Penerimaan Total

 



Sebagai manusia, tentu kita paham. Tak ada manusia yg sempurna, meskipun ia seorang nabi. Meskipun nabi itu bersifat ma'sum (terpelihara dari dosa besar), tapi mereka pun pernah melakukn kesalahn-kesalahan kecil. Bedanya nabi dengan kita, nabi melakukan sedikit kesalahn, kita sedikit-sedikit melakukan kesalahan. Nabi langsung beristighfar, kita lupa beristighfar. Betul ora??


Karena manusia tak ada yang sempurna, tentu kita tak mungkin mengharapkan mendapatkan pasangan, anak, orang tua yang sempurna. Mereka semua adalah paket komplit. Ada kebaikannya dan ada keburukannya. 


Mampukah kita menerima mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya? Atau kita hanya bisa menerima kebaikan mereka saja dan mencerca kekurangannya?


Apalagi lah saya, manusia kemarin sore (ya elah...udah ubanan masih ngaku kemarin sore 😂). Ketika ada kebaikan dari seseorang, hati bahagia. Ada kekurangannya serasa pengen ngeghibahin. SERASA lho yaa....


Adalah mertua dan suami tempat saya belajar tentang penerimaan total. 


Pernah ada salah satu menantu beliau, memiliki kekurangan. Ketika ada yang komplen, mama dengan lapang dada berkata, 

"Ya begitulah menantu mama itu."


Langsung senyap.

Benar-benar penerimaan total seorang mertua kepada menantunya. Baik buruknya menantunya, ya itulah menantunya. Ikhlas....ikhlas.... Tak ada keluh kesah. Menerima dengan satu paket. Baik dan buruk.


Saya pernah mengadu kelakuan anak-anak sambil menangis kepada suami. Saya kesal dengan ulah mereka.


Kalau saya menangis, reaksi pertama suami adalah memeluk atau merangkul saya. Kemudian membawa saya ke kamar terus ke kasur. Huuss...jangan ngeres. 😜

Maksudnya, saya dibawa ke tempat ternyaman saya. Yaitu kasur di kamar. 


Kan ada tuh, tempat ternyaman seseorang di closet. Sambil ngebom terus merenung berpuluh-puluh menit. 😁😁


Kemudian si ayah mendatangi anak-anak ke kamar mereka. Berbicara. Tak lama kemudian mereka digiring ke kamar saya untuk bicara dan minta maaf. G kebayang ya, kalau tempat favorit saya adalah closet. 😂😂


Biasanya pas dipertemukan begitu, kami akan berbicara dengan wasitnya si ayah. Kami akan mengeluarkan sudut pandang masing-masing atas persoalan tadi. 


Pernah dari pembicaraan itu, ternyata ada sifat saya yang tidak disukai anak-anak. Si ayah berkata, 


"ITULAH ibu kalian."


Anak-anak terdiam. Saya juga terdiam. Dan merasa sangat berterima kasih kepada suami. Dia tak menyalahkan saya. Dia hanya minta anak-anak menerima saya, memahami saya, lebih dan kurangnya saya. 


Right or wrong, is my mother, kata wong londo. 


Tapi dari situ, saya juga belajar. Mengubah sifat saya yang menjengkelkan anak-anak. 


Dan anak-anak, ketika salah, langsung meminta maaf dan memeluk saya.


Pernah si bungsu berkata, 

"Ayah g cemburu?"


"Cemburu kenapa?" tanya sang ayah.


"Ibu lebih sering dipeluk dari pada ayah"


Wkkwkk....gimana g sering dipeluk. Sehari-hari potensi ributnya emang dengan ibu. Ibunya cerewet. Nyuruh makan, nyuruh mandi, nyuruh belajar, nyuruh ke mesjid, dll, dst dsb....

😁😁😁


Menerima, adalah kunci untuk ikhlas. Kunci agar tak pamrih. Kunci agar tak lelah dengan seseorang. 


Berat. Tapi memang harus dicoba. Saya masih belajar. Belajar dan belajar. Biar hati lebih ikhlas. Hidup lebih tenang. Semoga dimudahkan Allah.


Reminder

Ramadhan hari ke 4

16 April 2021


#curhatmakASA

Jual Akun Games



 Si bujang lagi happy, 

akun gamenya dari tahun 2016, dia jual.

Dan terjual seharga 500.000.

Pembayaran langsung ditransfer ke rekeningnya.


Waktu dua hari yang lalu dia bilang mau jual akun gamenya seharga 500.000, saya tertawa,

"Siapa yg mau beli akun game semahal itu, Yid? Kelebihan duit amat, beli akun game aja semahal itu."


Dan dia membuktikannya hari ini.

Cuma butuh 1 hari untuk mengiklankan akun gamenya. Tawar menawar, deal. Dan uang ditranfer hari ini. Semudah itu.


Yang tak mudah adalah, biaya pulsa selama 4 tahun itu. 😂😂


Jadi ingat, dulu pernah bincang2 santai dg si ayah tentang teknologi ke depan. Kata beliau akan ada pekerjaan di jaman itu yang hilang dan digantikan dengan pekerjaan yang sama sekali baru.


Terbukti, banyak pekerjaan yang hilang karena teknologi. Tapi hadir pekerjaan yg 15 tahun lalu tak terbayangkan, seperti you tuber, pro player, barista, cyber troops, big data analyst, smart animator, game developer dll.


Waktu memang berubah dengan cepat. 


Harus pandai-pandai menyikapi perubahan zaman. 


Semoga dengan terjualnya akun gamenya, untuk selanjutnya dia bisa lebih fokus mencapai beberapa hal yang ingin dikejarnya. Aamiin.


Karawang

22 April 2021

Sayyid kelas XI

Lebaran Yang Istimewa

 



Tahun ini memang luar biasa. 

Akhir tahun 2019 lalu kita terpana melihat wabah corona yg merajalela di wuhan China dan kemudian merambah ke belahan dunia sana, hingga akhirnya kita pun ikut kucar kacir dihajar si virus ini. 


Berbagai kebiasaan terhenti seketika. Sekolah, kerja, berbagai aktivitas dan mobilitas kita, stop. Stay at home. Social distancing. Dan tiba2 suasana jd menakutkan. Mau keluar takut, mau belanja takut, mau ibadah ke rumah ibadah takut, mau berobat ke RS takut, mau silaturahim takut, dengan musuh tak kasat mata ini. Seperti tak ada. Tapi dia ada. Siap melumat kita. 


Capek dan lelah rasanya di rumah terus. Jiwa petualang rasanya meronta-ronta ingin sekedar berpusing-pusing menikmati suasana luar dan kuliner di bawah angin cepoi-cepoi. 


Belum lagi pertarungan menahan ngemil di rumah agar timbangan tak bergerak ke kanan efek pelampiasan stay at home. 


Yang membuat hati lebih iba, kita tak bisa menikmati Ramadhan seperti sedia kala. Tak bisa tarawehan ke masjid atau mushalla, tak bisa i'tikaf, tak bisa mudik menengok orang tua tercinta. Tak bisa saling berkunjung ke sanak saudara dan handai tolan lainnya. Sepi, kering, seperti kue kering. 


Biasanya 3 atau 4 hari menjelang lebaran, kita sdh berkemas-kemas dengan gembira. Pakaian, oleh-oleh, dan tetek bengek lainnya. Cek tiket atau mobil. 

Ambooiii... Suka citanya hati bakal bertemu orang-orang tercinta di kampung halaman tercinta. Terbayang sudah bersilaturahim dari rumah ke rumah, berburu kuliner khas daerah, bertemu teman-teman waktu kecil dulu, berbagi THR dengan keponakan-keponakan kecil, menyisipkan sedikit hadiah/uang untuk saudara-saudara ibu dan ayah.

Sedih, perih, terkurung di perantauan. Sedih perih, ibu yang menanti anaknya yang tak bisa pulang. 😢

But show must go on, kata saudara buleku. 
Ciptakan bahagia sendiri. Jangan mau kebahagian kita direnggut habis si Corona ini. 

Selama 13 tahun tinggal di Karawang, hampir setiap tahun kami berlebaran di rumah orang tua. Dulu bergantian setiap tahun. Klu tahun ini lebaran di Padang, maka tahun depan lebaran di Bandung. 

Tapi sejak tahun 2015 ibuku sudah sulit kemana-mana karena kaki beliau sakit, maka tiap tahun kami pulang ke Padang. Ke Bandung pun tiap tahun. Kalau tahun ini jatah Bandung, maka kami sholat Ied di Bandung. Hari raya ke 2 atau ke 3 kami ke Padang. Kalau tahun ini jatah ke Padang, maka kami akan sholat Ied di Padang. Nanti setelah itu baru ke Bandung.

Begitu juga tempat tinggalku. Hampir semuanya adalah perantaun. Sehingga ketika lebaran menjelang, H-3 atau H-2, ini komplek sudah sepiiiii.....tak berpenghuni selain satpam yang mondar mandir patroli. 

Tapi tahun ini berbeda. Si Covid sudah memaksa kami untuk tinggal. Tak ada yang mudik.

Saya yang tak pernah menyiapkan hidangan lebaran efek selalu berlebaran di rumah orang tua, kali ini terpaksa. Biasanya cuma bisa bikin masakan Padang, sekarang belajar buat opor ayam. Tanya teman, cek google, akhirnya berhasil juga. Yeayy... 😁

Kata si ayah enak. (Stt...padahal, jauh-jauh hari sudah ancam si ayah. "bilang g enak, bacok nih").😂😂


Dan lebaran kali ini terasa meriah. Komplek yang dr jaman ke jaman selalu sepi, sekarang ramai kami sholat berjamaah di lapangan. Takbir bersama. Walaupun tetap menerapkan social distancing dan memakai masker. Selesai sholat kami saling berkeliling antar tetangga untuk silaturahim. Dan akhirnya kelompok-kelompok kecil ini (kelompok bapak, kelompok ibu, kelompok anak gadis, kelompok anak bujang, kelompok anak-anak) bertemu di depan PAUD. Berfoto deh.... 😎

Suatu hari nanti, kejadian hari ini akan jadi cerita ke anak cucu. Bahwa, ketika wabah mematikan melanda negeri ini, kami masih bisa merasakan sebentuk kebahagiaan.😍

Semoga wabah ini segera diangkat Allah.  Dan kita bisa beraktifitas secara normal lagi. Aamiin ya rabbal'alamiin. 

Cerita retjeh mak ASA. 
Karawang, 26 Mei 2020







Kebersamaan



Semenjak WFH dan SFH diberlakukan, kami jadi punya banyak waktu untuk makan bersama. Kesempatan buat ngobrol apa aja untuk menambah bonding. Walau kadang, satu dua berusaha curi2 lihat hp. 😅


Malam ini sayyid bertanya tentang fluida dinamis kepada si ayah. 


Sebelum si ayah menjawab, Muthia berkata, "Kok g nanya ke uni?"


Si uni merasa ilmu Fisikanya masih mumpuni. Maklum, baru th 1 kuliah. Belum lama tamat SMA. Jadi ilmu masih gres. 


Sayyid menjawab, 

"Bukannya uni tamat dengan melupakan segalanya?"


Wkkwkkk.... 😂😂😂

Si uni memang pernah berkata begitu. Ketika itu dia begitu bahagia lulus di jurusan Psikologi. Bahagia tidak akan belajar Fisika dan Kimia lagi. 


Si uni langsung panas. Dia langsung mengeluarkan ilmunya. Dan akhirnya pembicaraan mereka bertiga merembet sampai ke hukum archimedes, newton dll. Lengkap dg sejarah ketika ilmuwan itu menemukan hukumnya. 


Dan dari cerita si ayah, saya baru tahu, Isaac Newton menemukan hukum percepatan, efek dari lockdown ketika wabah black death menyerang negaranya, Inggris dan dunia. 


Kali ini, Alyssa dan saya jd pendengar yg baik. Alyssa karena belum sampai ke sana ilmunya. Dan saya, krn benar-benar sudah melupakan segalanya ttg Fisika. Berganti dengan ilmu keuangan keluarga. Ngurus gaji si ayah.😎


Begitulah, social distancing dan stay at home yg kita jalani ini, walau rasanya menekan, mari kita cari keasyikan lain dengan memperkuat kedekatan dengan keluarga. Mulai dari bincang-bincang santai sampai serius, melakukan berbagai proyek dan lain-lain. 


Disamping anak-anak memiliki proyek sendiri-sendiri, kami memilik proyek bersama. Yaitu sekali seminggu, kami memasak bersama, membungkus makanan ke dalam dus bersama-sama, dan membagikannya kepada dhuafa bersama-sama. 


Semoga kita semua selalu disehatkan Allah, dilindungi dari wabah ini. Dan wabah ini segera diangkat Allah dari muka bumi ini. Aamiin ya rabbal'alamiin.



Amal jariyah

 


Si sulung, anaknya agak mager. Malas sekali belajar kendaraan. Ketika adik-adiknya sudah bisa bawa kendaraan roda dua, dia santai aja. Disuruh belajar g mau.
Akhirnya ketika sudah tamat SMA, beberapa kali saya minta belajar mengendarai motor, tetap g mau.
"Emang harus ya...muthi bisa bawa motor?" protesnya.
Akhirnya ketika ayahnya yang nyuruh, baru dia mau belajar. Yang ngajar siapa? Adiknya yg bungsu.
Ternyata keahlian bawa motor berguna ketika ia sudah kuliah. Jarak kampus dari rumah neneknya sejauh 18 km memaksa dia harus pakai motor. Karena kalau naik kendaraan umum harus 3 kali berganti angkot. Melelahkan.
Sekarang adik laki-lakinya sudah bisa bawa mobil. Dalam beberapa kondisi, kami terbantu olehnya.
Sedang si sulung, ditawarin beberapa kali belajar nyetir mobil, seperti biasaa....g mau.
Minggu kemarin, si bungsu malah minta ajarin nyetir mobil.
Si sulung? Langsung tersulut harga dirinya.
"Masak untuk kedua kalinya Muthi diajarin kendaraan sama Alyssa," katanya.
Akhirnya dengan kesadaran sendiri minta diajarkan ke ayahnya. Si ayah tadinya malas ngajar.
"Ama ibu aja belajarnya," kata si ayah.
"Ayah g mau dapat amal jariyah?" kataku.
Karena saya tau si ayah sibuk. Untuk memperlancar, biasanya selalu bersama ibu. Kalau yang ngajarin pertama kali ibu juga, berarti ayah kehilangan peluang untuk mendapatkan amal jariyah.
And here we go....
KIIC Karawang
Belajar nyetir dengan ayah
*******
Jangan lewatkan peluang mendapatkan amal jariyah.
Terutama (bila mampu) mengajarkan mengaji, sholat dan membaca kepada anak-anak sendiri.

Karawang, 10 Oktober 2021



Me, dulu vs sekarang

 


Dulu muda vs tua? yess... 💪
Dulu cantik vs jelek? nooo....😁😁
Kemarin sepanjang jalan antara Anyer - Karawang, eeh...bukan antara Anyer dan Jakarta ya? Walau sama-sama ada cinta di antaranya. Tapi ini adalah cinta ibu dan anak yang takkan lekang dimakan waktu. eaaa...😍
Sepanjang pergi si ayah yg nyetir. kadang pulangnya gantiannya dg saya. Tapi kemarin, pas pulang, saya duduk manis disebelah nak bujang yang nyetir.
Dulu, kalau saya yang nyetir, sepanjang jalan, biasanya saya yang ngoceh, bercerita banyak hal kepada anak-anak. Mereka antusias mendengar. Dan seakan takjub dengan hal yang saya bicarakan.
"Gitu ya bu?"
"Emang bener bu?"
"Oooh...."
Serasa saya yang paling hebat. Serasa saya yang paling cerdas. Serasa saya adalah sumber ilmu. SubhanAllah.
Sekarang, masa jaya berakhir gaeesss...
Sekarang, saya yang banyak diam. Nak bujang dan kakaknya yang banyak bicara. Semua yang mereka bicarakan membuat saya takjub. Saya antusias. Banyak hal yang saya tak tau.
"Ibu tau g dengan bilangan kaprekar?"
"Enggak". jawabku.
Siap-siap karena yang disampaikan si bujang biasanya adalah ilmu. Sama dengan si Uni.
"Bilangan kaprekar ini ditemukan oleh ilmuwan matematika dari India yang bernama Kaprekar.
Suatu bilangan unik, yang apabila dia diurutkan dari angka terbesar sampai terkecil kemudian dikurangi dengan bilangan tersebut tapi yang diurutkan dari angka terkecil sampai terbesar, maka hasilnya adalah bilangan itu sendiri.
contoh angka 6174
diurutkan dari bilangan terbesar 7641
diurutkan dari bilangan terkecil 1467
maka 7641 - 1467 = 6174 "
Saya terpesona.
"Ibu tau g bilangan sempurna? Dan di bawah 1000, bilangan sempurna itu hanya ada 3 buah. yaitu 6, 28 dan 496"
Waah...saya yang penggemar matematika kok g tau ya?
"Bilangan sempurna itu adalah, apabila seluruh bilangan FPB nya dijumlahkan kecuali bilangan itu sendiri, maka nilainya adalah bilangan itu sendiri.
"Contoh angka 6.
Bilangan FPB nya adalah 1,2,3 dan 6.
jumlahkan 1+2+3 = 6
28 FPB nya adalah 1, 2, 4, 7, 14, 28
1 + 2 + 4 + 7 + 14 = 28 "
Pembicaraan seru berlanjut dan bergantian antara si bujang dan si uni, kakaknya. Rasanya jarak antara Anyer dan Karawang selama 3 jam terasa sangat singkat.
Si bujang juga cerita pilihan jurusan yang ingin dia ambil ketika kuliah nanti. Apa pilihan utama dan apa jurusan cadangan. Universitas apa yang hendak dia pilih. Dan dia jelaskan berbagai macam pertimbangannya.
Kembali saya takjub. Pertimbangan yg dia sampaikan sangat masuk akal dan bagus. Tak ada yang perlu kami sanggah. Kami hanya perlu merestui dan mendo'akan. Semoga apa yang dia cita-citakan dimudahkan Allah dan tercapai.
Saya bangga dengan pemikirannya yang sudah pandai membuat sebuah keputusan dengan berbagai sudut pertimbangan. Karena salah satu tujuan pendidikan adalah membentuk kemandirian.
Tapi...
sekaligus ada sedikit rasa sedih di hati. Terselip rasa 'Post Power Sindrom'
Dari yang dulunya super power atas anak-anak. Apa-apa kita yang memberi saran dan memutuskan. Apa-apa kita lah tempat mereka bertanya. Sekarang mereka sudah pandai menimbang plus minusnya dan sudah pandai memutuskan sendiri. Sekarang yang mereka butuhkan dari kita orang tuanya adalah ridho, supports dan do'a .
Di antara bahagia ada sedikit gerimis.
Tapi itulah sunnatullah.
Mereka makin dewasa. Ketergantungannya kepada kita semakin jauh berkurang. Dan tak lama lagi mereka akan membuat kehidupannya sendiri dengan keluarga kecilnya.
Semoga saat itu tiba, kita adalah orang tua yang bahagia. Melihat mereka meniti kehidupan mereka sendiri, mandiri, sholih sholihah, bahagia dan sesuai dengan syariah Allah.
Semoga apa yang sudah kita tanam sedari mereka kecil, keteladan, pondasi agama yang kuat, kasih sayang dalam takaran yang pas, menuntun mereka untuk hidup dalam ridho Allah.
Karawang, 18 Oktober 2021

Pesantren, Dulu vs Sekarang

 


Ketika saya usia SD dan SMP, sekitar tahun 1979 - 1988, masa itu masuk pesantren itu belum menjadi pilihan kebanyakan orang tua.
Karena ketika itu, masuk pesantren ibarat masuk ke sekolah buangan. Orang tua yang sudah angkat tangan dalam mendidik anaknya, maka akan memasukkan anaknya ke pesantren. Pesantren ibarat bengkel untuk mempermak anak-anak nakal menjadi baik.
Pernah dulu ketika saya SD, ibu kedatangan temannya yang curhat. Beliau memiliki warung. Setiap hari si anak selalu mencuri uang di warung, sekolah sering bolos, selalu melawan orang tua, sering keluyuran dengan teman-temannya. Intinya beliau sudah tak sanggup mendidik anaknya yang SMP itu.
"Awak masuak an anak wak tu ka pesantren lai, ni. Ndak talok awak mandidiknyo. Kok ka lai barubah jadi elok di pesantren."
Dan beliau menangis.
(Saya masukkan anak saya itu ke pesantren, Uni. Tak sanggup saya mendidiknya. Mudah-mudahan dia berubah menjadi baik di pesantren).
Pesantren adalah benteng terakhir untuk memperbaiki agama dan akhlak anak. Tak banyak orang tua yang bangga memasukkan anaknya ke pesantren ketika itu. Bahkan ada yang malu ketika anaknya di pesantren. Karena itu menunjukkan ketidakmampuannya dalam mendidik anak.
Orang tua lebih bangga anaknya masuk sekolah negeri favorit. Atau swasta elit ternama.
Tapi jaman berganti.
Tiga puluh tahun kemudian, sudut pandang orang tua mulai berubah. Seiring dengan pemahaman ilmu agama yang semakin baik.
Pesantren bukan lagi dianggap sebagai sekolah buangan. Tempat mendidik anak nakal. Tapi pesantren menjadi tujuan utama bagi sebagian orang tua untuk mendidik anak-anaknya menjadi anak yang sholih sholihah.
Pesantren dianggap sebagai kawah candradimuka, tempat menggembleng anak sehingga mereka paham ilmu agama dan dunia, juga mendidk mereka menjadi anak yang tabah, sabar dan kuat.
Tak ada lagi orang tua yang menangis karena anaknya masuk pesantren. Yang ada, orang tua menangis karena anaknya tak lulus masuk pesantren.
Sekarang pesantren semakin menjamur. Baik yang tradisional maupun modern. Baik dengan gedung yang biasa maupun yang mewah. Baik dengan fasilitas seadanya maupun dengan fasilitas komplit. Baik yang uang masuknya beberapa juta hingga di atas 100 juta.
Semua tujuannya sama. Membentuk generasi Rabbani.
Pernah dulu ada teman yang menyindir pesantren mewah. Katanya,
"Anak pesantren kok diberi fasilitas mewah. G mendidik. Bagaimana kalau kelak ia terjun berdakwah ke pedalaman? Pasti g mampu."
Begini ya ukhti,
tidak semuanya pesantren itu sekarang mencetak anak menjadi ulama. Menjadi hafidz hafidzah. Yang akan turun berdakwah ke pedalaman. Sehingga mereka semua perlu ditempa dengan kesusahan dan kekurangan karena medan dakwah yang berat.
Dan pesantren mewah menurut kita, bisa jadi hal biasa saja menurut para sultan yg anaknya dipesantrenkan.
Tentu level para sultan ini akan sulit beradaptasi kalau mereka mondok di pesantren yang minim fasilitas. Alih-alih menuntut ilmu agama dengan tentram, yang ada mereka stres.
Dan bisa jadi kelak, bukan mereka yg turun berdakwah ke pedalaman. Tapi merekalah penyandang dana buat dakwah. Kesadaran mereka jadi penyandang dana adalah buah iman dari pesantren mewah, menurut level kita itu.
Sekarang banyak ragam tipe pesantren. Ada yang untuk mencetak ulama, hafidz Qur'an, ilmuwan, tekhnorat yg religius dan enterpreneur religius. Tinggal disesuaikan dengan bakat anak.
Sedikit cerita tentang mantan Bapak Presiden kita BJ Habibie.
Setelah masuk ke inner cyclenya pak Harto, beliau resah. Karena ternyata lembaga think tank nya pak Harto sangat didominasi oleh non muslim. Lembaga think tank inilah yang banyak mengajukan usul atau mewarnai kebijakan2 yang menyangkut hajat rakyat Indonesia yg notabene 80 % umat Islam.
Kemana cendikiawan-cendikiawan muslim?
Yang muslim banyak tapi kebanyakan abangan. Sehingga tidak terlalu berpengaruh untuk membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada umat Islam.
Ketika beliau melirik ke pesantren, rata-rata pesantren saat itu banyak mencetak ulama.
Beliau khawatir beberapa tahun ke depan, kita akan kekurangan pemikir dan ilmuwan yang religius. Sehingga keputusan atau kebijakan-kebijakan negara bisa jauh dari syariah Islam. Karena tak ada cendikiawan muslim yang religius yang ikut mewarnai.
Kemudian beliau melakukan beberapa hal perubahan.
Langkah pertama, beliau mengumpulkan umat Islam yang religius yang cerdas di bidangnya. Diwadahi lewat organisasi bernama ICMI. Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia.
Langkah selanjutnya, beliau membuat pesantren yang orientasinya adalah membentuk scientist religius dan tekhnorat religius.
Beliau membangun sebuah sekolah boarding Islam yang bernama SMA Insan Cendekia. Yang pengawasannya langsung di bawah BPPT, sebuah badan riset yang beliau komandani.
Tapi kemudian ketika keluar peraturan bahwa BPPT tidak boleh membuat sekolah, akhirnya SMA Boarding Insan Cendikia, dipindahkan menjadi di bawah Kemenag dan berganti nama menjadi MAN Insan Cendikia.
Sekolah di sini full beasiswa. Siswa hanya dibebankan uang asrama.
Kemudian beliau juga memprakarsai berdirinya boarding school swasta yang berorientasi science di bawah yayasan Islam, seperti SMA Pesantren Unggul Al Bayan, dan Pesantren Insan Cendikia Al Kautsar.
Ssttt.... 3 sekolah yg unggul di bidang science dan selalu meloloskan siswanya ke final olimpiade sains nasional adalah, MAN Insan Cendikia Serpong, SMA PU Al Bayan di Cibadak Sukabumi dan Sekolah Kristen BPK Penabur Jakarta. Ternyata harapan Pak Habibie mulai menjadi nyata ya?
Dan sekarang, pesantren-pesantren dengan visi science dan tekhnorat religius sudah banyak di Indonesia.
Semoga kelak mereka lulusan pesantren ini, para ulama, para hafidz, para scientist religius dan para tekhnorat religius bisa bergandengan tangan membangun negeri. Memakmurkan negeri ini dengan berkeadilan.
Jadi, apapun pesantren yang dipilih oleh saudara kita, marilah kita dukung. Jangan mencela. Karena masing-masing pesantren punya visi sendiri untuk ikut membangun negeri ini. Mari saling membahu untuk kemajuan umat.
Masya Allah...
berbeda sekali ya kesan pesantren dulu dan sekarang?
note.
Tulisan ttg pak Habibie ini sy sarikan dari beberapa tulisan tentang beliau yang sudah lama saya baca. Sehingga sdh lupa dari media apa dan penulisnya siapa.
Kalau ada yang salah, mohon dikoreksi. 🙏🙏
Yang lahir tahun 60-an dan 70-an tentu tau nama lembaga think tank pak Harto.
keep silence, pleasee...😄

*************

Sedikit cerita tentang SMA Pesantren Unggul Al Bayan versi saya.
Perkenalan dengan sekolah ini ketika si sulung kami, ikut pertukaran pelajar ke Thailand ketika kelas 3 SMP.
Di hari keberangkatan, di bandara Soetta, dia dan 2 orang temannya dari SmpAlam Karawang bergabung dengan 3 orang siswa dari SMA PU Al Bayan. Dan guru pendamping dari Al Bayan.
Ketika akan berangkat 6 peserta ini dikumpulkan buat briefeng oleh guru Al Bayan ini. Saya ikut nguping. Saya pikir gurunya bakal mengingatkan kembali kalau di negeri orang kita harus begini dan begitu, jaga nama baik bangsa bla...bla...bla....
Ternyata tidak. Gurunya hanya mengingatkan jangan sampai lupa tata cara sholat di pesawat dan di kendaraan lainnya. karena mereka akan banyak melakukan perjalanan dengan pesawat dan bus.
Dari situ saya sudah meleleh.
Kemudian, ketika si gadis bersekolah di SMAIT Boarding School Assyifa Subang, Jawa Barat, dia yang keukeh agar adiknya bersekolah di Al Bayan, karena dia sadar bakat adiknya.
"Kalau kita belajar pythagoras hanya di kasih rumus, di Al Bayan mereka diajarin dari mana asal rumus pythagoras itu. Rumus itu diturunkan dari mana. Dari dasar banget. Sehingga ketika soal itu dikutak katik kayak apapun mereka g kesulitan karena sudah paham dasarnya. G heran itu sekolah tiap olimpiade sains nasional selalu menelurkan juara." promo si gadis.
Dan ketika kami berkunjung ke rumah saudara di Bogor saat Sayyid kelas 3 SMP, si om Ronal bertanya, "Sayyid mau SMA kemana?"
"Mau ke Al Bayan, om"
"Wah....masuk Al Bayan itu susah. Tes nya berat"
Dan dalam perjalanan pulang Sayyid berkata, "Al Bayannya g jadi deh bu. Kata om Ronal masuknya susah".
"G usah khawatir. Kalau takdir sayyid lulus ya lulus." kataku.
Alhamdulillah, ternyata memang ada rejekinya. 😁
Jangan gentar ikut tes pesantren. Insya Allah, Allah sudah menetapkan pesantren yg terbaik untuk anak kita. 😄

Powered by Blogger.