Kebahagian kecil penambah rasa syukur....

Dulu..... saya tak kenal dengan dunia foto-memfoto alias fotografi. Tapi begitu menikah, ternyata suami mahir di dunia ini. Ketika bujangnya, ia bersama teman-temannya suka mencari uang di bidang ini. ketika ada even pernikahan dan wisuda mahasiswa. Jadilah ia menularkan semangat fotografi kepadaku.

Ketika anak pertama lahir, si ayahpun membeli sebuah kamera Nikon D 50 D di Jepang. Saya masih ingat harganya ketika itu 3 juta rupiah. Rasanya woooww.... Pertama kalinya punya kamera, langsung kamera keren. DSLR. Menenteng kamera ini serasa sudah jadi fotografer profesional. Wkk...wkkk...Tapi hobi fotografi di jaman itu masih termasuk mahal. Karena kamera jaman itu masih kamera film. Dalam 1 roll film, belum tentu dapat hasil yang bagus dan sesuai dengan keinginan.

Akhirnya, jadilah anak pertama kami ini, Nabila Fauzia Azzahra, objek belajarku yang pertama. Dia pertama kali tengkurap, pertama kali merangkak, pertama kali berjalan, ulang tahun pertama, semuanya tak luput dari jepretanku.

Alhamdulillah, Nabila adalah anak yang lucu, cantik dan menggemaskan serta fotogenic. Saya semakin semangat mengabadikan kegiatannya dalam foto.





Tapi si cantik yang ramah ini, ternyata lebih dicintai Allah. Ketika ia berumur 2 tahun 8 bulan, tepatnya 5 Januari 2002, ia dipanggil oleh pemiliknya, Allah SWT.

Tak usah kuceritakan bagaimana perasaanku ketika itu. Yang jelas 2 minggu setelah kepergiannya, saya dapat panggilan dari Tabloid Ibu dan Anak, Nakita, bahwa Nabila lulus menjadi model cover majalah tersebut. Dan diminta hadir pada waktu yang telah ditentukan untuk pemotretan ulang. Hati yang hancur karena kepergiannya, bertambah hancur....

Life must go on.....
Selanjutnya, si bidadari surga ini, memiliki adik 3 orang. yang masya Allah....semuanya cantik dan ganteng. Minimal buat emak dan bapaknya...hehee...
Ada Annisa Muthia,

sekarang ia sudah berumur 17 tahun. Alhamdulillah....

Ada Sayyid Al Hakim,
Sekarang sudah berumur 13 tahun
Dan si bungsu Alyssa Zahra
Sekarang sudah berumur 11 tahun

Dan zamanpun semakin maju. Dari kamera analog, orang mulai beralih ke kamera digital. dengan kamera digital ini, memotret semakin mudah dan murah. Tak perlu beli film. Cukup hanya kartu memori saja. Foto tak bagus, langsung delete. Kurang bagus? permak sedikit dengan program Photoshop, sebuah aplikasi untuk memperbaiki foto.

Alhamdulillah, sayapun kemudian dibelikan si ayah kamera digital Nikon D5000. Harganya ketika tahun 2010 sekitar 7 juta rupiah. Dan sayapun semakin bersemangat memotret. Lama-lama mulai banyak yang meminta tolong foto anaknya kepadaku. Terutama teman-teman sekolah anakku. Dan lama-lama akupun mulai menerima pembayaran. Waah...hobi yang menghasilkan. :)

Kemudian berlanjut. Permintaan buat pas foto sekolah, sunatan, pernikahan, wisuda sekolah dan lain-lain. Dan entah kenapa saya berani saja menerimanya. Padahal saya belajart foto hanya dari suami, selebihnya coba-coba. Belajar Photoshop juga hanya dari buku saja. Tapi Alhamdulillah, banyak yang memuji hasilnya. mungkin yang komplain ada juga, tapi tak pernah ada yang sampai kepadaku. hehee...

Akhirnya sayapun memberanikan diri untuk menambah ilmu tentang dunia fotografi. Saya belajar foto tingkat pemula di Nikon School Jakarta. Alhamdulillah banyak ilmu di sana. Dan selepas dari itu sayapun membeli kamera baru, Nikon D7000 yang harganya ketika tahun 2012 11,8 juta rupiah. Sampai sekarang kamera D5000 dan D7000 masih bagus. Sedangkan kamera D70D sudah ku jual.

Kemudian iseng-iseng, sayapun mengikuti beberapa lomba foto. Mulai dari tingkat region sampai nasional. walaupun tingkat nasional, tapi bukanlah tingkat foto profesional. 
Beberapa lomba foto yang saya menangi adalah:
1. Juara 2 Lomba foto yang diadakan oleh PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia dalam rangka Family's Day tahun 2011 Dapat Hadiah baju kaos, dan charger HP seabreg untuk berbagai macam tipe HP. :)
2. Juara 1 lomba foto keluarga yang diadakan oleh PKS dalam rangka MIlad PKS. tahunnya 2013. Hadiahnya badcover :)
3. Juara 3 lomba foto yang diadakan majalah Bobo dengan tema Ekspresi senyum Jordan, yang disponsori oleh sikat gigi Jordan. Hadianya uang sebesar 3 juta rupiah.
4. 20 besar lomba foto booth yang diadakan oleh Mitsubishi Pajero tahun 2014. Hadiahnya souvenir.

Ini fotoku yang menang lomba foto majalah Bobo. Si Alyssa yang imut ketika berumur 4 tahun.

sebegitu saja, saya sudah happy luar biasssaaahhh.....hahaa. Karena sebenarnya mengikuti suatu lomba dan menang, hadiah bukanlah menjadi suatu tujuan. Tapi pengakuan akan sebuah karya, itulah yang penting dan membahagiakan.

Dan baru-baru ini, saya bergabung dengan suatu komunitas foto, yang benar-benar berisi para penyuka fotografi baik profesional foto dan juga pemula alias kurang ilmu seperti sayah. :)

Di acara milad ke 6 komunitas tOekangpoto Indonesia beberapa waktu lalu yang saya ikuti, diadakan lomba foto kategori Streetphotoghraphy dg tema kebersamaan. Spot foto stasiun Manggarai. Tak di sangka fotoku keluar sbg pemenang ke 2. Bukan karena aku hebat, tapi qadarullah, dapat moment bagus.

ini foto yang menang di milad 6 tOekangpoto Indonesia


Alhamdulillah...hadiah uangnya mau dipigura. Upss.....,😂😂😂

Wanna be a President






Dari semalam, Sayyid sudah bilang hari ini tidak mau sekolah karena, "hanya sanlat doang", katanya. Sanlat atau Pesantren Kilat memang agenda rutin tahunan di sekolahnya, Sekolah Alam Karawang, setiap bulan Ramadhan tiba.
Sehabis sahur sampai pagi tadi, tetap ribut tidak mau sekolah. Akhirnya dengan 1 kalimat 'klik' dan acungan 1 jempol, senyum pun terukir di wajahnya dan melangkah dengan gagah ke sekolah.
Kalimat apakah itu?
Meskipun tidak banyak, informasi tentang keadaan negara terutama penegakan hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas, khususnya bagi umat Islam, termasuk kriminalisasi ulama, sampai ke telinga Sayyid.
Suatu hari saat bincang-bicang santai, dengan gregetan dia bilang, "Sayyid nanti nggak jadi pilot, Bu. Mau jadi presiden aja."
"Oh...kenapa? Apa alasan Sayyid mau jadi presiden?", tanya saya.
"Ya...mau merubah keadaan lah", jawabnya yakin.
Wooow.....emejing ðŸ˜ƒ
Alasannya sederhana. Tapi ada visi di sana.
Nah, cita-cita itu yang jadi daya dorong pagi tadi.
"Sayyid mau jadi presiden kan? Presiden harus berilmu terutama ilmu agama". Sambil jempol teracung ke arahnya (Y)
Sungguh, saya tak berharap ia menjadi presiden, mengingat beratnya tugas dan tanggung jawab, terutama di akhirat kelak. Tapi siapa yang tahu dengan takdir? Yang saya harapkan ia menjadi agent of change terhadap lingkungan, bangsa dan negaranya serta menjadi pribadi nan Sholih yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Tapi kalau untuk menjadi agent of change ia harus menjadi presiden, why not?
semoga Allah memberikan yang terbaik untuknya dan selalu melindunginya setiap langkahnya.
Aamiin....ya rabbal'alamiin.

karawang, 7 Juni 2017

Yang pertama….selalu berkesan!


Islamic Book Fair selalu menjadi agenda tahunan kami semenjak Muthi SD sampai sekarang ia sudah kelas 10. Biasanya ke IBF selalu bersama ayah. Tapi pernah juga naik bus yang dikoordinir oleh mahasiswa sebuah universitas negeri di Karawang. Intinya, tinggal duduk manis, bobok cantik, sampai deh….di tujuan.

Tapi kali ini berbeda. Berhubung Muthi SMA di Pesantren dan pesantrennya ke IBF hari Kamis, 4 Mei 2017, maka kamipun menyesuaikan diri. Pergi ke IBF di hari Kamis dengan konsekuensi tanpa disertai ayah. Kebetulan, hari Kamis ini Sayyid libur sekolah karena kakak kelas 9 sedang UN. Sedangkan Alyssa meliburkan diri karena hari itu kegiatan kelasnya adalah cooking days. Jadi Alyssa belajarnya di luar yaitu pengalaman ke IBF.
So, hari ini untuk pertama kalinya kita ngebolang ke IBF.

Jam 6 pagi, kami sudah start dari rumah menuju Stasiun Kereta Api Karawang. Mobil di parkir di stasiun Karawang, supaya nanti pulang ke rumah gampang.


Dari awal, anak-anak sudah gembira karena akan mencoba bermacam-macam moda transportasi. Dari Karawang, kami naik kereta api lokal. Turun di stasiun Senen. Dari Senen kami naik Commuter Line menuju stasiun Cawang. Dan dari stasiun Cawang kami naik busway menuju gedung JCC, Senayan.

Transportasi publik yang disediakan oleh negara ini, benar-benar terjangkau oleh masyarakat umum. Untuk tiket kereta api lokal Karawang – Jakarta hanya Rp 5.000,- saja. Tiket elektronik Commuter Line hanya Rp 3.000 saja. Tapi ada uang jaminan kartu sebesar Rp 10.000,-. Jadi total yang harus dibayarkan adalah Rp 13.000,-. Uang jaminan ini akan dikembalikan ketika kita mengembalikan tiket Commuter Line di tempat tujuan. Uang jaminan ini berguna untuk ‘memaksa’ penumpang mengembalikan tiket elektroniknya. Tanpa uang jaminan ini, penumpang suka membawa pulang tiket elektroniknya sehingga menyebabkan perusahaan kereta api menderita kerugian. Tapi dengan adanya uang jaminan ini, apabila si penumpang tidak mengembalikan tiket elektroniknya, maka dengan uang jaminan inilah tiket elektronik baru dibuat. Tiket busway juga murah. Hanya Rp 3.500 untuk satu kali jalan atau beberapa kali perjalanan selama tidak keluar dari halte busway.

Meskipun sebenarnya naik kendaraan umum dan harus berganti-ganti pula, cukup melelahkan, tapi anak-anakku, Sayyid dan Alyssa, sungguh menikmati. Mereka menikmati tahap demi tahap perjalanan mereka. Apalagi ketika men-tapping tiket elektronik mereka ke gate otomatis di stasiun Commuter Line maupun di halte busway. Menunggu perubahan lampu merah menjadi lampu hijau dan kemudian mendorong palang besi gate otomatis, dengan gembira. Dan lucunya, tak seorangpun dari mereka yang mau mengembalikan tiket elektronik dengan uang jaminan Rp 10.000 itu. “Buat koleksi”, kata mereka. Hahaa…ya….wess lah.


Sesampai di IBF, langsung emosional melihat banyaknya buku-buku yang di jual dengan diskon yang menggiurkan. Serasa ingin dibeli semua. 

Berbeda dengan IBF di tahun-tahun sebelumnya yang selalu diselenggarakan di Istora Senayan, IBF tahun ini diselenggarakan di gedung JCC Senayan. Tempatnya lebih luas dan nyaman. Tapi tentu ada rasa ada harga. Kalau dulu masuk IBF gratis, dan sekarang tiket masuk berbayar Rp 5.000,-. Tidak mahal sih…. Tapi yang didapatkan pengunjung jauh lebih banyak. Misal, kalau dulu tempat sholat baik pria maupun  wanita sangat tidak representatif dan panas. Bagi pria di bawah tenda besar dan panas, sedangkan bagi wanita di mushalla kecil yang padat dan panasnya jangan ditanya. Kamar mandi maupun tempat wudhunya, hmm…. gitu deh. Sekarang ada mesjid besar buat pria dan wanita. Pria di lantai yang sama dengan area pameran, sedangkan wanita di lantai basement. Tempatnya bersih, luas, dingin dan nyaman. AC berdaya besar dipasang untuk kenyamanan jamaah. Kamar mandinya juga bersih dan tempat mengambil wudhunya juga banyak serta bersih. Sholatpun bisa tenang dan khusyu’. Selain itu ada banyak doorprice setiap harinya. Area kidzonenya juga luas, nyaman dan sejuk. Dan banyak kelebihan-kelebihan lainnya.














Jam 12.00, ketika kami hendak ke kamar mandi untuk wudhu, rombongan besar SMAIT Assyifa Boarding School, Subang, datang. Rombongan dengan jumlah 120 orang akhwat dengan baju seragamnya yang menawan, berbaris rapi di pintu masuk area IBF. Saya dan anak-anakpun langsung menyongsong keluar. Dan bertemulah dengan si buah hati dengan senyumnya yang ceria. Seceria mentari pagi. Haah…lebay 

Setelah berpelukan dan mengobrol mesra sebentar, kamipun berpisah. Dia dengan rombongannya masuk ke area IBF sedangkan kami lanjut untuk ishoma, istirahat, sholat, makan. Sebentar tapi cukup untuk melepas rindu.

Selepas ishoma kamipun melanjutkan petualangan. Setelah buku yang dibeli dirasa cukup, cukup menguras dompet maksudnya, kamipun lanjut ke area kidzone. Dan cukup terpana melihat luasnya area kidzone dan banyaknya permainan yang disuguhkan. Anak-anakpun serasa mendapat energi tambahan seperti mainan robot yang baru dicharge, ketika melihat area kidzone.



Begitu masuk ke area kidzone, Alhamdulillah….kami langsung disambut hangat oleh ‘penguasa’ area kidzone, Bli Nyoman Heru. Beliaulah pengelola area kidzone ini. Dan anak-anakpun diberi kesempatan memainkan truk excavator secara gratis. Wuuiih….anak-anak langsung kegirangan. Selesai main truk excavator di lanjutkan dengan permainan lainnya. Berbayar tentunya. Kalau gratis terus, nanti Bli Nyoman melotot. Hehee….piss, Bli.


Akhirnya semua keriangan ini harus diakhiri dan kitapun harus kembali ke rumah. Ternyata hari sudah menunjukkan pukul 4 sore. Daan… sudah tidak keburu mengejar kereta api sore ke Karawang jam 17.30. Akhirnya kami memutuskan kembali dengan menggunakan bus.



Dari area IBF kami kembali menaiki busway ke Cawang. Kemudian dilanjutkan dengan busway tujuan Bekasi dan turun di Jati Bening. Setelah sekian lama menunggu ternyata tidak ada satupun bus maupun mobil tujuan Karawang. Akhirnya kami menaiki bus jurusan Cirebon dan turun di Rest Area km 39 tol Cikampek. Dan si Ayah tercinta menjemput kami ke Rest Area km 39.

Ketika di wajah anak-anak terpetakan rasa lelah, tapi saat ku tanya apakah mereka lelah, dengan tegas mereka bilang tidak. Ya…mungkin sebenarnya badan mereka lelah, tapi perasaan mereka tidak. Inilah pertama kalinya mereka ngebolang ke IBF dengan naik kendaraan umum yang bermacam-macam jenis. Petualangan yang membuat mereka bergairah.

Dan di perjalanan ini juga saya melihat ke-gentleman-an Sayyid. Seorang anak laki-laki kelas 1 SMP yang bertinggi badan 134 cm dan berat badan 30 kg saja, langsung berdiri tanpa di suruh (di commuter line dan di busway menuju IBF) ketika melihat seorang ibu naik dan berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Sementara saya di dalam commuter line sempat menegur seorang pemuda yang duduk di kursi yang dikhususkan untuk wanita dan lansia, saat ia pura-pura tidak tau ketika seorang wanita paruh baya berdiri di sebelahnya. So proud of you, son.

Tapi lucunya, ketika di dalam busway, si ibu yang ditawari duduk oleh Sayyid, menolak duduk ketika melihat yang menawarinya adalah seorang anak laki-laki berbadan mungil. Penumpang bis ikut tertawa. Hehee….

Dan bahagianya, Sayyid dan Alyssa, sangat akur selama perjalanan. Saling peduli, saling bantu dan saling meringankan beban. Meskipun di rumah sering ribut.

Dan leganya, ketika si ayah menjemput kami ke Rest Area km 39. Ketika kami sudah duduk nikmat di mobil, saya merasa petualangan hari ini sudah berakhir. Sampai di rumah bisa langsung bobo cantik. Ternyata, si Ayah tidak berbelok ke gerbang perumahan. Lhooo….mau kemana Ayah? 


Oalaahh…ternyata badan yang pegal dan mata yang mengantuk harus diregang melanjutkan petualangan yang tersisa…. menjemput mobil yang ditinggal di stasiun tadi pagi. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 20.24 WIB.

Dunia Tulisku....



Dunia Tulisku….

Sebenarnya aku sudah berminat dengan dunia tulis-menulis sejak SMA. Entah dari mana awalnya, tiba-tiba aku sudah mulai menulis cerpen. Tapi menulis di kala itu menggunakan mesin tik. Kebanyakan menulis, jari-jari bisa pegal. Karena untuk mengetik dengan mesin tik harus menggunakan tenaga ekstra untuk menekan tuts mesin tik yang keras. Beda banget dengan tuts keyboard komputer yang lembut. Belum lagi kalau salah, aduuh rempong banget. Tips-ex, menjadi benda favorit ketika mengetik. Karena tanpa tips-ex, kertas ketikan itu akan sering meluncur ke tong sampah daripada masuk map. Hehee…

Tapi…aku sangat pemalu. Di saat mengetik cerpen, aku tak ingin diketahui siapapun. Kutunggu rumah sepi tak berpenghuni, baru kuambil diam-diam mesin tik kakakku di kamarnya dan mengetik di kamarku. Belum lagi cerpen yang kutulis itu kuberi nama samaran saking takutnya orang tau kalau itu tulisanku. Parah ya?

Karena kesusahan untuk sembunyi-sembunyi, dan tentu tak ada dukungan, (lha…gimana mau mendukung, tiada yang tahu soalnya. ) maka bakat itu tak berkembang. Meskipun begitu, cerpenku sempat di muat di koran Haluan Minggu dan mendapat honor Ro 10.000,-. Waah…di jaman itu (tahun 1989) uang itu sangat besar bagiku. Bayangkan…jajanku sehari hanya Rp 350.-. Uang Rp 10.000,- itu bisa untuk mentaktir teman sekelas. Dan cerpenku juga sempat di muat majalah anak-anak SAI (Saya Anak Indonesia). Tapi honornya tak pernah kuterima. Hiks…

Dan ketika aku kuliah di sebuah universitas negeri di Padang jurusan teknik Telekomunikasi, yang dengan kesibukannya sukses membuat badanku kurus, tak ada lagi waktu untuk menulis. Jangankan waktu, terlintas dipikiranpun tidak. Jadi hari-hariku hanya untuk kuliah dan capek….

Setelah kuliah, akupun bekerja di sebuah perusahaan semen yang merupakan perusahaan terbesar kotaku. Lagi-lagi selama bekerja, urusan tulis-menulis seakan-akan sudah hilang dari memoriku. Kemudian lanjut dengan menikah. Urusan keluarga benar-benar menyita hari-hariku.

Sampai suatu saat, anakku yang nomor dua, Annisa Muthia, sangat suka membaca dan bercerita sedari kecil. Kuperhatikan, ceritanya runtut dan punya ending. Dan singkat cerita, Alhamdulillah… diapun menjadi penulis cilik. Sudah terpilih mengikuti Konferensi Penulis Cilik se-Indonesia 2 tahun berturut-turut dan sampai sekarang sudah memiliki 4 buah bukunya sendiri. Ada yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan Bandung dan ada yang diterbitkan oleh Penerbit Writing Revolution Yogyakarta.

Tiba-tiba saya serasa diingatkan akan duniaku dulu. Pelan-pelan, akupun memulai apa yang dulu pernah kumulai. Menulis. Sebagai ajang come back, sayapun mengelola buletin Sekolah Alam Karawang. Di mana di sini saya ikut terlibat menjadi Komite Sekolah. Buletin sekolah ini kemudian bertransformasi menjadi majalah SAKA News. Senang rasanya bisa menulis apa saja. Walaupun rasanya kemampuan saya tidak ada apa-apanya. Tidak menguasai satu bidang pun. Hanya mengetahui sedikit-sedikit kulit luar saja. Juga senang terlibat dalam suatu penerbitan majalah. Mulai dari mencari berita, mewawancara tokoh, mengedit naskah atau berita, memotret, dan lain sebagainya.

Kemudian ketika ada perlombaan Anugrah Pewarta yang diselenggarakan oleh Astra International Tbk untuk menyambut ulang tahunnya yang ke 60, sayapun memberanikan diri ikut serta. Lomba yang diselenggarakan untuk wartawan dan masyarakat umum se-Indonesia. Tema yang kuangkat adalah tentang perubahan dan kemajuan kota Karawang semenjak kehadiran PT. Toyota Astra Motor (sekarang menjadi PT. TMMIN) di kota Karawang. Tak disangka, ternyata tulisan sederhana itu berhasil memenangkan juara tulisan favorit. Benar-benar kejutan bagiku. Alhamdulillah.

Kejutan lain adalah aku dipilih menjadi bagian humas suatu organisasi ibu-ibu hebat yang bergerak di bidang usaha. Semuanya beranggotakan perempuan pengusaha. Bukan pengusaha biasa tapi pengusaha muslimah nan sholihah. Ibu-ibu itu menganggap saya mumpuni di bidang dunia tulis-menulis sehingga cocok menjadi bagian humas mereka. Sungguh ini suatu amanah yang sangat berat bagiku. Saya tidak sehebat itu. Saya hanya perempuan biasa-biasa saja. Saya sering mengamati dan membaca tulisan-tulisan perempuan hebat seperti Kiki Barkiah, Fitra Wilis, Yana Mardiana dan banyak lainnya. Mereka hebat di bidangnya masing-masing. Pengamat yang tajam. Namun halus dan bernas tulisannya. Saya? Ahh…. Aku mah apa atuh? Tapi tetiba menjadi bagian mereka, ada letupan yang menghangatkan hatiku. Semoga saya bisa banyak belajar dari mereka dan semoga saya bisa berkontribusi bersama mereka. Aamiin.

Oh ya, satu lagi… semoga saya bisa segera memiliki buku sendiri seperti anakku. Aamiin…ya rabbal’alamiin.

Bahagia itu Sederhana



Bahagia itu Memang Sederhana

Memasak adalah keahlian dasar yang sebaiknya dimiliki seorang ibu. Tidak perlu harus ahli seperti seorang chef. Tapi paling tidak punya masakan andalan satu atau dua jenis masakan yang kelak akan selalu dirindukan oleh anak.

Kalau saya yang menjadi andalan adalah sop daging, kalio daging dan sphagetti. Yang lain-lainnya standar aja. Kadang enak atau anak-anak lagi mood, maka jenis makanan itupun menuai pujian dan anak-anakpun makan dengan lahap. Tapi tak jarang rasanya biasa-biasa saja dan pas anak-anak lagi tidak mood, maka makanan tersebutpun kena kritik. Hehee…. Biasa saja. Dan tak perlu sensi bila itu terjadi.

Anakku yang paling besar saat ini bersekolah di pesantren  Assyifa Subang, Jawa Barat. Di sini, setiap waktu makan, menu akan diumumkan via pengeras suara. Jadi anak-anak yang tidak suka atau bermasalah dengan jenis makanan tertentu seperti alergi, maka akan memilih makan di kantin pujasera. Berbayar tentunya. Tapi ini adalah program yang menarik. Dengan diumumkan menu makanan dengan pengeras suara setiap waktu makan tiba, menghindari kekecewaan anak ketika menu tidak sesuai harapannya atau bagi yang bermasalah dengan kesehatan. Dan juga menghindari pembuangan makanan bagi anak-anak tersebut.

Bagi anakku makanan di pesantrennya rasanya standar. Yang agak enak adalah sop daging. “Rasanya hampir seperti sop masakan ibu”. Wuuiih….ibu gitu! Top…. Langsung hidung ibu kembang kempis karena senang.

Pernah juga suatu kali ketika bikin masakan pangek daging khas Sumatra Barat atau Minangkabau, anakku yang kecil Alyssa datang ke dapur dan bertanya aku masak apa. Ketika kujawab, pangek daging, spontan ia memeluk dan menciumku sambil berkata, “Alyssa bangga punya ibu seperti Ibu”.

Hahaa….bahagia itu sederhana bukan?
Tak perlu waktu khusus, dana khusus, apalagi persiapan khusus. Cukup dengan memasak atau kegiatan sederhana lainnya, asal ikhlas maka bahagia itupun mampir. Alhamdulillaah…

Kehadiranmu, Mewarnaiku....

foto diambil dari http://www.transkerja.com, 26/11/2016

Kehadiranmu, Mewarnaiku...

Duluuu….sekali, ketika saya masih SD di tahun 1979-1985, di saat motor masih jarang apalagi mobil, saya memiliki kenangan yang indah akan mobil. Ketika itu belum satupun tetanggaku yang memiliki mobil, tapi kami sudah merasakan kemewahan bermobil. Bukan, bukan milik orang tuaku. Hanya pinjaman kantor setahun sekali ketika Hari Raya Idul Fitri. Di Hari Raya Idul Fitri hari kedua, ayahku selalu mendapat pinjaman mobil Toyota jenis Kijang Kotak warna coklat susu. Suatu kebahagiaan yang tiada tara rasanya ketika kami pergi berlebaran ke kampung dengan menggunakan mobil Toyota Kijang.

Saya masih ingat, pagi-pagi sekali kami berangkat dari Padang. Kemudian menjemput rombongan keluarga Etek (adik Ibuku) dan rombongan keluarga Amak (kakak Ibuku), dan bersama-sama kami pergi ke Pariaman, kampung orang tua ibuku. Ketika itu, kedatangan kami sangat di tunggu oleh keluarga Etek dan keluarga Amak. Maklum, tiada satupun dari kami yang memiliki mobil pribadi. Jaman dulu semua serba susah. Bisa menyekolahkan anak sampai ke SMA apalagi kuliah, itu sudah luar biasa. Makanya kebaikan pimpinan kantor ayah meminjamkan mobil di hari raya adalah suatu anugrah bagi kami.

Rombongan kami totalnya 18 orang. Jangan ditanya padatnya di dalam mobil. Sesak. Duduk berdempetan, berpangku-pangkuan bahkan ada yang duduk di lantai di antara kaki penumpang. ‘Penderitaan’ sekali setahun…hehee. Tapi kami semua happy. Sepanjang jalan tak hentinya berceloteh. Untung ayahku orangnya penyabar. Tidak terganggu dengan segala kehebohan penumpangnya yang seabrek. Dan ketika aku SMP, ayahku pensiun. Dan berakhirlah kebahagiaan sekaligus ‘penderitaan’ itu.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, meskipun masing-masing dari kami sudah berkeluarga, dan sudah memiliki mobil sendiri, kenikmatan berlebaran dengan si Kijang kotak tetap tak terlupakan.

Yaa…zaman sudah berganti. Dahulu yang memiliki mobil bisa dihitung dengan jari. Sehingga tak jarang kulihat anak-anak kecil yang berlari mengejar mobil dengan perasaan gembira dan kagum. Sekarang di setiap sudut pelosok Indonesia dengan mudah kita temui kendaraan bermotor roda empat.

Tentu semua hal itu terjadi karena perekonomian Indonesia semakin membaik. Sehingga tingkat kesejahteraan penduduknya semakin meningkat pula. Dan akhirnya berganti pulalah pandangan dan gaya hidup manusia. Mobil yang tadinya merupakan barang mewah sehingga sedikit sekali yang memilikinya, sekarang sudah bergeser menjadi suatu kebutuhan, entah itu kebutuhan untuk menunjang kegiatan sehari-hari ataupun kebutuhan akan gaya hidup. Sehingga sekarang banyak sekali yang memiliki mobil dan menyebabkan macet dimana-mana.
Salah satu indikator bahwa perekonomian Indonesia semakin meningkat adalah semakin banyaknya investasi di bidang industri dan jasa. Salah satu yang terbesar dan terbaik  di Indonesia adalah PT. Astra International TBK. Dengan berbagai macam divisi dan anak perusahaannya yaitu di bidang Otomotif, Agribisnis, Alat berat pertambangan dan energi, Jasa keuangan, Teknologi Informasi, Infastruktur dan Logistik, PT Astra International TBK hadir menjadi barometer perekonomian Indonesia.
Di bidang Otomotif, PT Astra International TBK bersama anak usahanya yang meliputi perakitan dan penyaluran mobil (Toyota, Daihatsu, Isuzu, UD Trucks, Peugeot dan BMW), baik mobil untuk pemakaian dalam negeri maupun mobil untuk impor, benar-benar telah ikut membawa Indonesia menjadi negara yang perkembangan otomotifnya terbesar di ASEAN setelah Thailand. Tentu saja hal ini sangat membanggakan dan meningkatkan harga diri bangsa di kancah Internasional. Dan tak kalah penting, hal ini telah memberikan sumbangan finansial yang tidak sedikit bagi negara Indonesia.
Bagi rakyat Indonesia sendiri, di samping memiliki mobil impian menjadi semakin mudah, PT Astra International TBK sangat berjasa telah membuka lapangan kerja bagi ratusan ribu rakyat Indonesia. Dan juga kontribusi di bidang lain seperti pendidikan, lingkungan hidup, pemberdayaan masyarakat, dan sosial keagamaan melalui beberapa yayasannya.
Perusahaan hebat, tidak hanya memberikan dampak kebaikan secara langsung kepada negara, masyarakat serta lingkungan. Tapi kehadirannya pun secara tidak langsung mampu memberikan pengaruh baik bagi masyarakat dan lingkungan sekitanya.
Saya ingat bagaimana keberadaan PT. Toyota Astra Motor Karawang (sekarang berganti nama dengan PT. TMMIN) ikut mendorong kemajuan kota Karawang. Kota Karawang, tadinya adalah kota yang agak tertinggal dibandingkan dengan tetangganya, kota Bekasi. Kota yang sepi, dengan income perkapita yang rendah. Fasilitas minim serta transportasi masih jarang. Untuk menuju alun-alun kota dan pusat kota Karawang, warga daerah Ulekan, Babaton dan sekitarnya harus memilih memutar melewati daerah Resinda atau Warung Bambu. Karena hanya dua daerah inilah yang memiliki jembatan untuk melintasi sungai Citarum yang lebar itu. Kalau tidak mau memutar melewati Resinda atau Warung Bambu, maka pilihan terdekatnya adalah menyeberang sungai Citarum dengan menaiki perahu getek. Sebuah perahu yang ditarik dengan menggunakan tambang, yang dapat dinaiki oleh manusia dan kendaraan roda dua.
Begitu pabrik Plant 1 PT Toyota Astra Motor berdiri di Karawang tahun 1997 yang diikuti dengan kepindahan sekitar 700 karyawan dari pabrik Toyota di Sunter, Jakarta, sontak kota Karawang menjadi ramai. Bagaimana tidak, 700 orang karyawan ditambah dengan keluarganya tiba-tiba berimigrasi ke kota kecil Karawang. Kalau misalnya 1 orang karyawan membawa 1 orang istri dan 1 orang anak, maka minimal pertambahan penduduk kota Karawang tahun 1997 itu adalah 2100 orang. Dan semuanya membutuhkan sandang, pangan, dan papan. Ekonomi Karawang langsung menggeliat.
Pemerintah Karawang segera merespon lonjakan pertambahan penduduk ini. Yang pertama dilakukan adalah membangun jembatan melintasi sungai Citarum untuk  menghubungkan daerah Ulekan, Babaton, dan sekitarnya ke alun-alun kota dan pusat kota Karawang. Suatu pembangunan yang sangat menggembirakan masyarakat di sekitarnya. Karena mereka tidak perlu lagi menaiki getek atau berjalan memutar melewati daerah Resinda atau Warung Bambu apabila hendak ke alun-alun atau pusat kota Karawang. Dan tak lama kemudian Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) pun di bangun di daerah Ulekan.
Tahun 2004, PT Toyota Astra Motor yang kemudian berubah namanya menjadi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, kembali memindahkan karyawannya dari pabrik Sunter,  Jakarta, ke Karawang sekitar 1000 orang. Kepindahan ini diikuti oleh banyak perusahaan supplier dan yang terkait di Jakarta ke Karawang. Data kependudukan Karawang, menunjukkan jumlah penduduk Karawang tahun 2003 adalah sebanyak 1.903.511. dan di tahun 2005 sudah berjumlah 1.971.453. Berarti terjadi pertambahan penduduk sebanyak 67.952 dalam kurun 2 tahun. Atau dengan pertumbuhan jumlah penduduk sekitar 1,78 % per tahun.
‘Booming’ kepindahan perusahaan-perusahaan besar beserta karyawan dan keluarganya ke Karawang, membuat pembangunan di Karawangpun bertambah pesat. Pembangunan rumah sakit-rumah sakit swasta, pembangunan perumahan-perumahan mulai dari RSS sampai rumah mewah, Mall, Hotel, Waterboom, restoran, dan sekolah-sekolah, bak cendawan tumbuh di musim hujan. Sangat pesat. Wajah kota Karawangpun sudah berubah menjadi indah, megah dan modern. Daerah Ulekan yang dulu sangat sepi bahkan ada yang bilang daerah mati, sekarang sudah bersalin rupa menjadi kota mandiri yang mewah dan megah dengan nama baru yaitu Galuh Mas. Orang-orangpun sudah mulai lupa bahwa daerah itu dahulu bernama Ulekan.
Tak hanya kota yang berubah menjadi maju,  penduduk asli Karawangpun ikut menikmati pertumbuhan ekonomi ini. Pemuda-pemudanya banyak yang bekerja baik di sektor formal seperti menjadi karyawan-karyawan perusahaan, atau di sektor informal seperti menjadi buruh bangunan, tukang ojek, satpam, buka warung nasi, katering dan lain-lain. Merekapun ikut kecipratan rezeki kemajuan kota.
Karawang yang sepi sekarang menjadi ramai. Malam Minggu atau musim liburan, mall-mall, restoran-restoran atau tempat hiburan, penuh. Perekonomian Karawang benar-benar bergairah. Sampai tahun 2009 saya masih bisa menyetir dengan santai dan laju di jalan-jalan utama Karawang. Sekarang, untuk menempuh perjalanan sepanjang 7 km saya bisa menghabiskan waktu 1,5 jam karena macetnya. Hampir setiap keluarga menengah di sini, memiliki 1 unit mobil.

Karawang sudah bertransformasi dari kota lumbung padi menjadi kota Industri. Lima kawasan Industri dengan ratusan perusahaan di dalamnya telah melahirkan banyak warga berpendapatan menengah. Dan bagi sebagian warga yang berpendapatan menengah ini, mobil adalah kebutuhan untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari. Tapi bagi sebagian lainnya, mobil hanyalah untuk prestise. Karena mobilnya lebih sering di tutup sarung daripada buka sarung (digunakan). Pergi ke kantor, ke pasar, mengantar anak sekolah dan lainnya, selalu  menggunakan sepeda motor. Fungsi mobil? Hanya untuk dipanaskan setiap hari, heheee….

Meskipun di Karawang banyak karyawan dari berbagai perusahaan, tapi yang paling menonjol baik dari segi penghasilan maupun kesejahteraannya, tetaplah karyawan Toyota. Toyota adalah tempat kerja impian bagi para pencari kerja di Karawang dan calon suami idaman bagi sebagian warga Karawang serta jaminan mutu ketika mengajukan pinjaman ke bank. Heheee….


Perusahaan-perusahaan besar yang dimotori oleh orang-orang hebat, memang mampu membawa perubahan yang baik bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Semoga kita semua mampu melihat dan meneladani kebaikan dan kesuksesan yang terpampang di depan kita ini.

#tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis Anugrah Pewarta 2016 Astra International dan berhasil memenangkan juara favorit 8.


Cita-Cita Vs Ladang Amal Jariyah






Cita-cita vs ladang amal jariyah

Sepanjang perjalanan pulang dari Bogor setelah dua hari satu malam berlibur di sebuah Resort di Bogor, saya dan Annisa Muthia (anak tertuaku) yang saat ini bersekolah di sebuah SMA Boarding School, kelas 10, terlibat pembicaraan ringan.
Berbagai macam topik kami bicarakan. Dan sampailah pada topik cita-cita.
“Kalau Muthi tidak jadi dokter, gak apa-apa ya, Bu? Muthi ingin memperdalam sastra di bidang kepenulisan”. Dan iapun menjelaskan tujuan yang ingin ia capai seraya menyebutkan sebuah universitas di Tokyo, Jepang. Sedikit info, anakku Annisa Muthia ini suka menulis. Dan di usianya yang ke 16 tahun ini, dia sudah menerbitkan 4 buah buku. Dua buah kumpulan cerpen dan dua buah buku komik misteri. Karena bakatnya ini dia sudah mengikuti 2 kali Konferensi Penulis Cilik se- Indonesia, 2 tahun berturut-turut serta pernah 2 kali mengikuti youth camp di Luar Negeri disebabkan bakatnya itu.
Dulu, ia ingin menjadi dokter. Karena ia sangat berminat dengan pelajaran yang berhubungan dengan biologi. Dan cita-cita itu makin kuat ketika saya menderita diabetes. Dia ingin menjadi dokter peneliti yang akan menemukan obat untuk membuat pankreas bisa menghasilkan insulin kembali. Hmmm….
Tapi hari ini ia membicarakan perubahan cita-citanya. Oh..it’s okay, honey.

Dan si emak pun mendadak menjadi sok bijaksana.
“Bagi Ibu tidak masalah, Muthi. Muthi bebas menjadi apapun yang Muthi inginkan. Asalkan ilmu yang akan Muthi dapatkan kelak bermanfaat bagi diri Muthi dan Umat. Hendaknya ilmu yang Muthi dapatkan itu bisa menjadi ladang amal jariyah bagi Muthi. Menulis itu bagus, karena menulis itu ikut membentuk peradaban. Setiap ilmu yang ditulis dan dibaca serta diamalkan orang, itulah amal jariyah penulisnya.

Dan emakpun berkisah.
“Dulu Ibu kuliah di bidang teknik. Setelah lulus, ibu bekerja. Dan berhenti ketika menikah. Saat Muthi kelas 3 SD, karena latar belakang pendidikan dan pekerjaan Ibu, Ibu ditawari menjadi guru IT di sebuah SDIT. Tapi ayah tidak mengizinkan dengan alasan kalian masih kecil-kecil. Jadinya sekarang Ibu tidak memiliki ladang amal jariyah.”

Dan apa yang dilakukan Muthi?
Dengan wajah penuh kasih, ia memegang tanganku sambil berkata,
“Membesarkan dan mendidik kami, itu adalah ladang amal jariyah Ibu”

Hening…..
Saya tak dapat berkata-kata. Seakan-akan saya sedang dilontarkan ke surga oleh ucapannya. Perasaan yang tadi ‘saya bukan siapa-siapa’, tiba-tiba menjadi ‘saya sangat berarti’.

Ternyata bukan dia yang membutuhkan dukungan, justru saya yang butuh itu. Ternyata bukan kita orang tua yang membuat mereka bisa hebat, tapi kehadiran mereka yang membuat kita merasa hebat. Bukan kita yang menguatkan mereka tapi kehadiran mereka yang membuat kita harus kuat.
Saya lupa dengan hakikat ladang amal yang sesungguhnya karena terlalu jauh melihat ke luar. Saya lupa karena mata dan pikiran disilaukan oleh dunia modern dan segala rupa jenis pekerjaan.
Menjadi ibu rumah tangga, seakan terlihat tak keren. Berbaju dinas daster lusuh, peralatan kerja tak jauh dari peralatan masak, mesin cuci, setrikaan, kain pel, dan ruang lingkup kerja hanya seputaran rumah dan halaman. Badanpun seringkali tak wangi.

Berbeda sekali dengan wanita bekerja. Mereka terlihat sangat kinclong dengan baju yang rapi dan indah serta wangi, bertemu banyak orang, selalu up to date dengan berbagai isu dan berita terbaru, kadang bepergian ke berbagai kota bahkan luar negeri. Dan tentu saja memiliki uang sendiri.

Sehingga kondisi ini kadang menimbulkan suatu perasaan rendah diri bagi seorang perempuan dengan status ibu rumah tangga. Tak heran kalau ada reuni sekolah seorang ibu rumah tangga lebih nyaman bergabung dengan sesama ibu rumah tangga juga.

Padahal, menjadi ibu rumah tangga adalah suatu pilihan. Dan Masya Allah, betapa mulianya ibu rumah tangga. Seluruh waktu dan tenaganya dicurahkan  untuk mengurus keluarganya. Dituntut banyak keahlian untuk menjadi seorang ibu rumah tangga sejati.
1.      Harus kuat karena jam kerja 24 jam tanpa mengenal hari libur
2.     Kemampuan finansial yang lebih lebat dari akuntan senior. Penghasilan yang diberikan oleh suami harus cukup untuk biaya hidup keluarga
3.      Harus mengetahui kebutuhan setiap anggota keluarga
4.  Harus bisa mendidik anak, karena kepribadian anak tergantung dari cara ibu mendidik anaknya
5.      Harus bisa memasak, jadi baby sitter, jadi guru dan lain-lain

Betapa banyaknya jobdesk seorang ibu rumah tangga. Kalau seandainya setiap jenis pekerjaan yang dilakukanya diberikan gaji, mungkin tak akan ada lelaki yang berani mempersunting seorang wanita. Hehee…

Menjadi ibu rumah tangga full time memang suatu pilihan yang berat. Di samping pekerjaan yang berat, tanggung jawab yang berat, perasaan rendah diri acapkali menyelinap tatkala melihat teman yang bekerja meraih berbagai prestasi dunia. Padahal menjadi ibu rumah tangga sejati, bisa mendidik anak menjadi anak yang sholeh adalah prestasi akhirat. Bayaran di dunia adalah kasih sayang anak dan do’a mereka ketika kelak sang ibu telah tiada. Sedangkan bayaran di akhirat adalah syurgaNya. Nikmat manakah yang lebih tinggi? 

Si gadis lanjut bercerita. Dengan bersekolah di sebuah pesantren, banyak hal tentang kehidupan yang ia mengerti. Sekamar dengan 12 anak, membuat ia bisa memahami berbagai macam tipe dan latar belakang teman-temannya.

Ada yang ayahnya seorang aktivis, anggota dewan nan super sibuk dengan ibu yang juga aktivis super sibuk, ‘menitipkan’ anaknya ke pesantren untuk diasuh karena ketiadaan waktu mereka untuk sang anak, menghasilkan anak yang suka memberontak dan selalu dipenuhi amarah. Tapi ada juga yang menghasilkan anak yang apatis.

Ada juga ibu yang setiap menelpon anaknya, yang pertama kali ditanya adalah pelajaran anaknya. Sehingga si anak stres setiap kali nilai ulangannya turun. Ada juga anak yang sama sekali tidak nyaman mendapat telepon dari orang tuanya karena kakunya hubungan mereka sehingga si anak tidak tau harus berbicara apa.

Dan dari pengamatan anakku terhadap teman-temannya, dari beberapa anak-anak yang bermasalah, sumbangan terbesar adalah dari anak yang ibunya bekerja. Yaaah...tentu ini hanya survey kecil-kecilan dari seorang anak kelas 10, di mana lingkungan surveynya adalah teman satu pesantrennya saja. Sementara di luaran sana, kita mengetahui banyak juga ibu bekerja yang sukses mendidik anak-anaknya. Dan tak sedikit pula ibu rumah tangga full time yang gagal dalam mendidik anak-anaknya. Semuanya tentu terpulang kepada diri masing-masing, sejauh mana usahanya dalam proses pendidikan anak-anaknya. Salah satu contoh wanita bekerja yang juga aktivis super sibuk tapi sukses mendidik anak-anaknya bahkan menjadi hafidz semua adalah Ustadzah Yoyoh Yusroh.

Dan kemudian si gadis berkata, ia bisa seperti ini karena saya adalah ibu rumah tangga. Yang selalu punya waktu untuknya, mendengarkan keluh kesahnya, mendengarkan ide-idenya, dan selalu membantu setiap kesulitannya. Dan ia pun kelak tak ingin bekerja kantoran. Ia ingin bekerja dari rumah sambil menjadi ibu rumah tangga seperti saya.

Wahaiii….hati siapa yang tak sejuk seperti disiram oleh mata air bening nan menyegarkan, mendengar ucapan tulus dari seorang gadis muda berusia 16 tahun. Kalau ini mimpi, tak ingin rasanya saya bangun. Terima kasih cahaya mata hatiku…. Ucapanmu membuat ibu memperbaharui tekad dan semangat untuk menjadi lebih baik lagi.

Karawang, 6 November 2016
Powered by Blogger.