqomah di jalan dakwah.



Banyak hal-hal yang sangat indah dan menyentuh selama reuni ini. Maka, sungguh tak habis pikir ketika ada yang berteriak memfitnah dan mencaci maki. Hanya yang hatinya keras dan tak pernah ikut aksi ABI ini yang tega berbuat seperti itu. Seperti pantun dari babe ustad Haikal Hasan, di dalam ceramahnya,
Pohon mahoni, buahnya jarang
Kami yg reuni, mereka yg meriang 😂😂

Di sini juga banyak sekali bendera tauhid yg berkibar. Ada komunitas yg mengancam kalau ada yang berani mengibarkan bendera tauhid di cara reuni 212, ia dan pasukannya akan merebut bendera itu. Tapi sepertinya mereka ketiduran. Karena kalau mereka datang pasti akan repot sekali mereka mengumpulkannya. Jutaan! 😁


Dan satu momen yang membuat saya merinding ketika bendera tauhid berukuran raksasa melewati kepala saya. Dengan semangat saya ikut menggeserkan bendera kecintaan itu sehingga ia berkeliling di Monas ini. Mudah-mudahan saya bisa melafazknnya ketika saya sakratul maut nanti 😭
Yang tak boleh dilupakan adalah pahlawan kebersihan. Selama acara, relawan kebersihan selalu hilir mudik memunguti sampah yang tercecer dari peserta. Mereka menyelamatkan acara ini dari sasaran caci orang-orang yang berpenyakit hati. Ketika saya melihat seorang relawan bocah yang bersemangat memunguti sampah, sayapun menjepretnya. Ketika dia sadar hendak di foto, saya pun dihadiahi tawa bahagianya. Indaaaahnya..😍

Dan ketika pulangpun, saya tetap melihat keindahan.
Peserta yg keluar dari pintu tenggara Monas bertemu dengan peserta yang keluar dari pintu arah timur laut (depan PLN). Pertemuan terjadi di depan kantor kostrad. Macet. Stag. Tidak bisa bergerak. Sementara matahari jam 11 sangat garang menyengat. Badan rasanya menjadi lelah. Sesaat saya membayangkan musibah terowongan Mina. Karena peserta masih akan terus keluar dan mengalir dari pintu tenggara maupun timur laut Monas. Mereka lebih dr 10 juta. Apa kami tidak akan terjepit di tengah-tengah?
Untunglah ada laskar FPI. Dengan TOA di tangan dan naik ke atas mobil, mereka membelah massa menjadi dua. Yang hendak ke arah Tugu Tani, ambil posisi ke kiri jalan. Dan yang hendak ke arah Istiqlal, ambil posisi ke kanan jalan. Awalnya, massa tak bergerak. Susah bergerak krn padat. Tapi laskar FPI tetap menyemangati dengan santun agar massa mau berpindah sesuai arahan. Sekali-sekali mereka teriakkan takbir untuk menyemangati sekaligus mengademkan massa yang mulai resah.
Akhirnya perlahan-lahan massa bergerak ke posisi arahan. Yang hendak ke arah Istiqlal bergerak ke kanan dan yang ke arah Tugu Tani bergerak ke kiri. Dan tak lama kemudian arus mulai mengalir. Saya sungguh merasa lega yang amat sangat karena kejadian terowongan Mina menjauh dari pikiran. Tapi teman saya umi Yuni yang memang kondisinya kurang fit, sempat kami bawa ke posko kesehatan di depan kantor Pertamina untuk mendapat perawatan.
Yang mengherankan dan menguntungkan, posko kesehatan yg diprakarsai oleh Yayasan Bintang Rahmah, sebuah yayasan yang berdomisili di Tangerang yg berkerjasama dengan RS Sari Asih Tangerang mendirikan posko pas di depan lokasi kemacetan terjadi. Sehingga ada beberapa orang yang pingsan, atau pusing karena kejadian itu segera mendapat pertolongan. Padahal lokasi ini cukup jauh dari arena reuni 212. Posko merekapun sangat seherhana. Hanya sebuah tenda yang mereka dirikan di trotoar dengan dua buah kasur lipat dan seorang dokter serta beberapa tenaga medis. Mereka sangat sibuk menangani sekitar 20 orang pasien karena kejadian macet itu. Sehingga beberapa pasien terpaksa tidur di trotoar beralaskan kardus bekas. Masya Allah.
Dan satu kejadian yang luar biasa lagi, setelah kemacetan itu terurai, ada seorang anak laki-laki kelas 6 SD menangis karena terpisah dari teman-temannya. Iapun dibawa ke posko ini. Saya pun ikut menginterogasi ehh...menenangkan si bocah ini. 😁
Ternyata si bocah yg berpakaian baju koko rapi dan berpeci ini, pergi ke acara reuni 212 dengan dua orang teman lainnya, 1 orang kelas 6 SD, 1 orang lagi SMP, dengan menumpang truk gratis dari rumah mereka di Tangerang. Ketika hendak pulang, ia terpisah dari temannya ini. Maka paniklah ia. Tak tahu jalan pulang, tak punya uang dan orang tuanya pun tak punya handphone.
Qadarullah ia diketemukan di dekat posko ini, yg mana orang-orangnya juga orang Tangerang. Mereka tau alamat si bocah. Dan mereka berjanji mengantarkan si bocah pulang ke rumahnya.

Lihat? Si bocah ini benar-benar mujahid sejati. Dengan kondisi kekurangan tak mengurangi hasratnya untuk ikut reuni 212. Tak mungkinlah Allah menyia-nyiakan si anak. Allah damparkan ia di dekat posko yayasan Bintang Rahmah yg berasal dari daerahnya yaitu Tangerang. Sungguh, Allah sangat menyayangi hambaNya yang cinta kepadaNya.
Ahh... Begitu banyak pelajaran hari ini untukku. Langsung diberikan Allah untuk saya lihat dan rasakan. Masya Allah, Alhamdulillah... Tak mampu berkata-kata lagi atas nikmat ini.






Karawang, 3 Desember 2019

Suka duka dengan tenaga paramedis


Alyssa menjelang operasi amandel

Saat ini rasanya jarang sekali ada orang yang tak bersentuhan dengan rumah sakit. Entah anaknya yang sakit, saudaranya, tetangganya, orang tuanya, atau mungkin dirinya sendiri. Sakitnya entah karena suatu musabab, atau tanpa sebab. Tiba-tiba sakit aja.
Saya sebenarnya agak jarang sakit. Sekalinya sakit langsung operasi. Operasi amandel, operasi sinus, operasi sectio. Tapi begitu punya anak (empat orang) jadi rajin ke rumah sakit (duluuu…lho😊). Gantian saja yang sakit. Dari yang awalnya tidak mengerti dengan prosedur rumah sakit, sampai hafal nama-nama obat berikut sedikit istilah-istilah kedokteran.
Meskipun sebenarnya tak terlalu menyukai rumah sakit (ya…iyalah, siapa juga yang mau sakit?), tapi mau tak mau kita bergaul juga dengan rumah sakit. Karena rumah sakit salah satu alternatif berobat ketika kita sakit agak berat. Datangnya lemas tak bertenaga, remuk redam rasa badan, setelah perawatan 3-4, insya Allah kita bisa pulang dengan tersenyum. Itu sebelum melihat tagihannya lho…😁
Jadi di sarankan, biar suami saja yang melihat tagihan dan membayarnya. Emak-emak biar melihat tagihan belanja. Makin mahal makin senang. 😜
Berurusan dengan rumah sakit tentu pernah mengalami duka. Wajah-wajah tenaga paramedis di rumah sakit kadang tak bersahabat dan jarang melempar senyum. Mungkin mereka lelah, mungkin juga krn sudah rutinitasnya berhadapan dg penderitaan pasien shg mereka sdh imun dg segala kepedihan sehingga empatinya terhadap pasien sedikit tergerus. Padahal senyum mereka adalah obat yang pertama bagi pasien dan keluarganya.
Dijutekin, berwajah masam, tidak dipercaya, diremehkan, itu adalah bagian yang pernah saya alami. Sedih ya? Kalau teman-teman tidak pernah mengalaminya, selamat! Berarti anda horang kayah. 😁 Selalu mendapat perlakuan premium.  

Sehari sebelum Sayyid operasi pemasangan alat ASO di jantungnya yang bocor

Pernah, ketika Sayyid berumur 3 tahun (11 th yang lalu) tanpa sepengetahuan saya dia memanjat mobil dan naik sampai ke atas atap mobil. Kemudian ia terjatuh dari atap, menggelinding lewat kaca depan, terus ke kap mobil dan jatuh ke lantai. Awalnya dia diam, tangannya kaku (sepertinya menahan sakit yang sangat), setelah saya peluk barulah dia menangis. Dan akhirnya muntah. Takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan, sayapun melarikannya ke UGD rumah sakit terdekat.
Di UGD, setelah di cek oleh dokter jaga dan disarankan untuk observasi, datanglah petugas administrasi. Setelah mengisi form, petugas itu bertanya, di sela-sela tangisan Sayyid. 
“Mau kamar kelas berapa bu?”
“Kelas 1,” jawab saya.
“Maaf bu, biasanya kalau karyawan T***** kelas 2 bu.”
“Saya kelas 1.”
“Baik bu,”

Ia pun berlalu, pergi ke ruang administrasi. Tak lama kemudian ia balik lagi.
“Bu, kalau T***** itu biasanya kelas 2”
“Saya kelas 1.”
“Kalau seandainya ibu kelas 2, berarti segala kelebihan pembayaran ibu yang menanggung ya?”
“Iya,” jawab saya mulai kesal.

Saya repot menggendong dan membujuk Sayyid yang terus menangis, sementara ia repot dengan urusan kelas. Saya pikir setelah kedatangan yang kedua, sudah selesai. Tapi, innalillahi…. tak lama ia pun balik lagi.
“Maaf bu, kalau seandainya jatah ibu kelas 2 dan ibu mengambil kelas 1, segala kelebihan pembayaran ibu harus bayar ya?”
Emosi saya pun naik. 
“Mas, penentuan kelas itu ada aturannya. dan kami di kelas 1,” jawab saya dengan suara meninggi.

Dan ia pun akhirnya pergi tak pernah kembali. Sampai Sayyid pulang keesokan harinya. Sayonara…
Pernah juga saya ke rumah sakit membawa Muthi. Sistem sudah berubah. Kalau dulu cukup dengan tanda tangan, sekarang dengan menggunakan kartu asuransi. Ketika kartu asuransi dari kantor suami saya ajukan, petugasnya bilang,
“Bu, kartu asuransi ini berlaku hanya untuk rawat inap”
“Kalau yang ini bisa buat rawat jalan mba,” jawab saya sambil senyum maniiiiis….sekali. Plus ramah.
“Nggak bu. Kartu ini hanya berlaku buat rawat inap.”
“Silahkan di cek mba, kartu ini juga bisa buat rawat jalan,” jawab saya masih ramah.
Ehh…dia yang jengkel. Nadanya mulai meninggi,”
“Ibu, kartu asuransi yang dari T***** hanya bisa buat rawat inap.”
“Kalau gak percaya, silahkan di cek mba. Yang ini bisa rawat jalan,” jawab saya dengan tensi yang mulai meninggi. Dua kali minta di cek, tak juga ia gubris. Eeh…dia malah tambah ngotot.
“Enggak bu. Kartu ini hanya bisa buat rawat jalan.”
Kesabaran saya pun habis.
“Astaghfirullaah….tolong di cek!” Kalimat bentakan pun keluar dari mulut saya.

Akhirnya dia bertanya kepada rekannya satu ruangan apakah kartu asuransi saya bisa menanggung rawat jalan. Sang rekan menjawab singkat,
“Sebagian ada juga yang rawat jalannya di cover”

Setelah dia cek ternyata memang kartu asuransi yang saya ajukan bisa mengcover rawat jalan. Dan ketika ia melanjutkan proses input data, tak lupa saya skak sedikit,
“Makanya mba, jangan ngotot dulu. Di cek aja. Ternyata bisa kan?”

Wajah polos begini dikira bohong. Hadeuuuh…😅
Itu masalah tak dipercaya. Belum lagi pelecehan berupa meremehkan.

Sayyid di ruang operasi. Sesaat akan menjalani operasi jantung

Dulu ketika Sayyid hendak operasi jantungnya yang bocor, saya harus pergi ke ruangan asisten dokter jantung untuk meminta jadwal operasi. Kantor sang asisten ada di gedung lain dan terletak di lantai 4. Setelah nyasar beberapa kali (waktu itu belum ada google map☺️), akhirnya sampai juga. Begitu pintu saya ketuk, muncullah wajah sang asisten. Pintu hanya di buka sedikit, selebar badannya saja. Sambil berdiri di pintu dengan wajah datar tanpa senyum ia bertanya keperluan saya. Begitu saya serahkan surat pengantar dari dokter jantung, ia pun bertanya dengan “kejam”,
“Pembayarannya pakai apa?”
Duh…Gusti. Tak ada ramah-ramahnya. Tak ada senyum sedikitpun. Seakan-akan saya makhluk kere yang tak akan sanggup membiayai operasi mahal itu (padahal iya😂). Ketika saya jawab asuransi. Alisnya naik. Kemudian buru-buru saya tambahkan “asuransi dari T*****”.
Ajaib. Seketika ada seulas senyum samar di wajahnya. Pintupun dia buka lebar. Dan sayapun dipersilahkan masuk ke ruangannya yang luas tapi agak berantakan itu dengan bahasa yang mulai ramah.
Hati saya perih. Bagaimana kalau yang datang orang-orang susah apalagi dengan menggunakan asuransi pemerintah. Mungkin perlakuan yang mereka terima lebih menyayat hati. Padahal sudah seharusnya ia bersikap sopan, menyilahkan tamu masuk dan baru bertanya apa keperluannya. Ingat, gaji yang ia terima adalah hasil keringat para pasien.
Masih tentang Sayyid. Ketika ia berumur setahun, ia sering sekali BAB. Bisa 3-4 kali dalam sehari. Dan banyak. Badannya yang tadinya montok, perlahan-lahan mulai mengurus. Hati langsung merasa ada yang tak beres. Saya bawa ke dokter pertama. Beliau menganjurkan cek feces. Setelah hasilnya di dapat, beliau meresepkan obat. Sampai obatnya habis, tak ada perubahan. BABnya tetap sering dan banyak. Saya pindah ke dokter kedua, kembali cek feces dan diberi obat. Tak ada jua perubahan. Saya pindah ke dokter ketiga. Sama. Tak ada perubahan. Saya pindah ke dokter ke empat. Masih sama. Total saya sudah melakukan empat kali cek feces ke rumah sakit yang sama dengan petugas laboratorium yang sama.
Kemudian saya pindah ke dokter yang ke 5. Dokter ini meminta pemeriksaan yang lebih mendalam, feces analysis. Ketika saya bawa feces Sayyid ke rumah sakit itu dan lagi-lagi berjumpa dengan petugas yang sama. Ia pun sudah mengenali saya. Ketika ia membaca surat pengantar dari dokter, ia pun berkata dengan wajah yang gimana gitu...,
“Wah bu…kalau feces analysis ini mahal dibandingkan cek feces.”

Pengobatan yang sudah berbulan belum menunjukkan hasil serta mondar-mandir rumah sakit dan tempat praktek dokter, membuat saya lelah raga serta pikiran ini langsung tersulut mendengar perkataan yang menurut saya merendahkan itu. Dengan emosi saya pun berkata,
“Berapa biayanya? Saya TIDAK AKAN menawar !”
Ia pun langsung ngibrit ke dalam setelah menyebut angkanya.
Singkat cerita, lewat rekomendasi dokter ke 5 ini, akhirnya sayyid dirujuk ke RSCM dan bertemu seorang profesor di bidang gastrologi (pencernaan). Ternyata penyakit Sayyid adalah alergi parah terhadap susu sapi dan turunannya (keju, youghurt), kedelai dan turunannya (susu kedelai, tahu, tempe, kecap) serta kuning telur. Setelah menggunakan metoda eliminasi selama 2 tahun, lanjut dengan provokasi-eliminasi selama 6 bulan,akhirnya imun Sayyid terhadap makanan tersebut terbentuk. Alhamdulillah. 

menunggu siuman setelah selesai pemasangan alat ASO di jantung Sayyid

*****
Kembali ke laptop. Walau mendapat beberapa kali ‘penganiayaan bathin’ (😆😆) oleh paramedis, tapi saya tak kapok. Saya maklum. Mereka manusia juga seperti saya. Kadang bisa baik, kadang juga bisa mengeluarkan tanduk amarah. Mari berlapang dada saja. Saling memudahkan. Saling memaafkan.

Saya tak tahu apakah mereka sebelum bekerja mendapat training adab sopan santun entah tidak, tapi saya berharap paramedis di Indonesia lebih baik dan lebih ramah dalam bekerja. Karena tak hanya fisik yang sakit, bathin pasien dan keluarganya justru lebih rentan sakit. Mari memanusiakan manusia tanpa memandang harta dan jabatan. Tapi pandanglah, mereka juga manusia seperti kita.
Pengalaman terbaru minggu lalu, ketika kami membawa Muthi berobat ke sebuah rumah sakit. Ketika ayahnya memberikan kartu asuransi, petugasnya berkata,
“Maaf pak, kartu ini hanya untuk rawat inap.”
“Ini bisa buat rawat jalan. Coba aja dulu,” Kata si ayah.
“Oh…gitu. Eehh…Bapak direktur ya?” jawabnya sambil tersenyum ramah.
“Bukaan…,” kata si ayah.
“Ahh…Bapak pasti direktur,” tanyanya lagi.
“Bukan ahh…saya pegawai biasa,” kata si ayah.

Muthi langsung berbisik, 
“Ibu dulu gak dipercaya sama rumah sakit. Mungkin gaya ibu yang terlalu sederhana. Coba ibu dandan agak menor dikit, pakai gelang berderet sampai ke lengan, pakai kalung yang panjangnya sampai ke pusar, pasti deh mereka percaya.”

Kamipun tertawa. Muthi merasa lucu dengan candaannya, saya merasa ngenes. Nasib…nasib…😎
****
Upss…si gadis mungilku tak tersebut dalam berita. Si ayah suka protes kalau si bungsunya tak disinggung. Hmm…si mungilku ini yang mulai beranjak abg, walau kelahirannya bermasalah tapi alhamdulillah, selama dalam proses menumbuh dan membesar, saya tak pernah bermasalah dengan tenaga paramedis di rumah sakit manapun. Aman tentram terkendali seperti sifatnya yang enjoy.😍😍


Karawang, 3 November 2018
Powered by Blogger.